Perang Jawa : Sejarah Singkat Kyai Modjo [5]

tokoh penting perang jawa
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Pada tulisan pertama dalam seri Perang Jawa sedikit banyak telah saya singgung tokoh – tokoh penting selain Diponegoro sendiri, salah satu diantaranya adalah Kyai Modjo.

Adapun latar belakang pemicu Perang Diponegoro atau oleh Belanda disebut sebagai Perang Jawa (1825 – 1830) selengkapnya bisa kerabat akarasa baca di Perang Jawa : Menempuh Jalan Takdir.

Sepertinya kurang afdol rasanya jika sejarah tidak diwarnai perbedaan, sama halnya sejarah tentang Kyai Modjo yang secara khusus akan kita bahas kali ini. Perbedaan yang saya temukan salah satu diantaranya adalah tentang tahun lahirnya. Jika merujuk pada Babcock dalam bukunya Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity Kyai Modjo lahir pada tahun 1792 sedangkan dari catatan sejarah Kampung Jawa Tondano disebutkan lahir pada tahun 1764, sebagaimana yang tertulis pada papan makamnya.

Nama kecil Kyai Modjo adalah Muslim Muhammad Khalifah. Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif (Ngabdul Ngarip) atau lebih dikenal dengan Kyai Baderan (Kyai Baderan I), juga seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, kedua dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (pradikan) Raja Surakarta Pakubuwono IV (1788 -1820) kepada beliau.

Belum diketahui latar belakang keluarga beliau, kecuali menurut suatu sumber (Babcock, 1989) Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Kyai Baderan meninggal sekitar tahun 1820, kuburannya berada di Desa Modjo Tegalrejo Boyolali, Jawa Tengah. Di areal pemakaman tersebut dikebumikan juga jasad Raden Ayu Mursilah dan putranya bernama Bagus Khalifah.

Adapun  Raden Ayu Mursilah adalah putri dari Raden Ayu Mursiyah saudara seayah dengan HB III. Dengan demikian ditilik dari hubungan kekerabatan Kyai Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai Modjo RA Mursilah bersepupuan dengan Pangeran Diponegoro.

Meskipun ibunya seorang ningrat kraton, Kyai Modjo dibesarkan diluar kraton. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap disana selama beberapa waktu Kyai  Modjo kemudian memimpin satu pesantren di negri Modjo .Selain Kyai Modjo, Iman Abdul Arif memiliki beberapa anak laki-laki diantaranya Wirapatih (Kyai Sepoh alias Kyai Baderan II), Kyai Hasan Muhammad dan Kyai Hasan Besari. Selain itu ada lagi saudara Kyai Modjo lainnya bernama RA Marwiyah, Nungali dan Murdoko.

Keluarga Kyai Baderan memiliki hubungan kekerabatan dengan Kyai Muhammad Qorib (Kyai Bagus Murtoyo / Murtadho) pendiri daerah Kalioso (Kaliyoso), terletak 15 km sebelah utara Solo. Kyai Muhammad Qorip memiliki alur keturunan dari Djoko Tingkir (raja kerajaan Pajang) dan  Kyai Ageng Pangeran Manduroredjo - Patih Sultan Agung Mataram. Beberapa anak Kyai Muhammad Qorib menikah Kyai Hasan Muhammad - putra Kyai Baderan I, dan juga dengan 2 anak Kyai Modjo. Wirapatih (Kyai Baderan II) menikah dengan putri dari Kyai Abdul Djalal II - sepupu Kyai Muhammad Qorib (Durga Mosque, Stephen C. Headly,2004).

Sepeninggal ayahnya, Kyai Modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di pesantren Modjo dimana banyak putra dan putri dari Kraton Solo belajar di pesantrennya di Modjo. Kelak nama Muslim Muhammad Khalifah menjadi terkenal sebagai Kyai Modjo. Keulamaannya dan ada pertalian darah dengan kraton Jogyakarta (baca Pangeran Diponegoro) kemungkinan membuat Pangeran Diponegoro memilih kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.

Kyai Modjo menikah dengan RA Mangubumi (Babcock, 1989), janda cerai dari pangeran Mangkubumi - paman Pangeran Diponegoro dan karena perkawinan ini Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Modjo dengan sebutan “paman” meskipun dari garis ayah Kyai modjo adalah “kemenakan” Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai modjo (R.A Mursilah) adalah sepupu Pangeran Diponegoro. Pangeran Mangkubumi adalah salah satu pangeran yang ikut memberontak bersama-sama pangeran Diponegoro dan Kyai modjo. Konon Kyai Modjo memiliki beberapa orang anak, dua diantaranya meninggal di Mekah, sedangkan satu anak yang ikut bersamanya ke Tondano bernama Gazaly.

Landasan Kyai Modjo adalah menegakan sariat islam di tanah Jawa, artinya meluruskan ajaran Islam dari pengaruh kebudayaan Hindu seperti tahayul, mistik, kurafat, bid’ah, dan sinkretisme lainnya. Ketika perang Jawa meletus pada tahun 1825 Kyai Modjo sudah berusia 33 tahun atau 7 tahun lebih muda dari Pangeran Diponegoro.
Dalam pandangan Kyai Modjo, ideologi untuk mendirikan suatu pemerintahan Islam ini disebutkan secara tegas ketika ia menyerah kepada Belanda pada akhir tahun 1829. Kyai Modjo mengatakan bahwa tujuan utama dirinya dan para tokoh Muslim mendukung Diponegoro adalah karena janji pangeran itu untuk merestorasi agama Islam di Jawa. Peter Carrey mendokumentasikan pernyataan Kyai Modjo sebagai berikut:

“ Alasan utama mengapa saya angkat senjata (melawan Belanda) adalah karena Pangeran berjanji akan membangun suatu pemerintahan Islam. Percaya janji itu, saya langsung bergabung kepadanya. Namun belakangan, saya mendapati bahwa itu bukanlah tujuan yang sebenarnya, dan ia sebenarnya hanya ingin mendirikan suatu kerajaan baru di Jawa. Saya sendiri mengajukan keberatan atas hal itu, dan kami berdebat dengan sengit akan tujuan pemberontakan ini…… hingga akhirnya ia menyarankan agar saya berhenti berperang.”

Kyai Modjo sebagai panglima dan penasihat utama Diponegoro berhasil mengubah modus perlawanan terhadap penjajah dari “pemberontakan” menjadi “perang sabil”. Di bawah pengaruh Kyai Modjo, ikut sejumlah tokoh lokal; 88 kyai desa, 36 haji, 11 syech, 18 pengatur agama (penghulu, modin, khatib, juru kunci), 15 guru mengaji, dan beberapa ulama dari Bagelen, Kedu, Mataram, Pajang, Madiun dan Ponorogo, serta 3 orang santri wanita.

Bersambung......

Referensi bacaan :
Arsip Nasional Republik Indonesia, Penerbitan Sumber-Sumber Sejarah No.5, Ihtisar Keadaan Politik Hindia Belanda Tahun 1839 – 1948, Jakarta, 1973
Babcock Tim G; Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity, Gajah Mada University, 1989.
Carey Peter, Asal Usul Perang Jawa, Pengantar Ong Hok Ham, LKIS, 2004
De Graaf H J DR, Awal Kebangkitan Mataram, Masa Pemerintahan Senopati, Grafiti, Cetakan ke-3, 2001
Djamhuri Saleh A, Strategi Menjinakkan Diponegoro, Pengantar Lapian A B, Komunitas Bambu, Jakarta, 2003
Hardjonagoro KRT dkk; Sultan Abdulkamit Herucakra Kalifah Rasulullah di Jawa 1787 – 1855, edisi pertama, Museum Radya Pustaka, Surakarta, 1990
Heru Basuki, Dakwah Dinasti Mataram, Samodra Ilmu, Cetakan I,Yogyakarta,2007,
Jayadiningrat Pangeran; Orlog van Java (Perang Diponegoro), Naskah melayu kuno, 1825, Perpuskakaan Nasional Jakarta
Mirawati Ina, Akhir Perarng Jawa, KasusPembuanagn kyai Modjo, Arsip Nasional Republik Indonesia, Penerbitan Naskah Sumber, 2000
Munhanif Ali,Drs, MA; Ensiklopedi Tematis Jilid 5; Dunia Islam Asia Tenggara; Gerakan Keislaman Diponegoro, Ichtiar Baru van Houwe, 2002
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Katalog Naskah-naskah Nusantara jilid 4, Disunting oleh Behren T.E, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1998.
Pulukadang Umar; Kiay Modjo dan Islam di Minahasa, Naskah, 1975
Sagimun MD; Pangeran Diponegoro Berjuang, Gunung Agung, Cetakan ke-2, Jakarta, 1986.

Stephen C.Headly, Durga Mosque, Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapore, Cetakan I,2004

0 on: "Perang Jawa : Sejarah Singkat Kyai Modjo [5]"