Misteri Moksanya Sri Aji Jayabaya

www.akarasa.com

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Setelah menikmati malam di Coban Rondo di Pujon, Malang. Tujuan selanjutnya adalah Petilasan Sri Aji Jayabaya di Pamenang, Pagu, Kediri, Jawa Timur. Setiap tahun di situs ini, apalagi saat peringatan Tahun Baru Hijriah atau peringatan Satu Suro, tempat ini selalu dipenuhi dengan banyak orang dari seluruh penjuru negeri, terutama para penganut Kejawen. Mereka biasanya mengadakan sebuah ritual tertentu untuk memperingati Sri Aji Jayabaya yang mereka percaya tidak mati tapi langsung moksa tiada jejak. Mati dengan menbawa jasadnya!

Tapi di luar 1 Suro , petilasan ini senyatanya juga ramai dengan banyak orang. Ada yang sekedar berkunjung atau berwisata sejarah, ada yang memang datang dengan niat untuk bertapa atau semedi, ada yang datang untuk tidur dan bermalam untuk mendapatkan wangsit, ada pula yang datang untuk mengadakan kenduri biasanya sebagai ungkapan syukur karena ada harapannya yang terkabul saat dia Ngalap Berkah di tempat ini.

Akhirnya setelah sempat beberapa kali nyasar untuk sampai ke situs ini akhirnya sampai juga. Bukan untuk ngalap berkah, tapi hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu tentang sejarah masa lalu. Sekaligus menuntaskan rasa penasaran kami, itung-itung searah perjalanan pulang kami ke Tuban.

Sedikit kita mengulang sejarah tokoh kita yang satu ini, Sri Aji Jayabaya adalah raja Kerajaan Kadiri yang memerintah pada tahun 1135 – 1157M. Kerajaan Kadiri sendiri adalah pecahan dari Kerajaan Mataram Kuno atau Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Pada akhir November 1042, Airlangga memecah kerajaannya menjadi dua karena kedua anaknya memperebutkan tahta. Akhirnya Sri Samarawijaya mendapatkan Kerajaan Panjalu yang berpusat di Daha, sedangkan Mapanji Garasakan mendapatkan Kerajaan Janggala yang berpusatkan di kota Kahuripan. Konon, kedua kerajaan itu dipisahkan oleh Sungai Brantas yang dibuat oleh Mpu Baradah, yang mana dia terbang sambil menyiramkan air dari guci yang dia bawa yang kemudian berubah menjadi Sungai Brantas.


Sri Aji Jayabaya adalah raja keempat di Panjalu. Masa pemerintahaannya adalah puncak kejayaan Kerajaan Kadiri karena berhasil mempersatukan kembali Panjalu dan Jenggala. Di masa pemerintahannya ekonomi berkembang pesat, demikian pula dengan perkembangan intelektual yang ditandai dengan munculnya sastrawan-sastrawan seperti Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menggubah Kakawin Bharatayudda.

Bahkan kemudian Jayabaya juga dikenal sebagai Nostradamus-nya orang Jawa karena orang mengingatnya sebagai raja sakti yang mengeluarkan ramalan tentang Nusantara jauh di masa depan. Karena itulah orang Jawa selalu mengingat Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya, walaupun sebenarnya tulisan-tulisan mengenai ramalan Jayabaya sebenarnya baru dituliskan pada tahun 1618M oleh Sunan Giri ke 3 dengan judul Kitab Musarar.

Kembali ke tentang situs Petilasan Pamuksan Sri Aji Jayabaya ini, sesuai dengan asal katanya, pamuksan dapat diartikan sebagai tempat muksa dari Prabu Joyoboyo. Menurut legenda yang ada, Joyoboyo tidak dikatakan meninggal tetapi Ia muksa yaitu menghilang bersama jasadnya. Dalam pamuksan ni terdapat loka muksa, loka busana dan loka makuta. Masyarakat percaya terhadap hal tersebut, karena sampai sekarang jasad Joyoboyo tidak diketemukan.

Pamuksan Sri Aji Joyoboyo dipugar pada 22 Februari 1975 dan diresmikan pada 17 April 1976. Loka muksa yaitu tempat muksanya Prabu Joyoboyo. Loka busana adalah tempat busana dari Prabu Joyoboyo, sedang¬kan loka makuta adalah tempat mahkotanya.


Sedangkan Sendang Tirtokamandanu merupakan sendang yang dipakai oleh Joyoboyo sebelum Ia muksa. Tirto berarti air dan kamandanu berarti kehi¬dupan. Jadi Tirtokamandanu dapat diartikan sebagai air kehidupan. Dalam hal ini adalah hidup kembali menjadi seseorang yang suci. Masyarakat percaya air sendang tersebut mampu mensucikan. Oleh sebab itu, sebelum masyarakat berdoa meminta berkah mereka akan mandi di sendang terlebih dahulu. Sendang Tirtokamandanu dipugar pada tahun 1982. Pemugaran ini diprakarsai oleh Keluarga Besar Hondodenta, Keraton Jogjakarta, yang dikoordinir oleh Sri Sultan HamengkuBuwono VI. Sayangnya, kami tidak sempat berkunjung ke Sendang Tirtokamandanu ini karena keterbatasan waktu.


Mengingat bahwa Joyoboyo adalah tokoh yang sakti, maka banyak masyarakat yang datang ke petilasan untuk meminta berkah. Tidak hanya terbatas pada warga sekitar saja tetapi juga masyarakat luar Kediri. Bagi masyarakat pada umumnya, terdapat empat tempat yang dianggap sakral yaitu loka muksa, loka busana, loka makuta, dan sendang tirtokamandanu. Loka muksa dianggap sebagai tempat muksanya Prabu Joyoboyo. Loka busana merupakan tempat busana. Loka makuta berarti tempat mahkota. Sedangkan sendang tirtokamandanu merupakan pemandian yang digunakan oleh Joyoboyo sebelum Ia muksa.

Selain dianggap sebagai tokoh yang sakti, Joyoboyo merupakan leluhur dari masyarakat Kediri. Oleh karena itu kepercayaan masyarakat terhadap peti¬lasan pun masih sangat tinggi. Masyarakat selalu menyelenggarakan upacara adat atau ritual khusus sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap petilasan. Ritual ini dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharam atau 1 Suro. Dalam upacara ini biasanya berupa arak-arakan yang dimulai dari balai desa Menang menuju ke loka muksa lalu berakhir di sendang Tirtokamandanu.


Selain sebagai salah satu bentuk sastra lisan, legenda petilasan ini juga sebagai warisan budaya yang dimiliki oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai aset bagi warga masyarakat Menang saja karena telah dipotensikan sebagai tempat wisata daerah Menang. Tetapi juga bagi bangsa Indonesia karena legenda adalah salah satu bentuk khasanan budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. Maturnuwun.

2 on: "Misteri Moksanya Sri Aji Jayabaya"
  1. Smart & cool. But kurang komplit. Resi mayangkara, mpu Baradah, mbah Mantri dan Nyai Girah blm diikut sertakan. But good in up.

    BalasHapus
  2. Smart & cool. But kurang komplit. Resi mayangkara, mpu Baradah, mbah Mantri dan Nyai Girah blm diikut sertakan. But good in up.

    BalasHapus