Tuah Kutukan Hamengkubuwono I Atas Ambruknya Yogyakarta Dalam Geger Sepoy


Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Sekitar dua abad silam. Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi mendapatkan sebagian wilayah Kerajaan Mataram. Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I itu pun mulai membangun Kasultanan Ngayogyakarta dengan wilayah sebagian besar adalah bekas hutan Mentaok yang dulunya dibuka oleh Panembahan Senapati, pendiri Mataram Islam. Berbagai tempat didirikan. Bangunan utama Kraton didirikan di atas tanah yang disebut Pacetokan. Masjid Agung dibangun di samping alun-alun, Pasar Beringharjo, Kepatihan dan sebagainya.

Keraton Yogyakarta dikelilingi oleh Cepuri (benteng dalam yang langsung melingkupi keraton), dan Baluwarti (benteng luar yang melingkupi keraton dan beberapa pemukiman di sekitarnya serta beberapa bangunan komponen kota). Benteng-benteng tersebut mempunyai makna simbolik, yaitu berkaitan dengan kesakralan wilayah yang dihuni oleh penguasa beserta kerabatnya. Selain itu, benteng juga memiliki makna praktis, yaitu berkaitan dengan usaha pertahanan dari serangan musuh. Berkaitan dengan makna yang terakhir itu, maka Benteng Baluwarti Keraton Yogyakarta dilengkapi pula dengan jagang, yaitu parit pertahanan. Tembok Benteng Baluwarti tersebut secara keseluruhan tebalnya sekitar 4 m dan di setiap sudutnya terdapat bastion yang dalam bahasa Jawa disebut tulaktala.

Benteng Baluwerti dibangun atas prakarsa Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan Hamengku Buwono I, sebagai reaksi atas berdirinya benteng Kompeni di sebelah utara Keraton. Benteng Kompeni yang dibangun antara tahun 1765 hingga 1787 itu, kini dikenal dengan nama Benteng Vredeburg. Pembangunan Benteng Baluwerti sendiri ditandai dengan ornamen simbolik berupa suryasengkala yang berbunyi Paningaling Kawicakranan Salingga Bathara yang bermakna tahun 1785 M. Untuk mempersiapkan diri menghadapi serangan Daendels, Pada bulan November 1809, Pangeran Adipati Anom yang telah naik tahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono II, semakin menyempurnakan bangunan ini.

Sri Sultan Hamengku Buwono II mempuyai 80 anak. Hamengkubuwono II (7 Maret 1750 – 2 Januari 1828) atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh. Dikenal sebagai penentang kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles. Sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat kebesaran Residen Belanda. Pada saat menghadap sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi. 

Perselisihan antara Hamengkubuwana II dengan Susuhunan Surakarta tentang batas daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Hamengkubuwono II turun tahta pada tahun 1810 dan untuk selanjutnya bertahta secara terputus-putus hingga tahun 1828 yaitu akhir 1811 ketika Inggris menginjakkan kaki di jawa (Indonesia) sampai pertengahan 1812 ketika tentara Inggris menyerbu keraton Yogyakarta dan 1826 untuk meredam perlawanan Diponegoro sampai 1828. Hamengkubuwono III, Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V sempat bertahta saat masa hidupnya Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Dan benar adanya, pada suatu pagi yang mencekam, Juni 1812, sekitar 1200 bala tentara Inggris dan Sepoy (orang-orang India) merangsek masuk ke Kraton Yogyakarta. Gubernur Raffles memerintahkan pasukannya yang dikomandani Kolonel Gillespie menyerang Kraton. Saat itu Kraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan HB II. 

Geger Sepoy begitulah banyak orang menyebutkan tragedi ini. Peristiwa yang jauh lebih parah dibanding kejadian-kejadian penting sejarah Kraton seperti jatuhnya Kraton di Pleret (1677), Kartasura (1742), pemberontakan Trunojoyo (1675-1680) dan perang Cina (1740-1743). Tak ayal, bombardemen artileri pasukan Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancur-leburkan Benteng Baluwerti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini. Seperti apa ceritanya, penasaran? Baik saya akan rangkumkan buat kerabat akarasa sekalian.

Cerita bermula setelah Belanda takluk dan meninggalkan wilayah Hindia Belanda di bawah kekuasaan Inggris (1811), Sultan Hamengkubuwana II kembali menduduki tahta Kesultanan Yogyakarta. Sementara itu, Hamengkubuwana III kembali menjadi putera mahkota serta membuat perdamaian dengan ayahnya pada tanggal 5 November 1811. Namun, kedatangan Inggris ditentang oleh keraton-keraton di Jawa (Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) yang mengadakan perjanjian rahasia untuk melawan Inggris.

Ketegangan yang memuncak membuat John Crawfurd (residen Inggris di Yogyakarta) mengontak putera mahkota melalui perantaraan Pangeran Diponegoro. Pihak Inggris bermaksud untuk mengangkat putera mahkota kembali menjadi sultan karena memiliki sikap lebih ramah dan penurut dibandingkan ayahnya yang kaku. Di lain pihak, Sultan Hamengkubuwana II bermaksud membujuk Inggris untuk mengganti kedudukan putera mahkota kepada Mangkudinigrat. Putera mahkota sendiri dikisahkan dalam Babad Bedhahing Ngayogyakarta karya Pangeran Panular dan tinjauan Residen Valck tidak berniat merebut kekuasaan meskipun keselamatan dirinya terancam oleh ayahnya. Itulah sebabnya dirinya masih berada di keraton pada saat Inggris menyerang.

Petistiwa Geger Sepoy sejatinya adalah awal runtuhnya Tanah Jawa. Pengingkaran Sultan HB II atas wasiat ayahandanya, Sultan HB I, menjadikan Kasultanan Yogyakarta mengalami malapetaka. Keraton Yogyakarta diserang dan dijarah habis oleh pasukan Inggris-Sepoy pada 20 Juni 1812, sebagai tanda hadirnya tatanan baru imperialisme Eropa yang lebih perkasa. Bahkan dikemudian hri upaya melawan “kutukan” itu sempat dilawan oleh Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825 – 1830) dan Sultan HB IX di masa Republik Indonesia.

Bahkan dalam sebuah riwayat menyebutkan, ramalan tentang “awal runtuhnya Tanah Jawa” diterima oleh Pangeran Diponegoro di Parangkusumo pada sekitar tahun 1805 dalam suatu perjalanan ziarah. Kekuasaan kraton-kraton Jawa tengah terlucuti sejak perjanjian yang dipaksakan oleh Daendels pada tahun 1811. Kedatangan dan penguasaan Inggris merupakan bentuk tukar guling tirani kolonial satu ke tirani kolonial yang lain. Perang Jawa yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro pada 1825 – 1830 merupakan upaya besar terakhir kekuasaan bangsawan Jawa untuk melawan imperialisme dan kolonialisme.

Semangat perlawanan Diponegoro, sebagai Ratu Adil dalam balutan Islam-Jawa dan “Nasionalisme” Jawa, bahkan lebih besar daripada yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi, Raden Mas Said, dan Raden Ronggo I hampir seabad sebelumnya. Perlawanan ini antara lain dilandasi pula oleh kekecewaan Diponegoro terhadap perubahan kebijakan politik Kasultanan yang tunduk kepada pemerintah kolonial. Perlawanannya juga diilhami oleh kekaguman Diponegoro terhadap prinsip Raden Ronggo III sebagai “pahlawan terakhir” Kasultanan Yogyakarta yang tak takut mati daripada tunduk pada kekuasaan penguasa Eropa. Namun, perlawanan Diponegoro mengalami kekalahan. Hal ini sesuai dengan ramalan Raja Mataram Sultan Agung (1613 – 1646) bahwa bangsa kolonial akan menguasai Jawa selama 300 tahun setelah kematiannya dan meskipun seorang keturunan penguasa Mataram akan bangkit melawan, ia tetap akan kalah.

Adipati Maospati Madiun ke III Raden Ronggo Prawirodirjo III yang baru berusia 31 tahun tewas di tangan pasukan gabungan Yogyakarta – Belanda pada sebuah pertempuran di tepi Bengawan Solo di daerah Kertosono pada 17 Desember 1810. Cucu Raden Ronggo Prawirodirjo I, sekutu utama Sri Sultan Hamengku Buwono I dalam melawan VOC, ini memilih memberontak daripada menyerah pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Belanda sebenarnya mencurigai adanya dukungan Sultan HB II terhadap aksi pemberontakan Raden Ronggo III. Namun, terdesak oleh situasi politik, Sultan HB II pun terpaksa “memerintahkan” penangkapan Raden Ronggo III. Keputusan ini berarti mengingkari janji Sultan HB I, yang tidak akan pernah menyakiti atau menumpahkan darah keturunan Raden Ronggo I.

Baca juga : Gunung Bancak di Giripurno, Persinggahan Terakhir Pahlawan Terlupakan

Akibat pengingkaran janji tersebut, hanya dalam waktu 18 bulan setelah terbunuhnya Raden Ronggo III, Sultan HB II mendapatkan malapetaka. Keraton Yogyakarta diserang dan dijarah habis oleh pasukan Inggris-Sepoy pada 20 Juni 1812. Seluruh uang Kraton Yogyakarta (senilai 120 juta USD saat ini), 500-an naskah, gamelan, keris, dan banyak perhiasan dibawa Inggris ke Bengal. Sultan sendiri kemudian diasingkan ke Pulau Penang (1812-1815) dan Ambon (1817-1824), sebelum sempat memerintah kembali pada 17 Agustus 1826 dengan sebutan Sultan Sepuh.

Pada tanggal 13 Juni 1812, 1000 orang pasukan Inggris (setengahnya Sepoy) memasuki Benteng Vrederburg secara diam-diam di malam hari. Raffles tiba di Yogyakarta pada tanggal 17 Juni 1812. Keesokan harinya pada pukul lima pagi, keluarga Pangeran Natakusuma mengungsi ke benteng, sementara pengikutnya memakai kain putih di lengan kiri sebagai tanda pengenal bagi Inggris. Pada hari itu, pasukan penyergap yang dipimpin Raden Harya Sindureja berhasil menyergap pasukan kavaleri Inggris dan menjadi satu-satunya kesuksesan pasukan keraton dalam menghadapi Inggris.

Babad Bedhah ing Ngayogyakarta yang dikaji oleh Peter Carey menyebutkan Sultan merelakan segala senjata dilucuti oleh  serdadu Inggris dan Sepoy. Sultan menyerahkan keris, pedang, dan belatinya. Seluruh senjata pusaka keraton yang disita, yaitu Kiai Paningset, Kiai Sangkelat, Kiai Urub, Kiai Jinggo, Kiai Gupito, Kiai Joko Piturun, dan Kiai Mesem, bahkan sampai kancing baju Sultan HB II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli. Meski kemudian, ketika penobatan Sultan HB III senjata pusaka itu dikembalikan lagi ke keraton, kecuali pedang dan belati karena Raffles kelak mengirimkan kepada Lord Minto di India sebagai tanda penaklukkan Keraton Yogyakarta kepada Kerajaan Inggris. Peristiwa ini hanya terjadi sekali dalam sejarah Jawa, ketika istana sebagai lambang kedaulatan penguasa lokal diserang, dijarah, dan ditundukkan oleh pasukan Eropa.

Pada tanggal 13 Juni 1812, 1000 orang pasukan Inggris (setengahnya Sepoy) memasuki Benteng Vrederburg secara diam-diam di malam hari. Raffles tiba di Yogyakarta pada tanggal 17 Juni 1812. Keesokan harinya pada pukul lima pagi, keluarga Pangeran Natakusuma mengungsi ke benteng, sementara pengikutnya memakai kain putih di lengan kiri sebagai tanda pengenal bagi Inggris. Pada hari itu, pasukan penyergap yang dipimpin Raden Harya Sindureja berhasil menyergap pasukan kavaleri Inggris dan menjadi satu-satunya kesuksesan pasukan keraton dalam menghadapi Inggris.

Pada hari yang sama, Raffles mengultimatum Sultan untuk menyerahkan kedudukan kepada putera mahkota yang selanjutnya ditolak oleh sultan. Pada tanggal 19 Juni 1812, pasukan Inggris mulai membombardir keraton sebagai peringatan, tetapi sultan mengabaikannya. Terjadi insiden pada ''bastion'' timur laut, di mana meriam Kyai Nagarunting meledak ketika ditembakkan, mengakibatkan beberapa pengawaknya (anggota brigade ''Setabel'', artileri keraton) mengalami luka bakar. Sebuah gudang munisi yang dijaga anggota brigade Bugis juga dilaporkan meledak terkena peluru meriam Inggris.

Pertempuran utama terjadi pada tanggal 20 Juni 1812 yang dimenangkan oleh Inggris. Pada saat fajar keesokan harinya, pasukan Inggris menggunakan tangga-tangga bambu yang disiapkan Kapitan Tionghoa Tan Jin Sing untuk masuk ke dalam keraton. Selain itu, terjadi pula penembakan terhadap ''plengkung'' Tarunasura dan pintu Pancasura yang memperparah penyerbuan. Penyerangan tersebut mengakibatkan banyak keluarga Keraton Yogyakarta yang tewas, antara lain salah satu dari ketiga menantu sultan (KRT Sumadiningrat, panglima pasukan keraton) dan Ratu Kedaton. Saat pasukan Inggris berhasil mengepung ''kedhaton'' (pusat keraton), Sultan Hamengkubuwana II menyerah dengan berpakaian serba putih.

Sengitnya pertempuran antara Kerajaan Inggris dan Kasultanan Yogyakarta pada Jumat-Sabtu, 19 dan 20 Juni 1812, dicatat oleh seorang serdadu Inggris, Kapten William Thorn. Dia menulis perjalanan penaklukan Inggris ke Jawa dalam Memoir of The Conquest of Java yang terbit pada 1815 di London. Kelak orang Jawa menjuluki pertempuran ini dengan “Geger Spehi”—Perang Spoy.

Thorn melukiskan keadaan pertahanan Keraton Yogyakarta. “Kraton atau kediaman Sultan Mataram,” demikian tulisnya, “dikelilingi oleh parit basah nan lebar dengan jembatan jungkit; dinding benteng yang tebal dan kokoh dengan bastion [pojok benteng yang menjorok] dan diperkuat dengan seratus meriam.

Seperti yang sudah saya narasikan di atas, dalam pertempuran dua hari itu Inggris berkekuatan sekitar 1.000 serdadu berseragam merah, yang terdiri atas serdadu asal sepoy India dan serdadu Eropa. Jumlah itu masih ditambah 500 prajurit Legiun Pangeran Prangwedono asal Mangkunagaran, Surakarta. Sementara, menurut Thorn, terdapat sekitar 17.000 prajurit Keraton yang bersiaga di dalam baluwarti (tembok keraton).

Tembak-menembak antara Benteng Vredeburg—sebagai kubu pertahanan Inggris—dan Keraton sebenarnya sudah dimulai sejak 18 Juni sore. Menurut Thorn, benteng ini, “hanya sedikit meninggalkan bubuk mesiu dari pabrik mesiu lawas tinggalan Belanda, sangat buruk,” ungkapnya, “sehingga tembakan kami ibarat hanya menghibur musuh.”

Sejatinya, Inggris masih menanti pasukan Letnan Kolonel Alexander MacLeod yang tengah berangkat dari Salatiga menuju Yogyakarta. Pasukan susulan itu baru tiba pada esoknya, dan langsung menggempur Keraton. Pertahanan Sultan yang paling kuat dengan meriam-meriam bermulut ganda berada di kawasan Alun-alun utara. Namun, tampaknya Inggris tidak menempatkan kawasan ini sebagai serangan utama, melainkan serangan pengecoh.

Serangan utama Inggris tertuju pada sisi timur Baluwarti—kini sepanjang Jalan Brigjen Katamso. Gempuran tersebut dilakukan oleh Kolonel James Watson yang membawahi Resimen Infanteri ke-14, Buckinghamshires. Mereka mendekati bastion timur laut dengan dilindung penembak-penembak Inggris.

Bastion timur laut tempat gudang mesiu prajurit Sultan berhasil diledakkan oleh serdadu sepoy di bawah komando Watson. Tampaknya ledakan penyimpanan bubuk mesiu itu sangat dahsyat. Setelah ledakan, pertahanan baluwarti mulai mengendur sehingga mereka berhasil menurunkan jembatan jungkit di gerbang utama Kadipaten. Mungkin akibat ledakan itulah bastion timur laut itu rusak berat dan hingga hari ini pertahanan baluwarti hanya menyisakan tiga bastion—warga menjulukinya dengan Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor.

Plengkung Tarunasura/Pancasura, kini lebih dikenal dengan Wijilan, sebagai gerbang utama Kadipaten diserang oleh pasukan Letnan Kolonel Alexander MacLeod. Gerbang masih dijaga pertahanan kuat laskar Sultan. Para serdadu sepoy India itu merayapi dinding baluwarti dengan cara saling memanjat pundak temannya hingga mencapai celah baluwarti. Akhirnya, artileri tempur Inggris berhasil meledakkan gerbang itu.

Musuh menyapu tembok Baluwarti dengan tembakan senapan dari bastion tenggara,” catat Thorn. Namun, “akhirnya [bastion itu] takluk diujung bayonet.” Kemudian, setelah beberapa pertempuran di sisi selatan Baluwarti, serdadu Inggris berhasil membuka gerbang selatan, Plengkung Nirbaya. Berikutnya, serdadu sepoy dan Inggris berhasil membobol pintu gerbang barat, Plengkung Jagabaya. Pertahanan Baluwarti terakhir yang mampu dipertahankan laskar Sultan adalah bastion barat laut, kemudian mereka menyelamatkan diri ke sebuah masjid di luar baluwarti, demikian papar Thorn. Tampaknya yang dimaksud Thorn adalah Masjid Besar Kauman.

Mengapa pertahanan keraton lemah? Merujuk dari sumber Babad Bedhah ing Ngayogyakarta telah mengungkapkan rendahnya daya juang para pembela keraton. Babad jatuhnya Yogyakarta itu ditulis dalam buku harian Pangeran Panular, seorang putera Sultan yang turut bertempur pada Juni 1812. Banyak di antara pangeran yang mestinya memberi teladan di medan tempur dengan memimpin perlawanan, hanya mencawat ekor dalam perlindungan pintu-pintu gerbang atau berpura-pura sakit.

Bahkan, sebagian dari mereka mencari selamat dengan cara keluar keraton menuju desa-desa di pinggiran dan makam Imogiri. Babad Bedhahing Ngayogyokarto juga mengisahkan kerisauan hati Sultan Hamengkubuwana II. Para laskar perempuan yang mengawal Sultan pun turut berdzikir dan berdoa. Perang ini diakhiri dengan menyerahnya Sultan Sepuh dan dimulainya penjarahan besar-besaran atas harta, pusaka, dan pustaka Keraton Yogyakarta. Awal Juli 1812, Sultan dibuang ke Pulau Penang.

Berbagai senjata, gamelan, wayang, ratusan kitab sejarah Jawa, dan naskah-naskah daftar tanah kerajaan turut dijarah. Bahkan, dikisahkan juga dalam Babad Bedhah ing Ngayogyakarta bahwa selama empat hari lebih, harta rampasan perang diangkut dengan pedati ke Wisma Residen. Kuli pengangkutnya berasal dari pengawal dan kerabat dekat Sultan sendiri.

Sementara itu, sebagai seorang letnan gubernur dan panglima perang, Thomas Stamford Raffles pun tak ketinggalan. Dia turut menjarah dan mengangkut harta keraton yang nilainya sekitar 200.000 hingga 1.200.000 dollar Spanyol. Kolonel Rollo Gillespie, seorang panglima tentara Inggris di Jawa, menjarah 800.000 dollar Spanyol. Sebesar 74.000 dollar Spanyol (sekitar Rp 27 miliar untuk kurs kini) untuk dirinya sendiri, sisanya dibagi-bagikan ke perwira lain di bawahnya. Sebagian lagi, sebesar 7.000 dollar Spanyol (sekitar Rp 2,5 miliar untuk kurs kini) dibagikan kepada legiun Pangeran Prangwedana dari Mangkunagaran.

Pustaka naskah itu tidak kembali ke Jawa, setidaknya hingga hari ini. Sekitar 55 naskah Jawa milik Raffles, sebagian besar diserahkan kepada Royal Asiatic Society pada 1830. Koleksi naskah jarahan Raffles bukanlah yang terbanyak. Kolonel Colin Mackenzie memiliki 66 naskah Jawa milik Keraton Yogyakarta. Sementara itu, sekitar 45 naskah Jawa koleksi John Crawfurd, seorang residen Yogyakarta, sebagian besar dijual kepada British Museum pada 1842.

Babad Bedhahing Ngayogyokarto  juga berkisah tentang penjarahan yang tampaknya membabi buta terhadap barang-barang perhiasan milik perempuan keraton. Serdadu-serdadu itu memasuki wilayah keputren. Seorang istri resmi Putra Mahkota dilucuti perhiasan dan pakaian kebesarannya. Salah seorang perwira Inggris tewas ditikam seorang perempuan keraton lantaran sang perwira akan membawanya sebagai rampasan perang.

Dalam pertempuran dua hari itu, dari seribu serdadu Inggris, sekitar seratus orang tewas. Sedangkan di pihak Sultan “tidak dapat dihitung secara tepat. Namun pastinya sangat besar jika kita melihat mereka yang terbunuh dan terluka di sepanjang baluwarti dan bastion. Jumlah tewas yang luar biasa di setiap gerbang, tertutama di kawasan tengah.” Demikianlah, kesaksian serdadu Inggris dan prajurit Jawa tentang pertempuran yang mengantarkan Tanah Jawa ke tatanan kolonial.

Invasi Inggris ke Jawa 1811 merupakan ekspedisi laut terbesar dalam sejarah, setidaknya hingga jelang Perang Dunia Kedua. Di bawah Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty, hampir 12.000 serdadu yang berlayar dalam 100 kapal melintasi Samudra Hindia dan mendarat di Cilincing. Atas titah Lord Minto, mereka berupaya merebut kekuasaan Prancis di Jawa.

Dalam buku Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX terbaca sangat meneladani semangat anti-imperialisme yang dicontohkan leluhur pendiri kasultanan dua abad sebelumnya. Jelang bertahta sebagai Sultan, negosiasi alot dengan Gubernur Yogyakarta Lucien Adam yang memaksakan adanya kontrak politik antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kasultanan Yogyakarta dilakukan.

Kontrak politik yang sangat merugikan sistem pemerintahan lokal dan mengutamakan kepentingan pemerintahan kolonial itu mau tak mau disanggupi sebagai syarat penobatan Sultan HB IX pada 18 Maret 1940. Kesetiaan Sultan HB IX terhadap prinsip humanisme dan nasionalisme ditunjukkan tak lama setelah bertahta. Pada masa pendudukan Jepang, Sultan HB IX memprakarsai proyek pembangunan Selokan Mataram yang merupakan upaya tersembunyi untuk menyelamatkan rakyat Yogyakarta dari menjadi Romusha.

Segera setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman menyatakan bergabung dengan RI. Pada 1949, Sultan HB IX menyerahkan 6 juta Gulden kepada Soekarno dan Hatta sebagai modal awal bagi RI untuk menjalankan pemerintahan. Pada dekade 1950-an, beberapa pabrik gula dihidupkan kembali, termasuk Pabrik Gula Madukismo di Bantul yang masih beroperasi hingga kini. Tanah Sultan (Sultan Ground) pun terbuka digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti untuk pertanian, kantor pemerintah, dan tempat pendidikan, termasuk Istana Kepresidenan Gedung Agung dan Universitas Gadjah Mada.

Dalam masa yang baru itu, Sultan HB IX tidak setengah-setengah meneladani perjuangan para pendahulu di masa awal Kasultanan Yogyakarta. Sultan HB IX menganugerahi mendiang Raden Ronggo III, yang sebelumnya dianggap sebagai pemberontak oleh Kasultanan Yogyakarta, sebagai pejuang perintis melawan Belanda. Sultan HB IX memerintahkan memindahkan makam Raden Ronggo III dari Bayusumurup di Imogiri ke asalnya di Maospati pada tahun 1957. Pemindahan makan Raden Ronggo III agar bersebelahan dengan makan istrinya, Gusti Bendara Raden Ayu Maduretno, adalah upaya Sultan HB IX untuk menghormati sejarah. Sultan HB IX secara bijak mampu membaca janji leluhurnya dan mengadakan rekonsiliasi.


Bahkan, selain “ngumpulke balung pisah” antara Yogyakarta dan Madiun, Sultan HB IX juga membuka pintu Kraton Yogyakarta kepada keluarga trah Pangeran Diponegoro yang sempat dihukum dilarang masuk kraton sebagai dampak Perang Jawa. Pangeran Diponegoro sendiri, yang juga dicap sebagai pemberontak akibat perlawanan menuntut kemerdekaan, adalah menantu Raden Ronggo III dan Raden Ayu Maduretno. Nuwun.

“ik ben een blijf in de allereerste plaats javaav”
“setinggi-tingginya aku belajar ilmu barat, aku adalah dan bagaimanapun jua tetap Jawa”.
(Sultan HB IX)

Protected by Copyscape





Referensi :
Asal Usul Perang Jawa : Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh, Peter Carey
Tahta Untuk Rakyat : Celah – Celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX
Sejarah Penaklukan Jawa: Memoir of The Conquest of Java, Major William Thorn
Wikipedia, dan
Disarikan dari berbagai situs dengan editing dan penyelarasan kalimat seperlunya

0 on: "Tuah Kutukan Hamengkubuwono I Atas Ambruknya Yogyakarta Dalam Geger Sepoy"