Jelajah Suku Anak Dalam : Seks dan Hukuman Mati [5]

perempuan suku anak dalam
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Selain tabu – tabu dan aturan yang berlaku di kelompok Orang Rimba yang jarang diketahui oleh orang terang seprti kita ini, salah satunya adalah aturan pernikahan.

Mungkin bagi yang tidak mengetahui, Orang Rimba diasosiasikan dengan hal yang tidak beradab. Hal ini salah besar, dan bahkan kita yang bagi mereka disebut orang terang ini mesti banyak belajar dari aturan – aturan yang berlaku di Orang Rimba atau Suku Anak Dalam ini. Jangan kita berpikir, muda – mudi Orang Rimba bisa bergaul bebas. Jika itu dilakukan, denda menanti. Dan bahkan, ada aturan jika mereka incest, hukuman mati menanti dan tidak bisa ditawar – tawar lagi.

Tradisi Orang Rimba tidak menyediakan suatu mekanisme mengenal calon pasangan secara intim sebelum menikah. Mereka dilarang untuk berpacaran. Satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk bertemu muka dan bercakap-cakap bebas adalah saat ada pesta pernikahan digelar. Bujang dan gadis diam-diam mojok dibalik pepohonan menyaksikan pesta pernikahan yang diadakan. Biasanya orangtua memaklumi hal itu.

Seperti yang sudah saya narasikan di atas, Orang Rimba memiliki aturan mengenai incest. Mereka melarang pernikahan antara sesama saudara sedarah, baik saudara kandung maupun saudara tiri. Demikian juga dilarang menikah dengan orangtuanya, dengan kakek neneknya dan dengan puyangnya. Hal itu berarti mereka dilarang menikah dengan anak, cucu, dan cicit. Mereka dianjurkan untuk menikah dengan bujang atau gadis yang berasal dari kerabat agak jauh. Tujuannya agar tali kekerabatan terus terjalin.

Bujang dan gadis bisa menikah setidaknya melalui dua cara. Pertama dengan maskawin. Sang bujang mengumpulkan kain atau harta lainnya berdasarkan hasil usahanya sendiri yang akan dipergunakan untuk maskawin. Mas kawin diserahkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Cara ini sangat mirip dengan umumnya tata cara perkawinan masyarakat umum yang menggunakan maskawin.

Kedua dengan prinsip pencurahan. Artinya calon menantu harus mengabdi dulu kepada calon mertua selama rentang waktu tertentu. Bila calon mertua sreg dengan calon menantu maka pernikahan bisa dilangsungkan. Jika tidak sreg, maka pernikahan bisa dibatalkan. Pengabdian kepada calon mertua diantaranya membantu segala pekerjaan calon mertua, menyerahkan sebagian hasil kerja, dan membujat ladang yang hasilnya sebagian besar untuk calon mertua. Menurut sebuah sumber, calon menantu yang mengabdi membuat rumah sendiri didekat calon mertua dan memasak makanan sendiri. Pada saat pernikahan calon menantu tetap harus membayar maskawin dalam jumlah yang cukup besar.

Pesta pekawinan dikenal sebagai upacara sale. Pemimpin upacara adalah malim. Roh nenek moyang diundang untuk datang dan memberkati mempelai. Setelah menikah, pasangan baru tinggal di dekat orangtua istri. Mereka membangun rumah (bubungan) sendiri. Prinsip ini sesuai pepatah mereka, yakni ‘laki ngikut bini’ Artinya suami mengikuti keluarga istri.

Tidak seperti Orang Samin yang anti poligami, bagi Orang Rimba poligami adalah hal biasa dan lazim dilakukan. Ada Orang Rimba yang istrinya sampai empat orang. Masing-masing istri dibuatkan rumah sendiri yang jaraknya berdekatan. Mereka semua harus dipenuhi nafkahnya oleh suami. Oleh karena itu mereka yang beristri lebih dari satu dianggap hebat karena kemampuannya mencari nafkah tentunya lebih dari rata-rata. Pada waktu makan misalnya, masing-masing istri memasak sendiri di rumahnya masing-masing. Sang suami akan makan disetiap rumah istri, dimulai dari yang tua kemudian berturut-turut sampai yang paling muda.

Ada sebuah cerita menarik mengenai perkawinan Orang Rimba. Salah seorang Orang Rimba yang masih muda, baru berusia sekitar 20-an tahun menikah untuk kedua kalinya. Istri keduanya masih dalam keadaan gadis ketika dinikahi. Dalam prosesinya, sang laki-laki dihadapkan pada keluarga calon istri muda. Laki-laki yang akan menikah itu dipukul beramai-ramai oleh pihak keluarga istri. Sebaliknya pihak laki-laki juga dibantu keluarganya. Akibatnya terjadilah semacam perkelahian massal. Pihak keluarga calon istri sejumlah 10 orang sedangkan pihak keluarga laki-laki 12 orang. Menurut mereka, perkelahian itu adalah bagian dari proses adat. Semua yang akan menikah mengalaminya. Akibatnya cukup mengerikan, laki-laki yang akan menikah sampai rampal kehilangan beberapa giginya.

Jarang terjadi adanya perceraian dikalangan Orang Rimba. Namun meski demikian mereka memiliki mekanisme untuk bercerai. Apabila seorang laki-laki dalam 7 hari 7 malam berturut-turut pergi tanpa minta izin istri dan tidak diketahui kemana perginya, maka berarti sang istri dianggap secara otomatis telah menceraikan suami. Apabila istri pergi lewat dari janji maka sang suami dianggap telah menceraikan istri. Mematahkan rotan adalah simbol bahwa sebuah pasangan dinyatakan bercerai.

Seks
Seks dan seksualitas, dalam pengertian sempit maupun luas, merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ia bagian dari naluri instingtif yang paling dasar. Hubungan seks diluar nikah dianggap tabu yang sangat berat. Pelakunya bisa diancam dibunuh. Seorang anak muda rimba menceritakan bahwa dirinya tidak mau melakukan hubungan seksual dengan siapapun sebelum menikah sebab jika ketahuan akan dibunuh. Tampaknya aturan yang tidak membolehkan seorang bujang dan gadis akrab sebelum menikah dilaksanakan sangat ketat. Buktinya tidak ada seorang bujang pun yang berani mendekati gadis. ‘Takut didenda’ ungkap mereka. Ketatnya aturan ini menghindari perselisihan antar bujang. Sebab jumlah perempuan yang lebih sedikit merupakan potensi besar terjadinya konflik antar bujang dalam ajang memperebutkannya.

Suami istri tidak tidur sekamar. Mereka bahkan tidak memiliki kamar sesungguhnya karena ruang dalam rumah mereka tidak berdinding. Suami memiliki tempat tidurnya sendiri dan istripun demikian. Biasanya istri tidur dengan anak yang masih kecil. Bang Mangku bercerita bahwa untuk bejuluk (melakukan hubungan seksual), mereka akan diam-diam menyelinap keluar dari dalam rumah dan melakukannya di luar, mungkin dibalik semak. Tampaknya mereka memang sangat romantis, bejuluk dibawah sinar rembulan beratap langit adalah hal yang biasa mereka lakukan.

Tidak berbeda dengan masyarakat kita yang memiliki berbagai ramuan obat kuat, Orang Rimba juga memiliki ramuan serupa. Ramuan kuat itu menyebabkan mereka lebih tahan lama. Namun mereka malu kalau harus mengakui menggunakan obat kuat. Jenis tumbuhan yang digunakan untuk obat kuat adalah akar penyegar.

Pendidikan seksual agaknya tidak mengalami masalah sebagaimana yang dialami oleh kebanyakan masyarakat kita. Sejak sangat kecil anak-anak sudah dibiasakan untuk mengenal organ seksualnya sendiri. Adalah hal biasa seorang anak mengatakan nama-nama organ dan kegiatan seksual sementara disekitarnya ada orangtua dan kakek neneknya. Misalnya mereka biasa menyebut bejuluk (hubungan seksual), ciceh (penis), conggoh (ereksi), bilak (vagina), genoh (air mani) dan lainnya.

Kata-kata itu bahkan menjadi kata-kata pisuhan (kata yang diucapkan sebagai pernyataan bahwa sesuatu itu lucu, luar biasa, tidak biasa, menjengkelkan, mengherankan, dan semacamnya) dalam masyarakat Orang Rimba. Anak-anak pun lumrah misuh dengan kata-kata itu. Ngisel (masturbasi) dan nyebak (onani) adalah sesuatu yang dimaklumi. Apabila seorang bujang ketahuan sedang nyebak oleh orangtua, paling-paling hanya akan digoda. Tidak ada hukuman untuk itu. Baik ngisel maupun nyebak diperbolehkan. Bahkan ketika seorang anak muda rimba bertanya apakah saya sering nyebak, dan saya jawab tidak, ia tidak percaya. Ia yakin betul saya berbohong. Artinya nyebak adalah hal yang sangat lumrah bagi mereka. Ia bahkan tidak percaya kalau ada orang yang berumur diatas 20 tahun yang belum bejuluk.

Bergaul dengan Orang Rimba merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Mereka secara vulgar membicarakan persoalan seksual. Di hari kedua pada kunjungan terakhir tahun 2014 saya sempat berjalan bersama seorang anak yang berumur sekitar 7 tahunan, ketika melihat bokong seekor sapi dengan vulgar dia berkata, ‘kakok, mirip bilak induk.” (vagina sapi dianggap mirip vagina ibunya). Lain waktu saya diajak bercerita tentang seluk beluk bejuluk oleh orang yang sudah menikah. Diceritakan olehnya warna bilak, apa yang ada didalamnya, dan bagaimana rasanya bejuluk. Pada kesempatan lain, anak rimba menunjukkan cicehnya yang ereksi pada saya.

Pendidikan seks yang baik membuat mereka memiliki pengetahuan memadai mengenai seks. Secara mental mereka juga sangat siap mengahadapi persoalan seksual ketika menikah. Diiringi dengan pengaturan yang ketat mengenai tata pergaulan tidak pernah terjadi hubungan seksual pranikah apalagi kehamilan diluar nikah. Mereka bahkan takut untuk sekedar ngobrol dengan lawan jenis tanpa ada orangtua karena bisa didenda. Mungkin model pendidikan seks dan pengaturan seks mereka bisa dijadikan salah satu acuan bagi pendidikan seks masyarakat.

Relasi Gender
Relasi antara laki-laki dan perempuan tercermin dalam pepatah ‘bini sekato laki’ artinya seorang istri harus patuh terhadap suami. Perintah suami asalkan tidak mencelakakan harus dipatuhi oleh istri. Apabila tidak dipatuhi maka sang suami bisa mengadu kepada tengganai. Menurut cerita, tengganai bisa mendenda sang istri yang tidak patuh. Denda dibayar oleh orangtua atau saudara laki-lakinya. Namun sebaliknya untuk hal tertentu seperti misalnya berburu, berladang, mencari jernang dan cara mencari nafkah lainnya yang diperintahkan istri kepada suami, maka sang suami harus menurut. Apabila tidak maka suami bisa diadukan kepada tengganai dan bisa kena denda. Artinya hubungan suami istri relatif tidak terlalu timpang.

Dalam lingkup yang lebih luas, kedudukan antara laki-laki dan perempuan relatif timpang. Tidak ada perempuan yang diijinkan untuk menduduki salah satu jabatan pengulu. Demikian juga tidak ada yang menjadi tengganai maupun malim. Bahkan dalam berinteraksi dengan orang luar, terdapat pengaturan yang ketat. Berbicara dengan orang asing tanpa ada suami adalah sesuatu yang terlarang. Berfoto maupun merekam suara kadangkala dilarang juga meski sebenarnya tidak ada aturan tegas mengenai hal itu. Pelarangan berbicara dengan perempuan Orang Rimba, menfoto ataupun merekam suara mereka sifatnya relatif. Orang-orang yang sudah dianggap dekat diijinkan untuk melakukan hal-hal itu.

Pelarangan hal-hal tertentu bagi perempuan mencerminkan relasi gender yang terjadi. Perempuan nyaris tidak memiliki suara. Kekuasaannya dalam mendenda laki-laki hanya terbatas bila suami enggan mencari nafkah. Sementara itu hampir seluruh dimensi kehidupan yang lain dikuasai laki-laki, baik oleh suami, orangtua, maupun saudara laki-lakinya. Pada umumnya alasan pelarangan yang diakui adalah karena tabu. Namun tampaknya pelarangan lebih untuk melindungi kekuasaan laki-laki terhadap perempuan terbukti dari adanya ijin yang diberikan bagi orang-orang yang dianggap dekat. Hal ini wajar mengingat jumlah perempuan rimba lebih sedikit dibandingkan laki-laki.

Orang Rimba memiliki pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Pekerjaan laki-laki biasanya terkait dengan pencarian nafkah, misalnya mencari rotan, damar, jernang, mengambil umbi dan semacamnya. Perempuan biasanya mengerjakan pekerjaan yang bersifat rumah tangga, misalnya memasak, mengasuh anak, menganyam kerajinan, dan lainnya. Namun demikian, tidak ada tabu bagi laki-laki untuk melakukan pekerjaan perempuan dan sebaliknya.

Pengasuhan Anak
Jika kita mendasarkan pola pengasuhan anak berdasarkan tipologi demokratis, otoritarian, dan bebas, maka pengasuhan anak Orang Rimba cenderung ke tipe bebas. Sedikit sekali aturan-aturan yang diterapkan kepada anak-anak secara ketat. Seringkali saya melihat orangtua yang menyuruh seorang anak melakukan sesuatu. Namun ketika sang anak menolak, tidak ada paksaan yang dilakukan. Anak-anak nyaris bebas melakukan apapun yang mereka inginkan. Aturan-aturan yang ada paling-paling aturan adat yang berupa tabu-tabu. Namun toh bila anak-anak melanggar tabu-tabu biasanya dimaklumi mereka masih anak-anak.

Anak-anak yang masih kecil atau balita selalu mengikuti kemanapun ibu (induk dalam bahasa rimba) pergi. Demikian juga tidurnya didalam rumah bersama ibu, tidak bersama ayah. Anak-anak disusui oleh ibunya sampai berumur kira-kira 2 tahun. Apabila melakukan perjalanan, anak yang masih disusui hampir selalu digendong meskipun sudah bisa berjalan. Mereka biasanya tetap telanjang. Bahkan ada anak yang sudah berumur sekitar 3 tahun yang masih tetap telanjang. Leher mereka biasanya dikalungi jimat. Tujuannya agar sang anak terhindar dari gangguan hantu.

Orang Rimba sangat malu kalau anaknya menangis, apalagi sampai menangis menghiba. Oleh karena itu biasanya berbagai macam permintaan anak selalu dituruti. Mereka khawatir bila tidak dituruti maka sang anak akan menangis dan itu membuat malu mereka. Pernah seorang ibu rela berjalan kurang lebih 2 km untukn membelikan jajan bagi anaknya yang menangis. Anak-anak rimba adalah anak-anak yang dimanjakan oleh orangtuanya. Akibatnya perilaku malas-malasan kerap dijumpai.

Anak laki-laki yang sudah agak besar mengidentifikasikan diri sebagai laki-laki rimba yang sesungguhnya melalui sebuah pembelajaran yang panjang. Mereka mengikuti sang ayah kemanapun sang ayah pergi. Jadi seorang anak laki-laki belajar menjadi laki-laki rimba dengan cara mencontoh langsung dari sang ayah. Mereka belajar melakukan aktivitas laki-laki seperti berburu, memancing, mencari rotan dan lainnya dengan cara belajar pada sang ayah.

Pada umur 8 tahunan, mereka sudah bisa melakukan semua itu sendirian. Sedangkan anak-anak perempuan yang sudah agak besar akan mengikuti kemanapun ibu pergi. Sang anak gadis akan belajar menjadi perempuan rimba dengan mencontoh langsung semua perilaku dan tindak tanduk ibunya. Mereka belajar menganyam dan memasak. Anak umur 6 tahunan sudah pandai melakukan semua kegiatan perempuan.

Sejak kecil anak-anak sudah belajar untuk mencari nafkah dan bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri. Anak-anak umur 8 tahunan sudah mencari rotan dan menjualnya sendiri. Hasil penjualannya diambil sendiri. Ia juga boleh berhutang kepada toke atas nama dirinya sendiri. Implikasinya ia sendiri yang harus membayar hutangnya, tidak boleh meminta bantuan pada orangtua. Namun demikian kadang orangtua turun membantu.

Hubungan antara kakak adik sangat ditekankan. Seorang kakak berkewajiban melindungi adiknya meskipun dengan nyawa. Kakak, terutama kakak laki-laki adalah pengganti orangtua. Posisinya pun disetarakan dengan posisi orangtua. Apabila kakak memberikan perintah kepada adik, maka sang adik harus menurut. Hanya jika perintah itu berlebihan maka boleh tidak diturut. Namun demikian, sepanjang yang saya saksikan, jarang sekali seorang kakak menyuruh adiknya bila tanpa alasan kuat.

Bersambung…..

0 on: "Jelajah Suku Anak Dalam : Seks dan Hukuman Mati [5]"