Jelajah Gunung Slamet : Disambut Manusia Kerdil di Pos 3 [2]


cakrawala gunung slamet

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Perjalanan mendaki gunung bukan soal cepat atau lambat sampai di tujuan. Perjalanan mendaki gunung bukan lomba lari, bukan lomba jalan cepat. Bukan tentang siapa yang duluan, siapa yang terlambat. Karena sejatinya hakikat mendaki gunung bukanlah menaklukkan puncaknya, akan tetapi menaklukan diri sendiri.

Meskipun toh dalam prosesnya, ada masanya untuk kita menikmati. Bahkan seringkali menengok kanan, kiri, depan, belakang. Setidaknya dalam perjalanan, kita butuh jeda, butuh berhenti sejenak, merenggangkan kaki, mengatur lagi napas. Adakalanya kita butuh jeda, untuk menikmati perjalanan. Nikmatilah, selagi masih bisa. Jika sakit, menangis juga boleh. Jika bahagia, tersenyumlah juga tidak ada yang aru – aru. Jadilah kembali seperti manusia, yang penuh kekurangan itu.

Tulisan yang sampeyan baca ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya Jelajah Gunung Slamet : PendakianTerakhir Seorang Sahabat monggo di baca terlebih dahulu agar ceritanya tidak parsial alur ceritanya.

Dari Desa Bambangan hingga sampai puncak gunung Slamet ini sekurangnya ada 9 pos yang mesti kami tempuh. Perjalanan menuju pos 1 sudah cukup mengesankan, sejauh mata memandang terhampar panorama khas lereng pegunungan, tanaman sayur mayur. Perjalanan dari plawangan Bambangan menuju pos 1 (pesanggrahan) lumayan landai, namun di jalur ini kita harus teliti. Karena jalurnya banyak bercabang. Cacatan penting pada jalur menuju pos 1 ini adalah jangan sampai salah ambil jalur, ambil jalur yang kiri pada jalan bercabang setelah lapangan. Tak kurang dari dua jam kami sampai di pos 1 (pesangrahan).

Setelah menghabiskan sebatang rokok kretek, kami pun melanjutkan kembali perjalanan menuju pos 2 atau oleh para pendaki sering menyebutnya Pondok Walang. Suguhan panorama pada track ini relatif sama dengan pos 1. Pemandangan didominasi oleh hamparan sayur seluas mata memandang, meski dibeberapa bagian pohon pinus sudah mulai nampak dibagian kanan. Kurang lebih 2 jam, akhirnya kami sampai pada pos 2, Pondok Wayang. Kami istirahat sejenak di pos ini, mungkin sekitar 20-an menit sebelum melanjutkan perjalanan menuju pos 3 atau Pondok Cemara.

Gelap mulai terasa ketika kami berajak dari pos 2. Memasuki wilayah sepanjang jalur pos 2 menuju pos 3 perjalanan reatif lamban. Selain karena hari sudah gelap, pada jalur ini kami sudah memasuki hutan pinus yang kerapatan vegetasinya tinggi. Pohon–pohonnya pun lumayan besar–besar, belum lagi jalanan pada track ini relatif lebih menantang. Terjal dan panjang. Cukup menguras tenaga dan tentu saja mental kami. Sekira 2 jam kurang dari pertama kami berajak dari pos 2, maka kami sampai pada pos 3. Di pos 3 ini kami memutuskan lebih lama untuk istirahat, sambil mengeluarkan perbekalan kami untuk kami santap di pos 3 ini. Dan bahkan, jika mungkin tidak memungkinkan kami juga sempat berencana untuk menginap di pos 3 ini.

Karena sudah beranjak malam, suhu udara pun sudah mulai membuat gigil. Akhirnya di pos 3 ini kami memutuskan untuk membuat perapian ala kadarnya. Do pos 3 ini ada beberapa kejadian janggal dan cukup aneh. Salah satu diantaranya kami melihat sesosok mahkluk yang merayap dan berloncatan diantara dahan – dahan pinus di atas kami. Awalnya kami mengira dan bermain logika itu adalah sejenis tupai, karena ditimpa oleh cahaya perapian maka seakan besar. Tapi ternyata setelah sosok tersebut benar – benar relatif lebih dekat, memang besar sekali dan bukan tupai. Lebih mirip kera, namun badanya agak tegap seperti manusia. Untungnya binatang atau sosok yang misterius itu tidak lama mematung di salah satu dahan pinus, kemudian meninggalkan kami.

Setelah mengemasi perbekalan yang sempat kami keluarkan untuk kami santap malam di pos 3 ini. Sambil menunggu perapian habis, kami ngobrol ringan sambil menikmati rokok masing – masing. Tiba – tiba dari arah kanan pos 3 ini ada sergapan angin yang cukup kuat, bahkan bercampur debu. Meski itu tidak berlangsung lama. Kami hanya saling diam tanpa berusaha untuk mengomentari. Namun tetap waspada mengamati lingkungan sekitar. Sepertinya angin kuat tersebut hanya menerpa kami saja, karena dahan- dahan pohon disekitar tidak ikut bergoyang.


Seketika itu saya jadi teringat obrolan di warung dengan seorang ibu – ibu mantan pendaki tentang hal – hal yang aneh berbau misterius di jalur pendakian gunung Slamet ini. Salah satunya terdapat makhluk kerdil yang dahulunya adalah manusia yang tersesat ketika sedang mendaki gunung Slamet dan akhirnya tidak bisa kembali ke bawah. Makhluk kerdil tersebut awalnya mencoba bertahan hidup dengan memakan dedaunan seperti hewan, tetapi seiring waktu makhluk kerdil tersebut kehilangan jati diri manusia karena terlalu lama hidup seperti hewan. Makhluk kerdil tersebut suka bersembunyi karena takut jika bertemu pendaki. Apakah sesosok bayangan yang bertengger itu adalah makhluk tersebut? Entahlah, kami tidak ingin berprasangka.

Seperti saling mengerti satu sama lain, kami pun bergegas segera meninggalkan pos 3 ini untuk melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya, yakni pos 4 atau dalam kalangan pendaki sering menyebutnya pos Samarantu. Konon kata Samarantu ini adalah penggabungan dari suku kata Samar dan Hantu,  yang dikenal paling angker di sepanjang jalur Bambangan. Mitosnya lagi, sangat tidak dianjurkan untuk coba-coba untuk mendirikan tenda karena konon katanya banyak makhluk gaib yang akan mengganggu pendaki ketika bermalam di Pos Samarantu.

Dari jalur pos 3 kondisi vegetasi menuju pos 4 masih relatif sama dengan yang sebelumnya, masih banyak pohon-pohon besar dan rapat dengan track yang panjang dan sedikit sekali bonusnya, kami hampir tidak menemui jalur yang landai. Akhirnya setelah berjibaku selama kurang lebih 2 jam perjalanan yang bisa dibilang gontai akhirnya kami sampai juga di Pos 4, pos yang konon angker itu. Pos Samarantu.

Mungkin karena alm. Zarin termakan oleh cerita horor di pos 4 atau Pos Samarantu ini, kami hanya istirahat sejenak. Padahal, saya sudah sangat kelelahan. Maklum faktor U tidak bisa dibantah. Namun demikian, saya pun kemudian serujuk untuk meneruskan perjalanan menuju pos selanjutnya, yakni pos 5 atau Samyang Rangkah. Saya kurang tahu kenapa dinamakan demikian. Saya jadi teringat oleh cerita ibu – ibu di warung siang tadi yang sempat menceritakan puncak gunung Slamet ini dinamakan pucak Surono. Ceritanya, dahulu ada seorang pendaki gunung bernama Surono yang meninggal di puncak Gunung Slamet karena jatuh ke Jurang, sehingga untuk menghormatinya nama puncak Gunung Slamet bernama Puncak Surono. Di puncak ini terdapat tugu penghormatan untuk mengenangnya.

Dari Pos Samarantu menuju Pos Samyang Rangkah ini karakteristiknya hampir sama dengan sebelumnya. Tidak ada bonusnya sama sekali, adanya cuma menanjak yang memang tidak terlalu terjal. Ditengah perjalanan mendadak tubuh saya menggigil, seperti gejala hypotermia (kehilangan panas tubuh karena faktor dingin dan fisik yang menurun). Situasi seperti ini membuat Zarin panik, hingga membantu saya menurunkan ransel dan mengeluarkan kopi yang tersimpan di termos yang sempat kami buat di pos 3. Ee.. alaaaah ternyata penyebabnya adalah air perbekalan kami dalam dirigen yang saya bawa merembes keluar dari carrier hingga membasahi punggung. Inilah penyebabnya, kami saling ketawa. Kadang hal – hal sederhan seperti hal barusan cukup menghibur. Namun tak ayal, karena fisik saya menurun tetap saja tubuh saya menggigil.

Akhirnya kami putuskan untuk membuka tenda tak jauh di tanah lapang tak jauh dari Pos Samyang Rangkah.

Saking capeknya barangkali, hingga ketika bangun matahari sudah hampir berada di atas ubun – ubun. Jam menunjuk pukul 10 pagi lewat. Saking nyamannya hingga lupa waktu. Terkadang saya bingung dengan kata nyaman. Banyak orang mengatakan nyaman tanpa deskripsi yang jelas. Kalau saya, nyaman itu seperti memakai baju. Apakah tidak pakai baju enak? Tidak. Apakah pakai baju enak? Iya. Sederhanya begitulah menurut saya.

Setelah sarapan resmi dan terenak bagi kalangan pendaki, yakni mie instan. Kami pun segera packing merapikan perlengkapan kami kembali dan bergegas melanjutkan perjalanan. Matahi sudah terik – teriknya, meski hawa dingin sudah menyungkupi pada areal pos 5 ini, namun tak menghalagi gaharnya sang teja menyengat melalui teriknya. Tetap saja terasa panas. Tak lama, setelah sampai di Pos 5 kami bertemu dengan sekelompok pendaki dari mahasiswa UGM Jogja, tetangga dewe.

Kemudian kami pun terlibat perkenalan dan pembicaraan mengenai info pendakian ke pos selanjutnya, dari mereka kami mendapatkan info bahwa jalur dari Pos 5 menuju Pos 9 cenderung semakin bersahabat baik dari segi waktu tempuh maupun kondisi tracknya. Hanya saja yang akan cukup menguras tenaga dan waktu adalah ketika menuju puncak dari Pos 9. Oleh sebab itu kami disarankan untuk kembali transit camp ketika sampai di Pos 7 untuk kemudian ke esokan harinya melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Setelah dirasa cukup mendapatkan info dan saling menawarkan logistik yang masing – masing, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Pos 5 ke Pos 6 (Samyang Jampang) memakan waktu kurang lebih 1,5 jam perjalanan santai dengan kondisi vegetasi yang masih cukup rapat dan track yang masih cukup membuat nafas terengah-engah. Bagitu pula dengan kondisi waktu tempuh dan karakteristik track dari Pos 6 menuju Pos 7 (Samyang Katebonan) tak jauh berbeda dengan sebelumnya.

Menjelang senja, kami sudah tiba sampai Pos 7, alhamdulillah sesuai rencana. Di Pos 7 ini kami tidak mendirikan tenda,  mengeluarkan perbekalan kami untuk santap malam. Jangan tanya apa yang diolah, seperti biasa, mie instan dan sarden. Setelah menghabiskan sebatang rokok, alm. Zarin sukses dengan dengkurannya. Sesuai kesepakatan kami untuk berusaha tidur sore, mengumpulkan stamina yang terkuras dua hari ini.

Senyatanya, saya tidak sukses seperti rekan saya dengan dengkurannya. Meski sudah berusaha kuat tetap saja mata ini enggan terpejam. Selang beberapa saat kemudian terdengar hujan turun, meski tidak terlalu lebat. Mungkin karena kabut tebal yang mulai menyungkupi area pos 7 ini. Sebuah berkah, saya kemudian keluar sambil membawa nesting (alat masak sejenis panci khas pendaki) dan memotong bagian botol air mineral untuk menampung air hujan yang luruh dari atap tenda.

Yah cukup lumayan air yang tertampung untuk sekedar membantu menghemat persediaan air yang kami bawa dalam mengolah bahan makanan dan minuman yang ada. Didalam pendakian memang kita mesti survive dan sigap dalam memanfaatkan sesuatu hal yang berasal dari alam. Hal ini beguna untuk  mengantisipasi hal yang bisa menghambat lancarnya proses pendakian kita di gunung, seperti kehabisan air padahal digunung tersebut susah untuk mendapatkan sumber air apalagi bila musim kemarau. Air didalam proses pendakian memegang peranan penting, jadi wajib bagi pendaki untuk tidak mengabaikan ketersediaan air dalam usahanya mencapai tujuan didalam pendakian tersebut.

Ketika hari mulai beranjak malam dan hujan pun sudah reda, kurebahkan raga saat waktu bertengger pada titik 21.00. Namun belum juga raga mendulang tenaga, serombongan pendaki telah tiba. Mereka adalah pendaki UI Sawangan Depok. Sebagian dari mereka mendirikan tenda tak jauh dari Pos 7. Sebagian yang lainnya memilih menikmati malam. Membikin api unggun, kenyamanan yang sempurna menikmati malam di ketinggian pulau Jawa ini. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk menjalin keakraban sama mereka. Begitulah adabnya pendaki, ketika di ketinggian semuanya adalah saudara senasib dan sepenangungan. Tidak penting lagi apa status sosial kita. Kami pun berbagi tempat di Pos 7 ini untuk merebahkan diri, menjemput mimpi masing-masing. Sementara rekan saya sukses dengan nyanyian tidurnya. Ngorok alias mendengkur.

Saat udara dingin pegunungan sedang puncak-puncaknya menusuk tulang, saya dikejutkan oleh anak – anak mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri untuk summit attack. Sepertinya mereka berencana menyambut mentari terbit diatap langit tertinggi di Jawa Tengah ini. Rupa – rupanya rekan saya Zarin sudah terlibat obrolan serius dengan mereka. Bagusnya lagi, dia sudah menjerang air membuat teh hangat. Sementara serombongan mahasiswa sudah mulai beranjak meninggalkan pos 7 dengan meninggalkan bawaan mereka begitu saja di pos 7 ini. Sedangkan kami masih bertahan di pos 7 ini, karena berencana naik agak siangan.


Sementara, dibatas cakrawala terlihat tanda-tanda alam yang memamerkan kilau cahaya emasnya. Fajar mulai menyingsing. Sambil menunggu keindahan mentari terbit. Tetapi tanda-tanda alam menunjukkan bahwa hari ini hal itu tidak akan terjadi. Kabut tebal datang membuyarkan harapan. Tubuh kami mulai merasa kedinginan. Sekedar untuk mengatasinya, kami harus berjalan, melakukan kegiatan fisik. Hal inilah yang mendorong kami untuk segera meninggalkan selter tujuh. Tepat pukul 05.30, kami berangkat untuk menikmati indah alam Indonesia dari ketingian Slamet. Semburat merah masih memberi harapan, maka melesatlah langkah kami untuk segera sampai di pos delapan dengan harapan matahari mau memperlihatkan moleknya. Bersambung…..

0 on: "Jelajah Gunung Slamet : Disambut Manusia Kerdil di Pos 3 [2]"