Kampung Batik Laweyan : Saksi Diam Intrik, Suksesi dan Pengkhianatan Kekuasaan


Akarasa – Akarasa – Selamat datang kadang kinasih akarasa. Sebenarnya saya tidak ingin menceritakan ulang yang telah diketahui banyak orang. Saya justru ingin, bercerita tentang Solo dari sudut pandang yang lainnya. Solo yang tidak selalu identik dengan keraton, pasar Klewer atau pun budaya Jawa.

Karena sejatinya, masih banyak sisi menarik yang membuat saya selalu terpikat dan terpesona dengan bumi para nata yang berjarak sejam perjalanan dari tanah rantauku ini. Pernik – pernik denyut kehidupan kota Solo yang senantiasa membuat kesengsem lantas jatuh cinta. Hal – hal yang kemudian menjadikan saya seperti menemukan masa lalu sekaligus masa depan, justru ketika jauh dari kampung halaman, komplit. Kisah – kisah yang remeh temeh namun acapkali membahagiakan.

Maka mau tak mau, suka tak suka saya pun bercerita tentang perjalan saya ke sana. Perjalanan menelusuri kisah masa silam yang telah terlupa. Mengenang kejayaan kekuasaan yang selalu menyisakan legenda, intrik, pertarungan suksesi, pengkhianatan, pemersatuan bahkan keteledoran akan kekuasaan. Juga cerita – cerita dari bangunan tua yang mengajak setiap kita yang menikmatinya untuk memaknainya.

Sebuah ziarah sejarah menyisir derak kehidupan dan pergantian jaman. Apa boleh buat!

Kampung Laweyan, begitulah orang lebih gampang menyebutnya. Namun selengkapnya adalah sebentang jalan yang merupakah satu wilayah kecamatan di kota Solo. Kampung ini sudah lama menjadi sentra kerajinan batik di wilayah Solo. Sebagai kampung kuno yang padat, rumah-rumah di sini dibangun sangat berdekatan. Selain sebagai salah satu sentra industri batik, kawasan Laweyan juga terdapat rumah-rumah besar berarsitektur indah dengan tembok tinggi yang mengelilinginya. Hanya dipisah oleh spasi tak lebih dari 3 meter. Pintu-pintu rumah dibuat berhadap-hadapan.

Setiap rumah pasti punya pintu. Apakah pemilihan pintu menyiratkan pesan tertentu kepada orang yang melintas atau akan bertamu di depannya? Apakah pintu menyimpan guratan sejarah rumah tersebut? Ataukah justru tidak bermakna apa-apa? Pertanyaan ini tiba-tiba menyeruak ketika saya menyusuri lorong-lorong sempit di kampung Laweyan.

Pertama kali memasuki kawasan ini saya menangkap kesan kampung yang angkuh. Banyak pintu-pintu yang tertutup. Pintu-pintu rumah juga dibuat cukup kokoh untuk mencegah pencuri masuk. Meski begitu, masih ada yang masih memberi celah-celah berjeruji supaya tamu atau tetangga masih bisa mengintip aktivitas di dalam rumah, dan sebaliknya.

Saat mencari referensi di internet, saya baru tahu ternyata rumah-rumah penduduk Laweyan saling berhubungan langsung melalui pintu-pintu tembus yang disebut  pintu butulan. Baik itu di permukaan atau di bawah tanah. Mungkin itu sebabnya, tidak semua pintu yang ada di kampung ini terbuka karena mereka memiliki pintu-pintu alternatif yang tidak diketahui oleh masayarakat umum. Barangkali, pintu-pintu itu sengaja dibuat untuk memberi batasan antara ruang privat dan ruang publik. Inilah jawaban pertanyaan – pertanyaan saya di atas tentang setiap rumah mempunyai pintu.

Kampung Laweyan yang sudah ada sejak tahun 1500 Masehi ini juga menorehkan kejayaan kaum perempuan dalam bidang bisnis, tapi juga menyandang stigma negatif berwujud predikat "perempuan bahu Laweyan". Entah ada korelasinya atau bukan, namun jika kerabat akarasa berminat membacanya di akarasa ini saya sudah membagikan tulisan tentang perempuan bahu laweyan, Ciri dan Mitos Wanita Bahu Laweyan.

Kampung Laweyan ini menjadi saksi ketika beberapa trah Majapahit tak puas dengan kekuasaan yang diambil alih orang-orang pesisir. Dengan pengaruh Syeh Siti Jenar dan penggalangan kekuatan Majapahit lama, penumbangan kekuasaan Demak terus menerus disusun. Pengaruh ajaran Syeh Siti Jenar yang menekankan pada tasawuf mendapat tempat bagi kelompok pedalaman, bagi para bangsawan yang menolak untuk menyingkir ke Bali dan menerima Islam dengan paham akulturisme, sebuah penerusan keluhuran budaya-budaya yang telah berkembang.

Salah satu kelompok tersebut adalah kelompok Ki Ageng Ngenis, Putera Ki Ageng Selo. Ki Ageng Ngenis membangun wilayah perdikan (bebas pajak) di pedalaman lembah Solo. Kampung ini kemudian menjadi tempat perpindahan dari orang-orang sungai Nusupan atau Bengawan Semanggi (kelak dikenal sebagai Bengawan Solo). Orang-orang dari Sungai Nusupan ini bertradisi dagang dan membuat batik, dari kampung Laweyan inilah kemudian dikembangkan tradisi membatik yang lebih rumit dan canggih ketimbang tradisi batik di masa Majapahit atau yang berkembang di Demak dimana pola-pola batik pesisir lebih sederhana. Selengkapnya baca Mengenal Ki Ageng Ngenis Sang Perintis Kesultanan Mataram

Lama laun Kampung Laweyan berkembang menjadi pusat industri batik sejak jaman kerajaan Mataram. Ada perkembangan yang menarik di sini. Meski budaya patriarki masih sangat dominan pada saat itu, tapi penguasa yang sebenarnya di kampung Laweyan adalah kaum perempuan yang disebut Mbok Mase. Kaum perempuan di Laweyan terbiasa bekerja keras sejak kecil, hemat dan telaten. Istilah Jawanya, "Gemi, Nastiti, Ngati-ati" (mengelola uang dengan ketat, teliti dan sangat berhati-hati). Dengan etos kerja ini, perlahan-lahan mereka menguasai perekonomian kampung Laweyan.

Kaum laki-laki di kampung Laweyan disebut Mas Nganten. Kaum laki-laki ini dibebaskan berbuat apa saja di luar bisnis batik asal  tidak poligami, foya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase. Secara praktis, usaha batik ini menjadi cara bagi Mbok Mase agar terhindar dari penindasan kaum lelaki. Dengan menguasai usaha batik, Mbok Mase memiliki posisi tawar yang kuat  ketika berhadapan dengan lelaki. Kelompok Mbok Mase juga bersikap oposan terhadap kaum priyayi (bangsawan) istana saat itu.

Meski raja Mataram Islam pertama berasal dari kampung ini, tapi kelompok Mbok Mase ini bersikap oposan dengan kaum bangsawan yang suka foya-foya, gila hormat dan juga berpoligami. Para bangsawan ini bisa menikmati hidup enak karena faktor keturunan, sedangkan Mbok Mase mendapat posisi yang kuat karena kerja keras.

Untuk menyaingi kaum priyayi yang mereka benci itu, para Mbok Mase juga membangun rumah-rumah besar dan menjulang tinggi mirip keraton. Para juragan batik ini juga membangun lorong atau jalan rahasia di dalam rumah mereka menuju rumah juragan batik lainnya di Laweyan. Jalan-jalan rahasia ini dimanfaatkan untuk ketika mereka akan mengadakan pertemuan rahasia dengan sesama saudagar batik untuk membahas kondisi sosial politik ketika itu.

Dari tempat pusat batik inilah pula pernah berkumpulnya Ki Ageng Pemanahan, putera sulung Ki Ageng Ngenis dan beberapa kawannya Ki Juru Martani dan Ki Panjawi. Mereka mendapat kawan dari pertapaan gunung Lawu yang bernama Mas Karebet atau dikenal Joko Tingkir. Keempat orang ini di usianya menjelang 30-an tahun menaklukkan wilayah Bengawan Semanggi dan menjadikan pusat perdagangan penting. Setelah penaklukan Bengawan Semanggi, Mas Karebet ingin masuk ke Istana. Selengkapnya baca Ki Ageng Pamanahan : Perjanjian Belum Selesai

Puncak resistensi kaum Mbok Mase terjadi sekitar itu 1740-1750. Kala itu laskar etnis Tionghoa mengobrak-abrik keraton karena marah terhadap inkonsistensi Pakubowono II dalam melawan Belanda. Pakubowono II melarikan diri ke sebuah goa di tepi Sungai Laweyan, Solo. Raja meminta bantuan pinjaman puluhan kuda dari para saudagar batik Laweyan, tapi ditolak oleh para Mbok Mase.

Politik Kebo Ndanu, dimana ada amuk kerbau di Keraton Demak disusun oleh Ki Juru Martani yang cerdas, Ki Panjawi mencari rumput kemudian di aji-aji agar kerbau itu mengamuk di Keraton, dari amukan kerbau inilah 'Senja kekuasaan Demak bermula'. Karebet yang berhasil menjinakkan kerbau diangkat menjadi  lurahe prajurit, barangkali setingkat kolonel saat ini di Demak dan menguasai spenihnya pasukan darat Demak. Hingga kemudian Karebet diambil menantu oleh sultan Demak yang berkuasa saat itu, Sultan Trenggono. Di kampung Laweyan inilah taktik tersebut dimatangkan.

Setelah Sultan Trenggono wafat, kemudian digantikan anak tertuanya Sunan Prawoto. Sementara Karebet ketika itu menjabat adipati Pajang. Ketika Aryo Penangsang menuntut tahta Demak, dan menolak naiknya Sunan Prawoto menjadi sultan Demak. Setelah diberi tahu oleh Sunan Kudus jika ayahnya Pangeran Sekar Sedo Lepen yang tewas karena di bunuh salah seorang pengawalnya sendiri yang ternyata adalah suruhan Sunan Prawoto. Maka, kemudian dengan cara yang sama, Aryo Penangsang mengutus orang kepercayaannya untuk menghabisi Sunan Prawoto. Tewaslah Prawoto diujung keris bersama dengan dengan istri sekaligus orang suruhan Penangsang tersebut. Demak kosong kekuasaan. Status quo.

Untuk lebih lengkapnya kerabat akarasa bisa baca di Aryo Penangsang : Ksatria yang Dihitamkan Sejarah dan Dibalik Mitos Kutukan Aryo Penangsang

Dalam status quo tersebut dewan wali yang beranggotakan walisongo terjadi silang pendapat, sebagian memilih Penangsang sebagai pewaris utama tahta Demak dan Karebet sang adipati Pajang. Karebet tahu diri, yang dalam hal ini hanya sebagai menantu dia akan kalah voting dalam Penangsang yang masih matangkan oleh dewan wali.

Di salah satu wisma di Kampung Laweyan inilah saksi ketika Karebet rembukan intrik politik dengan penasehat politiknya, yakni: Ki Panjawi, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan dan anak bujangnya yang masih belia kala itu Danang Sutowijoyo.

Diputuskan dalam rembugan itu adalah dengan memancing Aryo Penangsang yang berdarah panas itu keluar dari keraton Jipang Panolan dan diarahkan ke dalam sungai Bengawan Sore (sebuah kanal buatan untuk pertahanan disekeliling keraton Jipang). Karena menurut mitosnya kesaktian keris Setan Kober dan jimat Aryo Penangsang memiliki kelemahan di sungai, ini sama dengan ayahnya yakni pangeran Sekar Sedo Lepen yang tewas di bunuh di tepi sungai oleh orang suruhan Sunan Prawoto setelah selesai sholat Jum’at.

Di Bengawan Sore Danang Sutowijoyo memancing Aryo Penangsang dengan memantati dan mengata-ngatai pengecut. Tak ayal, Aryo Penangsang yang saktinya tidak tertandingi kala itu lalu meloncat ke kuda hitam beringas Gagak Rimang, walau sudah dihalangi oleh Ki Patih Mentahun dan adiknya Pangeran Aryo Mataram. Di tengah-tengan kali Bengawan Sore itulah perut sebelah kanan Penangsang tertusuk tombak Kyai Plered Danang Sutowijoyo, dan ususnya terburai. Barangkali lupa, Penangsang mengalungkan ususnya itu ke tepi keras dan terus mengejar Sutowijoyo, ketika Keris Setan Kober dicabut dan berteriak "Mampuslah kau bocah ingusan!!" ususnya terpotong dan Penangsang langsung mati.

Tewasnya Penangsang ini juga mengawali suksesi Karebet mentahbiskan diri sebagai sultan Pajang penerus Demak setelah mendapat restu dari Kalinyamat. Pertemuan di Kampung laweyan ini pula yang menjadi saksi perpindahan pusat keraton Jawa yang berpusat di Pesisir ke Pedalaman dan mengangkat Danang Sutowijoyo sebagai anak angkat. Selengkapnya baca tentang Ratu Kalinyamat : Antara Lingkar Kekuasaan dan Dendam.

Kematian Penangsang ini juga yang dikemudian hari menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram dimana Danang Sutowijoyo menjadi penguasanya, di usia yang belum genap 24 tahun. Danang Sutowijoyo yang dikemudian hari bergelar Raden Sabrang Lor ing Pasar, karena sang bapak Ki Agen Pemanahan mampu membangun pasar yang ramai dengan mendatangkan budak-budak terampil yang sampai sekarang masih ada jejaknya dan dikenal sebagai 'orang kalang'. Kelak orang kalang adalah pengusaha-pengusaha kaya di Kotagede bahkan kekayaannya melebih para bangsawan Yogyakarta. Selengkapnya bisa kerabat akarasa baca Orang Kalang : Mitos Manusia Berekor.

Menjelang umur 30 tahun, Ki Ageng Pemanahan mengajak anaknya menemui Sultan Hadiwijoyo di Laweyan dan bicara soal gelar penguasa Perdikan. Kemudian Sultan memberikan gelar 'Panembahan Senopati'. Diharapkan Danang Sutowijoyo menjadi Panglima Pajang yang utama untuk menaklukkan Brang Wetan dimana Surabaya adalah incaran utama Sultan Hadiwijoyo. Tapi pertemuan itu tak lama kemudian ternoda dengan peristiwa asmara Raden Pabelan kerabat dekat Panembahan Senopati dengan sekar kedaton Pajang putri sang sultan, yang kemudian Raden Pabelan dibunuh oleh prajurit kaputren Pajang yang akhirnya membuat marah pihak Mataram. Pembunuhan Pabelan yang ditombak mati di Laweyan dan mayatnya dilarung di sungai membuat Panembahan Senopati murka. Selengkapnya baca Romansa Jawa : Tragedi Cinta Raden Pabelan

Panembahan Senopati setelah mendapatkan dukungan beberapa bupati pesisir yang dikontrol oleh penguasa perdikan Pati Ki Juru Martani balik menantang Sultan Hadiwijoyo. Tantangan ini dijawab dengan Sultan Hadiwijoyo dengan mengirimkan ribuan pasukan ke Kotagede melewati jalan Prambanan, berbarengan dengan itu di dekat candi Prambanan gunung merapi meletus. Namun Panembahan Senopati sudah menyusup ke Laweyan dan sungkem kepada Sultan yang terjatuh dari gajah, tak lama setelah sungkeman tersebut Sultan Hadiwijoyo mangkat. Selengkapnya baca Biografi Jaka Tingkir dan Pajang dan Misteri Keruntuhannya.

Setelah Mataram memapankan kekuasaan, wilayah Laweyan tetap memiliki arti penting. Kekuasaan Kotagede amat bergantung dengan jalur sungai. Suplai di utara didapat dari Solo dimana Bengawan Solo menjadi pusat perdagangan paling penting di Jawa pedalaman untuk mengalirkan barang-barang kebutuhan masyarakat. Setelah Sultan Agung meninggal, anaknya yang bernama Amangkurat terlalu banyak memainkan intrik yang tak perlu dan menyebabkan kerajaan mendapatkan musuh dimana-mana. Selengkapanya baca Amangkurat I : Diktator Pertama Tanah Jawa

Konflik Amangkurat ini kemudian memutuskan Keraton dipindahkan ke Plered, keraton baru dibuat dengan batu merah dan amat kokoh. Tapi di Plered ini juga kemudian Amangkurat I semakin mencurigai semua orang, ia menculik satu persatu penggede keraton, orang-orang tua keraton dan dibantai lalu menggantinya yang lebih muda.

Di Laweyan, Amangkurat mengumpulkan kelompok pedagang, para panglima perang dan pemimpin administratif Jawa lalu memutuskan 'sentralisasi Jawa' hegemoni Mataram benar-benar diwujudkan dengan menutup bandar-bandar pesisir, menghantam Banten, mencabut persekutuan dengan Cirebon yang kemudian berbuntut dipermalukannya Amangkurat oleh Banten dan tidak mampunya Amangkurat menguasai Brang Wetan (Surabaya) yang merupakan amanat penting Bapaknya, Sultan Agung Anyokrokusumo. Selengkapnya baca Sejarah Pemberontakan Trunojoyo

Pada masa pemerintahan Amangkurat III, Laweyan dikenal masyarakat sebagai tempat dihukumnya Raden Sukro, Putera Raden Arya Sinduredjo, patih Amangkurat. Raden Sukro ada main seks dengan salah seorang selir Amangkurat yang juga merupakan anak Pangeran Puger, kelak Pangeran Puger menghantam Amangkurat Mas dan menjadi Raja dengan gelar Pakubuwono I. Melawannya Pangeran Puger ini tak lepas dari dipermalukannya puterinya di depan umum di Jalan Laweyan.

Pada masa Pangeran Diponegoro, Jalan Laweyan sempat menjadi permufakatan diam-diam antara Pakubuwono VI dengan utusan Diponegoro dan diputuskan agar Solo juga membantu Yogya melawan Belanda. Keputusan ini kemudian dilanjutkan ke sebuah desa yang dinamakan Alas Krendowahono di utara Solo. Pertemuan Alas Krendowahono menjadi dasar persekutuan saling pengertian antara Solo dan Yogya dalam 'Perang Jawa'. Bantuan Solo ini kemudian diwujudkan dalam bantuan kelompok ulama garis keras yang dipimpin Kyai Modjo. Selengkapnya baca Perang Jawa : Diponegoro, Ratu Adil yang Kalah Perang

Persekutuan diam-diam ini kemudian dibongkar oleh agen intel Belanda dan melaporkannya ke Semarang, atas perintah Gubernur Jenderal Batavia, Pakubuwono IV ditangkap lalu dibuang ke Ceylon. Penggede Belanda saat itu menyebut dokumen penangkapan sebagai 'Dokumen Laweyan'. Namun Belanda tidak bertindak gegabah, karena mereka tak ingin menambah musuh, Keraton Solo didiamkan. Pada suatu saat Pangeran Diponegoro, menyusup ke Keraton Surakarta dan bicara penting soal pasukan Madura. Ditengah pembicaraan tiba-tiba datang Residen Surakarta, Pangeran Diponegoro sembunyi, lalu melarikan diri, kereta yang ditinggalkannya dikuburkan di belakang istal Istana Surakarta. Perang Jawa : Sejarah Singkat Kyai Modjo

Pakubuwono VI adalah keturunan Ki Juru Martani dan memiliki nama kecil Raden Mas Sapardan, menganggap wilayah Laweyan adalah wilayah penting karena Ki Juru Martani kerap mengambil keputusan di wilayah itu, pada tahun 1830 ketika perang Diponegoro usai, Jenderal Van Den Bosch di salah satu rumah dinasnya di Jalan Laweyan meminta Pakubuwono VI menyerahkan kekuasaan Surakarta di sekitar wilayah Banyumas, Jepara, dan Madiun. Tapi Pakubuwono VI menolak, penggede Belanda itupun menyodorkan bukti-bukti persekutuan Pakubuwono dengan Diponegoro, kemudian Pakubuwono VI ditangkap Belanda dan dibuang ke Ambon, ditengah laut Pakubuwono ditembak mati, kelak Jenderal Pangeran Djatikusumo salah seorang penggede Angkatan Darat Republik anak dari Pakubuwono X mengumumkan tengkorak Pakubuwono VI ada lobang di kepalanya tembusan peluru jungle riffle.

Pada awal abad 20-an Jalan Laweyan juga menjadi saksi bentrok antara orang-orang Mangkunegaran dengan pedagang Cina akibat politik diskriminasi Belanda. Orang-orang Cina mendirikan perkumpulan yang kemudian menjadi berkembang semacam perkumpulan politik yang sehaluan dengan Nasionalis Cina yang di pimpin oleh Dr. Sun Yat Sen yang sedang mapan di daratan Cina. Dr. Perkumpulan ini kerap bentrok dengan saudagar-saudagar Laweyan, untuk menandingi Perkumpulan Cina ini seorang Saudagar Laweyan, bernama Hadji Samanhudi mempelopori berdirinya Sarekat Dagang Islam, atau dikenal SDI sebagai cikal bakal Sarekat Islam dimana kemudian muncul macan podium yang paling berpengaruh atas nasionalisme Indonesia : HOS Tjokroaminoto.

Kemudian, pada 29 Desember 1929, Bung Karno berpidato ke Solo dengan menumpang taksi Cherovlet yang dikendarai Arif anak gang Cikini, mengajak Maskoen, Gatot Mangkuprodjo dan Mang Ojib. Bung Karno pidato di sebuah gedung bioskop dimana terdapat pertemuan Permufakatan Politik Indonesia, Setelah pidato di Solo Bung Karno bersama Inggit, Gatot Mangkupradja makan di sebuah warung sate kambing di Laweyan, kemudian mereka ke Yogyakarta ke rumah Raden Mas Mashudi di Jalan Tugu Kidul. Saat mau beristirahat sekompi polisi Belanda mengetuk pintu rumah Mashudi dan memerintahkan Bung Karno keluar.

Tuduhannya adalah pidato di Solo mengandung unsur subversif, rombongan Sukarno disuruh berganti pakaian di halaman dan dibawah todongan senjata di bawa ke Stasiun Tugu lalu dengan kereta khusus tanpa jendela dibawa ke Bandung. Dan diadili kemudian lahirlah pokok pemikiran Sukarno yang terkenal berupa analisa sejarah perkembangan masyarakat yang diperbudak kapitalis dan modal asing bernama "Indonesia Menggugat".

Pada saat pertarungan keras antara kubu Sjahrir dengan Tan Malaka dan berujung pada peristiwa Paras, Boyolali. Jalan Laweyan amat penting. Di Jalan Laweyan pula terdapat beberapa pertemuan kelompok tentara anti kebijakan ReRa Hatta dan kemudian melahirkan 'perang Srambatan' antara Pasukan Siliwangi yang pro Hatta-Nasution dengan pasukan Solo yang anti ReRa, perang Srambatan ini juga berkembang menjadi Madiun Affair. Ketika itu Solo dikenal sebagai sarang oposisi terhadap pasukan Pemerintah yang bercokol di Yogyakarta atas perlindungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kelompok oposisi menolak apabila laskar-laskar rakyat dilucuti, sementara banyak laskar-laskar rakyat juga binaan Amir Sjarifuddien, eks menteri pertahanan di era sebelumnya.

Setelah Madiun Affair 1948 terjadi, penangkapan pasukan komunis dilakukan pasukan Kala Hitam, Siliwangi pimpinan Mayor Kemal Idris beberapa pemimpin muda Komunis berhasil sembunyi termasuk DN Aidit yang bersembunyi di salah satu rumah Laweyan. Setelah KMB 1949 sebuah perjanjian memperpendek perang ditandatangani, Aidit sempat sering muncul di Laweyan kemudian ke Kranggan Yogyakarta lalu menurunkan ukiran jati lambang PKI dan membawanya ke Jalan Kramat. Di kemudian hari DN Aidit yang kala itu baru berusia 31 tahun berhasil mengantarkan PKI sebagai Partai terbesar nomor empat di Indonesia. Kenangan Aidit terhadap Jalan Laweyan dan beberapa wilayah Solo ia bacakan juga ketika berhadapan dengan Jaksa Dali Mutiara pada pengadilan verifikasi peristiwa Madiun 1949 yang coba diangkat pihak Masyumi beberapa tahun kemudian.

Hingga tahun 70-an, masih banyak Mbok Mase di Laweyan. Namun semenjak rezim Orde Baru berkuasa, maka batik tulis ini mulai tergeser oleh  industri batik cap yang biayanya jauh lebih murah dan efisien. Tidak jauh dari kampung Laweyan, berdiri pabrik tekstil yang mampu membuat kain bermotif batik secara massal. Di pinggiran kota Solo yang lain juga muncul pabrik tekstil raksasa yang dimiliki oleh salah satu menteri Orde Baru yang senang "meminta petunjuk bapak Presiden.'

Tak ayal pamor batik Laweyan meredup pamor.  Banyak industri batik kemudian tutup. Kaum laki-laki dan perempuan Kampung Laweyan pun beralih menjadi buruh pabrik. Kini yang tersisa adalah sebagian rumah-rumah besar dengan tembok menjulang  dan stigma buruk. Ya, nama Laweyan juga bersinggungan dengan mitos yang memojokkan perempuan yaitu "perempuan bahu laweyan."

Predikat ini dilekatkan pada  perempuan yang mempunyai tompel atau titik hitam sebesar uang logam di bahu kirinya. Masyarakat Jawa percaya bahwa perempuan ini kebal terhadap berbagai ilmu hitam. Perempuan bahu laweyan sosok yang digambarkan pribadi pendiam namun apabila ia melakukan hubungan intim dengan suaminya, maka suaminya itu pasti mati secara mengenaskan. Apakah mitos ini sengaja diciptakan dan dihembuskan oleh bangsawan kraton yang membenci perempuan Laweyan? Wes embuh.

Akhir kata, demikain cerita segaris jalan yang bernama Laweyan dan kampung Laweyan, dimana banyak tersimpan saksi sejarah penting berdirinya negeri ini. Semoga menambah wawasan buat kita sekalian. Nuwun.


Bumi Para Nata, Ngayogyokarto 100117

0 on: "Kampung Batik Laweyan : Saksi Diam Intrik, Suksesi dan Pengkhianatan Kekuasaan"