Baduy, Warisan Abad XV Yang Masih Bertahan [upadate]




Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Membicarakan Baduy tentu menyangkut pada salah satu provinsi paling barat di pulau Jawa ini, Banten. Banten setidaknya yang saya tahu adalah sebuah provinsi yang masih berusia “belia” di republik ini. Terletak di ujung barat pulau Jawa, berbatasan langsung dengan ibukota negeri ini, Jakarta. Kebanyakan orang mengira Banten itu masuknya Jawa Barat, Banten itu Kota, Banten itu debus, Banten itu Jawara, dan bahkan ada yang bilang Banten itu korupsi. Mungkin pernyataan yang terakhir itu memang benar adanya. Setidaknya beberapa yang lalu banyak pemberitaan tentang ini. Namun ironisnya Banten dengan Baduy- nya terlupakan.

Pada tulisan kali ini saya akan mengajak kerabat akarasa untuk sambang (menengok) salah satu ikon Banten namun terlupakan, Baduy tersebut.

Salak anjing dari kejauhan mengagetkan kami yang tengah beristirahat di rumah Jaro (Lurah) Daina. Malam itu, untuk ketiga kalinya pada pertengahan September kemarin, saya di temani seorang kolega dari Pandeglang, Banten, kembali berkesempatan ke Kanekes. Kami memilih bermalam di rumah sang Jaro karena tidak mungkin membelah hutan di waktu malam untuk sampai di perkampungan Baduy Dalam. Apalagi, hujan yang sedari sore turun membuat jalan setapak licin dan berbahaya.

Sebenarnya, malam itu kami akan langsungmenuju ke perkampungan Baduy Dalam. Namun karena tidak memabwa senter dan juga habis diguyur hujan lebat, terpaksa kami urungkan niat tersebut. Pertimbangannya sederhana saja, karena terlalu beresiko menerabas hutan dalam keadaan jalanan setapak licin dan becek.

Sambil menunggu kantuk, kami mengobrol dengan Jaro dengan ditemani rokok kretek, kopi panas, dan sekantong biskuit. Namun, lelaki yang selalu mengenakan pakaian khas Baduy ini tampak enggan menjawab ketika ditanya hal-hal yang lebih detil. Termasuk Hutan Larangan. Dia tampak mengelak dengan menjawab sekenanya.

Beliau juga menjamin bahwa tidak pernah ada kriminalitas di daerah Baduy. Tidak ada satupun warga baduy yang masuk penjara. Namun kami dipesankan juga untuk menghargai dan menghormati adat setempat. Mendengar hal itu, sebenarnya hati saya malu. Mereka yang tidak pernah menuntut apa apa dari negara ini, sangat mencintai tempat kediamannya. Tidak seperti kita yang di luar  yang konon katanya diisi orang orang yang katanya cerdas, pintar, namun selalu banyak menuntut dan tentunya banyak yang tak bermoral.

Tak terasa malam sudah jauh. Di luar senyap berbalut dingin. Hanya sesekali salak anjing membelah sepi, sebab hujan yang tadinya deras sudah surut, tinggal menyisakan gerimis. Dingin angin malam menelusup lewat celah-celah dinding bambu, membuat kami lelap sampai subuh tiba.

Dari literantur yang saya baca sebenarnya kata Baduy ini merujuk ke gunung Baduy atau sungai Baduy, namun orang orang (pengunjung) sering menyebutnya daerah Baduy atau orang Baduy. Padahal penduduk Baduy sendiri lebih menyukai disebut sebagai Urang Kanekes yang artinya orang Kanekes. Kanekes sendiri merupakan nama wilayah mereka.

Penduduk Kanekes sebenarnya merupakan subetnis Sunda. Sunda sendiri terbagi dua yaitu Priangan dan Wiwitan. Dan penduduk yang mendiami gunung Baduy ini adalah etnis Wiwitan. Dan menurut mereka, sub etnis Wiwitan lebih tua dibanding dengan Priangan. Etnis Priangan adalah orang orang bersuku sunda yang saat ini banyak bermukim di Bandung dan sekitarnya.

Setelah selesai sarapan, kami pun berkemas untuk segera berjalan. Awalnya kami permisi dulu ke kepala desa setempat yaitu Bapak Jaro Dainah. Beliau mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan kami. Beliau juga mengatakan bahwa beliau mungkin adalah kepala desa dengan penduduk terbanyak sekitar 10 ribuan (total penduduk baduy luar dan baduy dalam).

Pagi harinya, tepat pukul 06 pagi kami meninggalkan rumah Jaro setelah memberi uang alakadarnya kepada isteri Jaro, karena Jaro Daina sendiri sejak subuh pergi ke ladang.

Setelah selesai berpamitan dengan istri Pak Jaro dan memberikan uang alakadarnya, kamipun berangkat menuju desa Cibeo salah satu kampung di Baduy dalam. Awalnya kami melalui banyak perkampungan. Dari satu kampung ke kampung lain. Begitu seterusnya. Dan setiap kampung selalu ada pembatas jembatan bambu dan ini masih di Baduy luar.

Dan akhirnya kami akan menyeberangi sebuah jembatan bambu yang lumayan panjang. Ini menjadi pembatas antara baduy luar dan baduy dalam. Salah satu ketentuan tidak tertulis adalah yang boleh memasuki kawasan baduy dalam adalah ras asli orang Indonesia (ras Australoid kalau tidak salah). Jadi ras mongoloid seperti saudara kita orang Indonesia yang bersuku Tionghoa dilarang memasuki kawasan tersebut, apalagi bule demikian penuturan Mang Idong guide yang tak sengaja bertemu dalam perjalanan. Aturan yang penting di Baduy dalam juga adalah tidak diperkenankan untuk mengambil foto saat berada di perkampungan Baduy Dalam. Dan sebaiknya handphone dimatikan saja, toh sinyal juga tidak ada.

Puluhan artikel tentang Baduy  hingga menarik minat saya mengunjungi untuk kali pertama ke suku mandiri–bukan terasing dan terbelakang–ini memberi banyak kejutan.

Alih-alih merasakan suasana damai, tenang, sunyi seperti laporan kisah-kisah perjalanan, saya justru cenderung jengah dan merasa bersalah. "Wah, banyak banget orang sih..." Gumam Cleo ini mungkin jadi gambaran pas. Rupanya ada puluhan tamu yang baru turun dari Baduy dalam dan sebagian mereka istirahat di sepanjang jembatan ini.

Untuk melintasi melintasi 40an meter jembatan bambu ini ada seorang Baduy Dalam sambil memikul hasil kebun, ia harus menyeruak kerumunan tamu yang tak lagi menghargai aturan setempat. Teu meunang (dilarang) ribut. Suku Baduy tak lagi jadi tuan rumah, bahkan di kampungnya sendiri.

Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali dan saatnya memasukkan kamera karena sudah memasuki wilayah Baduy Dalam. Cukup banyak perbukitan yang menanjak harus kami lewati. Saya sendiri tidak menyangka akan secapek itu. Pada bukit terakhir inilah yang sangat berat. Saya kira kemiringannya lebih dari 45 derajat. Pada bukit terakhir ini di samping sangat tegak juga sangat licin kontur tanahnya. Tidak terhitung sampai berapa kali kami berhenti dan boleh dikatakan hampir pingsan. Hebatnya Mang Idong orang asli Baduy ini sepertinya tidak ada rasa letih. mungkin memang sudah biasa. Dan mereka tidak menggunakan alas kaki sesuai dengan aturan adat mereka.

Akhirnya selepas mendaki bukit yang luar biasa ini kami singgah sebentar di saung Mang Idong yang kebetulan ada di puncak bukit terakhir ini. Di saung ini sudah menunggu istri dan keempat anak-anaknya. Selanjutnya kami langsung menuju rumah Mang Idong di kampung Baduy Dalam. Selanjutnya setelah beristirahat sebentar kami mandi di sungai tanpa sabun atau apapun yang berbau peradaban. Dan aturannya memang saat kita di Baduy Dalam, baik sabun, odol, sampo, atau produk alat mandi yang selama ini kita pakai dilarang keras. Tidak diperkenankan.

Setelah selesai mandi kami di temani mang Idong dan anak bungsunya duduk-duduk di lapangan terbuka di tengah kampung tersebut, semacam alun-alun. Terlihat di kejauhan  ada beberapa rumah dan paling ujung adalah rumah dinas Pu’un  atau tetua adat dan tidak boleh didekati. Dan dibelakang kami adalah balai, tempat musyawarah seperti penuturan Mang Idong.

Tidak seberapa lama, akhirnya terdengar suara istri Mang Idong menmanggil bahwa makan malam sudah siap. Kami pun makan malam tetap dengan gaya Baduy di atas daun pisang. Setelah makan,  kami mengobrol dengan Jaro Daina (bukan Jaro Daina yang di Kanekes, bingung) yang tugasnya semacam juru bicara Pu’un yang menceritakan tentang riwayat Baduy, yang kebetulan bertandang ke rumah Mang Idong. Jaro Daina yang di baduy dalam ini semacam kepala pemerintahan, atau perdana menteri lah kira-kira.

Bapak tersebut menceritakan asal muasal Baduy (yang sudah disinggung di awal cerita), namun sampai saat ini tetap belum diketahui awal sekali bermulanya sub etnis Sunda Wiwitan. Bapak tersebut juga bercerita tentang beliau sudah sering ikut kejuaraan bermain angklung mewakili kabupaten atau sekedar bermain angklung di pertunjukan. Beliau bercerita tentang agama mereka Sunda wiwitan yang di Indonesia dimasukkan sebagai aliran kepercayaan.

Mengenai hal ini, saya pribadi sebenarnya sudah protes di dalam hati saya kepada bangsa Indonesia. Kenapa aliran aliran kepercayaan yang asli Indonesia tidak dianggap sebagai agama di negaranya sendiri. Bahkan agama yang diakui di Indonesia, adalah agama import, dibawa dari luar negeri. Mirip seperti Ugamo Malim yang merupakan aliran kepercayaan orang Batak sebelum masuknya agama. Aliran aliran kepercayaan ini sudah ada sebelum Indonesia ada. Tetapi mereka dipinggirkan oleh negaranya sendiri (berpikir secara kebangsaan). Itulah pendapat saya, bisa benar bisa juga tidak. Karena keburu malam bapak Jaro ini berjanji akan menemui kami pagi harinya. Selanjutnya kami beranjak tidur.

Pagi-pagi sekali saya bangun dan berkeliling kampung. Bersambung….


Baduy Momment







0 on: "Baduy, Warisan Abad XV Yang Masih Bertahan [upadate]"