Sekaten Tradisi 5 Abad Yang Masih Bertahan

grebeg maulid

Akarasa – Sugeng rawuh kadang kinasih akarasa. Hari lahir nabi atau yang lebih terkenal dengan maulid nabi adalah hari  dimana nabi terakhir yaitu nabi Muhammad saw dilahirkan. Setiap umat Islam dari berbagai daerah pasti memiliki cara tersendiri untuk memperingatinya.

Seperti halnya, Yoygakarta dan Surakarta memiliki cara tersendiri dalam memperingati maulid nabi, terutama untuk masyarakat keraton. Mereka memperingatinya, dengan melakukan Grebeg Maulid. Sebenarnya grebeg tak hanya dilakukan dihari lahir nabi saja. Di Yogyakarta, ada tiga macam jenis Grebeg. Pertama ada grebeg yang dilakukan ketika hari raya Idul Fitri, yang disebut Grebeg Syawal, yang kedua adalah Grebeg Besar yang dilaksanakan ketika hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulid.

Grebeg Maulid atau yang sering disebut Grebeg Sekaten dilaksanakn di Alun-Alun Utara kota Yogyakarta. Disebut grebeg sekaten karena, sebelum acara grebeg dimulai terlebih dulu diadakan sekatenan selama satu bulan. Sekatenan, kurang lebih seperti pasar malam pada umumnya. Yang membedakan adalah acara puncaknya yaitu Grebeg.

Sebenarnya, Garebeg sudah diselenggarakan sejak jaman Kerajaan Islam Demak. Dilestarikan keberadaannya pada jaman Mataram di bawah kekuasaan Panembahan Senopati, sampai era pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Berbicara soal Upacara Grebeg Maulud, tidak bisa lepas dari Sunan Kalijaga. Karena upacara tradisional ini merupakan prakarsa beliau. Atas prakarsa Sunan Kalijaga dulu setiap tahun bertepatan dengan peringatan Maulud, di halaman Masjid Demak diselenggarakan Tabligh Akbar oleh para wali. Tabligh ini berkaitan dengan peringatan maulud Nabi besar Muhammad SAW. Kegiatan tersebut sekaligus diperuntukkan musyawarah para wali.

Dalam kegiatan tersebut, di salah satu sudut halaman Masjid ditempatkan seperangkat Gamelan hasil karya Sunan Kalijaga. Sedang dibagian lain, dihias dengan dekorasi menarik seperti layaknya orang berpesta atau seperti Pasar malam. Orang yang ingin menyaksikan perayaan tersebut harus lewat sebuah Gapura (pintu gerbang) yang dikatakan sebagai pintu pengampunan.

Setelah serambi dan halaman Masjid dipadati pengunjung, upacara dimulai dengan diperdengarkan bunyi Gamelan, diiringi irama gending-gending dakwah. pada kesempatan ini para wali mulai memberikan dakwah perihal kebenaran agama Islam.

Mungkin telah banyak diketahui kata "Sekaten" berasal dari bahasa Arab Syahadatain, artinya dua kalimah syahadah. Yang dimaksud dua kalimah syahadah ini adalah kalimah Asyhadu alla illallah atau "saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah" dan kalimah Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah yang artinya "saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah".

Sedang simbolisasi syahadatain ini adalah dua perangkat gamelan hasil karya Sunan Kalijaga yang digunakan untuk mengundang orang-orang agar bisa berkumpul. Kedua gamelan itu dulu dibunyikan setiap peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Masjid Demak. Dua perangkat gamelan tersebut diberi nama Kanjeng Kiai Nawawilaga dan Kanjeng Kiai Gunturmadu atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Sekati dan Kiai Sekati.

Sedang "Grebeg" berasal dari bahasa Jawa kuno garebeg, artinya mengikuti atau ndherekake, yaitu mengikuti miyos dalem, diantaranya para Gusti Bandara Pangeran, abdi dalem sipat Bupati, dan beberapa abdi dalem yang bertugas.

Di Kasultanan Yogyakarta, perayaan Sekaten ditunjang dengan berlangsungnya pasar malam di Alun-Alun Utara. Dan menjelang puncak upacara Grebegan, di halaman Keben Kraton Yogyakarta banyak pedagang kaki lima menjajakan nasi gurih, telur merah, penjual sirih, dan sering terlihat juga penjual pecut.

Dulu setiap berlangsungnya keramaian itu, para kerabat Dalem juga keluar Kraton ikut menyempatkan diri membeli nasi gurih, makan sirih, dan sebagainya. Menurut kepercayaan yang sampai sekarang masih dilakukan, konon bila memakan daun sirih (nginang), baik laki-laki maupun perempuan akan awet muda.

Sebenarnya hal tersebut hanya simbolisasi. Makan sirih (nginang), kelengkapannya berbagai jenis tumbuhan. Di samping sirih, ada gambir dan injet (adonan kapur). Dengan membiasakan diri memakan daun sirih, dengan sendirinya gigi akan awet, tidak mudah rusak akibat terkena campuran batu kapur. Tempo dulu, bila seseorang sudah lanjut usia namun bentuk giginya masih utuh dan nampak putih bersih, pasti dikatakan awet muda.

Lain halnya makna sebut pecut. Yang tertarik membeli pecut berbarengan perayaan Sekaten, sebagian para petani. Konon, bila seorang petani penggarap sawah (penggaru atau ngluku) menggunakan pecut untuk mencambuk kerbau atau sapi yang digunakan untuk menggarap sawah, hewan tersebut akan bertambah kekuatannya dan tidak mudah capai. Dengan demikian, waktu untuk bekerja di sawah dapat lebih lama dan mendapat hasil lebih, seperti yang diharapkan.

Seperti yang berlangsung di Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta, setiap upacara Grebeg kedua penguasa Kraton itu memberikan sebuah hajad berupa Gunungan, terbuat dari jenis makanan dari ketan dilengkapi beberapa jenis sayuran (hasil bumi).

Bagi Kraton, hajad dalem berupa gunungan tersebut memiliki makna simbolis sangat mendalam, yaitu Sultan maupun Sunan masih merelakan harta kekayaan yang dimilikinya (divisualisasikan dengan Gunungan), diberikan atau dibagikan kembali kepada rakyatnya. Hal ini terlihat, setiap upacara Grebeg, hajad dalem berupa Gunungan diperebutkan atau dibagikan kepada masyarakat di halaman Masjid Besar.

Kembali peristiwa tempo dulu, di zaman kejayaan masing-masing kraton, masyarakat yang diwakili salah seorang pamong desa, setiap tahun asok bulu bekti ke kraton. Ujud bulu bekti itu beraneka ragam, namun sebagian besar berupa hasil pertanian (palawija) di masing-masing desanya. Karena ingin membalas budi baik kepada para kawula, pihak kraton kembali memberikan sesuatu yang disimbolisasikan lewat Gunungan.

Namun ada juga cerita yang menyatakan awalnya Grebeg merupakan sebuah prosesi upacara yang diselenggarakan pihak kraton untuk menangkal segala bencana yang dikhawatirkan akan mengguncang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Pihak Kasultanan Yogyakarta dan masyarakat sekitarnya percaya, dengan diadakannya upacara ini, maka wilayahnya akan terhindar dari bencana ataupun petaka yang bisa mengancam kehidupan mereka. Acara ini menjadi upacara sakral yang sangat dinanti, untuk mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan.

Gamelan Sekaten merupakan hasil karya Sunan Kalijaga. Pertama kali menciptakan sebuah Gong yang diberi nama Syahadatain. Semula hanya dibunyikan di halaman Masjid Demak, bertepatan dengan Maulud Nabi. Dicipta pertama kali hanya empat jenis, yaitu Kenong, Kempul, Kendhang, dan Genjur. Kenong berbunyi nong-nong-nong, dan sekarang ditambah bunyi Saron yang berbunyi ning-ning-ning. Kempul memiliki suara pung-pung-pung, Kendhang berbunyi ndang tak-ndang tak-ndang tak. dan Gong/Genjur bersuara ngguuuur.

Bila perangkat kecil Gamelan itu dibunyikan (ditabuh) bersamaan, akan mengumpulkan suara nong-ning (nong kana-nong kene) artinya di sana- di situ-di sini. Pung-Pung, mumpung-mumpung, mumpung masih hidup. Selanjutnya digabung dengan bunyi  kempul, pul-pul berarti segera kumpul ditambah suara Kendhang ndang tak-ndang tak (cepat atau segera), dan ditutup atau diakhiri dengan suara ngguuur, artinya agar segera njegur atau masuk Masjid atau masuk agama Islam.

Ada satu lagi yang unik, salah satu ciri khas Grebeg ini adalah adanya telur merah (ndog abang) yang ditusuk dengan bambu dan dihiasi kertas sebagai bunganya. Ndog abang ini juga memiliki filosofi, yaitu sabagai permulaan kehidupan, sedangkan bambu memiliki lambang semua kehidupan di bumi pasti ada porosnya yaitu Gusti  Allah, dan warna merah sendiri diartikan sebagai rezeki, barokah juga keberanian. Nuwun.

0 on: "Sekaten Tradisi 5 Abad Yang Masih Bertahan"