Ajimat, Antara Syirik dan Manfaat

Sejak zaman dulu berbagai benda bertuah banyak dicari atau dimiliki oleh mereka yang mempercayainya. Namun justru, pada ranah inilah ada perdebatan dimana unsur syirik jika kita meiliki atau merawatnya.
Untuk sebagian kalangan, berbagai benda bertuah sampai sekarang masih saja banyak digemari. Dapat dikatakan, keberadaan benda yang satu ini seolah tak pernah lekang oleh zaman. Jika kita mau jujur pada diri sendiri, maka ini dapat dibuktikan dengan jelas. Dari kalangan atas sampai dengan masyarakat yang paling bawah, hampir bia dikatakan menyimpan benda yang satu ini.

Dan itu semua bukan bahasa iklan tentunya, “sipat kandhel” atau guna menambah kepercayaan diri khususnya dalam pandangan masyarakat Jawa, di dalam meyatakan berbagai macam benda yang tentunya dianggapnya bertuah.

Barangkali inilah yang menyebabkan kenapa benda-benda seperti itu banyak dipunyai ataupun disimpan, dan bahkan dirawat dengan sangat apik oleh mereka yang memilikinya. Baik itu benda berasal dari keturunan, hadiah, bahkan dari hasil membeli atau memahari istilahnya. Jika kita simak dengan lebih teliti lagi, maka, keberadaan benda-benda tersebut di salah satu rumah disebabkan karena masyarakat Jawa beranggapan, manusia akan lengkap jika pada dirinya terdapat, wisma (rumah), wanita (istri), curiga (keris atau benda bertuah lainnya), turangga (kuda, yang dizaman sekarang diterjemahkan sebagai kendaraan), dan kukila (burung, yang sekarang diterjemahkan bukan hanya jenis perkutut, tetapi burung-burung jenis lainnya juga dipelihara sesuai dengan seleranya).

Pro kontra memang selalu mewarnai segala hal dalam kehidupan. Pun demikian dengan seputar benda bertuah ini. Banyak kalangan beranggapan, merawat benda-benda seperti itu adalah syirik hukumnya. Tetapi banyak pula yang menepisnya. Inilah yang menyebabkan, seiring dengan keberadaannya ternyata perbedaan pendapat diseputar benda yang satu ini juga tak pernah selesai seolah tak lekang di makan zaman.
Sebenanrnya, semua hal tersebut berpulang pada niat yang bersangkutan atau dengan kata lain kembali kemasing-masing individu yang memilikinya. Apakah benda tersebut dimiliki sebagai sipat kandhel, atau justru kita mendewakannya.

Bisa jadi, setelah seseorang tersebut menyimpan atau mendapatkan benda tersebut. Kedudukan, karir atau kekayaannya menjadi melimpah, sehingga seseorang tersebut lupa diri bahwa semua itu adalah karunia Tuhan. Sedangkan benda yang dimilikinya tak lebih hanya sebuah lantaran.
Tetapi yang pasti adalah, Tuhan Seru Sekalian Alam yang begitu pengasih dan penyayang yang asalkan diminta secara dengan tekun serta tak mengenal lelah pasti akan selalu mengabulkan segala pemintaan hambaNya.

Nah, karena diminta oleh sang empu ataupun pembuat benda pusaka, maka benda hasil karyanya bisa jadi mempunyai daya lebih. Tetapi jangan lupa, karena kuasaNya pula maka bukan tidak mungkin daya lebih yang dipancarkan olehNya jatuh pada benda-benda lain diluar benda-benda pusaka.
Ada yang menarik dalam falsafah Jawa tentang angka 4 dan lima yang bagi masyarakat Jawa dianggap angka yang sarat makna. Hal ini bisa dilihat dari dengan adanya istilah, Sedulur Papat Kelima Pancer atau dikalangan Islam biasa dikenal dengan istilah Empat Sahabat Lima Rasul. Tampaknya ini pulalah yang mengilhami pemimpin-pemimpin kita di masa lalu dalam memerdekakan tanah air tercinta ini.

Kembali kemasalah tuah, setidaknya terdapat empat sampai lima pengertian yang diberikan oleh manusia atas daya lebih yang terdapat pada berbagai benda mati, binatang bahkan manusia seperti Wali atau Nabi.
Daya lebih yang dipancarkan oleh Tuhan dan jatuh kepada benda mati seperti keris, tumbak, atau bahkan lainnya biasa dikenal dengan khasiat atau tuah. Bukti lain yang ada dimasyarakat tentang khasiat atau tuah ini tak hanya seputar keris, tumbak atau yang lainnya. Bahkan batu-batuan pun semisal batu badar besi, mirah delima juga diyakini memiliki tuah.

Selanjutnya adalah fathonah sebuah istilah pancaran kekuatan yang diberikan Tuhan untuk binatang, seperti kuda ataupun burung, identiknya memang adalah jenis perkutut, pelatuk bawang. Seperti yang banyak tertuang dalam Primbon Jawa atau naskah-naskah kuno lainnya disuratkan dengan jelas berbagai ciri dari kedua binatang tersebut, agar si pemilik bertambah derajatnya.

Maunah adalah istilah selanjutnya, yakni pancaran kekuatan yang diberikan oleh Tuhan untuk umatNya yang shaleh, dan kharomah bagi para Waliullah serta mu’jizat untuk para Nabi. Contoh yang terakhir akan tampak jelas dalam hidup dan kehidupan masyarakat kita, khususnya mereka-mereka yang senang menggeluti dunia supranatural. Tak jarang guna menguarai kesulitannya di dalam kehidupan mereka datang kepada seseorang yang mereka anggap mempunyai ‘maunah’.

Dan yang sering disalahpahami adalah tentang ‘makam’ atau bahkan ‘petilasan’ (tempat yang pernah dipakai untuk melakukan olah batin) dari para Wali maupun orang-orang besar di masa lampau yang menjadi sasaran mereka khususnya penggelut supranatural sebagai tempat ‘ngalap berkah’ yang oleh sebagain juga dianggap syirik hukumnya.

Padahal, jika ditinjau secara lebih teliti lagi, , karena tempat-tempat tersebut pernah menjadi tempat bagi para Wali atau orang-orang besar di masa lalu di dalam menjalankan olah batinnya, maka daya lebih tempat tersebut sudah teruji sebelumnya. Dengan begitu maka daya pancar gaib yang ada ditempat itu mampu atau dengan kata lain dapat lebih cepat di dalam menghantarkan doa dari seseorang yang tengah melakukan munajat kepada Yang Maha Hidup di tempat tersebut.

Kesimpulannya, semakin jelas, betapa Tuhan Seru Sekalian Alam ini tak terbatas kekuasaanNya. Taka ada yang tak berguna di muka bumi ini asalkan kesemuanya itu disesuaikan dengan fungsinya.
Karena hidup ,manusia mempunyai tiga unsur yang satu sama lain terkait erat dengan dunia di mana mereka hidup atau bersimbiosis mutualistis. Yang pertama adalah daya dinaya ( satu sama lain memberikan daya), kedua rot sinorotan ( satu sama lain saling memberikan pancaran), dan yang ketiga adalah lik winalikan (satu sama lain saling berkebalikan).

Itulah sebabnya, kenapa manusia selalu memberi sesuatu untuk menutupi segala kekurangan yang ada pada dirinya, sehingga hidupnya mengarah kepada selaras, serasi dan seimbang dengan alam semesta. Dengan menyimpan pusaka ataupun memelihara binatang tertentu harapannya agar antara dirinya dengan pusaka ataupun binatang yang dipeliharanya dapat saling memberikan daya, dan pancaran sehingga kehidupannya menjadi lebih baik dari semula (lik winalikan).

Karena malam sudah beranjak pagi kembali, akhir kata dalam tulisan yang tak seberapa ini, meluruskan tetang ajimat yang berkonotasi miring, apapun tuah yang terdapat di dalam berbagai benda ataupun binatang peliharaan adalah karena kekuasaan Tuhan semata.. dan agaknya inilah yang harus diperhatikan bagi pembaca, pengoleksi ataupun pemilik benda seperti itu agar tidak jatuh kedalam syirik ataupun menduakan kekuasaan Tuhan Seru Sekalian Alam. Matur nuwun

0 on: "Ajimat, Antara Syirik dan Manfaat"