Menelusuri Jajak Awal Masuknya Keturunan Tionghoa ke Nusantara

sejarah tionghoa ke indonesia
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Tulisan kedua dalam label Jejak Pecinan ini saya ada pengalaman menarik untuk saya bagikan di sini. Dalam komunitas motor yang saya ikuti, bisa dikatakan perbandingannya adalah 50-50, artinya separuh ‘pribumi’ dan selebihnya adalah ‘cina’. Mengapa, dua kata tersebut saya kasih tanda petik? Sebenarnya saya tidak menyukai dua istilah ini dalam adab pergaulan.

Pada suatu kesempatan kopdar yang biasa kami lakukan setiap jum’at malam di salah satu coffe shop dibilangan jalan Mangkubumi, Jogja, saya sempat berbincang dengan seorang teman dalam satu komunitas yang kebetulan keturunan Tionghoa. Ia mengatakan belakangan ini ia sedang getol-getolnya mempromosikan penggunaan istilah ‘tionghoa’ untuk menggantikan kata ‘cina’.

Tentu saja dalam hal ini saya bertanya, lho kenapa, bukannya sama. Antara Tionghoa dan Cina? Mau tahu apa jawabannya? Beda. Ia mengatakan bahwa ia keberatan bila dipanggil dengan ‘cina’, karena kata ini merujuk pada sebuah nama negara, yaitu China People’s republic of China (PRC) meski sekarang sudah mejadi Tiongkok.

Menurut dia orang-orang Tionghoa di Indonesia bukanlah warga negara China/Tiongkok, namun sudah benar-benar menjadi warga negara seutuhnya dari bangsa Indonesia. Bahkan untuk meyakinkan perbedaan tersebut, ia mengatakan lebih jauh bahwa orang-orang tionghoa di Indonesia siap untuk menberikan nyawa mereka untuk Indonesia bila misalnya terjadi peperangan atau konflik besar antara negara, sebagai bentuk cinta terhadap bangsa dan nasionalisme yang kuat, seperti halnya ‘pribumi’.

Namun dalam kesempatan ini, saya tidak hendak membincang tentang istilah tersebut lebih jauh, mungkin dikesempatan yang lain saya akan menuliskannya. Agar lebih runut tentang sejarah keturunan Tionghoa ini, terlebih dahulu saya akan ajak kisanak untuk membincang sejarah awal masuknya keturunan Tionghoa di Nusantara (Indonesia) ini.

Membicang tentang sejarah masuknya orang Tionghoa di Nusatara ada satu sumber rujukan yang pakai di sini, yakni  dari buku “The 6th overseas Chinese state”, Nanyang Huaren. Dari buku yang sekarang sudah ada format e-booknya ini secara khusus mengupas sejarah awal masuknya Tionghoa di berbagai kota di Indonesia, yakni Palembang, Demak, Banten, Cirebon, dan Kalimantan. Semoga sajian hasil dari translate dan saya bahasakan ulang ini tidak mengecewakan kisanak semua, pembaca setia akarasa ini.
Palembang
Membincang sejarah masuknya keturunan Tionghoa di Palembang ini berkait erat dengan ekspedisi Pamalayu ke Dharmasraya (Sriwijaya, Sumatera Selatan dengan ibukota Palembang) yang dilakukan oleh raja Singosari terakhir Kertanegara pada tahun 1275. Selang sembilan tahun kemudian, tepatnya tahun 1286 serangan Singosari dala ekspedisi Pamalayu pimpinan Kebo Anabrang tersebut berhasil merebut Sriwijaya. Sayangnya, Singosari sendiri sebagai penakluk Sriwijaya pada tahun 1292 jatuh oleh pemberontakan Kadiri, bahkan Kertanegara dikabarkan terbunuh dalam pralaya tersebut. Tentu dalam hal ini, Sriwijaya sebagai kerajaan taklukan menjadi terlantar, kaca balau selayaknya ayam kehilangan induknya.

Victor Purcell dalam buku “The Chinese in Malaya” menyatakan setelah kerajaan Sriwijaya jatuh, Palembang telah dikuasai orang-orang Tionghoa selama 200 (duaratus) tahun. Ketika kejayaan Sriwijaya surut, sekian ribu orang Tionghoa dari Fukien dan Canton yang telah menetap disana telah memerintah diri sendiri.

Gambaran dari paragraf di atas selaras dengan catatan Dinsti Ming, yang berkuasa di Tiongkok kala itu. Catatan terebut menyatakan bahwa orang Jawa tidak mampu menguasai seluruhnya negara-negara bagian yang ditaklukkannya, termasuk Sriwijaya (San-bo-tsi). Karenanya, dalam catatan Dinasti Ming ini menyatakan bahwa orang Tionghoa setempat teah berdiri sendiri.

Seorang dari Nan-Hai (Namhoi) atau Canton yang bernama Liang Tau-ming terpilih sebagai pimpinan Tionghoa peranakan di Palembang ini. Dikabarkan, kekuasaan orang Tionghoa ini adalah sebagian dari keseluruhan Palembang. Bahkan seorang putranya dikabarkan ikut sebagai delegasi ketika menghadap kaisar di Tiongkok.

Masih dalam catatan dari Dinasti Ming, pada tahun 1405 kaisar yang berkuasa di Tingkok mengutus seorang kurir yang berasal satu kampung dengan asal penguasa Sriwijaya (Liang Tau-ming) untuk menyapampaikan pesan agar Liang Tau-ming untuk menghadapnya ke istana. Liang Tau-ming bersama kawan seperjuangannya Cheng Po-k’o berangkat ke Tiongkok dengan membawa serta hadiah yang berlimpah sebagai cindera mata dan upeti.

Tak lama berselang, tepatnya tahun 1407 Laksamana Cheng Ho yang seorang muslim mendirikan masyarakat muslim Tionghoa di Palembang. Selanjutnya, pada tahun 1415, Tiongkok sepenuhnya baru mengakui bahwa Palembang berada di bawah kekuasaan Jawa (Majapahit).

Dalam buku ‘Runtuhnya kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusatara’ karya Slamet Muljana justru ada temuan menarik berkaitan dengan muasal keturunan Tionghoa di Nusantara ini. Buku ini pada tahun 1971 sempat di bredel oleh penguasa Orde Baru kala itu. Buku Prof. Muljana mengandung cukup banyak data lain yang sangat menarik perhatian.

Kerajaan Majapahit juga berdiri kurang lebih 200 (duaratus) tahun. Menurut Muljana dari 1294 hingga 1478 Palembang berada di bawah penguasaan kerajaan Islam Demak hingga Majapahit benar-benar runtuh pada tahun 1527. Namun di sisi lain pendapat ini berbeda dengan Prof. Hoesin Djajadiningrat yang menyatakan bahwa kejatuhan total Majapahit sekitar tahun 1518. Buku Malay Annals yang saya sebutkan di atas pun diperdebatkan oleh dua sejarawan kesohor Indonesia ini antara lain ebagai berikut;

Pada tahun 1443 Swan Leong (Arya Damar) putra dari mendiang raja Majapahit dengan seorang Tionghoa, oleh Haji Gan Eng Chou (Arya Teja) telah ditunjuk sebagai seorang kapten muslimin Tionghoa di Palembang sekaligus penguasa atas nama saudara perempuan-tirinya, yaitu ratu Suhita dari Majapahit.

Gan Eng Chou (Arya Teja) adalah kapten Tionghoa di Tuban, Jawa Timur. Dia oleh Ratu telah dianugerahi gelar Arya sebagai bukti penghargaan terhadap jasa-jasanya. Muljana berkesimpulan hal tersebut menunjukkan suatu sikap yang sangat baik dari pihak keluarga raja terhadap orang Tionghoa.

Melanjutkan kutipan sebelumnya dari buku “The 6th overseas Chinese state, Nanyang Huaren” tentang Palembang (Ku-kang). Kertanegara, raja Singosari terakhir pada tahun 1289 secara terang-terangan telah menentang kaisar Mongol, Khubilai Khan yang ketika itu berkuasa atas Tiongkok dengan memotong kuping sebelah utusannya. Ia memulangkan utusan Khubilai Khan yang elah dilukai tersebut dan menyatakan bahwa Singosari tidak akan tunduk atas hegemoni Mongol.

Khubilai Khan yang merasa dilecehkan kemudian mengirimkan tentaranya ke Jawa. Sayangnya, sebelum tentara Mongol yang sering disebut juga prajurit Tartar ini mendarat di Jawa, Kertanegara pada tahun 1292 telah tewas karena pemberontakan Kadiri. Singosari jatuh.


Ketika prajurit Tartar dari Mongol mendarat, Raden Wijaya, kemenakan sekaligus menantunya Kertanegara menyerahkan diri pada pimpinan tentara Mongol dan menyatakan, bahwa raja Kadiri, Jayakatwang telah menggantikan Kertanegara. Raden Wijaya berhasil membujuk tentara Khubilai Khan untuk menjatuhkan Daha (Kadiri). Cerita selengkapnya ada pada tautan di atas. Setelah Kadiri hancur, Raden Wijaya justru berbalik menyerang tentara Khubilai Khan.

Wijaya minta diberi 200 pengawal Mongol yang tidak dipersenjatai untuk menyertainya ke Majapahit dimana Wijaya akan menyerah dengan resmi pada wakil-wakil Khubilai Khan. Nah, ditengah perjalanan para pengawal dari Mongol ini dibantai tak tersisa karena tidak pernah menduga atas siasat Wijaya ini.

Siasat Raden Wijaya ini membuat Mongol kehilangan 3000 prajutitnya dan terpaksa meninggalkan Jawa tanpa membawa hadiah yang dijanjikan. Kemudian, antara tahun 1293-94 raden Wijaya mendirikan Majapahit sebagai penerus Singosari di Jawa Timur.


Khubilai Khan, cucunya Genghis Khan, meninggal pada 18 Pebruari 1294. Antara tahun 1325 atau 1375 hubungan Majapahit dengan Tiongkok telah membaik. Adityawarman yang dibesarkan di Majapahit yang kemudian ditunjuk sebagai raja Sumatera Barat mengunjungi istana Tiongkok sebagai utusan resmi Majapahit pada tahun 1325 dan kunjungan untuk kedua kalinya pada tahun 1332.

Berita dari Tiongkok di atas ini berbeda dengan catatan bangsa Eropa. Ibarat bumi dan langit. O.W. Wolters dalam bukunya “The fall of Srivijaya in Malay history” menyatakan gambaran berbeda dengan catatan dari Tiongkok di atas.

Pada tanggal 30 Oktober 1371, kaisar T’ai-tsu mengeluarkan pengumuman dengan petunjuk untuk para pejabatnya :

“…menguasai tanah yang terlalu besar tidak mendatangkan ketenteraman. Bila rakyat diharuskan bekerja terlalu berat, keadaan itu menjadi sumber kekacauan …” Pernyataan-pernyataan T’ai-tsu kepada penguasa-penguasa asing mengandung banyak saran kebijaksanaan.

Daripada menganjurkan mereka untuk berdagang dengan Tiongkok, ia lebih menginginkan mereka berkuasa dengan baik, memelihara hubungan mesra dengan negara tetangganya dan saling mengindahkan tapal-batas masing-masing.

Jika T’ai-tsu curiga ada penguasa asing berakal bulus serta mengirim utusan dengan maksud yang tidak jujur, ia lebih baik menolak upeti mereka. Misalnya, upeti perampas-perampas  kuasa (usurpers) tidak dapat diterima olehnya (were unacceptable to him).

Dr. John Crawfurd mengenai pembayaran-pembayaran upeti kepada kaisar Tiongkok:

Hubungan Tiongkok-Siam jaman lampau mengandung unsur yang di satu pihak berdasarkan “vanity” (pengumpakan diri) dan di lain pihak berdasar pada “rapacity” (nafsu menggarong, lebih jelek daripada serakah). Raja Siam mengaku dirinya sebagai pembayar upeti terhadap kaisar Tiongkok bukan karena terpaksa dan bukan karena berada dibawah kekuasaan kaisar, melainkan demi menghindarkan pembayaran bea bagi kapal-kapal yang membawak utusan-utusannya ke Tiongkok.

Para utusan tersebut mempersembahkan bunga dari mas sebagai tanda upeti, tetapi menerima dari kaisar hadiah-hadiah yang jauh lebih berharga sebagai tanda penghargaan. Negara-negara lain yang lemah mengakui kaisar Tiongkok karena sebagai imbalannya mendapat perlindungan terhadap gangguan-gangguan dari luar.

Dalam arsip Tiongkok tercatat bahwa pada tahun 1376 ketika dinasti Yuan (Monggol) sudah digantikan oleh dinasti Ming (1368-1644) raja Tan-ma-sa-na-ho wafat. Tidak jelas siapa nama aslinya, tetapi kawasan yang dipersoalkan menyangkut tanah bekas Sriwijaya. Raja yang wafat digantikan oleh puteranya yang disebut sebagai Ma-la-cha Wu Li. Menurut Groeneveldt putera yang dimaksud tersebut mungkin adalah Maharadja Wuli. Tetapi menurut Muljana orang yang dimaksud adalah maharaja Mauliwarmadewa.

Tahun berikutnya maharaja mengirim upeti kepada kaisar Tiongkok berupa barang-barang dan binatang-binatang khas dari negerinya. Utusan-utasan tersebut menyampaikan pesan darinya bahwa ia segan naik tahta atas kehendak sendiri serta mohon mendapat ijin kaisar (dengan maksud mendapat perlindungannya). Kaisar memuji tanggungjawab maharaja dan memberi perintah untuk menyampaikan segel (cap, seal) kepadanya disertai pengangkatan dia sebagai raja San-bo-tsai (Sriwijaya). Namun pada waktu itu Sriwijaya sudah dibawah kekuasaan Jawa (Majapahit).

Raja Majapahit sangat murka mendengar kaisar telah menunjuk raja untuk San-bo-tsai dan mengirim anak buahnya untuk mencegat dan membunuh utusan kaisar. Kaisar dapat mengerti kemurkaan raja Majapahit dan tidak mengadakan pembalasan. Setelah kejadian ini lambat-laun San-bo-tsai/Sriwijaya jatuh miskin dan tidak datang lagi upeti dari kawasan itu.

Catatan tersebut sesuai dengan kenyataan bahwa bekas Sriwijaya terlantar dan kacau. Keguncangan Singasari-Kediri dan belum terkonsolidasinya Majapahit menyebabkan pihak Jawa tidak mampu mengurus tanah Sriwijaya yang tadinya ditaklukkan oleh Kertanagara.

Tentang perang saudara Paregreg di Majapahit tercatat bahwa dalam tahun 1405 kasim Laksamana Cheng Ho telah diutus ke Majapahit yang ketika itu dikuasai oleh dua raja, Raja Timur dan Raja Barat. Tahun berikutnya kedua raja saling berperang. Raja Timur dikalahkan dan kerajaannya hancur. Pada itu waktu utusan-utusan kaisar Tiongkok kebetulan berada di negara Raja Timur.

Ketika prajurit-prajurit Raja Barat masuk ke tempat pasar, 170 orang dari utusan kaisar terbunuh, hal mana membuat Raja Barat kuatir serta mengirim utusan minta maaf. Kaisar mengeluarkan pengumuman sangat mencela Raja Barat dan menuntut pembayaran enam-puluh ribu tail mas sebagai denda. Tahun 1408 Cheng Ho sekali lagi diutus ke negara ini dan Raja Barat memberi sepuluh ribu tail emas.

Petugas-petugas Dewan Tatacara di Tiongkok melihat jumlah tersebut tidak cukup dan bermaksud mempenjara utusan-utusan yang membawanya, tetapi kaisar mengatakan: “Yang saya kehendaki dari orang-orang yang hidup adalah mereka menginsyafi kesalahannya. Saya tidak ingin memperkaya diri dengan emasnya.” Seluruh denda dikembalikan. Sedari itu mereka terus-menerus membawa upeti. Terkadang sekali dalam dua tahun, ada kalanya lebih dari satu kali setahunnya. Para utusan Wu Pin dan Cheng Ho seringkali mengunjungi Majapahit.
Demak
Pada dasawarsa terakhir abad XV di Jawa Tengah berdiri kerajaan Islam Demak, tepatnya tahun 1475/1478 hingga 1546/1568. Pendirinya adalah putera dari Cek Ko-Po yang berasal dari Palembang yang mana ketika itu terdapat masyarakat Islam Tionghoa yang besar. Pendiri Demak ini terkenal dengan nama Raden Patah (AL Fatah), alias Jin Bun / Panembahan Jimbun / Arya (Cu-Cu) Sumangsang / Prabu Anom. Namu orang-orang Portugis menyebutnya Pate Rodin Sr.

Menurut orang Portugis, Tome Pires, pendiri Demak ini adalah seorang  seorang satria. Terkaan bahwa Jimbun nama suatu tempat dekat Demak tidak masuk akal. Penjelasan Muljana nama Jin Bun berarti “orang kuat” dalam dialek Tionghoa-Yunnan. Semasa Dinasti Yuan (Monggol) di propinsi Yunnan terdapat banyak penganut agama Islam.

Kalangan berkuasa Demak sebagian besar terdiri dari orang-orang keturunan Tionghoa. Sebelum jaman kolonial pernikahan antara orang Tionghoa dengan orang Pribumi merupakan hal yang normal. Pigeaud dan de Graaf menggambarkan keadaan pada abad ke XVI sebagai berikut:

Di kota-kota pelabuhan pulau Jawa kalangan yang berkuasa terdiri dari keluarga-keluarga campuran, kebanyakan Tionghoa peranakan Jawa dan Indo-Jawa. Sumber-sumber sejarah pihak Pribumi Indonesia menyebut, dalam abad ke XVI sejumlah besar orang Tionghoa hidup di kota-kota pantai Utara Jawa. Disamping Demak, juga terdapat di Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik (Tse Tsun) dan Surabaya. Banyak orang Tionghoa Islam mempunyai nama Jawa dan dengan sendirinya juga nama Arab. Pada jaman itu sebagai Muslimin mempunyai nama Arab meninggikan gengsi.

Salah satu cucunya Raden Patah tercatat mempunyai cita-cita untuk menyamai Sultan Turki. Menurut De Graaf dan Pigeaud, Sunan Prawata (Muk Ming) raja Demak terakhir yang mengatakan pada Manuel Pinto, Prawata berjuang sekeras-kerasnyanya untuk meng-Islam-kan seluruh Jawa. Bila berhasil ia akan menjadi “segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II) setanding sultan Turki Suleiman I dengan kemegahannya. Nampaknya selain naik haji Prawata telah mengunjungi Turki.

Sumber-sumber Pribumi menegaskan raja-raja Demak adalah orang Tionghoa atau Tionghoa peranakan Jawa. Terlalu banyak untuk memuat semua nama-nama tokoh sejarah yang di-identifikasi sebagai orang Tionghoa.
Namun beberapa diantaranya adalah ;

Raden Kusen (Kin San, adik tiri Raden Patah),
Sunan Bonang (Bong Ang, putera Sunan Ngampel alias Bong Swee Ho),
Sunan Derajat juga putera Sunan Ngampel,
Ja Tik Su (tidak jelas orang ini Sunan Undung atau Sunan Kudus, namun ada sumber mengatakan Sunan Undung ayah Sunan Kudus dan menantunya Sunan Ngampel),
Endroseno panglima terakhir Giri Kedaton,
Pangeran Hadiri alias Sunan Mantingan suami Ratu Kalinyamat,
Ki Rakim,
Nyai Gede Pinatih (ibu angkatnya Sunan Giri dan keturunannya Shih Chin Ching tuan besar orang Tionghoa di Palembang),
Puteri Ong Tien Nio yang menurut tradisi adalah isterinya Sunan Gunung Jati,
Cekong Mas (dari keluarga Han, makamnya terletak didalam suatu langgar di Prajekan dekat Situbondo Jawa Timur dan dikeramatkan),
Adipati Astrawijaya, bupati yang diangkat oleh VOC tetapi memihak pemberontak ketika orang-orang Tionghoa di Semarang berontak melawan Belanda pada tahun 1741, dan
Raden Tumenggung Secodiningrat Yogyakarta (Baba Jim Sing alias Tan Jin Sing).

Menurut Muljana, Sunan Giri dari pihak ayahnya adalah cucu dari Bong Tak Keng, seorang Muslim asal Yunnan Tiongkok yang terkenal sebagai Raja Champa, suatu daerah yang kini menjadi bagian Vietnam. Bong Tak Keng koordinator Tionghoa Perantauan di Asia Tenggara. Ayah ibunya Sunan Giri adalah Raja Blambangan, Jawa Timur.

Pengaruh arsitektur Tionghoa terlihat pada bentuk masjid-masjid di Jawa terutama di daerah pesisir bagian Utara. Agama Islam yang pertama masuk di Sumatera Selatan dan di Jawa bermazhab Hanafi. Datangnya melalui Yunnan Tiongkok pada waktu Dinasti Yuan dan permulaan Dinasti Ming.

Muljana berpendapat bila agama Islam di pantai Utara Jawa masuknya dari Malaka atau Sumatera Timur, mazhabnya Syafi'I atau Syiah dan ini bukan demikian halnya. Muljana menekankan mazhab Hanafi hingga abad XIII hanya dikenal di Central Asia, India Utara dan Turki. Meskipun agama Islam pada abad ke VIII sudah tercatat di Tiongkok, Mazhab Hanafi baru masuk Tiongkok pada jaman Dinasti Yuan abad XIII, setelah Central Asia dikuasai Genghis Khan.

Kepergian banyak Muslim Tionghoa dari Tiongkok terjadi pada tahun 1385 ketika diusir dari kota Canton. Jauh sebelum itu, Champa sudah diduduki Nasaruddin jendral Muslim dari Kublai Khan. Jendral Nasaruddin diduga telah mendatangkan agama Islam ke Cochin China. Sejumlah pusat Muslim Tionghoa didirikan di Champa, Palembang dan Jawa Timur.

Pada tahun 1413 Ma Huan mengunjungi Pulau Jawa dengan Laksamana Cheng Ho, ia mencatat agama Islam terutama agamanya orang Tionghoa dan orang Ta-shi (menurut Muljana orang-orang Arab) belum ada Muslimin Pribumi.

Pada tahun 1513-1514 Tome Pires mengambarkan kota Gresik sebagai kota makmur dikuasai oleh orang-orang Muslim asal luar Jawa. Pada tahun 1451 Ngampel Denta didirikan oleh Bong Swee Ho alias Sunan Ngampel untuk menyebarkan agama Islam mazhab Hanafi diantara orang-orang Pribumi. Sebelum itu beliau mempunyai pusat Muslim Tionghoa di Bangil. Pusat ini ditutup setelah bantuan dari Tiongkok berhenti karena tahun 1430 hingga 1567 berlaku maklumat kaisar melarang orang-orang Tionghoa untuk meninggalkan Tiongkok.

Sangat menarik disini, setidaknya hingga jaman pendudukan Jepang, rakyat kota Malang Jawa Timur masih mempergunakan sebutan “Kyai” untuk seorang lelaki Tionghoa Totok. Kyai berarti guru agama Islam. Padahal yang dijuluki itu bukan orang Islam. Kebiasaan tersebut peninggalan jaman dulu. Gelar Sunan berasal dari perkataan dialek Tionghoa Hokkian “Suhu, Saihu”. Bahkan diyakini 8 orang Walisongo mazhab Hanafi bergelar Sunan.

Satu dari Walisongo mazhab Syiâh bergelar Syeh dari bahasa Arab Sheik. Kesimpulan wajar, para aktivis Islam mazhab Hanafi di Asia Tenggara semasa itu semuanya orang Tionghoa. Sedikit banyak dapat dipersamakan dengan penyebaran agama Kristen dari Eropa ke lain-lain benua. Hingga abad ke XIX kaum penyebar diatas tingkat lokal dapat dikatakan semuanya orang Eropa.

Tanah Tiongkok hampir seluas Eropa. Membuat perbandingan dengan Tiongkok tidak dapat dilakukan dengan salah satu negara Eropa tetapi harus dengan seluruh Eropa. Seperti juga suku-suku Eropa dengan bahasa-bahasanya berbeda satu sama lain, demikian pula terdapat perbedaan antara suku-suku dengan bahasa-bahasanya di Tiongkok. Keunggulan Tiongkok memiliki tulisan ideogram yang dapat dimengerti meskipun bahasanya berlainan. Sekian.

Referensi :
De Graaf and Pigeaud “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java”, “Islamic states in Java 1500-1700.
Slamet Muljana “Runtuhnya keradjaan Hindu Djawa dan timbulnja negara2 Islam di Nusantara.
Sebagian besar artikel dikutib dari “The 6th overseas Chinese state” Nanyang Huaren, 1990.


0 on: "Menelusuri Jajak Awal Masuknya Keturunan Tionghoa ke Nusantara"