Menguji Keangkeran Hutan Kalang

1356808503421503218
salah satu sudut punden di desa Besowo



Waktu sudah beranjak malam, selepas dari rumah seorang yang di tuakan di Desa Besowo dan berbekal informasi sekedarnya, bertiga kami meluncur ke arah barat desa menuju hutan kalang. Sebuah hutan yang dalam mitosnya adalah tempat habitat makhluk yang bernama genderuwo. Kawasan hutan Kalang yang masuk KPH Kebonharjo adalah hutan paling angker di kawasan Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Hutan jati yang masuk wilayah Desa Besowo ini jarang di jamah manusia. Kalaupun ada manusia yang nekad, dipercaya akan bernasib tragis. Karenanya ada mitos, jalma mara jalma mati (siapa yang datang akan mati) tetap dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat Desa Besowo dan sekitarnya.

Sama sekali, bukan bermaksud takabur atau bagimana, rasa penasaran ini sebenarnya bukan datang dari saya pribadi. Tapi dari seorang rekan yang penasaran terhadap sosok genderuwo ini dan ingin mengetahu secara nyata dan bukan dongeng atau cerita yang dia dengar saja. Kenapa kami memilih daerah ini? Ini lebih kepada mitos yang beredar di masyarakat dan kalaupun toh memang benar adanya, tempat tersebut adalah paling potensial untuk menadapatkan moment tersebut.
13568085951826236801
dengan seorang nara sumber (dok.pri)



Tidak mudah mencapai lokasi ini, selain akses jalan yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, terlebih pada musim penghujan saat ini, selain becek juga sangat licin. Tak kurang dari 1 jam kami berjalan menuju area ini dengan diantar seorang kawan dari Jatirogo setelah sebelumnya janjian mengantarkan ke tempat ini. Kawasan tersebut tidak asing bagi dia, sudah beberapa kali dia berburu disekitar Hutan Kalang. Meski awalnya kami berniat membatalkan rencana ke Hutan Kalang ini karena medan jalan licin dan cuaca yang kurang bersahabat. Namun, ketika kami memasuki area hutan, entah kenapa ada semacam magnet yang membuat kami bersemangat.

Kurang lebih setengah jam dalam perjalanan, kami sempat istirahat. Sekelebat merah menyala melintas tak jauh dari tempat kami istirahat. Kelebat itu menimbulkan bunyi keretek-keretek sambil diikuti hembusan angin begitu kencang. Tertegun juga sih. Bayangan merah kurang lebih dua meteran tersebut bentuknya seperti manusia raksasa, dan kelebatannya meneyerupai bola api dan bersuara keretek-keretek tersebut melintas ke arah barat. barangkali menuju ke Hutan Kalang tersebut. Entahlah. Kami hanya melihatnya melesat perlahan dengan disertai suara kemeretek saja
Semula saya menganggap itu kemamang atau banaspati yang kata orang suka menghisap ubun-ubun manusia. Namun, kalau itu kemamang atau banaspati kok besar sekali. Kemamang atau banaspati seperti yang pernah beberapa kali saya lihat tak lebih dari sebesar bola pada umumnya. Melihat gejala kurang menyenangkan tersebut sempat juga kami mengurungkan niat. Dan kami rasa pertunjukkan tersebut sudah lebih dari pembuktian mitos keangkeran Hutan Kalang. Dan akhirnya kami sepakat untuk mengurungkan niat untuk ke lokasi. Selain cuaca yang kurang mendukung dan gerimis sudah mulai turun, jujur, melihat kelebatan bola api tadi membuat nyali 2 orang kawan menjadi ciut.

Dengan penerangan dua senter kami berjalan lambat kembali ke desa dimana kendaraan kami titipkan di rumah penduduk. Meski berusaha bergegas, karena hujan sudah mulai turun tetap saja lambat karena jalan setapak yang kami lalui sangat licin barangkali karena hujan mengguyur beberapa kali di kawasan ini. Mendadak hujan seakan langsung ditumpahkan oleh mendung membuat kami sedikit berlari mencari-cari tempat agak rindang untuk sekedar berteduh dan menyelamatkan barang elekktronik yakni HP dan kamera poket dari guyuran hujan yang tiba-tiba. Sambil setengah berlari kami ‘nyenter’ kesana kemari sambil berharap ada pohon jati yang sedikit rindang untuk berteduh. Dan akhirnya sedikit masuk kedalam dari jalan setapak ada Gubug penduduk sekitar yang memanfaatkan area kawasan hutan milik perhutani sebagai ladang atau persil orang sekitar menyebutnya.
1356808918215510048
pohon yang dikeramatkan warga



Tak berapa lama kemudian kami sedikit lega, karena hujan sedikit mereda sudah tidak disertai angin lagi. Tapi masih bisa membuat basah kuyub untuk menerobosnya. Dan juga sama sekali saat berteduh ini kami membicarakan fenomena kelebatan merah beberapa saat yang lalu kami temui. Barangkali kalah oleh naluri menyelamatkan barang yang ada nilai ekonomisnya. Manusiawi sekali!

Namun, ditengah suasana diam terpekur dan berharap hujan segera reda, seorang kawan dari Jatirogo tiba-tiba mengatakan mendengar bunyi keretek-keretek pada kami bertiga. Seperti ada yang terbakar katanya. Ini mustahil suasana hujan. Masak iya ada ranting yang terbakar. Dan benar adanya, beberapa saat kemudian kami memang ada suara demikian dari belakang gubug tempat kami berteduh. Seakan ada aba-aba kami serempak menoleh ke arah datangnya sumber suara. Terlihat jelas, di pohon jati sekitar sepuluhan meter dari belakang gubug sosok besar yang meyerupai bentuk tubuh manusia merah menyala meski dalam hujan seakan memandangi kami.

Ditengah kekalutan seorang kawan mencoba untuk mengajak lari tapi kami tahan. Sambil masing-masing berdoa dan merapalkan kebisaannya, tak berapa lama sosok menyala itu memanjang keatas dan menimbulkan asap pada daun-daun jati sejurus kemudian melesat justru menurut saya kearah desa. Kami berpikir makhluk itu sengaja menakut-nakuti kami. Dan dia berhasil. Kami memang keki dibuatnya setelah penampakannya yang terakhir.

Melihat keadaan barusan dan sedikit menyesali kenapa ‘blakrakan’ ke tempat tersebut, meski hujan belum reda betul kami terpaksa berbasah-basah daripada di tempat yang memang sangat tidak toleran terhadap orang asing. Belum sempat kami berjalan jauh dari gubuk, seorang kawan yang sempat menangkap sosok tangan yang menjulur di cabang pohon jati. Seketika kami berhenti, dan mengarakan pandangan ke tempat dimana dia mengarahkan senternya. Tidak ada apa-apa, yang ada hanya pohon jati sebesar tiang listrik. Padahal dia yakin benar-benar melihatnya. Sudahlah, kami meng-iya-kan saja meski kami setelah disenter tidak ada apapun.

Mau tak mau kami akan melewati pohon itu, baru beberapa meter kami meleawati pohon tersebut, kami dikejutkan oleh suara berisik yang berasal dari belakang kami. Meski dengan tetap berjalan cepat saya sempat menoleh, terlihat jelas pohon yang disebutkan kawan saya tadi bergoyang hebat dan seakan mau dirubuhkan. Tidak mungkin kalau itu angin, karena itu berpusat pada satu pohon itu saja.

Setelah susah payah dan basah kuyup akhirnya kami sampai juga di perkampungan, menuju tempat dimana kendaraan kami parkir dan titipkan di halaman rumah penduduk. Setelah saya melepas kaus dan jaket yang basah dan berganti sarung yang sengaja saya bawa. Sekedar untuk menyampaikan ucapan terima kasih karena berkenan dititipi kendaraan, kami disuruh berhenti dulu karena sudah terlanjur dibikinkan kopi sama istrinya. Itung-itung menghargai yang punya rumah dan tidak baik juga menolak rezeki.

Justru dari bapak inilah kami  mendapat informasi yang lebih tentang Hutan Kalang dan tempat-tempat lainnya sebagai tempat dimana transaksi jual beli genderuwo itu dilakukan. Kabarnya, sudah sering warga Desa Besowo yang kerasukan makhluk halus setelah pulang dari Hutan Kalang. Bahkan tidak hanya manusia saja, beberapa ternak penduduk yang digembalakan di areal hutan ini juga kerap menjadi korban. Hampir setiap tahun, pasti ada ternak piaraan warga, baik itu sapi atau kambing yang mati di dalam Hutan Kalang. Padahal di hutan ini kuat dugaan sudah tidak ada bianatang buasnya. Menurut kepercayaan penduduk, kamatian hewan-hewan itu karena dimakan oleh makhluk-makhluk gaib penghuni Hutan Kalang.

Bukan hanya itu, sudah menjadi kepercayaan masyarakat, bahwa keangkeran Hutan Kalang karena tempat ini adalah markasnya segala macam makhluk gaib, seperti; gederuwo, sundel bolong, gundul pringis, banaspati dan beberapa setan lainnya. Mendengar penuturan ini, pikiran kami kembali saat-saat menemui fenomena sosok merah menyala yang sempat kami lihat. Dan ketika kami ceritakan, bapak ini membenarkan kalau itu banaspati. Banaspati di Hutan Kalang lain katannya. Ukurannya lebih besar dari banaspati tempat lain. Entahlah, saya tidak mau mengatakan itu makhluk apa.

Sejarah Hutan Kalang sendiri adalah dulunya adalah milik Mbah Palu, seorang dukun asal Desa Besowo ini. Di tangan Mbah Palu, tanah ini seakan tidak memiliki keangkeran sama sekali. Meski menjadi gudangnya setan, Hutan Kalang tetap dibawah kekuasaan Mbah Palu. Dari sini pula mitosnya, genderuwo-genderuwo itu dapat diperintah oleh Mbah Palu. Bahkan tidak sedikit yang di jual pada orang yang membuthkannya.

Namun, setelah Mbah Palu meninggal dunia, dan tanah tersebut dijual pada Perhutani Kebonharjo, maka kemudian menjadi angker. Seolah-olah penghuninya sudah tidak dapat dikendalikan, sehingga kadangkala meminta korban. Entah itu binatang atau manusia.

Karena waktu sudah menjelang larut malam, kami berpamitan untuk pulang meski dia berusaha untuk menahan kami untuk menginap. Seorang kawan yang berasal dari Jatirogo menitipkan motor dirumah bapak tadi dan akan diambil esok harinya. Dan pulangnya menumpang kami, karena malam telah larut dan hujan masih menyisakan rinai kecil. Atau juga barangkali masih diliputi perasaan takut setelah rangkaian-rangakain kejadian yang kami alami bersama. Entahlah!

Cukup rasanya pembuktian kami meski belum seratus persen sampai ke tempat Hutan Kalang berada. Bahwa keangkeran Hutan Kalang bukan sekedar mitos atau isapan jempol semata. Masuk akal juga ketika ada salah satu stasiun televisi swasta nasional mengurungkan liputannya ke lokasi ini. Bisa jadi bukan alatnya yang tidak bisa difungsikan akan tetapi menemui kejadian-kejadian aneh dan mencekam seperti yang kami alami saat itu. Dan dari tulisan ini adalah tulisan yang terakhir dari penelusuran mitos keberadaan jual beli genderuwo di Desa Besowo ini. Sekian dan terima kasih meluangkan waktu membaca tulisan yang salah kaprah dalam kosa kata dan penuturannya. wassalam

0 on: "Menguji Keangkeran Hutan Kalang"