Jangan Sambung Rambut Agar Hidup Anda Jauh Dari Kesialan

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. “Lakukanlah di hari Kamis malem Jum’at”. Begitulah kata Emak yang masih saya ingat. Seperti sebuah sabda keramat yang harus dipatuhi oleh kami, anak-anaknya. Ya, maka urusan menggunting kuku maupun cukur rambut di keluarga kami menjadi satu prosesi ritual yang tak boleh dilakukan di sembarang hari dan waktu. Kudu di hari Kamis malem Jum’at.

Namanya juga anak kecil, kami terima begitu saja. Kami tidak terlalu protes karena pada dasarnya kami terlalu sibuk bermain sehingga memang tidak terlalu perhatian kepada urusan “remeh temeh” semisal gunting kuku dan potong rambut itu. Selalu saja Emak yang mengingatkan ketika kuku kami sudah panjang (dan kotor) atau ketika rambut kami sudah gondrong dan poninya sudah menutupi mata. Dan dengan telaten Emak memotongi satu persatu kuku panjang kami, mengumpulkan serpihan potongan kuku kami, dan menaburkannya ke tanah dengan penuh hikmat.

“Kuku dan rambut adalah bagian hidup dari dirimu, Nak!”, Emak berusaha menjelaskan,
“Untuk tumbuh, mereka mengambil saripati yang sama dari makanan yang kalian makan. Mereka hidup dengan nafasmu dan dalam setiap harapan serta mimpi-mimpimu. Mereka merasakan duka ketika kalian sedih, dan juga merasakan suka ketika kalian tertawa. Mereka hidup dan berjiwa yang ruhnya adalah bagian dari ruhmu yang jiwanya adalah bagian dari jiwamu!”

Berpuluh tahun sudah berlalu, sejak kami berpisah dari Emak untuk menjalani kehidupan kami dan keluarga masing-masing. Seiring dengan kesibukan kami ditelan hiruk-pikuk modernitas yang semakin menumpulkan hati dengan rutinitasnya, maka petuah keramat itu sedikit demi sedikit tersingkir dari fikiran kami. Kami yang dulunya tak sepenuhnya memahami maksud perkataan Emak tentang kuku dan rambut yang hidup dan berjiwa, kini semakin meremehkan hal itu.

Jadi, mengapa harus di hari kamis malam Jum’at? Karena pada hari dan waktu itu, saat itulah posisi ruhani kita sedang dilingkupi oleh energi semesta yang bentangannya melintasi dimensi sejauh dan sedalam semesta. Itulah saat terbaik untuk doa dipanjatkan, zikir dibisikkan, shalawat dilantunkan. Itulah ruang terbaik bagi semua energi dunia untuk kembali melebur menyatu ke dalam energi semesta. Itulah saat terbaik untuk kembali pulang ke alam azali. Untuk keikhlasan jiwa-jiwa. Termasuk untuk bagian jiwa yang bersemayam di serpihan kuku dan helai-helai rambut kita.

Nah, jika sudah demikian, apakah sampeyan masih tertarik untuk menyambung rambut. Ya, kita harus berpikir berulang kali untuk benar-benar memilih tren yang satu ini. karena berkaitang dengan emosi seseoran, bisa jadi itu tidak berkesesuaian dengan karakter sampeyan. Bahkan bisa jadi membuat banyak masalah dalam kehidupan sampeyan.

Terlebih bagi kaum hawa ini, rambut bagi mereka merupakan mahkota, yang paling menunjang penampilan mereka. Perawatan rambut, bagi wanita masa kini, merupakan hal istimewa bahkan wajib. Berbagai cara dilakukan untuk menjadikan mahkota kepala agar terlihat menarik. Tidak cukup hanya dengan keramas dan creambath, tetapi juga dengan pewarnaan, rebonding. dan yang ngetrend belakangan adalah hair extensions atau menyambung rambut.

Istilah ini sebenarnya adalah perawatan rambut dengan cara penyambungan. artinya, rambut yang semula pendek, agar terlihat panjang, ya, disambung dengan rambut lain. Ada yang menggunakan rambut asli tetapi ada juga dengan rambut sintetis atau buatan.

Dalam budaya Jawa dan jika ditilik dalam dunia spiritual, hal ini tidak dibenarkan. Tidak pernah dikenal dalam tradisi kearifan budaya nusantara istilah menyambung rambut. Yang ada hanya tradisi potong rambut dalam ritual tertentu untuk tujuan mendatangkan kebaikan, buang sial atau menghilangkan unsur negatif dalam tubuh.

Seperti dalam tradisi ruwatan misalnya, selain dimandikan dengan air kembang juga setelahnya adalah ritual potong rambut dan buang pakaian, sebagai simbol untuk menghilangkan segala bentuk sengkala yang ada dalam tubuh yang di ruwat. Selain itu, tradisi upacara bayi menurut Kejawen, diantaranya juga berisi ritual potong rambut untuk penyucian dan menghilangkan sengkala bagi sang bayi.

Menurut tradisi Kejawen, rambut memiliki makna tersendiri. Rambut sebagai simbol kehidupan manusia. Rambut ada di bagian kepala yang berhubungan denga pikiran, dan dari tempat ini pula berawal kesialan yang akan menimpa. Karena itu, jika ingin lepas dari kesialan, bahaya dan segkala dalam diri, harus melakukan ruwatan dengan memotong rambut. Rambut diyakini mewakili semua kesialan yang ada pada tubuh dan pikiran.

Rambut Gimbal misalnya, bagi masyarakat sekitar pegunungan Dieng, dianggap sebuah kesialan. Jika tidak dipotong dalam waktu tertentu. ia bisa mendatangkan penyakit dan kesialan bagi anak (si pembawanya). Namun rambut itu tidak boleh dipotong sembarangan. Proses pemotongan harus lewat upacara, tidak sembarangan. Dan yang cukup aneh, setelah dipotong, rambut gimbal sebagai bekal lahir bagi anak Dieng, akan tumbuh normal alias tidak gimbal lagi. Demikian penting arti mahkota kepala, makanya tidak boleh diperlakukan sembarangan, seperti disambung hanya untuk mengubah penampilan.

Kenapa Hair Extensions atau menyambung rambut sama halnya menyambung sial? Rambut merupakan benda hidup yang tumbuh dan terus memanjang sesuai perkembangan manusia. Pertumbuhan rambut yang makin hari terus memanjang, sebetulnya merupakan pelepasan energi badan manusia. Diujung rambut terdapat energi listrik tubuh. Buktinya, masih ingat pelajaran IPA waktu MI, jika sebuah penggaris plastik digosok dengan rambut, akan menghasilkan magnet yang bisa menarik serpihan kertas.

Ada berbagai harapan dari orang yang memotong rambut. Selain sebagai upaya buang sial dan sengkala, juga berharap suasana baru dari penampilan lama yang tidak diinginkan lagi. Jadi, bisa dikatakan, potongan rambut itu sudah identik dengan sampah.

Pertanyaannya, “Bagaimana jadinya kalau sampah itu di sambung di kepala?” Potongan rambut yang mungkin saja berisi sengkala atau sial itu akan menempel di kepala, sehingga tak tertutup kemungkinan juga bisa membawa sial atau mendatangkan sengkala. Belum lagi jika si pemakai sambung rambut meyakini bekas potongan rambut itu memiliki energi listrik orang lain yang belum tentu pas dengan energi listrik dirinya sendiri. Artinya, ibarat voltase listrik yang berbeda, bukan tidak mungkin akan membuat konslet yang akibatnya mendatangkan celaka. Masih mau mencoba?

0 on: "Jangan Sambung Rambut Agar Hidup Anda Jauh Dari Kesialan"