Sunan Kudus, Wali Yang Merangkap Senopati Perang

www.akarasa.com


Selamat datang kembali kerabat akarasa. Setelah sebelumnya kita ke Demak, Jawa Tengah. Kembali saya mengajak kerabat akarasa melanjutkannya ke kota Kudus, Kota Kretek. Ya, karena Kudus adalah salah satu kota penghasil rokok skala nasional, bahkan mungkin internasional. Djarum. Tapi jelajah ke Kudus ini kita tidak hendak membincang candu linting, akan tetapi mengenal lebih dekat meski dengan aksara pada sosok pendiri kota kretek ini, yakni Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus. Sunan Kudus di dalam Babad Tanah Jawa disebut sebagai Senopati atau Panglima Perang Kerajaan Demak Bintoro. Juga Senopati Waliullah, artinya beliau itu menjadi Senopatinya para Wali. Sebagai Senopati Kerajaan Demak beliau pernah memimpin peperangan melawan Majapahit yang pada waktu itu dipimpin oleh Adipati Terung.

Sedangkan sebagai Senopati para Wali beliau pernah ditugaskan untuk mengeksekusi Syekh Siti Jenar, seorang Wali yang tercerita meremehkan syariat sehingga dianggap sesat. Pada bagian ini Insya Allah saya lanjutkan pada kesempatan yang lain.

Meskipun beliau bernama Sunan Kudus, namun dalam babad tersebut bukan asli dari Kudus. Beliau pendatang dari daerah Jipang Ponolan yang merupakan daerah di sebelah utara Blora. Di sana, beliau dilahirkan dan diberi nama Ja’far Shodiq. Beliau merupakan putra hasil dari pernikahan Sunan Ngudung (Raden Usman Haji ) dengan Syarifah. Sunan Ngudung sendiri terkenal sebagai seorang panglima perang yang tangguh. Suatu hari, ia tewas dalam peperangan antara Demak dan Majapahit. Setelah itu putranya, yaitu Ja’far shodiq menggantikan posisi ayahnya. Tugas utamanya adalah menaklukkan wilayah kerajaan Majapahit untuk memperluas kekuasaan Demak.
Ja’far Shodiq tidak merasa asing ketika bertanggung jawab sebagai Senopati. Karena saat beliau masih remaja, beliau tidak hanya mempelajari ilmu agama, namun juga ilmu ilmu yang lain. Seperti ilmu kemasyarakatan, politik, budaya, seni dan perdagangan. Selain kepada ayahnya, beliau juga pernah menimba ilmu kepada Sunan Ampel dan Kiai Telingsing. Nama yang belakang ini sebenarnya bernama asli Tai Link Tsing, ia berasal dari China. Karena pengucapan lidah jawa menjadi Telingsing. Ketika itu China sudah dikenal sebagai Negara yang maju.

Menurut cerita, suatu hari Tai Li Tshing datang bersama Laksamana Cheng Hoo. Ketika itu laksamana Cheng Hoo berlayar dari negeri satu ke negeri lainnya. Di samping itu, Laksamana Cheng Hoo juga mempunyai visi untuk menyebarkan Islam di wilayah Asia Tenggara. Dalam pelayarannya, ia mendarat di pelabuhan Semarang.

Tai Li Tshing ikut serta dalam rombongan Cheng Hoo. Dalam perjalanannya, akhirnya ia sampai di Blora, Jawa Tengah. Kemudian ia mengembangkan dakwah Islam di daerah Juwana, Pati, yang berdekatan dengan Blora. Dan Ja’far Shodiq merupakan murid kesayangan dari Tai Li Tsing. Maka sangat wajar jika Ja’far Shodiq selain mendapatkan ilmu agama, juga mendapatkan ilmu sosial dan kemasyarakatan, serta ilmu-ilmu yang lain.
Pada kenyataannya, Ja’far Shodiq sebagai senopati kerajaan Demak Bintoro, mampu membuktikan kehebatannya yang tak kalah dengan kepiawaian ayahnya di medan perang. Beliau berhasil mengembangkan wilayah kerajaan Demak ke  arah timur hingga mencapai Madura, dan arah barat hingga Cirebon. Kemudian sukses ini memunculkan cerita kesaktiannya. Misalnya, sebelum perang, Ja’far Shodiq diberi Badong (semacam rompi)) oleh Sunan Gunung Djati. Badong itu dibawahnya berkeliling arena perang.
Konon, Dari Badong sakti itu. Keluarlah juataan tikus yang juga sakti. Kalau dipukul maka tikus itu tidak mati, namun mereka semakin mengamuk sejadi-jadinya. Pasukan Majapahit ketakutan sehingga mereka lari tunggang langgang. Ja’far Shodiq juga mempunyai sebuah peti, yang bisa mengeluarkan jutaan tawon. Banyak prajurit Majapahit yang tewas disengat tawon itu. Pada akhirnya, pemimpin pasukan Majapahit, yaitu Adipati Terung menyerah pada pasukan Ja’far Shodiq.
Kesuksesannya mengalahkan Majapahit membuat posisi Ja’far Shodiq semakin kuat. Kemudian beliau meninggalkan Demak karena ingin hidup merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama islam. Lalu, beliau pergi menuju ke Kudus. Namun, kedatangannya di Kudus tidak jelas. Ketika ia menginjakkan kaki di Kudus, kota itu masih bernama tajug. Dalam cerita yang lain, konon orang yang mula-mula mengembangkan islam di kota tajug sebelum Ja’far Shodiq adalah Kiai Telingsing. Cerita ini menunjukkan bahwa kota itu sudah berkembang sebelum kedatangannya.
Awalnya, Ja’far Shodiq hidup di tengah jamaah dalam kelompok kecil di tajug. Jamaah itu merupakan para santri yang dibawanya dari Demak. Sebenarnya mereka adalah tentara yang ikut bersama Ja’far Shodiq memerangi Majapahit. Setelah jamaahnya semakin banyak ia kemudian membangun masjid sebagai tempat ibadah dan  pusat penyabaran agama. Tempat ibadah yang diyakini dibangun oleh Ja’far Shodiq adalah masjid Menara Kudus yang masih berdiri hingga kini. Dalam sejarah yang tercatat, Masjid ini didirikan pada 956 H yang bertepatan dengan 1549 M.
Kota Tajug pun mendapat nama baru, yakni Quds, yang kemudian berubah menjadi Kudus. Kemudian pada akhirnya Ja’far Shodiq sendiri dikenal dengan sebutan Sunan Kudus. Dalam menyebarkan agama islam, Sunan Kudus mengikuti gaya Sunan Kalijaga, yakni menggunakan model “tutwuri handayani”. Artinya, Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan keras, melainkan mengarahkan masyarakat sedikit. Sebab, ia memang banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Cara berdakwah Sunan Kudus pun yang meniru cara yang dilakukan Sunan Kalijaga, yaitu menoleransi budaya setempat, bahkan cara penyampaiannya lebih halus. Itu sebabnya para wali menunjuk dirinya untuk berdakwah di kota Kudus.
Ketika itu, masyarakat kudus masih banyak yang menganut agama Hindu. Maka, Sunan Kudus berusaha memadukan kebiasaan mereka ke dalam syariat islam secara halus. Misalnya, ia justru menyembelih kerbau bukan sapi ketika hari raya  Idul Qurban. Itu merupakan dari penghormatan Sunan Kudus kepada para pengikut Hindu. Sebab, ajaran agama hindu memerintahkan untuk menghormati sapi.
Setelah berhasil menarik umat Hindu memeluk agama Islam, Sunan Kudus bermaksud menjaring umat Budha untuk memeluk islam juga. Ia memiliki cara yang cukup unik untuk menarik perhatian mereka. Setelah Sunan Kudus mendirikan masjid, ia membuat padasan  (tempat berwudhu), dengan pancuran berjumlah delapan. Masing-masing pancuran diberi arca di atasnya.
Pertanyannya, mengapa Sunan Kudus melakukan ini? Ternyata, Sunan Kudus ingin menarik simpati umat Budha, karena dalam ajaran Budha terdapat delapan ajaran yang dinamakan Asta Sanghika Marga. Isi  ajaran tersebut adalah seseorang harus memiliki pengetahuan yang benar, mengambil keputusan yang benar, berkata yang benar, bertindak atau berbuat yang benar, hidup dengan cara yang benar, bekerja dengan benar, beribadah dengan benar dan menghayati agama dengan benar.
Akhirnya, usaha itu pun membuahkan asil, sehingga banyak orang yang bergama Budha berbondong-bondong memeluk Islam. Demikian pula dalam hal adat istiadat, beliau tidak langsung menentang masyarakat yang melenceng dari ajaran Islam secara keras. Sebagai contoh, masyarakat sering menambur bunga di perempatan jalan, mengirim sesajen di kuburan dan adat lain yang melenceng dari ajaran islam. Sunan Kudus tidak langsung menentang adat itu, tetapi ia mengarahkannnya sesuai ajaran Islam dengan pelan-pelan. Misalnya, Sunan Kudus mengarahkan agar sesajen yang berupa makanan diberikan kepada orang yang kelaparan. Ia juga mengajarkan bahwa meminta permohonan bukan kepada ruh, tetapi kepada Allah SWT.
Dengan cara yang simpatik tersebut membuat para penganut agama lain bersedia mendengarkan ceramah agama Islam dari Sunan Kudus. Surat Al Baqarah yang dalam bahasa Arab berarti sapi, sering dibacakan oleh Sunan Kudus untuk lebih memikat pendengar yang beragama Hindu. Bahkan membangun Masjid Kudus dengan tidak meninggalkan unsur aristektur Hindu. Contoh yang kerabat akarasa bisa lihat hingga kini adalah bentuk menara di Masjid Menara Kudus tetap menyisakan arsitektur gaya Hindu. Di antara bekas peninggalan Sunan Kudus adalah Masjid Raya Kudus yang kemudian dikenal dengan sebutan Menara Kudus. Di halaman masjid tersebut terdapat sebuah menara kuno yang indah. Bukti akulturasi pada agama sebelumnya di kota Kudus.
Kembali sebentar pada narasi pembuka tulisan ini. Adapun mengenai asal usul nama Kudus bahwa Sunan Kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di tanah arab, kemudian beliau juga mengajar di sana. Konon, masyarakat Arab waktu itu terjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan. Dan, penyakit itu mereda berkat jasa Sunan Kudus. Karena itu, seorang pejabat setempat berkenan untuk memberikan sebuah hadiah kepadanya. Tetapi ia menolaknya dan hanya meminta sebuah batu sebagai kenang-kenangan. Menurut suatu cerita, batu tersebut berasal dari kota Baitul Maqdis atau Jerusalem. Maka, untuk memperingati kota tempat ja’far Shodiq hidup dan tinggal, kemudian beliau memberinya nama Kudus. Bahkan, menara yang terdapat di depan masjid pun menjadi tekanan dengan sebutan Menara Kudus.
Cerita tutur lain yang menarik adalah kebiasaan unik Sunan Kudus dalam berdakwah, yakni beliau selalu mengadakan acara bedug dandangan. Acara ini merupakan kegiatan menunggu kedatangan bulan ramadhan. Beliau menabuh beduk bertalu-talu untuk mengundang para jmaah ke masjid. Beliau pun mengumumkan hari pertama puasa setelah jamaah berkumpul di masjid.
Sekarang ini, cara dandangan masih berlangsung tapi sudah jauh aslinya. Banyak orang datang kea real masjid menjelang ramadhan. Tetapi, mereka bukan hendak mendengarkan pengumuman awal puasa. Mereka hanya membeli berbagai makanan yang dijajakan para pedagangan musiman. Sunan Kudus sendiri wafat dan dimakamkan di sebelah barat masjid Jami’ Kudus. Jika kita memandang Menara Masjid Kudus ada yang lain, aneh, dan artistik, biasaya kita langsung teringat pada pendidirinya, yaitu Sunan Kudus.
Demikianlah sedikit ulasan mengenai cerita Sunan Kudus, mengenai asal usul, cara berdakwahnya, dan peninggalannya. Semoga tulisan singkat ini bisa menambah pengetahuan kita semua tentang para wali khususnya Sunan  Kudus. Sebagai salah seorang anggota Walisongo penyebar Islam di pulau Jawa, khususnya daerah Kudus segaligus dapat meneladani sifat terpuji beliau. Akhir kata jika dianggap tulisan ini membawa manfaat, silahkan di share atau di sebarkan kepada yang lain. Sampai ketemu lagi pada tulisan akarasa selanjutnya. Maturnuwun…

0 on: "Sunan Kudus, Wali Yang Merangkap Senopati Perang"