Jelajah Suku Anak Dalam : Meludah dan Batuk Adalah Pelanggaran [4]

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. “Hati-hati kalau masuk ke kelompok Orang Rimba. Jangan sembarangan meludah di depan mereka. Meludah didepan muka dianggap penghinaan”, demikian kata Pak Te tokoh masyarakat Pauh, Sarolangun salah seorang yang sangat erat berhubungan dengan Orang Rimba. “Selain itu, kalau hendak batuk atau bersin, berdehem dahulu. Itu pertanda kesopanan”, tambahnya.

Oya, tulisan yang kerabat akarasa ini adalah tulisan keempat dari tulisan seri Jelajah Suku Anak Dalam yang saya kumpulkan dalam 3 kali mengunjunginya. Mulanya saya ingin memposting ke kompasiana, tapi sayang banyak gambar yang hilang berbarengan dengan memori card yang lupa menaruhnya. Gambar sisa hanya pada kunjungan pada tahun 2013.

Narasi pada pembuka tulisan itulah peraturan pertama yang saya dapatkan untuk berhubungan dengan Orang Rimba. Saat itu saya berpikir tentu masih banyak peraturan lain yang harus dipatuhi. Ternyata menurut Pak Te, hanya itulah yang perlu diperhatikan. Beberapa waktu kemudian, Bang Mangku, (orang rimba yang sudah tinggal di perkampungan) yang menjadi penghubung Orang Rimba mengatakan bahwa kalau datang ke pemukiman Orang Rimba harus hati-hati. Tidak boleh sembarangan masuk. Semuanya harus meminta izin dahulu daripada terkena ancaman denda. Masuk ke rumah Orang Rimba tanpa permisi bisa berbahaya. Kalau sampai menginjakkan kaki di tempat tidur gadis, dendanya cukup berat.

Memasuki wilayah Orang Rimba dan berinteraksi dengan mereka memang harus hati-hati. Salah-salah kehadiran kita tidak diterima. Banyak aturan yang harus dipahami dan dijalankan agar kita dipandang sebagai orang yang baik oleh mereka. Bila sudah dianggap sebagai orang baik, maka interaksi selanjutnya akan lebih mudah. Apabila sudah benar-benar dekat, aturan yang dikenakan pada orang asing bisa tidak berlaku untuk kita. Intinya, pandai – pandailah kita mengambil hati mereka, terutama anggota pengulu.

Barangkali ada selintas dalam pikiran kita, bahwa Orang Rimba atau Suku Anak Dalam adalah primitif dalam segala hal. Anggapan ini adalah salah besar. Sebenarnya tidak beda – beda jauh dengan masyarakat umum lainnya, Orang Rimba juga memiliki norma hukum. Hukum mereka ini adalah hukum adat. Tapi jangan bayangkan bahwa hukum Orang Rimba sama seperti hukum yang berlaku di negara kita. Hukum mereka tidak tertulis seperti hukum kita yang tertuang dalam kitab yang tebal itu. Tidak ada kitab undang – undang dalam hukum Orang Rimba. Mereka hanya mengingatnya dengan baik dan diturunkan dari generasi ke generasi, melintas jaman.

Orang Rimba adalah orang-orang yang melek hukum. Mereka sangat paham dengan hukum mereka sendiri. Mereka paham apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang, apa yang tabu dan apa yang tidak. Mereka tahu konsekuensi yang terjadi apabila melakukan suatu pelanggaran. Tidak hanya orang dewasa yang paham hukum, anak-anak kecil pun sudah tahu berbagai aturan kehidupan mereka.

Hukum adat Orang Rimba mencakup prosedur, tata aturan perilaku dan hukuman bagi pelanggaran. Prosedur perilaku terutama berkaitan dengan cara suatu tindakan dijalankan. Misalnya cara untuk protes pada pengulu dan tata cara perkawinan. Tata aturan perilaku mencakup apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Apa yang tidak boleh dilakukan tercakup dalam tabu-tabu yang merupakan rambu-rambu perilaku bagi Orang Rimba. Hukuman bagi pelanggaran mencakup kategori pelanggaran yang dikenai denda atau dikenai hukuman lainnya.

Pelanggaran atas adat dan tata aturan perilaku dikenai hukuman berupa denda, hukuman fisik, pengusiran, atau bahkan dibunuh. Penjatuhan hukuman yang diputuskan oleh pengulu tidak begitu saja terjadi. Sebelum putusan dibuat harus ada musyawarah, atau lebih tepatnya persidangan.

Apabila sang terdakwa dipastikan positif melanggar barulah putusan hukuman dibuat. Oleh karena itu putusan hukuman bisa saja baru dibuat setelah berkali-kali sidang karena terjadinya perdebatan. Tidak ada kesewenang-wenangan dalam penetapan hukuman. Pengulu tidak berhak menjatuhkan hukuman tanpa bukti. Apabila terjadi, maka pengulu dianggap melakukan pelanggaran.

Denda merupakan hukuman bagi pelanggaran yang tidak sangat berat. Biasanya denda yang dijatuhkan berupa kain karena kain adalah barang berharga yang memiliki kemanfaatan luas. Peran denda sangat besar. Ia menjaga berbagai aturan adat terus dijalankan. Banyak Orang Rimba tidak mau melakukan sesuatu yang terlarang semata-mata karena alasan takut terkena denda.

Perihal ini, saya mendengar sendiri dari Pak Te atau Pak Syamsudin seorang tokoh Desa Pauh yang banyak berhubungan dengan Orang Rimba menuturkan bahwa, ada seseorang yang menembak Orang Rimba lainnya tanpa sengaja. Menurutnya, hukuman bagi si penembak seharusnya hukuman mati. Hal yang sama bagi yang melakukan hubungan seksual incest. Misalnya kakak mengawini adik. Ini pelanggaran berat. Jika dimisalkan ini adalah pasal subversif yang legendaris itu.

Namun kebijakan pengulu lain. Pengulu memutuskan si penembak untuk membayar denda yang cukup besar yang nilainya lebih dari 5 juta rupiah (jumlah yang besar untuk ukuran Orang Rimba), selain itu, yang terpenting si penembak harus membiayai anak orang yang ditembaknya sampai dewasa. Apabila sampai anak tersebut terlantar maka hukuman adat yang lain menanti. Putusan ini dianggap putusan yang adil sebab bila dihukum bunuh maka anak orang yang ditembak akan terlantar. Pengulu mendapat pujian untuk putusannya.

Tabu-tabu yang ada bisa digolongkan ke dalam beberapa kategori, yaitu tabu-tabu mengenai makanan, tabu-tabu mengenai hubungan dengan sesama manusia, tabu-tabu mengenai hubungan antara manusia dan alam, dan tabu-tabu mengenai hubungan antara manusia dan alam supranatural. Empat kategori itu menunjukkan bahwa Orang Rimba telah mengatur seluruh kehidupannya agar sesuai dengan kepercayaan mereka.

Aturan Perilaku
Aturan perilaku mencakup tabu-tabu dan tata cara melakukan sesuatu menurut kebiasaan (habit dalam bahasa inggris). Tabu-tabu yang berlaku dimaknai sebagai segala bentuk larangan yang dasar dari pelarangan itu adalah adat. Sedangkan kebiasaan adalah perilaku yang biasa dilakukan oleh Orang Rimba yang didasarkan atas kebiasaan turun temurun.

Kebiasaan bersifat fleksibel dan bisa berubah sesuai kondisi. Keduanya dipatuhi Orang Rimba dengan ketat. Pelanggaran yang terjadi lazim dikenai hukuman tergantung pelanggarannya. Pelaksanaan aturan dijalankan cukup ketat. Sebab rupanya mereka menyadari bila dilaksanakan secara longgar maka adat akan berubah. Padahal dalam kepercayaan mereka, adat semestinya tidak boleh berubah.

Tabu – Tabu Orang Rimba
Beberapa tabu-tabu yang terkait dengan makanan, adalah tabu memakan dan membunuh binatang tertentu. Orang Rimba tabu membunuh jenis-jenis kera, merego (harimau) dan burung gading. Mereka juga ditabukan memakan ketiga jenis binatang tersebut. Selain itu mereka tabu memakan daging ternak yang dipelihara oleh orang melayu, seperti ayam, itik, angsa, bebek, kambing, sapi, kerbau dan kuda. Susu dan telor yang merupakan hasil dari ternak tersebut juga dilarang.


Tabu-tabu mengenai hubungan sesama manusia mencakup tabu yang terkait dengan hubungan sesama Orang Rimba dan hubungan Orang Rimba dengan orang luar. Tabu terkait hubungan sesama Orang Rimba misalnya larangan anak untuk menyebut nama bapak ibu, larangan mengambil milik orang lain tanpa izin, larangan menikah dengan saudara kandung, tabu bila mendapat hasil buruan tidak dibagi-bagi, tabu memasuki rumah orang yang tidak ada laki-lakinya, tabu memasuki tano peranakan dan lainnya. Tabu terkait hubungan Orang Rimba dan orang luar misalnya larangan perempuan rimba kawin dengan orang luar, larangan memotret perempuan rimba dan larangan menawarkan daging yang haram menurut orang Islam kepada umat Islam.

Tabu yang terkait dengan hubungan manusia dan alam mencakup semua larangan yang berlaku dalam memperlakukan alam seisinya. Beberapa tabu itu misalnya tabu buang air besar di sungai, tabu menebang pohon tenggeris dan mentubung, tabu menebang pohon jernang, tabu membuat ladang didaerah dimana ada pohon tenggeris digunakan untuk ramuan tali pusar bayi, tabu membuat rumah memakai seng dan papan gergajian dan tabu memotret rumah dan ladang.

Tabu yang terkait dengan hubungan manusia dan alam supranatural sebenarnya mencakup seluruh tabu-tabu yang ada karena alasan penabuan umumnya demi kepercayaan yang diyakini. Namun demikian ada tabu-tabu khas yang terkait dengan alam supranatural. Beberapa tabu itu misalnya mendirikan rumah ditempat yang banyak hantunya, memberi keterangan mengenai kepercayaan mereka kepada orang luar, menceritakan upacara sale kepada orang luar, membunuh hewan buruan yang sedang minum, dan tabu memelihara hewan ternak sebagaimana orang luar.

Tabu-tabu yang ada dan berlaku dalam kehidupan Orang Rimba juga berlaku bagi orang luar yang masuk ke dalam komunitas Orang Rimba. Menurut sebuah sumber sering terjadi pendendaan terhadap orang luar karena sembrono bertindak di dalam rimba. Oleh karena itu bila ingin masuk ke dalam komunitas Orang Rimba sebaiknya bertanya dahulu tentang tabu-tabu mereka. Sebuah pelanggaran akan berarti denda, dan didenda pasti pengalaman yang tidak menyenangkan. Oleh sebab itu lebih baik dihindari.


Bersambung….

0 on: "Jelajah Suku Anak Dalam : Meludah dan Batuk Adalah Pelanggaran [4]"