Konsep Rezeki Samar-Samar dan Kelihatan

Saya ucapkan terima kasih kerabat akarasa setia berkunjung ke sini. Ini yang saya rasakan, entah kerabat akarasa setuju atau tidak. Seminggu jeda menulis karena ada beberapa aktifitas yang harus saya  selesaikan. Pada kesempatan ini saya akan membincang tentang  suatu yang samar-samar, atau tepatnya rezeki yang samar-samar. Tapi pada dasarnya tulisan ini terinspirasi dari pengalaman pribadi saya sendiri.

Rezeki terduga itu letaknya dipikiran, perlu dipikir dan direncanakan, setelah terencana baru jasmani dan seluruh awak tubuh yang ada didalamnya bergerak sesuai dengan apa yang direncanakan. Rezeki yang kita rencanakan dalam hal ini rezeki yang samar atau dengan kata lain agak kelihatan atau juga dengan bahasa terkini transparan bersarang di otak kita. Namun demikian meskipun telah matang dipikiran ada saja halangan didepannya kecuali ikhtiar kita sudah menemukan sumber rezeki itu sendiri.

Demikian juga dengan rejeki tak terduga/samar-samar letaknya ada di hati, ia harus ditanamkan di hati agar rejeki tak terduga atau samar-samar itu dapat terwujud. Rezeki tak terduga atau samar-samar perlu ikhtiar batin dengan berbagai cara atau metode yang telah ditemukan baik melalui tirakat/puasa ataupun mengamalkan amalan-amalan yang kita yakini akan mendapatkan rezeki secara samar.
Banyak sebagian kita yang salah mengartikan tentang ini baik rejeki tak terduga/rejeki samar menjadi nyata maupun rejeki samar-samar. Orang yang tidak sukses atau hidupnya gitu-gitu saja seringkali membuat pembenaran bahwa rezeki itu sudah ada yang ngatur sehingga dia tidak perlu bersusah payah bekerja/berusaha ataupun ikhtiar secara batin. Padahal menurut saya rezeki itu dibagi menjadi tigaYang pertama, rejeki yang sudah pasti. Yang kedua rejeki yang masih mengambang dan yang ketiga atau yang terakhir adalah rejeki yang perlu diusahakan.

Masalahnya kita tidak tahu berapa besarnya porsi-porsi dari ketiga rezeki tersebut. namun banyak orang yang mengira bahwa rezeki otomatis diberikan oleh-Nya tanpa berusaha. Memang ada yang seperti itu, tapi mana kita tahu bahwa itu akan terjadi pada kita, kalau tidak dengan ihktiar secara batiniah atau secara rohaniah.

Manusia tidak tahu seberapa besar porsi rezeki nomer 1, 2, ataupun 3. Maka kitalah yang mengubah nasib kita sendiri, Dialah yang menentukan dan mengaturnya untuk kita. Adapun yang terjadi malah sebaliknya khususnya di Barat. Orang terlalu memakai pikirannya untuk mencari rezeki namun mereka lupa akan kekuatan hati atau batin. Banyak orang di Barat tidak mempercayai kekuatan rezeki tak terduga. Padahal sering rezeki tak terduga ini jumlahnya berkali-kali lipat dibanding rezeki terduga.

Secar kualitas dan kuantitas, rezeki tak terduga seringkali menang jika dibandingkan dengan rezeki terduga, dapat disimpulkan rezeki tak terduga menarik rezeki itu sendiri pada orang lain agar memberikan sesuatu, misal job pekerjaan secara mendadak, atau memberikan order bisnis yang besar secara tidak sengaja yang diberi oleh orang lain, teman atau saudara yang memberikan modal bisnis secara cuma-cuma ataupun secara diberi pinjaman untuk mengembangkan usaha, akan tetapi jangan berprasangka buruk, ketertarikan orang lain memberikan modal bukan karena si penerima rezeki samar tersebut mempengaruhi pikiran orang dengan ilmu hipnotis tetapi ini murni ikhtiar secara batiniah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah swt, melalui orang itulah Allah memberika rezeki.
Saya rasa semua ada perantaranya bila masih berhubungan denga dunia, jangan terlalu dini mengatakan musyrik kalau orang lain memberikan sesuatu itu hakikatnya pemberian Allah semata kepada hambaNya yang mendekat/ikhtiar batiniah. Tentu saja semua itu ada korelasinya penyambungan signal dariNya yang menyambungkan kepada si pemberi rejeki dan si penerima rejeki.

Hukum alam adalah hukum keseimbangan, semua diupayakan untuk berjalan harmoni. Antara hati dan pikiran, antara yang satu dengan yang lainnya. Atara golongan satu dengan golongan yang lain, antara manusia satu dengan manusia yang lain. Keseimbangan alam dan keseimbangan manusia sudah dibentuk olehNya serasi dan harmoni.

Pun, antara rezeki tak terduga dan terduga disinilah mengandung nilai tafakur dan perenungan letak konsep logika hati, mengharmonikan hal-hal tersebut. Ada kata-kata bijak 9 dari 10 pintu rezeki ada pada perniagaan? Sebuah pernyataan yang indah. 9 dari 10 pintu? Timbul pertanyaan lalu apa kuncinya? Saya menjawabnya ada 3 kunci disana yang letaknya pada hati. Kunci-kunci inilah yang akan menyibak tabir rahasia antara manusia dengan Sang Pencipta.

Runtutannya kurang lebihnya seperti ini untuk mengharmonikan keduanya, Niat(hati)—mencari cara (pikiran)—tindakan (harmonisasi)—pasrah (hati)—hasil dan sukur (hati). Dalam runtutannya, hati mempunyai peran lebih dibandingkan dengan pikiran. Berawal dari hati (niat), berakhir pun denagn hati (sukur).

Kesalahan kita adalah meletakkan niat pasrah terlalu dekat. Niat no.1 kemudian langsung dilanjutkan dengan pasrah ini, meloncatnya langsung anak tangga yang mana kaki belum bisa menggapai tangga yang ketiga langsung. Semestinya urutannya adalah niat—ikhtiar batin yang ada dihati melalui doa atau amalan-amalan sesuatu yang diyakini mendatangkan rejeki—prihatin/puasa termasuk dalam ikhtiar batin—lalu tindakan yang harus mewujudkan niat itu sendiri, kalau toh itu semua sudah diikhtiarkan atau dilakukan belum berwujud maka “PASRAH” jalan terakhir yang dilakukan. Dengan pasrah ini apa ikhtiar sudah berhenti…?? Tentu saja belum, masihh ada seribu cara untuk ikhtiar dan belum saatnya untuk kita pasrah setelah niat. Ibarat lampu lalu lintas, niat yang baik apabila kita meminta pengiriman signal lampu hijau atau merah pada-Nya, maka akan ditunjukkan jalannya. Jika hijau, jalannya kan dibuka. Kita boleh jalan. Justru jangan berhenti karena akan mneyebabkan kemacetan, kalau sudah waktunya ditunjukkan hijau olehNya maka kita diwajibkan untuk berjalan terus!!

Jika merah, jalannya akan ditutup. Berhenti, jika perlu mundur. Ambil jalan lain. Temukan persimpangan lain dan lihat warna apa yang menyala di sana. Langgarlah lampu merah maka segalanya kan menjadi kacau. Ada yang lucu lagi, sudah diberi lampu hijau namun dia tetap berhenti. Tidak mau jalan. sampai dipersimpangan lampu berikutnya, diberi lampu hijau lagi. Sayangnya, lagi-lagi dia tidak mengerti kalau lampunya hijau, maka itu dinamakan signalnya diotak dan dihati masih tulalit denganNya. Dia terlalu takut untuk berjalan. Makanya, hijau atau merah….bagi orang yang satu ini semuanya merah jika ia takut, was-was untuk berjalan apalagi perasaan malas menyelimuti semuanya. Meskipun saya bukan orang yang sukses namun saya berusaha untuk bisa bersyukur atas semua karuniaNya. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat untuk semua. Wassalam


0 on: "Konsep Rezeki Samar-Samar dan Kelihatan"