Mencicipi Kesakralan Pajimatan Imogiri

Akarasa – Alhamdulillah sudah beberapa kali saya berkunjung ke Pajimatan Imogiri di Girirejo-Imogiri, Pasareyan Para Nata Mataram selepas dari puncak Lawu. Dinamakan Imogiri, dari kata Imo  (kabut)  dan Giri (gunung), yang artinya Gunung berkabut. Konon karena bukit Imogiri ini sering muncul kabut misterius pada waktu-waktu tertentu. Seperti kalau ada raja yang wafat atau pemimpin bangsa ini ada yang mangkat maka seharian bukit ini akan diselimuti kabut misterius.

Ke pesareyan ini, kerabat akarasa harus berlelah dulu meniti trap sewu tangga yang berjumlah 449 (ada yang menyebut 664) dan memang cukup lelah melewatinya. Namun lelah tersebut akan segera sirna, ketika sampai di akhir perjalanan. Terlebih bagi kerabat akarasa yang suka pada ketinggian, ada banyak views yang sangat menakjubkan dipuncak Imogiri ini.

Sejarah Pajimatan Imogiri ini berkait erat dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo, diceritakan dulu saat beliau sedang istirahat di Bukit Merak atau juga disebut Imogiri ini, oleh abdi-dalem, dimasakkan wedang jahe dengan gula aren dan gula batu, dicampuri sedikit kayu secang. Pada saat menggodok wedang ini, tidak ditutupi, sehingga jatuhlah daun cengkeh dan daun pala, yang banyak tumbuh di bukit tersebut. Saat Sultan Agung minta minum, abdi-dalem ini sangat terkejut, karena di tempat penggodokan wedang kejatuhan beberapa daun, la menyajikan minuman ini dengan tidak menceritakan kejadian tersebut. Begitu minum. Sultan Agung sangat terkejut, dan menanyakan diberi apa minuman ini?

Dengan sangat ketakutan, abdi-dalem itu menceritakan apa yang terjadi. Tapi diluar dugaan Raja terbesar Mataram ini justru tertawa dan mengatakan minumannya sangat nikmat. Oleh Sultan Agung minuman itu diberi nama Wedang uwuh. Wedang  (minuman), Uwuh (sampah) daun. Dalam arti kata minuman yang berasal dari daun-daun yang tak berguna saat jatuh. Akhirnya resep ini disempurnakan oleh koki keraton dengan tambahan bahan; Jahe, Kayu Secang, Daun Cengkeh dan Bunga, dan batang, Kayu Manis, Pala, daun Pala, akar Sereh, daun sereh, Kapulage, dan gula batu. Minuman ini yang akhirnya dinamakan Wedang Keraton.

Di Bukit Merak, Sultan Agung Hanyokrokusumo, sedang merencanakan pembuatan Pajimatan (rumah masa depan) untuk dirinya dan generasi setelah beliau. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Sultan Agung, minta bantuan Tumenggung Citra Suma, Adipati Jepara, untuk membabat bukit Merak yang masih berupa hutan belukar ini. Tumenggung Citra Suma ini dipilih karena dikenal sangat pemberani dan sakti mandraguna. Dalam pertempuran melawan VOC, dia selalu berdiri di barisan paling depan.


Selain itu, Tumenggung Citra Suma, yang berasal dari Jepara, sejak zaman Majapahit terkenal dengan teknik sungging, pahat, dan seni bangunan (arsitek). Ia kerahkan para ahli bangunan dan pahat dari Jepara dan Bali. Tahun 1630, pembangunan Pajimatan Imogiri di mulai. Dan tanggal 6 April 1645, Sultan Agung mangkat dengan mendadak, yang akhirnya dimakamkan di Bukit Imogiri. Beliau raja pertama yang dikebumikan di bukit ini.

Sebagai penghormatan jasa Adipati Jepara, Tumenggung Citra Suma, ketika wafat, beliau dimakamkan di depan pintu gerbang Makam raja-raja Mataram, diluar pagar. Banyak yang percaya bahwa makam Kyai Tumenggung Tjokrokoesoemo, sangat cocok diziarahi bagi para arsitek yang baru akan mengembangkan kariernya atau mereka yang belum beruntung di karier kearsitekan.

Di tembok sebelah timur luar makam Sultan Agung, terdapat 3 makam misterius yang asal-usulnya sulit sekali untuk dilacak. Hanya nama Cindeamoh tertulis dipagar tembok makam. Kono, dulu sebelum di pugar, separo nisannya, di dalam rumah cungkup makam Sultan Agung, ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan antara Sultan Agung dengan Kyai Cindeamoh.

Di samping makam Kyai Cindeamoh, terdapat pohon Randu Alas yang telah tumbuh ratusan tahun yang mitosnya sering terlihat sosok naga bersayap. Sosok Kyai Cindeamoh, dikatakan sebagai abdi-dalem terkasih Sultan Agung dan merupakan empu keris keraton. Silsilah Kyai Cindeamoh sangat samar. Di samping makamnya, ada bangunan makam Tumenggung Suponto. Agak kebawah tanpa peneduh merupakan makam Tumenggung Nolodermo, yang dipayungi pohon Jambu Mente yang sangat subur.

Di depan makam Kyai Cindeamoh inilah saya manekung, bermunajad mohon petunjuk Sih Ing Gusti. Dalam manekung tersebut terjelaskan kalau beliau itu semasa mudanya bernama Pangeran Cindepuspito, dari Trah Pajang, dari garis keturunan Sultan Prabuwijaya Pajang atau Pangeran Banowo, dari garwa ampel/selir. Sedang ibunya masih ada Trah Cirebon.
Sampai di sini bila dilacak dari sejarah sangat memungkinkan. Kalau ibu Pangeran Cindepuspito dari trah Cirebon, karena ada putri Sultan Pajang Hadiwijoyo (Mas Karebet Jaka Tingkir) yang bernama Ratu Lampok Anggoras yang menikah dengan Panembahan Ratu. Zaman dahulu perkawinan silang antar kerajaan sangat mungkin dilakukan untuk memperkuat tali politik kekuasaan.

Ketika Pengeran Banowo bergelar Sultan Prabuwijaya, yang baru memerintah 1 tahun wafat, menurut tutur, dibunuh dari belakang oleh putra Panembahan Senopati, Raden Ronggo, karena terpikat oleh kecantikan isteri pamannya, Ratu Maerah. Beruntung Ratu Maerah yang cantiknya pindho mbulan ndadari (luar biasa), termasuk wanita setia, dan memilih suduk salira bela pati suaminya.

Peristiwa kematian Pangeran Banowo sangat mengguncang hati Panembahan Senopati, sampai dia menggoreskan keris di dahinya saking bersedih hatinya. Dari peristiwa inilah, akhirnya Raden Ronggo dianggap berbahaya bagi kelangsungan pemerintahan Mataram yang baru dirintis. Maka diputuskan kalau dia harus disingkirkan. Maka munculah legenda Raden Ronggo dibelit ular jelmaan ibunya Kangjeng Ratu Kidul dibawa ke Kerajaan Ratu Selatan.

Keraton Pajang yang komplang (kosong), digantikan oleh Pangeran Gagak Baning, adik Panembahan Senopati. Karena keturunan Pangeran Banowo yang sudah aqil balik perempuan semua. Sedang Pangeran Cindepuspito yang masih kecil kala itu terlunta-lunta. Hingga ia memilih hidup di Cirebon ikut bibinya menjadi pertapa dan akhirnya suka mendalami ilmu tosan aji.

Setelah Panembahan Senopati wafat, tahta jatuh pada Raden mas Jolang, yang bergelar Prabu Hanyokrowarti. Permaisuri raja Mataram ke-II ini adalah Ratu Mas Adi Dyah Banawati (Putri Prabu Wijaya atau Pangeran Benawa). Dari pasangan ini, lahirlah Mas Rangsang atau Raden Mas Jatmiko, yang menggantikan ayahnya menjadi Sultan Agung Hanyokrokusumo (raja terbesar Dinasti Mataram Islam). Sementara Pangeran Cindepuspito menggunakan nama Mpu Cindeamoh. Di Cirebon kemungkinan beliau ikut Bibinya, Ratu Lampok Anggoras, isteri Panembahan Ratu.
Panembahan Ratu ini orang keramat, setiap kali datang ke Mataram, kota dilanda wabah/ pageblug, karena menganggap Panembahan Ratu sebagai raja bawahan. Akhirnya Sultan Agung yang waskita, menjadikan Panembahan Ratu (bukan Panembahan Ratu, yang mati dieksekusi di Girilaya), sebagai guru spiritualnya, kebetulan isteri Panembahan Ratu masih terhitung 'Eyang Putri' Sultan Agung, karena masih saudara seayah dengan Eyang Pangeran Banowo (Ayah Ratu Mas Adi Dyah Benawati).

Kedekatan dengan Panembahan Ratu inilah, yang mungkin mempertemukan Mpu Cindeamoh dengan Sultan Agung. Kebetulan Mpu Cindeamoh ini masih pamannya, saudara seayah dengan ibunya. Maka diboyonglah Mpu Cindeamoh ke Mataram, untuk menjadi penasehat spiritualnya dan juga khusus membuat keris pesanan raja.

Leluhur dari Mpu Pangeran Cindeamoh adalah Sultan Kuda Rawi Srengga, yang menurunkan Pangeran Welang, tapi lebih suka mendalami tosanaji. Mpu Pangeran Welang kalau membuat keris hanya berdapur Karawelang, Brojol, dan Tilamupih. Karya fenomenalnya adalah Khangjeng Kyai Kukuhan, yang bila di watek daya postnipnotisnya akan berubah menjadi macan Loreng. Pusaka-pusaka karyanya harus dirawat hanya hari Sabtu wage saja.

Mungkin, putri Empu Pangeran welang, yang di selir oleh Raja Pajang, dan lahirlah Empu Pangeran Cindeamoh. Dari dirinya mengalir darah Pajajaran, Cirebon, dan Pajang.Mpu Pangeran Cindeamoh, jika membuat tosan­aji (senjata pusaka) tanpa menggunakan api, besinya hanya di pejet-pejet saja dengan menggunakan kekuatan jempol (ibu jari) dengan panedah.

Pendek kata kemungkinan, bahwa Mpu Pangeran Cindeamoh hidup sejak zaman Cirebon, Pajang, hingga Mataram Sultan Agung. Karena kedekatannya dengan Sultan Agung inilah, maka diizinkannya jasad beliau ketika wafat dimakamkan di bukit Imogiri. Hingga sekarang memang ada dua pendapat tentang masa hidup Mpu Pangeran Cindeamoh ini. Golongan 1, beliau dinyatakan hidup di zaman Pajajaran. Golongan ke 2, menyatakan beliau adalah penasehat spiritual dan Mpu Keraton Sultan Agung.

Dari bukit imogiri, di Makam Empu Pangeran Cindeamoh, akan terlihat sebuah bukit lagi yang lebih tinggi. Di kaki bukit itu ada Makam Banyusumurup, Makam Girilaya. Dan jika perjalanan kita dari Dlingo, yang ke arah Gunung Kidul itulah akan menuju ke sumber mata air yang dinamakan Tuk Bengkung. Dari mata air itulah, suplai air Bukit imogiri diperoleh dengan berlimpah, dengan menggunakan pipa yang terbuat dari tanah (plumping) yang dipendam.
Tuk Bengkung ini memiliki sejarah yang panjang. Lokasinya 5 km sebelah timur Pajimatan Imogiri dalam hutan tutupan.

Mata air ini tercipta dari tancapan tongkat Susuhunan Kalijogo. Sewaktu syiar agama Islam di sini. Nama Tuk Bengkung, konon berkaitan dengan peristiwa yang menewaskan Prabu Anyokrowarti ketika berburu kijang. Tiba-tiba Prabu Anyokrowarti ditombak oleh bangsawan yang tidak setuju beliau menjadi raja, hingga landeyan (tongkat kayu) tombak yang digunakan untuk menombak itu melengkung, yang dalam bahasa djawa dinamakan Mbengkung.

Konon, bangsawan itu akhirnya lari dan bersembunyi di mata air ini. Untuk mengenang kejadian itu, mata air ini dinamakan Tuk Bengkung. Dan bangsawan tersebut juga mengganti namanya sebagai Kyai Bengkung. Tapi cerita lain menuturkan, terjadinya Tuk Bengkung, dari peristiwa tanah yang dilempar imam Besar Mekah, Supingi, ke Tanah Jawa. Dan jatuhnya tanah itu dicari oleh Sultan Agung. Pencarian tanah tersebut tidaklah mudah, karena lelah, Sultan Agung beristirahat di sebuah bukit dan bertapa. Selesai bertapa merasa haus, maka ditancapkanlah tongkatnya. Karena tanahnya berbatu, tongkat itu sampai mlengkung, tapi keluar mata airnya. Maka kemudian dinamakan Tuk Bengkung.

Tanah yang dicari ternyata jatuh di Girilaya. Saat dibangun oleh arsitek Tumenggung Wiroprobo. Paman Sultan Agung, Panembahan Juminah memohon ikut serta dimakamkan disitu. Karena masgul, Sultan Agung mempersilakan pamannya. Dan tak lama kemudian Panembahan Juminah sakit lalu meninggal.

Oleh Sunan Kalijogo, Sultan Agung disarankan agar melempar lagi tanah dari Mekah. Dan lemparan kedua Imam Besar Supingi ini, tanahnya jatuh di Bukit Merak, yang kemudian dinamakan Imogiri.
Semasa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645) dilakukan perluasan daerah hingga ke luar Jawa. Tahun 1622, Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal) dikirimi ekspedisi penaklukan ke Sukadana (Kalimantan Barat Daya) dan tahun 1624, Ki Juru Kithing (Putra Ki Juru Mertani) dikirim menaklukan ke Madura. Madura yang terdiri dari banyak Kadipaten Kecil disatukan dibawah pimpinan Pangeran Prasena yang bergelar Cakraningrat I. (Wikipedia)

Dengan ditaklukkannya Sukadana dan Madura, Surabaya menjadi lemah. Tumenggung Mangun Oneng berhasil melumpuhkan Surabaya tahun 1625. Namun tahun 1627, Kadipaten Pati, yang dipimpin Adipati Jayakusumo, melakukan pemberontakan yang banyak memakan biaya. Sulitnya Kadipaten Pati ditaklukkan ini karena mereka mempunyai senopati bule (kakak beradik) yang bernama Raden Baron Scheber dan Raden Baron Scheder. Oleh pasukan Mataram, sepak terjang mereka di ibaratkan seperti "Kerbau Bule" yang sedang mengamuk. Di katakan Kerbau Bule, karena kedua orang senopati ini berkulit putih (ras Eropa). Maka Adipati Jayakusuma yang menjadi pimpinan mereka akhirnya terkenal dengan sebutan Adipati Pragola-pati. 

Namun sekuat-kuatnya daerah Kadipaten, digempur negara Mataram yang besar, akhirnya jebol juga. Adipati Pergola-pati dihukum mati. Dua Senopati Bulenya, oleh Sultan Agung di bawa ke Mataram dan di ampuni. Mereka di Mataram, untuk Baron Scheber yang pandai menata taman diberi tugas sebagai juru taman. Sedang adiknya, diberi tugas merawat binatang-binatang kesayangan raja, di panggung Krapyak.

Tahun 1627, Mataram kena pageblug wabah penyakit. Bahkan dua pertiga penduduk Mataram tewas. Oleh ahli spiritual raja, wabah penyakit itu bisa mereda, jika keraton mau memberikan tawur (korban suci) ke Gunung Merapi. Tawur itu harus berupa manusia bule. Maka dipanggilah dua bersaudara ini. Dihadapan raja, mereka ditanya apakah rela berkorban demi keselamatan Mataram. Keduanya menjawab, "Sendika dawuh". Mereka akhirnya melakukan upacara suci kematian dengan menusukkan pedangnya ke arah saudaranya. Darah menetes, membasahi nampan yang telah disediakan. Darah itulah yang dilabuh di Gunung Merapi. Hingga akhirnya mereka dipercaya sebagai penguasa Gunung Merapi dengan nama Ki Juru Taman atau Kyai Wiratrena dan Kyai Gedong Malati.

Di zaman Mataram kala itu, kisah ini sangat dikenal, yaitu Murca-nya Ki Juru Taman, yang rela menjadi pembimbing dan pamomong bangsa lelembut. Dan rasanya tak adil, jika tidak menyebut adiknya Kyai Gedong Malati, yang sering kali salah disebut namanya menjadi Nyai Gadung Melati. Keduanya jadi tetunggul lelembut di Gunung Merapi.

Karena jasanya yang sangat besar, rela menjadi tawur agung untuk keselamatan rakyat Mataram, maka jasadnya, meski bukan dari golongan trah raja, diperkenankan dimakamkan di bukit Imogiri. Makam mereka ada yang menyebut sebagai makam Kyai Gedong Malati dan Kyai Selamet. Bila digabung namanya memiliki arti tempat/ bangunan yang keramat yang bisa memberi sawab keselamatan, mungkin seperti itu. Juga, konon, cikal-bakal kerbau bule yang hingga sekarang dilestarikan Keraton Surakarta Hadiningrat itu, diawali dari kisah ini.

Kelelahan menggelayuti sukma. Saatnya langkah kaki menuruni Bukit Imogiri. Biarlah kesakralan tetap melegenda di Bukit Para Raja itu. Mohon pamit.
Maturnuwun..

0 on: "Mencicipi Kesakralan Pajimatan Imogiri"