Telaah Simulasi Kiamat dari Bencana Krakatau 1883


Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Kita semua tahu bahwa negeri ini adalah negeri gemar ripah loh jinawi, namun disisi lain kita juga tidak menafikan jika negeri yang besar ini adalah negeri seribu bencana. Terlampau banyak peristiwa bencana jika saya sebutkan disini. Sebut saja yang paling terkini yang terbilang paling besar menelan korban jiwa, yakni gempa dan tsunami aceh. Tercacat tidak kurang dari 200 ribu korban jiwa, belum terhitung korban kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Jika kita mau sejenak menggali sejarah bencana di negeri ini di masa lampau, sejatinya peristiwa masa lalu dalam sejarah selalu berkolerasi dengan masa sekarang. Namun yang berbeda adalah goresan dan cuplikan waktu, ruang dan tempat. Demikian pula dengan musibah demi musibah dan bencana alam demi bencana alam seolah saling berlomba dengan waktu yang tersisa dan silih berganti dalam lingkup, bentuk, jenis atau wajah yang beragam. Peristiwa yang hampir  serupa pernah terjadi di penghujung abad ke 19 melanda negeri cincin apai ini, yakni meletusnya Gunung Krakatau.

Selama tiga hari berturut-turut pada pekan terakhir Agustus 1883, Gunung Krakatau memuntahkan lahar, bebatuan, debu, dan asap yang membubung hingga 70 kilometer. Dentuman pada puncak ledakan terdengar hingga radius ribuan kilometer. Letusannya, konon, melahirkan gelombang tsunami setinggi 40 meter. Awan debunya menyelimuti bumi selama hampir setahun. Sekitar 36.000 orang meregang nyawa, entah berapa pula yang kehilangan rumah dan harta benda.

Nah, di antara sekian banyak laporan tentang "kiamat kecil" itu, terdapat satu-satunya catatan yang dibuat oleh pribumi selang tiga bulan setelah peristiwa itu. Berbeda pula dari laporan analisis yang dibuat orang Barat, catatan Muhammad Saleh itu berisi semacam laporan jurnalistik yang mengungkap aspek kemanusiaan atas peristiwa memilukan tersebut. Tersurat semacam laporan pandangan mata tentang akibat bencana alam itu di berbagai tempat.

Dokumen pribumi tentang dahsyatnya letusan Krakatau itu terbit dalam empat edisi, dengan empat variasi judul. Pertama kali terbit pada November-Desember 1883 --sekitar tiga bulan kemudian. Edisi terakhir terbit pada 10 Syafar 1306 Hijriah atau bertepatan dengan 16 Oktober 1888. Kajian mendalam dan transliterasi dokumen yang terkenal dengan judul Syair Lampung Karam itu dilakukan Suryadi, pakar filologi yang mengajar di Universitas Leiden, Belanda. Berikut nukilan buku hasil kajiannya yang diterbitkan Komunitas Penggiat Sastra Padang.

Salah satu bencana alam paling dahsyat di dunia yang tercatat dalam sejarah adalah letusan Gunung Krakatau pada 1883. Kedahsyatan letusan itu diakui banyak peneliti dunia. Sampai-sampai, E. Behrendt dalam Nature Magazine tahun 1946 menyebutnya sebagai [the] earth's most awful blast.

Sekarang, pada bekas letusan tahun 1883 itu, sejak 1928 muncul gunung api baru yang terkenal dengan nama Gunung Anak Krakatau. Sebagaimana induknya dulu, Anak Krakatau adalah gunung berapi aktif yang kapan saja siap meletus, yang akan menimbulkan bencana alam dan kemanusiaan yang tidak kalah mengerikannya dibandingkan dengan letusan induknya dulu.

Pulau vulkanis Krakatau telah lama dicatat dalam sejarah sebagai pulau yang memiliki struktur geologis yang kompleks. Catatan-catatan sejarah menunjukkan bahwa Krakatau telah beberapa kali meletus sejak 1680. Pulau Rakata --begitu ia sering disebut-- berasal dari gunung berbatu andesit yang sangat tua setinggi 200 meter, yang hancur oleh sebuah letusan hebat pada masa yang lebih lampau, yang kemudian menyisakan tiga pulau: Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata.

Yang disebut terakhir (Pulau Rakata) kemudian tumbuh menjadi gunung berapi setinggi 800 meter yang diliputi lava basal. Lalu di dekatnya muncul dua gunung lain dari dasar laut, Danan dan Perbuatan, yang kemudian bersatu dengan Rakata. Itulah yang membentuk Pulau Rakata sebelum letusan tahun 1883.

Aktivitas terakhir yang terjadi di pusat vulkanis Pulau Rakata dicatat pada 1680-1681. Tetapi peningkatan temperatur yang sangat tinggi di gunung ini dilaporkan terjadi pada 1839. Pada 1883, terlihat peningkatan aktivitas gempa di sekitar perairan Selat Sunda. Pada 20 Mei, letusan vulkanik mulai terjadi dari kerucut di puncak Gunung Perbuatan. Letusan-letusan kecil itu berulang kali terjadi sehingga terbentuk kawah di puncaknya.

Letusan Hebat Melahirkan Tsunami

Pada bulan Juli, masih tahun 1883, kekuatan letusan makin meningkat, dan pada pertengahan Agustus terbentuk tiga kawah utama serta sejumlah kawah kecil lainnya yang terus-menerus menyemburkan banyak abu dan uap panas. Tiga hari terakhir pada bulan itu, 26, 27, dan 28 Agustus, dilalui dengan letusan besar yang tak henti-hentinya sejak siang dan sore hari pada Ahad 26 Agustus. Mulanya dalam interval 10 menit, tapi kemudian berkepanjangan.

Pada 27 Agustus 1883, pukul 05.30, 06.44, 08.20, dan 10.02, lebih dari tiga bulan setelah aktivitas gempa pertama di Pulau Rakata, terjadilah letusan yang teramat dahsyat yang meluluhlantakkan Danan, Perbuatan, dan bagian barat laut Rakata. Gumpalan abu menyembur ke udara setinggi 70 kilometer, yang kemudian dibarengi gelombang tsunami.

Disebutkan bahwa ombak setinggi 40 meter menyapu habis kawasan pantai Sumatera (Lampung) dan Jawa (Banten dan sekitarnya) di kawasan Selat Sunda, mengakibatkan tewasnya 37 orang Eropa dan lebih dari 36.000 penduduk pribumi. Ombak menggunung yang dikirim dari perairan Selat Sunda mencapai pantai Australia selang lima jam kemudian, Sri Lanka selang enam jam kemudian, Calcutta sembilan jam, Aden di dekat Laut Merah 12 jam, Cape Town 13 jam, bahkan kekuatannya mencapai Cape Horn selang 17 jam kemudian.

Akibat letusan itu, terbentuk kaldera berdiameter 5-7 kilometer dengan kedalaman 279 meter di bawah permukaan laut. Itulah yang kemudian berkembang menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai Gunung Anak Krakatau, yang awalnya terbentuk di sisi timur laut pulau utama bekas induknya.

Letusan besar Krakatau yang berlangsung empat kali berturut-turut terdengar sampai 3.000 mil. Letusan-letusan itu terdengar sampai ke Ceylon (Sri Lanka) dan Mauritius di barat, Manila dan Papua Nugini di timur, serta Perth (Australia) di selatan.

Tetap Menjadi Objek Penelitian Menarik

Letusan Krakatau yang amat dahsyat itu tidak saja dirasakan akibatnya oleh penduduk dan lingkungan di daerah-daerah yang berdekatan dengannya, melainkan juga mempengaruhi cuaca dunia selama beberapa bulan. Hal ini dilaporkan begitu lengkap dalam sebuah laporan oleh Krakatoa Committee (Komite Krakatau) dari British Royal Society --komunitas ilmuwan Inggris-- di London.

Sejak itu, muncul banyak publikasi ilmiah dan teks literer mengenai Gunung Krakatau dan letusannya pada 1883. Sebuah bibliografi mencatat tidak kurang dari 1.083 karangan yang dibuat berkaitan dengan letusan Krakatau, mencakup berbagai bidang ilmu: zoologi, geologi, vulkanologi, botani, meteorologi, oseanografi, dan sebagainya. Bahkan, sejak 1990-an, masih ada lagi sejumlah publikasi mengenai Krakatau, antara lain ada yang berasal dari tahun 2000-an.

Di samping hasil-hasil kajian ilmiah, letusan Krakatau juga telah menjadi sumber inspirasi lusinan karya sastra yang ditulis orang Eropa. Untuk menyebut beberapa tokohnya, antara lain, R.M. Ballantine dalam Blown to bitor the lonely man of Rakata: a tale of the Malay Archipelago (1889), H.E. Rabee lewat Krakatoa: hand of the Gods (1930), Alistair Stuart MacLean dalam Ontsnapt langs Krakatau (1958), dan Michael Avalone dalam Krakatoa, East of Java (1969).

Sejumlah film, baik komersial maupun dokumenter, tentang letusan Krakatau juga pernah diproduksi. Pendek kata, kenangan manusia terhadap letusan Krakatau diabadikan orang dalam berbagai macam bentuk karya ilmiah, sastra, dan seni, melebihi kenangan terhadap banyak bencana alam lainnya yang pernah terjadi sepanjang sejarah.

Bagaimanapun, adalah sebuah kejutan bahwa ditemukan satu-satunya laporan pandangan mata tentang letusan Krakatau tahun 1883 itu yang ditulis penduduk pribumi. Laporan itu ditulis dalam genre syair Melayu, berbeda dari ratusan laporan lainnya dari orang asing yang ditulis dalam bentuk prosa. Itulah yang kemudian terkenal sebagai Syair Lampung Karam (SLK). Maka, tidak berlebihan jika dikatakan, SLK adalah dokumen historis langka, yang di dalamnya tergambar persepsi orang pribumi mengenai letusan Gunung Krakatau tahun 1883.

Empat Versi Syair Lampung Karam

Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang dilakukan Suryadi, SLK pernah empat kali diterbitkan dalam bentuk litografi pada akhir abad ke-19. Empat edisi itu ditulis dalam aksara Arab-Melayu. Karena itu, bisa dipahami mengapa dalam banyak kajian sejarah, teks ini luput dari perhatian para peneliti yang cenderung merujuk pada sumber-sumber Eropa.

Edisi pertama berjudul Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu. Tebalnya 42 halaman, diterbitkan di Singapura pada 1883/1884. Kolofon edisi ini mencatat bahwa teks itu diterbitkan tahun 1301 Hijriah, tanpa menyebutkan tanggal dan bulannya. Jika dikonversi ke tahun Masehi, waktunya menunjukkan antara November 1883 dan Oktober 1884. Tidak disebutkan pula nama penerbit dan pencetaknya. Sejauh yang diketahui, eksemplar edisi ini sekarang masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia di Jakarta dan Perpustakaan Lenin di Moskow, Rusia.

Edisi kedua berjudul Inilah Syair Lampung Dinaiki Air Laut. Tebalnya 42 halaman, terbit di Singapura pada 2 Syafar 1302 H (12 November 1884). Sementara itu, edisi ketiga terbit dengan judul Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik Air Laut. Edisi ini tebalnya 49 halaman. Pada kolofonnya tercatat nama penerbit, yaitu Haji Sahid di Singapura. Tanggal terbitnya, 27 Rabiulawal 1303 H (3 Januari 1886). Dalam beberapa iklan tentang edisi ketiga ini disebutkan judul yang agak berbeda, yaitu Syair Negeri Anyer Tenggelam.

Edisi keempat, edisi terakhir sejauh yang diketahui, terbit dengan judul Inilah Syair Lampung Karam Adanya. Edisi ini tebalnya 36 halaman, diterbitkan pada 10 Syafar 1306 H (16 Oktober 1888). Di sini disebutkan penyalinnya adalah Encik Ibrahim, sedangkan penerbitnya bernama "Cap al-Hajj Muhammad Tayib" di Singapura. Teks edisi keempat ini sekarang masih tersimpan di beberapa perpustakaan, termasuk Perpustakaan Nasional Indonesia dan Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Dalam kolofon keempat edisi SLK disebutkan bahwa syair ini ditulis seorang bernama Muhammad Saleh. Ia mengaku menulis syair ini di Kampung Bengkulu atau Bangkahulu di Singapura, yang kemudian terkenal sebagai Bencoolen Street. Dalam bait lainnya, Muhammad Saleh menyatakan bahwa ia datang dari Tanjung Karang, Lampung, dan mengaku menyaksikan langsung malapetaka akibat letusan Gunung Krakatau itu.

Sudut Pandang Seorang Pengungsi

Sangat boleh jadi, Muhammad Saleh adalah salah satu korban bencana yang mengungsi ke Singapura, dengan membawa kenangan sedih dan menakutkan tentang letusan Krakatau yang telah menenggelamkan Lampung dan sekitarnya. Ia mengaku bahwa dirinya berada di Lampung ketika bencana hebat itu terjadi. Hal ini terungkap dari syair berikut. "Inggris saudagar [menolong] sekalian/ Beribu2 khabarnya, Tuan/ Hamba di sana lebih sebulan/ Belum berapa yang kelihatan."

Dalam dua bait terakhir SLK, sang pengarang mengaku sakit, sedih, dan sengsara karena bencana itu. Malah ia merasa sekarat dan hampir saja mati. Menggambarkan pikiran dan perasaannya yang sangat tersiksa, Muhammad Saleh menyatakan dalam syairnya, "Hati di dalam sangat siksanya/ Terlalu banyak pikir kiranya/ Terkena demam hampir matinya."

Memang harus diakui, tidak ada jaminan bahwa apa yang dinyatakan si penulis itu sepenuhnya benar. Sebab dalam teks sastra selalu terbuka ruang untuk si pengarang berimajinasi. Namun ada kesan kuat bahwa SLK ditulis dari sudut pandang seorang pengungsi akibat letusan Krakatau. Muhammad Saleh melihat efek letusan itu dari mata batin dan pikirannya sendiri. Ini tampak pada empat bait syairnya berikut ini.

Demikian, Tuan, khabarnya orang, Hamba memandang nyatalah terang, Nenek[nya] sendiri yang membilang, Bukannya hamba mengarang-ngarang. Bermacam riwayat hamba sebutkan, Bertemu mayat di tepi lautan, Tiadalah sah tampak kelihatan, Hamba memandang bagaikan pingsan. Rupanya mayat tidak dikatakan, Hamba melihat rasanya pingsan, Apalah lagi yang punya badan, Harapkan rahmat Allah balaskan. Inggris saudagar [menolong] sekalian Beribu2 khabarnya, Tuan, Hamba di sana lebih sebulan, Belum berapa yang kelihatan.

Sebentuk Syair Kewartawanan

Dalam teks itu, Muhammad Saleh menyatakan bahwa ia selesai menulis SLK pada hari Senin, 14 Zulhijah 1300 H, bertepatan dengan 15 Oktober 1883. Artinya, ia selesai menulis SLK hanya kurang lebih tiga bulan setelah bencana letusan besar Krakatau terjadi. Pada akhir tahun itu juga, menurut catatan, edisi pertama litografinya diterbitkan di Singapura.

Fakta itu menimbulkan kesan bahwa karya Muhammad Saleh ini langsung diminati dan dicetak penerbit pribumi di Singapura. Boleh jadi, si pengarang punya pikiran "menjual berita" tentang letusan dahsyat Krakatau itu. Berita seperti itu tentu menjadi topik hangat dan sangat potensial mendatangkan uang. Itu sebabnya, penerbit pribumi yang tangkas melihat peluang langsung menerbitkannya. Apalagi, pada waktu itu penerbit-penerbit pribumi dan peranakan (India, Arab, dan Cina) terlibat kompetisi ketat dalam mencari naskah bermutu untuk diterbitkan.

Menurut Suryadi, SLK dapat dikelompokkan ke dalam apa yang disebut sejumlah peneliti sebagai "syair kewartawanan". Dengan demikian, Suryadi berpendapat bahwa Muhammad Saleh tampaknya tidak bermaksud mengeksploitasi bencana letusan Krakatau sebagai bahan berita yang mendatangkan uang. Keuntungan uang tidak selalu menjadi motivasi utama seorang pengarang sastra Melayu klasik.
Ada kesan kuat bahwa ia bermaksud berbagi cerita tentang bencana alam yang dialaminya sendiri itu. Ia, misalnya, mengajak pembacanya tetap bertakwa kepada Tuhan. SLK agak berbeda dari beberapa karya sastra Melayu klasik lainnya. Karya ini betul-betul mengangkat peristiwa-peristiwa faktual yang di dalamnya unsur jurnalisme tampil lebih eksplisit.

Di situ, misalnya, tersurat bahwa laporan berbentuk syair ini bermula dari Tanjung Karang, Lampung. Lalu, pada bait-bait berikutnya, ia menyebutkan bahwa Krakatau mulai meletus pada hari Minggu, 22 Syawal 1300 H (26 Agustus 1883), pukul 16.00. Tengok syair berikut ini:

Tahun 1300 pada Nabi Kita, Kekasih Allah, Tuhan semata, Pada bulan Syawal pula dikata, Hari 22 sudahlah nyata. Hari Ahad nyatalah tentu, Pukul empat jam di situ, Berbunyi guruh menderu-deru, Dikatakan kapal apinya itu.

Lalu ia mengungkapkan pula kronologi peristiwa itu jam demi jam. Tergambar di situ betapa kepanikan mulai menyelimuti warga.

Pukul lima nyatalah hari, Gaduhlah orang di dalam kali, Perahu berlaga sama sendiri, Airnya datang tidak terperi. Riuh bunyi di dalam perahunya, Bersahutan sama sendirinya, Seperti kiamat rupa bunyinya, Ramailah orang datang melihatnya. Mangkin malam bertambah keras, Airnya datang terlalu deras, Mana yang kuat tahan berempas, Mana yang buruk hilanglah lalas. Pukul enam kiranya itu, Sebesarnya jagung hujan batu, Gemparlah orang di negeri itu, Orang berjalan seru-menyeru.
Laporan dari Berbagai Lokasi

Dalam SLK yang panjangnya 375 bait pada edisi terbitan 1888, Muhammad Saleh secara dramatis banyak menggambarkan letusan Krakatau berikut bencana kemanusiaan yang muncul menyusul ledakan itu. Ia menuturkan kehancuran banyak desa dan kematian ribuan manusia, dengan kerugian harta benda yang besar sekali. Banyak lokasi secara eksplisit menjadi objek laporannya.

Ia tidak hanya menyajikan laporan pandangan mata tentang apa yang terjadi di Tanjung Karang, melainkan juga di kawasan Ketimbang yang di dalam SLK tertulis Kitambang. Begitu pula tragedi yang menimpa kawasan Bumi, Talang, Gunung Basa, Kuala, Rajabasa, Merak, serta banyak kampung lainnya di pesisir Lampung dan Banten.

Ia menggambarkan betapa dalam bencana seperti itu, ternyata masih ada orang yang mengambil keuntungan di atas kemalangan orang lain. Mereka tega-teganya mencuri barang milik orang lain korban bencana. Di lain pihak, ia mengungkapkan bahwa solidaritas dan rasa kebersamaan juga menguat dalam keadaan seperti itu.

Di sini, Muhammad Saleh berusaha melukiskan sifat baik dan jahat manusia yang justru muncul kasatmata ketika dilanda bencana. Tengoklah ketika ia menuturkan secara tersurat sifat baik dan jahat itu dalam syair yang melukiskan kondisi di Tanjung Karang sehari setelah bencana.

Di Tanjung Karang pertama hari, Dapatkan ransum setengah kati, Beras ketan dicampuri, Supaya perut boleh terisi. Orangnya banyak tiada berbilang, Duduk berkumpul silang menyilang, Bugis, Jawa, Cina, Palembang, Seperti rupa tewas berperang. Banyak itu bukan patutan, Berkumpul2 berkabar-2an Siang-malam ini demikian Hati di dalam tiada ketahuan. Dapat beras lalulah pulang, Meminjam periuk lalu dijerang, Nasiku masak mukanya terang, Piring tempurung diberinya gerang. 

Mana yang ada belas kasihan, Diberi pinjam piringnya gerang[an], Piringnya retak tampak kelihatan, Dituangkan kuah terus ke papan. Sehari dua dapat dipinjam, Lebih dari itu mukanya masam, Perkataan manis hatinya geram, Hamba menumpang lalulah diam Kerana kita lagi menumpang, Diterima juga perkataan orang, Baik dan jahat taruh belakang, Menerima kasih juga dibilang. Kita menumpangnyatalah tentu, Segala perkataan ada di situ, Bermacam rupa fiil dan laku, Baik dan jahat adalah tentu.

Sebagian syairnya juga menceritakan tentang kondisi para korban yang tewas akibat tsunami yang datang menyusul ledakan Krakatau.

Tersebut kisah Tanah Jawa, Orangnya ramai hanyut semua, Umat yang mati bilangan nyawa. Khabarnya ada sepuluh ribu jiwa. [Se]telah itu sudah dikumpul, Lain yang hilang di balik tunggul, Apa lagi yang baru disusul, Belumlah masuk ke dalam rul. Di Pulau Merak khabarnya orang, Rumahnya habis nyatalah terang, Orang yang mati tiada terbilang, Hanyalah yang tinggal empat puluh orang. Mana orang yang membawa uang, Dikejar ia bukan kepalang, Berlari ia tunggang-langgang, Terjatuh di air nyawanya hilang. Banyaklah orang di situ binasa, Mati dan hidup dengan azabnya, Dibawa air mereka semuanya, Setengah lari di kelapa tempatnya.

Dekat dengan Laporan Kapten Kapal

Syair kewartawanan Muhammad Saleh itu patut mendapat acungan jempol. Detail-detail laporannya banyak yang berdekatan dengan kajian para ilmuwan dan pakar asing dari Barat. Penggambarannya dari segi waktu, mulai saat Krakatau "batuk" pada Mei 1883 hingga saat ledakan tiga hari berturut-turut amat dekat dengan laporan yang dibuat banyak kapten kapal yang kebetulan tengah melintas di perairan dekat Selat Sunda.

Seorang di antaranya adalah W.J. Watson, kapten kapal barang berjuluk Charles Bal. Dalam wawancara yang dimuat majalah Atlantic Monthly terbitan 1884, ia menuturkan detail waktu dan kejadian yang tak jauh berbeda dari cerita Muhammad Saleh. Letusan mulai terdengar pada Ahad sore sekitar pukul 13.30. Lalu Watson menyatakan, ia bersama para anak buah kapal terus mendengar suara aneh mirip tembakan artileri berat dengan interval waktu tertentu.

Pada pukul lima, masih menurut Watson, ledakan-ledakan menggelegar masih terus terjadi dan justru semakin meningkat. Mulailah kegelapan menyebar ke segala penjuru langit. "Dan hujan batu apung menghajar kami, yang banyak potongannya memiliki ukuran cukup besar dan terasa panas," katanya ketika itu. Ia terus menuturkan ledakan yang hampir tidak putus-putusnya sepanjang malam 26 Agustus hingga dini hari dan pagi tanggal 27.

"Pada pukul 10.15 (tanggal 27), kami melewati Button Island (di Samudra Hindia), setengah sampai tiga perempat mil jauhnya. Laut di sekitarnya mirip kaca dan cuaca tampak jauh lebih baik, tanpa hujan abu atau bara api angin lemah, dari arah tenggara."

Selanjutnya Watson membeberkan, pukul 11.15 terjadi ledakan mengerikan dari arah Krakatau. "Kami melihat sebuah gelombang dahsyat menghantam Button Island yang baru saja kami tinggalkan. Gelombang itu menghantam Button Island dan menyapu bersih bagian selatannya."

Ada yang mencatat bahwa hitungan waktu Watson dengan yang normal terpaut hampir 70 menit. Itu sebabnya, dalam wawancara itu, ia menyebutkan bahwa ledakan paling dahsyat berlangsung pukul 11.15 tadi. Dan hanya selang seperempat jam kemudian, bumi diselimuti debu gunung dan hujan batu apung. Setelah itu, seperti diketahui, ledakan berangsur-angsur berhenti.

Bukan hanya karena faktor catatan waktu di jam tangan Watson, karya Muhammad Saleh ini memberi alternatif lain sebagai rujukan tentang bencana Krakatau. Apalagi, upaya Suryadi menulis seluk-beluk Krakatau ini membawa angin baru bagi penelitian lanjut terhadap aktivitas Anak Gunung Krakatau. Jangan sampai kita tidak berbuat apa-apa dan baru ribut setelah aktivitas gunung itu mengarah pada letusan besar lagi. Siapa tahu?


Bumi Para Nata, 06/01/2016 11:29 Menjelang bedug Jum’at

0 on: "Telaah Simulasi Kiamat dari Bencana Krakatau 1883"