Perang Jawa : Kisah Perselingkuhan Diponegoro [4]

kisah perselingkuhan diponegoro
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Menjadi manusia sempurna adalah keinginan setiap manusia, tidak peduli status sosialnya, jenis kelaminnya, ras sukunya, semuanya ingin menggapai manusia sempurna. Tentunya, kata sempurna tidak dapat lepas dari perjalanan tafsir manusia yang kait berkelindan dengan waktu, peradaban, dan kemajuannya di zamannya.

Judul dalam seri tulisan Perang Jawa ini bisa jadi sangat provokatif, atau mungkin ada kesan tidak nasionalis karena yang saya angkat dalam tulisan kali ini adalah sisi lain dari keperwiraan Pangeran Diponegoro. Terlepas dari itu semua, ini adalah sisi lain seorang anak manusia yang tentu saja tidak akan pernah luput dari kekhilafannya.

Baik, tidak ada yang tidak kenal Diponegoro, bahkan saat masuk Paud pun anak-anak kita sudah dikenalkan sama pahlawan-pahlwannya, termasuk di dalamnya Pangeran Diponegro ini. Sejarah mencatatnya sebagai Ratu Adil yang mengobarkan perang suci di jalan Allah. Dialah sosok yang memantik terjadinya Perang Jawa yang menjadi penanda awal perlawanan bangsa Jawa terhadap kehadiaran VOC. Bahkan dalam perang ini VOC sendiri mengakui sebagai perang yang paling banyak menelan banyak korban dan biaya.

Diponegoro hadir sebagai momok yang menakutkan bagi VOC, hingga berbagai cara untuk meredamnya. Singkat cerita, dengan akal licik kemudian Dipoenegoro ditangkap dengan cara di jebak. Namun tidak banyak yang tahu, bahwa Dipoenegoro yang kita tahu mengukuhkan diri sebagai Ratu Adil itu beberapa kali berselingkuh dengan perempuan keturunan China? Tidak banyak yang tahu bahwa Diponegoro sendiri yang pertama kali membangkitkan kebencian pada etnis China di Jawa dan menuduh perempuan China dibalik kekalahannya?

Jika boleh jujur sejarah kita memang sering tidak utuh mencatat sesuatu. Kita sering disuguhi satu sosok pahlawan yang seolah jatuh dari langit dan tanpa cela, tanpa mengenali sang pahlawan secara utuh. Kadang kita hanya mengetahui kenyataan sepotong - sepotong, dan kenyataan yang sepotong itulah yang kemudian menenggelamkan kesan kita atas satu tokoh sejarah.

Terlepas adari semua itu, di luar kisah-kisah yang heorik yang selama ini kita dengar dan sepotong-sepotong itu, seberapa tahukah kita tentang sosok Ratu Adil yang menggetarkan orang Jawa ini? Tahukah kita bahwa sosok ini adalah ulama sekaligus pemain seks yang hebat hingga beberapa kali selingkuh tanpa sepengetahuan istrinya?

Mengutip dari Majalah Tempo edisi 1-7 Maret 2010, menurunkan laporan tentang pementasan Opera Diponegoro yang disutradari Sardono W Kusumo. Digambarkan bahwa di tengah letusan Gunung Merapi tahun 1822 di tengah-tengah teriak panik penduduk Jawa yang hendak mengungsi, Diponegoro justru menolak mengungsi. Di tengah panik itu, ia malah mengajak istrinya untuk melakukan seks. Apa?  Kita bisa menuduh Sardono seorang pembual. Opo iyo, di tengah kepanikan itu, tokoh sekaliber Diponegoro justru melakukan seks. Kita mungkin menuduh Sardono sebagai pembual. Tapi, kata Sardono, sebagaimana dicatat Tempo ia terinsprasi oleh Babad Diponegoro, sebuah otobiografi Pangeran Diponegoro yang ditulis saat ditahan Belanda di Manado, tahun 1830.

Sayang sekali, liputan Tempo itu amat singkat. Hanya sedikit saja menyinggung ikhwal perselingkuhan dengan gadis China. Tapi jika kita membaca buku yang ditulis sejarawan Peter Carey yang judulnya Changing Javanese Perceptions of the Chinese Communities in Central Java (Orang Jawa dan Masyarakat China), kita bisa menemukan perspektif yang lebih jelas tentang kegandrungan seks sang pangeran, yang kemudian menjadi benih awal prasangka orang Jawa terhadap gadis China. Studi Carey didasarkan atas telaah yang mendalam terhadap Babad Diponegoro yang dilakukannya selama 40 tahun.

Menurut Carey, catatan - catatan itu menunjukkan sisi manusiawi Diponegoro yang tidak banyak diketahui orang. Catatan ini berkisah sesuatu dengan amat jujur dalam aksara Pegon, modofikasi aksara Jawi yang diadopsi dari huruf Arab. Ternyata sang pangeran yang dekat dengan para kiai pesantren ini adalah penggemar anggur Afrika, Grand Constantia. Meski Islam mengharamkan alkohol, Diponegoro berdalih bahwa anggur itu adalah obat. Catatan ini menunjukkan bahwa Diponegoro bukanlah seorang yang taat dalam menjalankan syariat. Pada banyak sisi, ia justru tunduk patuh pada hasrat duniawinya. Termasuk dalam soal selingkuh dengan gadis keturunan China.

Catatan yang lebih mencengangkan adalah perselingkuhan dengan gadis China. Diponegoro mengatakan, ia terbius kecantikan seorang Gadis China yang ditemuinya sebelum perang besar di Gowok, di bulan Oktober 1826. Perempuan China itu lalu dijadikannya sebagai pemijat yang melayani hasrat nafsu sang pangeran. Kemolekan gadis China pada masa itu tersohor hingga membuat sang pangeran mabuk kepayang. Pada masa ini, banyak warga keturunan China perlahan-lahan mendominasi ekonomi di Jawa khususnya penarikan pajak gerbang tol, dan juga penjualan candu. Banyak pula gadis Cina yang dipekerjakan di tempat hiburan malam, sebagai pemijat para pangeran Jawa, termasuk Diponegoro.

Pada malam sebelum pertempuran, Diponegoro sempat - sempatnya berhubungan seks hingga subuh menjelang. Babad Diponegoro juga mencatat episode perselingkuhan Diponegoro dengan seorang dukun bernama Asmaratruna. Ia menjalin hubungan seks berulang-ulang, sesuatu yang membuatnya malu pada istrinya sendiri.

Dan gara-gara seks terlarang itu, ilmu kekebalannya jadi hilang. Ia melanggar perintah Tuhan sehingga kekebalannya jadi lenyap. Pasukan Jawa yang dipimpinnya kocar-kacir dan kehilangan daya tempur. Bahkan iparnya Sasradilaga juga kalah dalam pertempuran, gara-gara malam sebelum pertempuran melakukan hubungan seks dengan gadis China.

Aneh bin ajaib, Diponegoro lalu menyalahkan gadis China sebagai biang kekalahan. Ia lalu mengeluarkan larangan untuk menikah dengan gadis China. Ia melarang hubungan erat dengan China dan mulai memperlakukan orang Cina sebagai musuh, sebagaimana halnya bangsa Belanda. Ia membangun tembok tebal parasangka yang kemudian menjadi endapan selama bertahun-tahun setelah meninggalnya, bahkan hingga kini.

Ia memunculkan mitos yang membuat lelaki Jawa takut menikahi gadis China. Kata sejarawan Denys Lombard, apa yang dilakukan Pangeran Diponegoro menjadi benih gagasan rasialis yang kemudian mempengaruhi persepsi orang Jawa terhadap orang China. Sebagaimana dicatat Carey, Lombrad mengatakan Diponegoro telah menyebarkan ideologi berbahaya yang memasukkan orang China sebagai kelompok kafir. Padahal, yang mestinya dijinakkan adalah daya seks sang pangeran yang amat dahsyat.

Kini, ratusan tahun setelah Diponegoro meninggal, apakah prasangka itu masih menjadi sedimen yang menebal? Semua berpulang pada diri kita masing – masing dan terlepas dari kekurangan dan perilaku Diponegoro sebagai manusia kebanyakan. Diponegoro tetaplah pahlawan bangsa ini, tokoh yang menggagas dan memulai perlawanan terhadap kolonialisai yang menyengsarakan rakyat. Akhir kata, mohon maaf atas segala kekurangan dan semoga menambah wawasan buat kita sekalian. Nuwun.

Referensi bacaan :

Wikipedia
Peter Carey,  Changing Javanese Perceptions of the Chinese Communities in Central Java (Orang Jawa dan Masyarakat China)
Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya
Majalah Tempo edisi 1-7 Maret 2010
Berbagai sumber terpilih melalui editing seperlunya


0 on: "Perang Jawa : Kisah Perselingkuhan Diponegoro [4]"