Ilmu Menggiring Hujan

1356547429197958630
Percaya tidak percaya ada orang yang mampu memindahkan hujan. Rasa-rasanya sih, tidak masuk akal atau -mustahil, ada seseorang yang bisa menggiring, menangguhkan, atau bahkan menolak hujan. Tetapi itulah adanya, kepercayaan sebagian masyarakat yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Warisan leluhur memang luar biasa.

Dari obrolan dengan kerabat yang akan mempunyai hajatan mengkhitankan anaknya, berawal dari kecemasan dia jika pada saat hari ‘H’ hajatan hujan dia meminta bantuan pada seorang yang biasa dimintai tolong untuk hal masalah hujan ini. ya, seseorang itu adalah ‘pawang hujan’ yang kebetulan juga masih satu kampung dengan saya.

Tertarik dengan keilmuan ini sengaja saya datang kerumah pawang hujan tersebut, untuk lebih tahu tata caranya dan pagi tadi saya berkesempatan mengikuti ritualnya. Dan Alhamdulillah meski siang tadi sempat mendung tebal entah kebetulan atau memang pengaruh ilmu ‘pawang hujan’ hujan belum turun hingga saya menulis tulisan ini.

Ilmu ‘memindahkan’ hujan ini ritual pertamannya adalah dengan meminta bantuan leluhur yang mempunyai hajat, dengan berziarah ke makam leluhur orang yang meminta bantuan itu. Yang dimaksud leluhur adalah orang yang telah meninggal. Artinya, jika yang menyuruh itu orang tuanya (ayah/ibu) masih hidup, maka harus berziarah ke makam kakek dari garis keturunan ayah.
Saat berziarah tersebut, yang dilakukan ritual sebagaimana orang yang berziarah. Membaca Al-fatihah, muawwidatain, yasin, tahlil, atau bacaan lain yang kita bisa.

Setelah itu yang dilakukan adalah tawasul, seolah-olah berbicara dengan arwah orang yang sedang di ziarahi, kurang lebihnya begini ;
 “Mbah, milo njenengan sampun mboten nedho sekul lan sarem, lan ben dinten njenengan nedhone dongo saking tiyang-tiyang muslim sak ndunyo, mongko kekuatan batinipun njenengan langkung kita. milo meniko, tulung bantu kulo kaliyan dungo, supados nopo kekarep kulo nggeser jawah niki, diijabahi marang Gusti Allah 

(Mbah, karena kamu sudah tidak makan nasi dan garam, dan tiap hari kamu makan doa dari orang-orang muslim di seluruh dunia, maka kekuatan batinmu lebih kuat. Karena itu. Tolong saya dengan doa, agar apa yang saya inginkan menggeser hujan ini, dikabulkan oleh Gusti Allah)”.

Sepulang dari ziarah, kami ke rumah kerabat yang meminta tolong tersebut dan meminta disiapkan sekepal nasi dan garam kasar, sambil dibacakan : “Kun fayakun, ora dadi udan (tidak jadi hujan), Allahu akbar, Allahu akbar, allahu akbar”.

Setelah dibacakan doa-doa diatas nasi dan garam kasar itu dibuang di atas genteng. Kata pawangnya, kalau rumahnya terdiri dari dua bangunan atau lebih, maka tempat yang dipilih adalah atas genteng bagian tengah, dan niat yang bahasanya diciptakan sendiri. dengan tujuan, mohon diberi kemampuan oleh Tuhan agar yang hujan semestinya turun, untuk sementara disingkirkan ke arah barat (sebut nama desa yang berjarak 5 KM), begitu halnya untuk Utara, timur dan selatan.

Menurut pawangnya juga, saat melakukan ilmu pawang yang ini, semua orang bisa, tidak ada keharusan untuk berpuasa. Kita cukup berpantang tidak makan minum di rumah orang yang minta bantuan ini. jadinya pagi tadi meskipun kepingin ‘ngopi’ jadi tertahan karena saya mengikuti prosesi pawangnya. Namun jika ingin melakukan puasa sebagai bentuk kesungguhan dalam meminta kepada Allah swt, silahkan. Itung-itung latihan untuk ikhlas dalam membantu orang lain. sekian. wassalam

0 on: "Ilmu Menggiring Hujan"