Ilmu Bahagia dalam Ajaran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram


Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Apa toh yang paling ingin dicapai oleh manusia dalam hidupnya? Pertanyaan yang bisa jadi sangat beragam jawabannya. Namun secara umum, dan saya rasa banyak diamini orang adalah merasakan emosi bahagia. Lain tidak.

Cukup menarik membahas ngelmu jiwa yang disebut bahagia ini. Secara umum, seperti halnya emosi marah, emosi bahagia merupakan salah satu jenis emosi yang dianggap sebagai emosi dasar manusia. Secara harfiah, ada beberapa jenis emosi yang maknanya berdekatan dengan bahagia, yakni rasa senang, aman, nyaman, cinta, damai, dan sayang.

Ya, bahagia kata yang paling sering diucapkan manakala ditanya masalah rasa apa yang paling diinginkan dalah hidup ini. Sayangnya dalam kenyataannya bahagia sangatlah sulit untuk ditemukan terutama oleh orang-orang yang tak tahu arti bahagia yang sebenarnya.

Pertanyaannya, memangnya bahagia itu apa toh?

Tidak ada yang dapat mendefinisikan secara tepat apa itu bahagia, karena memang arti kebahagiaan berbeda-beda pada setiap manusia, hal ini disebabkan adanya perbedaan konsep dan cara berpikir manusia yang berbeda-beda dalam menjalani hidup. Orang Jawa bilang bahagia itu sawang sinawang.

Seperti halnya sebuah ungkapan klise yang sering kita dengar ‘bahwa rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri’. Istilah opo meneh iki? Apa masih dikatakan hijau jika rumah tentangga sebelah yang halamannya di plester semua? Atau misalnya jika pun ada rumputnya namun kering kerontang yang kebrangas itu masih kita katakan lebih hijau? Jika jawabanya iya atau masih agaknya kita perlu kacamata. Narasi ini adalah jawaban rasionalitas ungkapan di atas.

Baik, ungkapan atau istilah di atas adalah tentang cara pandang kita terhadap kehidupan orang lain yang kita lihat secara kasat mata. Bahwa kehidupan orang lain, entah itu tentangga, saudara, sahabat, kolega terlihat lebih mapan, lebih sejahtera, dan lebih bahagia dibanding dengan kehidupan kita sendiri. Pada akhirnya kita menjadi pesimis dan perlahan menarik diri dari mereka, berjalan menjauh karena menganggap diri kita tak sebahagia mereka, dan merasa tak pantas dan tak layak bergaul dengan mereka.

Apakah ada yang menjamin, orang yang selama ini terlihat bahagia, sejahtera, dan bergelimang materi itu bahagia setiap harinya? Tidak ada yang menjamin itu semua, karena manusia mempunyai ukurannya sendiri dalam memaknakan bahagia itu sendiri. 

Lantas bahagia itu milik siapa? Sejatinya bahagia adalah suasana hati kita sendiri yang kita ciptakan sendiri. Ya, hati kita sendiri yang menanamkannya dan menetapkan bahwa kita layak bahagia, bukan dengan fokus pada kekurangan kita dan membanding-bandingkannya dengan orang lain. Lantas kok begitu sulitnya mendapatkan rasa bahagia ini, masalahnya apa?

Baik, jika kita tarik dalam konteks pada diri kita masing-masing, tidak perlu sungkan untuk mengakui bahwa dalam hidup berkehidupan senyatanya dalam pencapaian suatu keinginan senyatanya ada unsur ‘ter’ di dalamnya. ‘Ter’ yang saya maksud di sini dibilang paling puncak. Misalnya, terbaik, terkaya, terhormay, dan lain sebagainya. Inilah faktanya.

Karena sering mengira bahwa bila keinginan terbesar terpenuhi kita akan merasa senang selamanya, kita sering mengejar sesuatu secara mati-matian dan menghindari sesuatu yang tidak kita ingini juga secara mati-matian. Sebaliknya, bila keinginan tidak terpenuhi, maka kita mengira akan merasa susah selamanya. Padahal, rasa hidup yang sebenarnya adalah sebentar senang dan sebentar susah. Pengertian yang salah mengenai sumber kebahagiaan hingga kita mati-matian mengejarnya inilah yang justru kita dapati sebaliknya rasa, sengsara.

Aja gumunan, aja sumelang,  bisa jadi adalah obat dari itu semua. Ya, kata-kata sederhana ajaran Ki Ageng Suryomentaram dalam kawruh begja sawetah inilah kalau kita bisa melakukannya dengan benar inilah obat mujarab manusia modern yang mencari bahagia. Sumber kebahagian bukan berada di tempat clubing seperti yang kita anggap selama ini. Sumber kebahagiaan bukan berada di meja saji restoran kenamaan, juga tidak berada di kendaraan mewah yang hingga kita kemuli karena takut dia masuk angin itu.

Sumber kebahagiaan dari ajaran Suryomentaram terletak pada hidup sederhana. Sederhana disini bukan lantas mengajarkan untuk memiskinkan diri. Tak mudah heran, tak mudah tergiur dengan  iming-iming gemerlap dunia. Aja sumelang tak khawatir pada suatu apa. Bukankah ketentraman terletak di hati yang tak lagi mengkhawatirkan sesuatu.

Ternyata untuk hidup tenang, tentram syaratnya tidak perlu mahal. Cukup menata hati untuk tidak mudah heran dan menghilangkan rasa khawatir, was-was dalam diri. Ajaran Ki Ageng yang sederhana, namun dalam maknanya dan masih relevan sampai sekarang. Nah, karena sudah kadung teles (terlanjur basah) membahas tentang Ki Ageng Suryomentaram sekalian saya ajak kerabat akarasa berkenalan dengan ajarannya, yakni Kawruh Jiwa.

Lantas siapa toh Ki Ageng Suryomenatram ini? Selengkapnya bisa kerabat akarasa baca Biografi Ki Ageng Suryomentaram.
Kawruh Jiwa bagi kita yang hidup di jaman sedigital ini bisa jadi adalah satu aplikasi yang tidak terunduh jika di umpamakan sebuah aplikasi dalam suatu gadget. Kita lebih mengenali pemikir-pemikir barat agar dibilang melek dan intelek. Kalaupun toh sebagian kita mengetahuinya, itu pun masih setengah hati karena menganggap Kawruh Jiwa ini adalah bagian dari aliran kepercayaan atau mistisisme Jawa (kejawen). Salah-salah syirik!

Kawruh Jiwa atau dalam penyederhanaan makna harfiahnya adalah pengetahuan tentang rasa hanyalah pengetahuan. Mencoba memahami jiwa dan hal-hal yang terkait dengan itu, seperti pengetahuan tentang hewan , tanaman, dan sebagainya. Dalam Kawruh Jiwa juga tidak ada ritual sama sekali. Pendek kata Kawruh Jiwa bukanlah agama dan tidak memenuhi syarat sebagai agama, lebih tepatnya adalah sebagai upaya pengelolaan hati. Inti ajaran dari Kawruh Jiwa adalah menciptakan hidup yang bahagia dan tentram dalam hati maupun kehidupan bermasyarakat.

Kawruh Jiwa merupakan ilmu mengenai jiwa dengan segala wataknya (meruhi jiwa sawateg-wategipun). Ilmu yang saya maksud di sini bukanlah ilmu dalam artian mistik, melainkan ilmu yang diperoleh dengan menggunakan logika dan penalaran ilmiah (rasional). Oleh karena itulah Ki Ageng lebih memilih menggunakan istilah kawruh yang berarti pengetahuan dalam pengertian yang rasional. Dalam Kawruh Jiwa, Ki Ageng mengajak kita untuk berpikir rasional, memeriksa ulang keyakinan-keyakinan yang kita miliki secara cermat dan teliti, membuka selubung-selubung yang menutupinya, hingga kita mendapatkan saripati pengetahuan yang terang dan jernih. Nah, pengetahuan yang jernih inilah yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan.

Inti ajaran Kawruh Jiwa adalah ajaran untuk memahami diri sendiri (meruhi awakipun piyambak) secara tepat, benar, dan jujur. Ketika seseorang telah mampu memahami dirinya secara tepat, benar, dan jujur, maka dengan sendirinya ia juga akan mampu memahami atau mengerti orang lain dan lingkungannya dengan tepat, benar, dan jujur pula. Sehingga kemudian ia dapat hidup damai dan bahagia. Keadaan tersebut disebut Ki Ageng dengan kehidupan bahagia sejati, yaitu kebahagiaan yang tidak bergantung pada tempat, waktu, dan keadaan (mboten gumantung papan, wekdal, lan kawontenan).

Untuk mencapai bahagia menurut Ki Ageng dalam Kawruh Jiwa ada enam ‘SA’ yang mesti dilakukan, yakni sabutuhe (sebutuhnya), saperlune (seperlunya), sacukupe (secukupnya), sabenere (sebenarnya), samesthine (semestinya), dan sakapenak’e (sepantasnya). Dengan laku enam ‘sa’ ini, manusia diharapkan tidak berlebihan, senantiasa menyikapi hidup sewajarnya dan waspada.

Karena sejatinya bahwa hidup itu layaknya takdir yang harus dijalani setiap manusia. Sederhanaya, bila setiap kita sudah menganggap hidup ini bagian dari takdir maka kita akan menerima dengan ikhlas dan bahagia ketika sengsara, kaya atau miskin pun tak masalah. Seperti ungkpan Ki Ageng dalam ajarannya, “tidak ada sesuatu pun diatas bumi dan dikolong langit yang pantas untuk dikehendaki dan dicari atau sebaliknya ditolak secara berlebihan.” Artinya manusia harus nrimo ing pandhum, menerima bagian hidup kita dengan ikhlas.

Bertelekan pada narasi di atas, saya jadi teringat ungkapan klise yang saya yakin sampeyan tidak asing dengan kalimat ini. Bahagia itu sederhana. Meski sebenarnya saya sendiri bingung kenapa disebut sederhana. Pada narasi panjang di atas cukup menjelaskan bahwa senyatanya bahagia itu sederhana. Menjadi rumit karena karena kita memakai rumus-rumus yang njlimet.

Membincang bahagia sama halnya membincang syukur, dua kata ini adalah seumpama teman sebangku, teman karib. Bahagia itu sederhana jika kita bisa menghargai apa yang kita punya, jika kita selalu bersyukur dengan apa yang kita dapat. Bahagia menjadi sangat sederhana manakal kita selalu melihat kebawah melihat orang-orang tidak seberuntung kita. Bahagia itu sesederhana kita tersenyum setiap hari dan memberikan manfaat kepada orang lain. Bahagia itu sederhana jika semuanya terasa cukup! tidak kurang dan tidak berlebihan. Bahagia itu sederhana, sesederhana melihat anak kita tersenyum. Sekian dulu, terimakasih sudah membaca sampai tuntas tulisan panjang ini. Nuwun. Urd2210


Ojo lali bahagia!

1 on: "Ilmu Bahagia dalam Ajaran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram"