Perang Jawa : Diponegoro, Ratu Adil yang Kalah Perang [6]

ratu adil yang kalah perang
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Tulisan seri Perang Jawa yang sedang kerabat akarasa baca ini adalah semacam rangkuman dari beberapa tulisan sebelumnya, yang insya Allah akan masih berlanjut beberapaseri ke depan. Seperti yang kita tahu dan sudah saya bagikan pada tulisan terdahulu, Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa menorehkan kepedihan tersendiri bagi bangsa ini.

Perlawanan terbesar di abad ke-19 itu justru kian mencengkeramkan kuku penjajahan Belanda atas negeri ini. Peter Carey, mantan profesor sejarah di Trinity College, Oxford, menuangkan cerita perlawanan selama lima tahun itu lewat buku The Power of Propecy: Prince Dipanegara and the end of an old order in Java 1785-1855. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, ini menuturkan dengan amat lengkap latar belakang dan beragam faktor seputar perang itu hingga dampaknya kemudian. Termasuk riwayat sang pangeran. Berikut nukilan sebagian kecil dari buku yang terbagi dalam tiga jilid tersebut.

Perang Jawa (1825-1830) merupakan tonggak perubahan penting dalam sejarah Jawa dan seluruh Nusantara. Untuk pertama kali, suatu pemerintahan kolonial Eropa berhadapan dengan pemberontakan masyarakat yang meliputi sebagian besar wilayah pulau itu. Sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur serta banyak daerah pesisir (pantai utara) terlibat. Dua juta orang Jawa --sepertiga jumlah seluruh penduduknya-- menderita akibat perang. Seperempat luas seluruh daerah pertanian Jawa rusak. Sekitar 200.000 orang Jawa menjadi korban.

Untuk mencapai kemenangan pahit atas Jawa, Belanda pun menderita. Sebanyak 7.000 orang Indonesia yang merupakan serdadu pembantu tewas. Demikian juga 8.000 serdadu Belanda. Perang itu menguras kas mereka sebanyak 20 juta gulden. Perang itu berakhir dengan munculnya Belanda sebagai penguasa tunggal atas Pulau Jawa. Dan suatu tahap baru kekuasaan kolonial pun dimulai dengan diterapkannya "tanam paksa" oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1870).

Sistem ini terbukti sangat menguntungkan bagi Belanda. Perang itu mengakhiri suatu sistem yang sudah matang sejak Marsekal Willem Daendels berkuasa (1808-1811). Sistem tersebut menyangkut perubahan dari masa Perserikatan Dagang Hindia Timur (disingkat VOC, dalam kurun 1602-1799). Suatu perubahan dari masa ketika hubungan Batavia dengan kerajaan-kerajaan di Jawa tengah-selatan masih bersifat diplomatik tingkat kedutaan antarnegara berdaulat ke masa "kolonial tinggi", ketika kerajaan-kerajaan itu tunduk pada kekuasaan Eropa.

Dengan mengungkap perubahan besar yang susul-menyusul berlangsung di Eropa, yang menyebabkan kebangkrutan Belanda, Peter Carey menuturkan pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan di Jawa.

Yogya bernasib paling sial dalam perubahan tersebut. Dalam tempo singkat, Pemerintah Belanda-Prancis di bawah Marsekal Herman Willem Daendels dan Pemerintah India-Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles membuka paksa wilayah mancanegara timur Yogya, menguras habis harta keratonnya, dan membuang rajanya yang sedang bertahta. Setelah keraton jatuh pada Juni 1812 dan pemberlakuan paksa perjanjian-perjanjian baru, hubungan antara Batavia dan kerajaan-kerajaan Jawa menjadi serupa dengan masa pasca-Plassey di India, ketika Inggris mengganti raja-raja Mughal di Benggala Hilir.


Kembalinya Pemerintah Belanda di bawah Gubernur Jenderal G.A.G. Ph. van der Capellen (1816-1826) melanjutkan proses ini. Gentingnya kebutuhan dana dan kurangnya pengertian atas berbagai akibat kebijakannya terhadap rakyat Jawa merupakan lahan subur bagi pecahnya Perang Jawa. Masalah kesehatan dan lingkungan yang buruk, khususnya wabah kolera pada Mei 1821, ditambah dengan harga beras yang membubung tinggi, menjadi pemicu perlawanan rakyat secara besar-besaran pada Juli-Agustus 1825, yang merupakan awal pecahnya Perang Jawa.

Bagi orang Jawa, perang lima tahun ini berdampak sangat luas. Mungkin inilah pertama kalinya pemberontakan pecah di lingkungan salah satu keraton Jawa Tengah-Selatan yang pokok masalahnya terletak lebih pada kesulitan ekonomi daripada ambisi kekuasaan seorang kerabat keraton. Munculnya seorang pemimpin yang sangat berwibawa seperti Pangeran Diponegoro (1785-1855), yang menyebut dirinya Ratu Adil Jawa, berdaya guna menghimpun beraneka ragam unsur masyarakat di bawah panji tunggal Islam-Jawa.

Aneka pengharapan yang meluas akan penyelamatan Ratu Adil memukau jiwa para petani dan meningkatkan rasa tidak puas ekonomi yang menumpuk sejak awal abad ke-19. Wawasan perang suci dan rasa birasa asali Jawa berupa kerinduan mendalam terhadap pemulihan tatanan lama yang adiluhung --dirumuskan Diponegoro dengan "memulihkan keluhuran agama Islam di seluruh Jawa-- membantu terbentuknya jati diri bersama di kalangan pengikut sang pangeran.

Dengan cara demikian, para bangsawan, pejabat daerah yang dipecat, guru agama, para jawara, kuli, buruh harian, tani penggarap, dan para perajin dihimpun dalam keprihatinan bersama. Karena itu, Perang Jawa mengandung makna sangat penting bagi masa depan Indonesia. Benang halus antara keprihatinan ekonomi dan pengharapan akan Ratu Adil menciptakan gerakan dengan jangkauan sosial luar biasa, yang dalam beberapa segi merupakan pendahuluan bagi gerakan kebangsaan abad ke-20.

Kelahiran yang Diramalkan

Diponegoro --bernama kecil Bendoro Raden Mas Mustahar-- lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785 tepat menjelang fajar. Dalam tarikh Jawa, hari kelahiran calon pemimpin Perang Jawa itu sangat bertuah karena jatuh dalam bulan Sura, bulan pertama dalam tahun Jawa, ketika secara tradisional kerajaan baru didirikan dan gelombang sejarah baru dimulai. Hari itu juga penting dalam bacaan almanak atau primbon Jawa modern karena paduan antara hari dalam siklus pasaran dan pekan pancawara yang terdiri dari lima hari itu.

Jumat Wage konon dipercaya bahwa yang lahir saat itu adalah orang yang sangat fasih dan berpengaruh kata-katanya, murah hati, berwatak pandita, tapi akan menghadapi banyak halangan dan kesulitan dalam hidup karena pembawaannya yang terus terang dan memerahkan telinga. Tahun Arab kelahiran sang pangeran, 1200 Hijriah, tampak mengandung makna. Hal itu disebut dalam beberapa versi ramalan yang lebih bernuansa Islam sebagai tahun ketika Ratu Adil Jawa akan muncul. Secara tradisional, ramalan itu juga bisa dikaitkan dengan Raja Kediri abad ke-12, Prabu Joyoboyo.

Ayahnya adalah anak sulung Sultan Yogya yang kedua, Hamengku Buwono II, dari istri yang resmi (garwo padmi), Ratu Kedaton. Sang ibu berdarah biru Madura dan menonjol di kalangan keraton karena kesalehannya sebagai seorang muslimah. Meskipun baru menginjak usia 16 tahun ketika Diponegoro lahir, sang ayah sudah terpandang sebagai pemuda menawan dan menyenangkan, yang disukai banyak orang karena wataknya yang lembut dan rasa humornya yang halus. Dia juga dikenal sebagai sejarawan amatir dan penulis yang sedang menanjak.

Tidak jelas seberapa besar pengaruh sang ayah Diponegoro terhadap pangeran muda itu semasa kecilnya. Sebab, pada usia tujuh tahun, Diponegoro pindah dari tempat tinggal kaum perempuan di keraton untuk hidup bersama nenek buyutnya di perumahan di Tegalrejo. Namun keduanya akrab selama kemelut 1811-1812, yang dipercepat oleh bentrokan antara Keraton Yogya dan pemerintah jajahan di bawah Daendels. Juga selama sang ayah naik tahta yang hanya berlangsung singkat (1812-1814).

Dalam otobiografinya, Diponegoro menggambarkan bagaimana ia diperkenalkan ibunya kepada Pangeran Mangkubumi --julukan Sultan Hamengku Buwono II. Dan, raja sepuh itu telah meramalkan bahwa cucunya akan mendatangkan kehancuran yang lebih hebat bagi Belanda daripada beliau sendiri selama Perang Giyanti (1740-1755).

Ramalan itu memberi wawasan mengenai betapa pentingnya ketokohan sultan pertama yang karismatik itu bagi Diponegoro. Dan bagaimana teladan hidup Mangkubumi mengilhami para anggota keluarga yang dekat dengan sang pangeran selama Perang Jawa. Ramalan sultan pertama itu dapat juga dikaitkan dengan ramalan lain yang konon dibuat Raja Mataram abad ke-17, Sultan Agung, yang juga diceritakan Diponegoro dalam otobiografinya.

Ramalan itu menyatakan, setelah Sultan Agung wafat pada Februari 1646, Belanda memerintah di Jawa selama 300 tahun dan meski seorang di antara keturunan Raja Mataram akan bangkit melawan, akhirnya ia akan dikalahkan. Tampaknya hampir pasti bahwa Diponegoro menganggap dirinyalah yang dimaksud Sultan Agung sebagai keturunan itu.

Hubungan Darah dengan Wali

Leluhur pria Diponegoro pernah memberi pengaruh besar terhadap sang pangeran secara pribadi dan sebagai sumber ilham. Tapi kerabat yang perempuan barangkali malah lebih penting dalam membentuk pandangan sosial pangeran, yang khas selama masa kanak-kanak dan remaja. Pandangan sosial itu berakar pada keyakinan agamis mendalam dan hubungan yang luas dengan masyarakat santri di Jawa tengah-selatan --hubungan yang agak tidak umum untuk seseorang seperti dirinya dari kalangan keraton. Keduanya, keyakinan agamis dan hubungan sosial itu, menentukan gaya kepemimpinan Diponegoro selama Perang Jawa dan terhadap karisma atau sifat kepahlawanan dirinya.

Melalui anggota keluarga yang perempuan, Diponegoro menyatakan adanya hubungan darah dengan beberapa kiai terkemuka di Jawa. Sebagian di antara mereka bisa melacak silsilah nenek moyangnya hingga ke Wali Songo. Ibunda Diponegoro, Raden Ayu Mangkorowati, adalah keturunan Ki Ageng Prampelan, tokoh yang sezaman dengan raja pertama Mataram, Panembahan Senopati. Seorang lagi di antara nenek moyangnya ialah Sunan Ngampel Denta dari Gresik, seorang di antara sembilan wali di Jawa.

Selain sang ibu, perempuan lain yang ikut membentuk pandangan hidup Diponegoro dalam masa remajanya ialah neneknya, Ratu Kedaton. Sang nenek adalah keturunan Panembahan Cokrodiningrat II dari Madura. Dalam otobiografinya, Diponegoro merujuk pada perempuan itu dengan hormat. Kesetiaan perempuan itu terhadap Islam rupanya berkesan di hati Diponegoro. Bahwa Diponegoro sendiri berdarah seperempat Madura dari ayahnya mungkin juga telah mempengaruhi kepribadiannya dan ikut menetukan tabiatnya yang suka mendadak sarat amarah.

Namun pengaruh yang paling menentukan bagi Diponegoro adalah dari nenek buyutnya, Ratu Ageng, yang mengasuhnya sejak usia tujuh tahun hingga remaja. Putri seorang kiai terkemuka di Kabupaten Sragen, Ratu Ageng dapat melacak silsilahnya sampai ke Sultan Bima di Sumbawa, sebuah kerajaan Islam yang sangat menjunjung kemerdekaannya di Nusantara Timur. Kerabatnya yang lain pun dekat dengan jabatan keagamaan Keraton Yogyakarta.

Ratu Ageng juga terkenal, menurut catatan Keraton Yogya, berkat kesalehannya dan kesukaannya membaca kitab-kitab agama, juga ketekunannya merawat adat tradisional Jawa di keraton. Pengabdiannya yang kukuh terhadap adat Jawa terwariskan kepada cucu-buyutnya. Saat Diponegoro tinggal bersama nenek buyutnya di Tegalrejo, perempuan itu bahkan di usianya yang sudah 60-an tetap memperlihatkan kemauan baja.

Suasana lingkungan Diponegoro dibesarkan jauh berbeda dari suasana Keraton Yogya semasa sultan kedua berkuasa. Kebersahajaan desa yang melekat di Tegalrejo mengajarkan kepadanya sejak kanak-kanak untuk bergaul akrab dengan segala lapisan masyarakat Jawa. Juga untuk menjalani hidupnya tanpa merasa diri lebih tinggi.

Dari sudut Keraton Yogya waktu itu, Diponegoro mungkin saja dianggap sebagai orang kampung karena dibesarkan di luar lingkungan ibu kota kesultanan. Tapi, bagi penduduk desa Jawa tengah-selatan, pengasuhannya yang di luar kebiasaan itu justru menambah karismanya sebagai pemimpin rakyat. Lagi pula, kerabat perempuan Diponegoro yang berasal dari keluarga terkemuka di pedesaan jelas merupakan keuntungan tersendiri bagi pangeran ketika tiba saatnya ia menjadi pemimpin selama Perang Jawa.

Penggalangan Kekuatan untuk Perang

Ketika Diponegoro dan Mangkubumi mengibarkan panji perang di Selarong pada 21 Juli 1825, sejumlah persiapan dilakukan untuk menggerakkan para petani dan penggarap di tanah kekuasaan pangeran. Ia menghimpun dana untuk membiayai peperangan. Pengorganisasian dan pendanaan awal untuk perang tampaknya mengikuti sepenuhnya cara-cara tradisional.

Pada tahap-tahap permulaan perang, para pangeran dan priayi sepuh yang mendukung Diponegoro menyumbangkan barang berharga mereka, seperti permata, uang kontan, dan barang-barang berharga lainnya. Barang-barang ini dibawa sendiri ke daerah pertempuran oleh para istri dan putri mereka. Bersama harta berjumlah 24.000 gulden yang direbut dari konvoi Belanda pada 24 Juli, semuanya digunakan untuk membiayai pertempuran-pertempuran awal.

Mengenai persenjataan, Diponegoro baru mulai mengumpulkan senjata setelah tiba di Selarong. Namun tampaknya banyak di antara para pengikutnya telah mempersenjatai diri sendiri dengan berbagai senjata tradisional seperti ketapel, juga pentungan dan tombak dari bambu runcing. Pada Juli dan awal Agustus, gerombolan dari desa-desa di kawasan Yogya sudah tiba di Selarong untuk mendapat perintah dari Diponegoro. Tapi mereka segera pulang setelah diberitahu apa yang diharapkan dari mereka.

Gaya peperangan yang disukai Diponegoro adalah memanfaatkan aneka barisan asal desa ini. Penduduk desa diminta merobohkan pohon untuk menghalangi jalan, membakar jembatan kayu, menggali lubang jebakan dan mengisinya dengan ranjau bambu. Melumpuhkan komunikasi untuk mencegah Belanda mendatangkan bala bantuan memainkan peran yang menentukan.

Diponegoro juga paham tentang pentingnya menjaga jalur perbekalan agar terbuka. Ia mengangkat seorang di antara putra pamannya, Mangkudiningrat I, sebagai kepala kapal tambang di Kali Progo. Ia memastikan agar berbagai kelompok jawara di Kamijoro dan Mangir yang menguasai tempat-tempat penyeberangan di sungai diundang ke Selarong pada akhir Juli guna menerima perintahnya.

Siasatnya yang melumpuhkan jalur komunikasi musuh sambil menjaga kelancaran jalur perbekalan itu terus digunakan selama perang. Sesungguhnya, pada akhir Agustus 1828, Belanda bahkan mencurigai ada satu kapal layar penyelundup milik Amerika atau Inggris yang diketahui membuang sauh di muara Kali Progo memasok senjata api untuk sang pangeran.

Peran Besar Penduduk Desa

Dengan memperlambat jalannya pasukan gerak cepat Belanda, tentara Diponegoro dapat melakukan sejumlah penghadangan yang berhasil baik. Siasat yang disukai dalam penyergapan ini adalah bersembunyi di balik rerumputan tinggi di pinggir jalan, kemudian melancarkan tembakan senjata api berpola bulan sabit.

Sentot (Sentot Ali Basya Mustofa Prawirodirjo), panglima kavaleri Diponegoro yang masih belia, mengembangkan juga siasat untuk menyamarkan prajurit berkudanya di balik pagar bambu. Ia mengoleskan garam pada lidah kuda tunggangan mereka untuk membuat hewan itu diam tenang selama bertiarap menanti musuh.

Dalam beberapa penyergapan yang berhasil itu, penduduk desa sekitar yang tampaknya sibuk dalam kegiatan tani ikut dalam pertempuran menggunakan peralatan tani. Terkadang dengan menghalangi jalan mundur pasukan Belanda yang terancam dipecundangi seandainya mereka tidak bisa mundur dengan selamat ke benteng mereka.

Perbentengan desa berupa pagar-pagar tembok yang tinggi dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Diponegoro selama masa awal peperangan. Desa-desa yang terlindung rumpun bambu pun bisa diubah menjadi kubu pertahanan yang kuat. Terutama tatkala para pendukung pangeran menanam ranjau (borang) dengan sangat tersamar dari bambu runcing di sekeliling suatu desa.

Tentara reguler Diponegoro memiliki senjata api dan terdapat rujukan dalam arsip Yogya tentang perintah sang pangeran untuk membeli senjata api. Juga jelas bahwa persenjataan Belanda yang dirampas, termasuk meriam, dimanfaatkan oleh tentaranya. Selain itu, teknik-teknik artileri Eropa dipelajari pula. Terbukti, misalnya, seorang panglima sang pangeran yang ikut dalam pengepungan Yogya pada Juli-September 1825 mengatakan, tembakan meriam Belanda selalu terlalu tinggi karena yang melayani artilerinya memakai terlalu banyak mesiu.

Diponegoro juga mendapatkan mesiu dari desa-desa di berbagai kabupaten bagian selatan dan barat Yogya. Termasuk dari Samen di Kawedanaan Pandak dekat Bantul, into-into di Kali Progo, serta Desa Geger (Samigaluh) dan Dekso di Kulonprogo --kawasan yang juga menghasilkan peluru meriam dari timah untuk keperluan artileri sang pangeran. Bahkan, menurut laporan sejarawan militer Belanda, P.M. Lagordt-Dillie, mesiu yang dibuat di into-into, yang peracikannya sering dibantu oleh tenaga kerja perempuan, bermutu sangat tinggi.

Dua Srikandi Pendukung Diponegoro

Hampir semua lapisan masyarakat mendukung sang pangeran. Segolongan besar tukang dan pandai besi menyediakan tenaga terlatih untuk menghasilkan peluru, pemantik, dan mesiu. Para kuli panggul menjadi pelaku utama pengangkutan perlengkapan militer, dengan membawa mesiu dalam kantong-kantong besar dari kulit. Para bandit, yang sebelum perang jadi momok menakutkan di pedesaan, juga bermanfaat sebagai tenaga bantuan.

Menurut catatan Residen Kedu, F.G. Valck, ada dua perempuan yang juga berperan besar dalam Perang Jawa ini. Dalam laporannya, antara lain, tertulis: "Bila teringat kejadian-kejadian sekitar perang yang baru saja berakhir dan merenungkan sejenak kejahatan dan kerusakan yang ditimbulkan oleh beberapa istri pembesar Jawa, bolehlah dicatat secara khusus (sejumlah) perempuan yang sangat mampu bertindak kejam."

Dua orang yang ada dalam benaknya: Raden Ayu Serang dan Raden Ayu Yudokusumo. Raden Ayu Serang yang dikenal dengan Nyai Ageng Serang adalah keturunan keluarga terkemuka wali di Jawa Tengah: Sunan Kalijaga. Setelah Perang Jawa pecah, ia ikut mengangkat senjata membantu putranya, Pangeran Serang II, yang memimpin pasukan berkekuatan 500 orang di kawasan Serang-Demak. Ia bahkan masih terus memberi pengaruh penting pada penduduk daerah asalnya, Serang-Demak, lama setelah perang berakhir.

Srikandi kedua dalam Perang Jawa yang disebut Valck adalah Raden Ayu Yudokusumo, istri Bupati Yogya untuk Grobogan-Wirosari. Saat terjadi aneksasi Inggris pada Juli 1812, perempuan ini dengan gigih mempertahankan posisinya, sedangkan sang suami enggan bertindak. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang punya kecerdasan tinggi, kemampuan besar, dan siasat jitu.

Raden Ayu Yudokusumo berperan sebagai seorang di antara beberapa panglima kavaleri senior Diponegoro di mancanagara timur. Ia bergabung dengan Raden Sosrodilogo di Jipang-Rajegwesi dalam perlawanannya mulai 28 November 1827 sampai 9 Maret 1828. Ketika menyerah kepada Belanda pada Oktober 1828, ia bersama anggota keluarga besarnya mencukur rambut sampai habis sebagai lambang kesetiaannya pada perang sabil melawan kafir Belanda dan orang Jawa murtad sekutu Belanda.

Selain dua tokoh perempuan tersebut, para srikandi itu juga mencakup anggota prajurit istri yang memberi pengawalan ketat kepada raja-raja. Keterampilan mereka menggunakan senjata karabin dan menunggang kuda sempat membuat kagum Marsekal Daendels saat berkunjung ke Yogya pada Juli 1809. Mereka inilah yang berada pada kedudukan yang tepat untuk mengemban kepemimpinan sebagai komandan tempur selama perang.

Strategi Belanda Menekuk Diponegoro

Beragam siasat dilakukan Belanda untuk menghentikan perang. Di bawah komando Jenderal Hendrik Merkus de Kock, dirancang lima strategi pokok yang memadukan unsur politik dan militer. Salah satunya adalah menjalin hubungan lebih dekat dengan kesultanan agar tidak ada lagi pangeran atau pejabat tinggi yang bergabung dengan Diponegoro. Selain itu, ia bertekad mengurung tentara sang pangeran di wilayah pegunungan sempit antara Kali Progo, Kedu Selatan, dan Bagelen Timur, sehingga terkucil dan dapat dikalahkan. Ia berkeras menawan Diponegoro dan pemimpin perlawanan lainnya, jika perlu dengan tawaran hadiah kepada yang dapat menyerahkan mereka.

Kunci sukses rencana De Kock adalah sistem perbentengan medan tempur darurat (benteng stelsel) yang dirintis perwira kepala zeni, Kolonel Cochius. Rancangan awal Cochius sangat bersahaja. Setelah memilih tempat strategis yang cocok, biasanya di atas bukit atau tempat terlindung yang alamiah, ia mendirikan bangunan mirip tangsi persegi empat yang mampu menampung sekurang-kurangnya satu peleton (25-30 orang) serdadu. Ia lalu melindunginya dengan pagar kokoh dari batang kelapa setinggi 1,7 meter, dengan membuat satu-dua landasan senjata di pojok-pojok. Mengingat sifat daruratnya, perbentengan semacam ini dapat dengan mudah ditinggalkan dan benteng baru bisa didirikan di tempat lain yang lebih memerlukan penunjang pasukan.

Diperkenalkan secara sistematis sejak Mei 1827 sebagai bagian strategi tempur terpadu baru De Kock. Pada Maret 1830, tidak kurang dari 258 perbentengan darurat semacam itu didirikan di seluruh Jawa Tengah dan Timur. Yang terbanyak (90) dibangun pada 1828. Perbentengan itu tersebar di kawasan luas yang terbentang dari ibu kota Kabupaten Banyumas di sebelah barat ke Ponorogo di sebelah timur. Sekurang-kurangnya ada 16 perbentengan yang cukup luas untuk menampung lebih dari 100 serdadu dan memuat sejumlah meriam.

Strategi yang diterapkan De Kock ternyata berhasil. Sistem perbentengan yang dijalankan berhasil membuat posisi sang pangeran makin tersudut. Satu demi satu panglima tempurnya, termasuk Sentot, akhirnya menyerah.

Pada 21 September 1829, satu di antara panglima seniornya yang tersisa, Pangeran Ngabehi, dan dua putranya tewas dalam pertempuran sengit di Pegunungan Kelir, perbatasan Bagelen-Mataram. Tidak lama kemudian, pada 11 November 1829, hari ulang tahunnya yang ke-44, ia hampir tertangkap pasukan gerak cepat ke-11 yang dipimpin Mayor A.V. Michiels di daerah Pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu. Waktu itu, sang pangeran terpaksa terjun ke jurang dan bersembunyi di balik rumput gelagah. Di sini, ia kembali kehilangan seorang panglimanya yang menyerah kepada Belanda.

Dengan meninggalkan beberapa ekor kuda miliknya, tombak pusaka, dan peti pakaian, Diponegoro memutuskan untuk mengembara di hutan-hutan sebelah barat Bagelen. Hanya dua punakawannya, Bantengwareng dan Roto, yang mendampingi dia dalam seluruh pengembaraan itu. Pengembaraan ini terus berlanjut hingga pertengahan Februari 1830, ketika perundingan-perundingan langsungnya yang pertama mulai dilakukan dengan Kolonel Jan Baptist Cleerens. Perundingan-perundingan ini akhirnya menghasilkan "konferensi perdamaian" yang gagal di Magelang, penangkapannya pada 28 Maret 1830, pengasingannya selama 25 tahun di Sulawesi sejak 12 Juni 1830, hingga wafatnya pada 8 Januari 1855.

Terkisah, dalam proses perundingan yang digambarkan sebagai penyerahan diri itu, sang pangeran sempat tiga kali bertemu dan berbincang dengan De Kock. Menurut kesaksian Diponegoro sendiri, tiga pertemuan itu berlangsung dalam suasana menyenangkan dan santai. Walau demikian, keduanya sempat bertengkar keras sebelum Diponegoro ditangkap di Wisma Residen di Magelang pada 28 Maret 1830. Peter Carey pun merekam pertengkaran itu secara rinci dalam bukunya ini.

Referensi bacaan :

Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, Peter Carey
Wikipedia

0 on: "Perang Jawa : Diponegoro, Ratu Adil yang Kalah Perang [6]"