Stop Press ! Ungkapan Hati Seorang Ayah

wahana misteri paling akurat
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Jika boleh jujur senyatanya sejak kecil, kita dilatih untuk berbohong. Tidak secara langsung, tentunya.
Akhirnya kita belajar untuk mengatakan apa yang orang lain ingin dengar, dan kita bersikap sesuai dengan hal itu. Padahal konon, justru dengan mengatakan yang sebenarnya, akan menciptakan sebuah perubahan kimiawi positip dalam tubuh.

Maka ketika saya menulis catatan kecil ini, saya ingin menceritakan yang sebenarnya. Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk diriku sendiri, yang ingin mencoba belajar berkata yang benar. Sepahit apa pun itu, baik ketika dituliskan, juga setelah dibacakan.

Dan saya pun sedang ingin belajar berkata jujur, terutama pada anak-anakku. Agar kelak, mereka pun berani berkata jujur. Paling tidak ketika berkata padaku. Maka saya menuliskan ini, agar bisa dibaca anak-anakku kelak. Rencananya akan kuwariskan, untuk dibaca oleh mereka, setelah dewasa. Tentu karena saya sadar, saya tak mampu mewariskan kekayaan. Maka yang bisa kusiapkan, hanyalah sekadar pandangan, pemikiran, dan sedikit kebijakan dari pengalaman. Tentu bukan untuk langsung ditelan.

Saya  menginginkan semua yang kurasakan, bisa terbaca oleh mereka. Bagaimana perjalanan hidupku, dari kecil hingga setua ini. Dari masa kanak-kanakku yang manis, masa anak-anak yang asam, masa remaja yang kecut, masa dewasa yang asin, hingga masa tua yang pahit. saya menginginkan mereka semua sedikit mengerti dan memahami, gejolak pergolakan batinku. Tentu bukan untuk menggurui. Hanya sekadar berbagi.

Bagaimana dulu saya mencoba menyusun batu-bata kepercayaan diri, dari keterpurukan panjang yang membuatku tak yakin bahwa saya masih ada. Bagaimana saya mencoba merangkak kembali dari pingsan setelah dihajar penghinaan yang menurutku sangat kelewatan. Bagaimana saya bangkit kembali. Mencoba belajar berdiri kembali di atas dua kaki, untuk menopang kegalauan hati. Bagaimana saya pernah tidak percaya bahwa saya masih mampu berdiri, bahkan bahwa saya masih punya sepasang kaki.

Saya ingin rasa kalahku dibaca oleh anakku. Rasa kalah ketika dikalahkan dan disalahkan. Bukan untuk belajar dendam. Sekadar agar mereka tahu, saya pernah jatuh. Saya juga pernah salah. Pernah terjungkal, terjungkir, bahkan terpelanting, oleh langkahku sendiri.

Namun mereka juga harus membaca, bahwa saya bisa bangkit dari keterpurukan yang panjang. Bisa naik dari lumpur keminderan yang sangat, keterpojokan jiwa yang berat. Saya pernah beranjak dari dasar jurang ketakutan yang membuatku hampir putus asa.

Saya ingin semua yang kualami sejak merasa kehilangan diri, hingga proses mencari kembali, dan berusaha menemukannya lagi bisa dimengerti. Saya ingin anakku memahami jalan berliku yang kupilih. Juga liku-liku hidupku yang mungkin aneh di mata orang tua dan saudara, sementara saya pun tak bisa menjelaskan itu semua pada mereka. Saya hanya bisa menceritakan segalanya pada istri. Belahan jiwa yang tak mungkin terganti.

Saya juga ingin anakku tahu, bahwa saya pernah dirundung kepiluan yang sangat. Juga ketakutan yang mencekam, tentang masa depan mereka. Ketika pada suatu waktu, saya yang tanpa pekerjaan sama sekali tak menghasilkan pendapatan. Yang membuat biaya hidup tiap bulan menjadi momok yang menakutkan. Hari-hari yang menyedihkan.

Saya pernah merasa sangat bersedih, ketika tak bisa membelikan celana. Merasa amat bersalah, ketika selama ini ia hanya memakai celana bekas Rizal kakak sepupnya dulu. Sama ketika Adil sakit, atau pun Umminya sakit. Tak ada biaya ke dokter, apalagi spesialis. Hingga harus rela antri di puskesmas, karena bisa berobat tanpa biaya.

Sedih sekali ketika saya seolah tak bisa membahagiakan mereka. Sekadar membelikan mainan padanya. Memberikan baju, celana, sepatu, sandal, tas, atau topi baru. Atau mengajaknya sekadar jalan-jalan di Minggu pagi di alun-alun atau pantai Boom.

Saya ingin menuliskan semua yang kurasakan. Tak akan saya tutupi dengan cerita-cerita heroik yang membuat mereka bangga dengan seluruh yang pernah saya punya. Segala cerita orang yang pernah mereka dengar tentangku. Bahwa saya bisa ini itu. Bisa menulis, bisa menggambar, bisa mendesain, bisa menjadi tukang kayu, atau bisa listrik.

Saya lebih ingin mereka tahu, tentang ‘apa-apa’ yang ada pada diriku. Bukan siapa diriku. Mungkin mereka akan kecewa. Tak lagi berbangga. Tapi kejujuran ini, justru membuatku bahagia. Saya telah menceritakan bagaimana diriku sebenarnya.

Dan pada ujung tulisanku nanti, saya pun ingin menceritakan semua pada mereka. Suatu mimpi yang sampai saat ini belum kuraih. Tentang keinginanku membahagiakan mereka, orang-orang terdekatku. Orang-orang yang sangat saya perlukan, karena mereka pun membutuhkan saya.

Dan saya pun membutuhkan mereka. Saya (haqul yakin!) sangat memerlukan kedua orang tuaku, karena doanya lah saya bisa menjadi apa saja. saya sangat-sangat memerlukan istriku, karena dialah yang mendukung segala rencanaku, termasuk yang gila dan di luar logika. Saya juga amat memerlukan anakku, karena merekalah cahaya hidupku.
Saya ingin membahagiakan mereka, sebagai ujung bahagiaku. Puncak terindah usahaku.

Setelah itu, barulah membahagiakan orang lain, tentu.


Bismillah.

0 on: "Stop Press ! Ungkapan Hati Seorang Ayah"