Perang Jawa : Menempuh Jalan Takdir [1]


Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Sebenarnya ini atas permintaan anak saya untuk menuliskan sejarah perang Jawa, bisa jadi dia terinspirasi saat Agustus-an kemarin dia kebetulan di dapuk sebagai Pangeran Diponegoro dalam karnaval tahunan tersebut. Dengan berbekal literatur-literatur yang saya kumpulkan dari berbagai situs saya kemudian seperti yang sedang panjenengan baca ini.

Ada satu adagium yang menyatakan, siapa yang melupakan sejarah, tamatlah riwayatnya. Masih ingat kan adagium yang berkait erat dengan sejarah ini. Di masa ini, hampir seluruh umat manusia mengaminkan adagium tersebut yang mengarah pada sebuah pernyataan yang ditanamkan oleh diri masing-masing manusia mengenai orang yang belajar dari sejarah akan terhindar dari konflik/pertentangan.

Akan tetapi, tidak semata-mata hal tersebut benar sebab bisa saja orang belajar dari sejarah akan memulai konflik baru karena mereka mengetahui alurnya. Sudah banyak peristiwa-peristiwa sejarah yang dimulai dari pertentangan, konflik, perang, kerjasama, pertentangan, begitu seterusnya. Dimulai dari perang antara kaum Theis dan Pagan, Perang Salib, penaklukan Anglo Saxon, namun mengapa masih saja ada pertentangan? Sebab pertentanganlah yang menyelamatkan umat manusia.

Baik, sebelum kita membicarakan lebih jauh seputaran Perang jawa, mari sejenak membincang tentang tentang tokoh-tokoh utama dari perang Jawa ini. Setidaknya bisa memberikan gambaran menegenai corak perang yang menggetarkan eksistensi kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia kala itu.

Sebagai seorang pahlawan nasional, tempat Diponegoro dalam sejarah negerinya sudah pasti, tetapi apa nilai-nilai yang lebih mendalam yang diwariskan oleh Sang Pangeran? Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupannya? Apa pemaknaan yang lebih luas dari kehidupan sang pangeran ini?

Pangeran Diponegoro, menurut Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri di Penjara Menado, menceritakan bahwa ia sejak muda telah mengabdi pada agama, mengikuti jejak hidup moyangnya yang sangat taat pada agama. Moyangnya itu tinggal di Tegalrejo. Untuk menghindari diri dari pengaruh kraton Yogyakarta, ia tinggal bersama neneknya di Tegalrejo.

Selain dari para perempuan hebat, Diponegoro dibesarkan oleh para kyai desa. Setelah nenek buyutnya meninggal, Diponegoro mengintensifkan hubungannya dengan para kyai desa. Bahkan Diponegoro menikahi anak seorang Kyai Desa. Istri pertama Diponegoro, Raden Ayu Retno Madubrongto adalah anak dari Kyai Gedhe Dadapan, seorang ulama terkemuka dari Desa Dadapan.

Selain berhubungan dengan Kyai Gedhe Dadapan, Diponegoro juga berhubungan dengan beberapa kyai, diantaranya: Kyai Muhammad Bahwi yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Ngusman Ali Basah, Haji Badarudin, komandan Korps Suranatan, Kyai Taptojani yang ahli penterjemah teks-teks Islam, serta Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah al-Ansari seorang ulama dari Arab.

Pada waktu ia berumur 20 tahun telah berhasrat hidup sebagai fakir (sufi), sehingga seringkali keliling mengunjungi masjid, di mana ia dapat bergaul dengan para santri. Di bagian lain dari bukunya itu, Diponegoro bercerita, ketika ia sedang berada di gua Secang, ia dikunjungi oleh seorang berpakaian haji yang mengaku dirinya utusan Ratu Adil, yang meminta pada Diponegoro untuk menemuinya di puncak gunung yang bernama gunung Rasamani, seorang diri.

Diponegoro segera mengikuti utusan itu hingga sampai di puncak gunung. Di sana ia berjumpa dengan Ratu Adil yang memakai serban (ikat kepala model Arab) hijau dan jubah (pakaian khas Arab yang panjang dengan lengan tangan lebar pula) dari sutera; dengan celana dari sutera juga. Ratu Adil mengatakan kepada Abdul Hamid (Diponegoro) bahwa sebabnya ia me¬manggil Diponegoro adalah karena ia mewajibkannya untuk memimpin prajuritnya untuk menaklukkan Pulau Jawa. Kalau ada orang yang menanyakan padanya, kata Ratu Adil, “siapa yang memberi kuasa padanya?” Diponegoro harus menjawab, bahwa: “yang memberi kuasa padanya adalah Al-Qur’an”.

Di bagian lain Diponegoro menceritakan, bahwa pada suatu waktu, ketika ia duduk di bawah pohon beringin, ia mendengar suara yang mengatakan bahwa ia akan diangkat menjadi Sultan Erucakra, Sayidina Panatagama, Khalifah daripada Rasulullah.

Oleh karena itu Diponegoro dalam memimpin “Perang Jawa” ini senantiasa diwarnai oleh ajaran Islam dan bahkan berusaha agar syari’at Islam itu tegak di dalam daerah kekuasaannya.

Hal ini dapat dilihat dari surat Diponegoro yang ditujukan kepada penduduk Kedu, yang ditulis dalam bahasa Jawa, antara lain berbunyi “Surat ini datangnya dari saya Kanjeng Gusti Pangeran Diponegoro bersama dengan Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta Adiningrat kepada sekalian sahabat di Kedu, menyatakan bahwa sekarang kami sudah minta tanah Kedu. Hal ini harus diketahui oleh semua orang baik laki-laki maupun perempun, besar atau kecil tidak usah kami sebutkan satu demi satu. Adapun orang yang kami suruh bernama Kasan Basari. Jikalau sudah menurut surat undangan kami ini, segeralah sediakan senjata, rebutlah negeri dan ‘betulkan agama Rasul’. Jikalau ada yang berani tidak mau percaya akan bunyi surat saya ini, maka dia akan kami penggal lehernya…” Kamis tanggal 5 bulan Kaji tahun Be (31 Juli 1825).

Kiai Mojo adalah seorang ulama terkenal dari daerah Mojo Solo. Ia adalah seorang penasehat keagamaan Diponegoro yang memberikan corak dan jiwa Islam kepada perjuangan yang dipimpinnya. Disamping penasehat Diponegoro, ia juga memimpin pasukan bersama-sama anaknya di daerah Solo.
Sebelum ‘perang Jawa’ pecah, ia telah berkenalan erat dengan Diponegoro, sehingga tatkala perang dicetuskan ia bersama anaknya Kiai GazaIi dan para santrinys bergabung dengan pasukan Diponegoro.
Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja (Sentot) adalah putera Raden Rangga Prawiradirja III yang gugur di dalam pertempuran melawan pasukan Belanda. Ibu Prawiradirja (nenek Alibasah) adalah puteri Sultan Hamengku Buwono I. Jadi apabila dilihat dari silsilah keturunannya, ia adalah keturunan kraton Yogyakarta yang mempunyai hubungan darah dengan Diponegoro. Dilihat dari namanya, ia adalah seorang muslim.

Pada saat ‘perang Jawa’ pecah, Alibasah masih muda sekali yaitu berumur 16 tahun. Sebagai remaja yang penuh semangat perjuangan yang diwarisi dari ayahnya, pengaruh agama Islam juga sangat besar dari tokoh utama perang Jawa, yaitu Diponegoro dan Kiai Mojo.

Dilihat dari para pelaku utama dalam Perang Jawa ini dapat disimpulkan bahwa Islam memegang peranan penting dalam memberikan motivasi dan inspirasi untuk menentang kezaliman dan tirani yang bertitik kul¬minasi dengan meletusnya petang tersebut. Kesimpulan ini sejalan dengan tulisan W.F. Wertheim yang antara lain menyatakan bahwa faktor baru muncul pada abad ke-19, di mana daerah-daerah di Indonesia rakyat tani banyak yang masuk Islam. Hal ini memperkuat posisi para kiai, karena sekarang mereka dapat mengandalkan untuk mendapatkan dukungan kuat dari rakyat.

Para penguasa kolonial Belanda terus menerus konfrontasi dengan sultan-sultan Indonesia mendorong mereka untuk mempersatukan.diri dengan para kiai serta mengibarkan bendera Istam, sultan-sultan itu dapat mengobarkan pemberontakan umum. Ini dapat disaksikan dalam perang Jawa, perang Bonjol, perang Aceh. Lebih daripada itu keadaan perang ternyata menambah prestise dan kekuatan para ‘ekstremis’ di antara kiai itu untuk menggunakan senjata “Perang Sabil”.

Sering kita mendengar bahwa Diponegoro memberontak kepada Belanda karena tanah pertaniannya di Tegalrejo diberi patok untuk pembuatan jalan oleh Belanda. Diponegoro sangat tersinggung dengan pematokan tanahnya tersebut. Untuk menunjukkan ketersinggungannya Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak.

Beberapa penyebab pemberontakan Diponegoro diantaranya adalah budaya keraton yang telah berubah menjadi kebarat-baratan. Hamengku Buwono III lebih suka memakai pakaian Mayor Jenderal Belanda daripada memakai pakaian Jawa. Keraton dijadikan tempat mesum oleh Belanda dan para punggawa. Perselingkuhan di keraton antara Belanda dengan para pengageng keraton dan sebaliknya terjadi begitu nyata. Sebagai seorang yang memegang Islam dan menjunjung budaya Jawa tentu saja Diponegoro sangat kecewa dengan keadaan ini. Bahkan Diponegoro ingin menghancurkan keraton tersebut sampai tidak ada satu batupun yang masih tinggal. Diponegoro ingin mendirikan keraton baru yang Islami.

Penyebab kedua adalah tidak pedulinya Keraton dengan kemiskinan rakyat. Keraton terlalu tunduk dengan tuntutan Belanda. Penerapan pajak dan diijinkannya orang Eropa dan orang Timur Jauh untuk menyewa lahan menyebabkan kemiskinan di wilayah Keraton Jogja menjadi semakin hebat. Demikian juga dengan peraturan penebangan pohon jati di wilayah mancanegara (Madiun dan Sukawati) yang membuat rakyat tidak punya akses terhadap bisnis pohon jati ini. Hal ini telah menyebabkan pemberontakan Raden Ronggo di Madiun (yang kemudian menjadi mertua Diponegoro). Pemberontakan Raden Ronggo ini ditulis oleh Diponegoro cukup panjang dalam babadnya. Pemberontakan raden Ronggo menginspirasi Diponegoro untuk melawan Belanda.

Penyebab ketiga adalah perubahan peraturan tentang sewa lahan. Belanda mengubah peraturan penyewaan lahan kepada orang Eropa dan Timur Jauh, dimana mereka tidak boleh lagi menyewa lahan-lahan yang dulunya dikerjakan oleh rakyat. Namun demikian keraton harus serta-merta memberikan ganti rugi kepada sang penyewa. Sedangkan harga ganti rugi ditentukan secara sepihak oleh penyewa/Belanda. Akibatnya keraton terancam bangkrut. Diponegoro sudah menyatakan ketidak setujuannya dengan aturan ini. Namun Ibu Ratu memilih untuk menyetujui aturan ini karena ingin menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda. Sejak kasus itu Diponegoro tidak mau lagi menjadi wali Sultan dan memilih untuk pulang ke Tegalrejo.

Ketika patok-patok jalan itu dipasang di tanahnya, saat itulah Diponegoro merasa bahwa takdir yang harus dijalani sudah tiba waktunya. Maka pemberontakan segera dikobarkan. Diponegoro mendapat banyak dukungan dari para ulama, rakyat dan beberapa kerabat keraton yang kecewa.

Tentang kelemahannya dengan perempuan, Diponegoro mengakuinya secara terbuka. Sebagai orang yang mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh pewayangan Arjuno, Diponegoro sangat menyukai perempuan. Kasus yang dianggap memalukan adalah saat beliau berhubungan dengan perempuan Tionghoa yang menjadi tukang pijitnya. Hubungan yang tidak senonoh itu diyakini menjadi penyebab mengapa tentara Diponegoro kalah di Gawok saat berupaya menyerang Keraton Kasunanan. Bahkan Diponegoro tertembak. Pengakuannya secara terbuka ini menunjukkan bahwa Diponegoro adalah seorang ksatria. Bahkan saat di pengasingan di Manado, Diponegoro berminat menikahi anak ulama setempat, meski lamaran Diponegoro ini ditolak..
Bersambung..

Referensi :
Carey, Peter. 2011. Kuasa Ramalan : Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785 – 1855 Jilid 1. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia.
Sebagian artikel dari sini

0 on: "Perang Jawa : Menempuh Jalan Takdir [1]"