Catatan Jelajah Semeru : Penuntasan Perjalanan yang Tertunda [1]

catatan perjalanan pendakian semeru
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Meski tak ada catatan yang tertulis, bagi seorang pendaki, bisa dikatakan gunung Semeru merupakan salah satu gunung wajib yang harus didatangi. Sebagai penyandang predikat gunung tertinggi di pulau Jawa, Semeru juga terkenal dengan panorama alamnya yang menawan. Sebelas dua belas atau sebanding lurus, dibalik keindahannya itu, Semeru juga menyimpan potensi bahaya yang besar bagi mereka yang mendekatinya.

Mendaki gunung adalah virus berbahaya yang menular dengan cepat dan membuat para korbannya ketagihan. Itulah faktanya.

Sudah lama berlalu memang, tapi untungnya masih tersimpan catatan usang di buku saku yang tersimpan rapih bersama beberapa foto-foto lama saya. Tidak berlebihan memang, ungkapan di atas, bahwa mendaki gunung adalah serupa virus, tidak ada obatnya dan yang pasti adalah menular. Sekali saja sampeyan naik gunung. Akan nagih.

Saya masih ingat sekali. Ketika hendak menyampaikan keinginan untuk naik gunung pada istri saya. Meski bukan untuk pertama kalinya, dan meskipun pada akhirnya tetep saja diijinkan dia selalu bilang bahwa naik gunung adalah pekerjaan gila, amor fati dan mencintai kematian. Ya, saya tidak persalahkan pendapat ini, bagaimanapun bagi orang yang tidak mengakrabi aktifitas ini sulit untuk kita menjelaskannya.

Ya, bagi sebagian orang yang tidak mengakrabinya, mereka tidak akan pernah tau bahwa untuk mencapai puncak gunung memerlukan suatu proses yang panjang. Tentu saja lengkap dengan kelelahan, baik fisik maupun secara batin. Namun jelasnya dibalik setiap proses yang dilalui tersimpan hikmah perjalanan hidup manusia dan bagaimana seseorang menghargai kehidupan. Dari sinilah candu itu di mulai oleh seorang pendaki yang tentu saja akan sulit dipahami bagi yang tidak mengalaminya.

Jujur, gunung Semeru bukanlah favorit bagi saya secara pribadi. Belum mengalahkan gunung Lawu yang saya jejaki berkali-kali. Itu dulu anak muda. Mungkin sekarang meski niat sudah terkumpul ribuan persen tetap saja ada hal yang perlu dipertimbangkan, bagaimanapun hajat hidup orang banyak yang nggemblok di pundak selayaknya carier adalah pertimbangan utamanya. Tapi lagi-lagi tak afdol kiranya dalam jagad pendakian jika belum menapaki atap pulau Jawa ini. Terhitung dua kali saya menjejaki Semeru ini.

Tulisan yang kisanak baca ini adalah tugu kenangan semata, yang mungkin akan terbagi dalam dua atau tiga tulisan berseri. Siapa tahu akan menjadi manfaat bagi sampeyan yang berkeinginan atau ada niat untuk menjajal tantangan yang ditawarkan oleh Semeru.

Niat adalah penting, namun niat saja tidaklah cukup. Demikian kata sebuah ungkapan. Seperti yang sudah saya narasikan di atas, tidak afdol seorang pendaki sebelum menjejakkan kaki di Mahameru, demikian juga saya. Sekian lama niat itu saya pupuk, hingga pertengahan Januari 2011 silam saya berkesempatan untuk meniti puncak para dewa tersebut. Memang, jika dibandingkan saudara jauhnya, Lawu. Gunung Semeru terbilang memiliki trek lengkap dan berat. Di sini niat dan mental kisanak benar-benar diuji.

Ya, Mahameru, satu tempat yang sekian lama ingin saya jejaki akhirnya datang juga, menyisakan lembaran risalah yang kelak bisa diceritakan ulang pada anak cucu. Menceritakan bahwa Sang Maha Hidup menciptakan alam ini benar-benar tidak sia-sia, melukisnya dengan nama Mahameru, Ranukumbolo, atau pun Oro-Oro Ombo. Dan bagi seorang yang pernah memesrai tempat-tempat tersebut, jelas akan menjadi kenangan tersendiri.

Bergeser pada objek pendakian, dimana Semeru merupakan gunung yang terletak di Kabupaten Lumajang Jawa Timur dan salah satu diantara gunung tertinggi di negeri ini, dan masih menjadi jawara di pulau jawa dengan ketinggian atapnya mencapai 3676 mdpl. Semeru merupakan gunung masih aktif yang mempunyai kawah dengan nama Jongring Seloka, ini yang menjadikan Mahameru disebut sebagai tempat berkumpulnya para dewa.

Sepintas, dari berbagai gunung yang populer di Jawa yang pernah saya tapaki. Menjelajahi Semeru agak mirip dengan adik jauhnya, Merapi yang memang medannya tidak jauh berbeda. Berbatu dan berpasir. Hanya yang membedakan, meski Merapi lebih kerdil namun treknya hampir bisa dikatakan tidak ada bonusnya (datar). Sang kakak (Semeru) lumayan jauh anak muda untuk treknya, tak kurang dari 18 km, sampeyan bisa bandingkan Merapi yang hanya 7 km itu. Ketahanan fisik sampeyan akan benar-benar teruji di Semeru ini.

Jika dilihat dari jalur pendakiannya gunung Semeru mempunyai trek yang cenderung landai memanjang dengan tanjakan terjal yang tidak terlalu banyak dan baru benar-benar curam-ekstrem saat mulai menapaki trek menuju Mahameru. Rute yang panjang membuat puncak Gunung itu harus ditempuh dengan waktu yang lumayan lama, idealnya 3 hari 2 malam untuk benar-benar mengeksplore apa yang disuguhkan disana atau 2 hari 1 malam paling cepet.

Perhitungan secara kasarnya dari Ranupani-Ranukumbolo (4-6jam) kita ngecamp terus Kumbolo-Kalimati (4-5jam) nge-camp lagi, dan Kalimati-Mahameru (6-7 jam). Jika ditotal adalah 14 sampai 18 jam + nge-camp 2 malam. Bisa dibayangkan lama dan panjangnya rute perjalanan yang harus ditempuh para pendaki untuk menyusuri setiap jengkal tanah para dewa ini. Maka tidak berlebihan jika ada yang mengatakan hanya yang berjiwa petualang yang sanggup melakukannya.

Pun halnya yang harus diperhatikan adalah kondisi pribadi dan kelompok menjadi prioritas utama agar capaian pendakian benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan bersama. Untuk itu manajemen waktu, tenaga dan fikiran harus benar-benar diperhitungkan. Yang terpenting untuk diperhatikan adalah Alam tidak pernah berbohong dan Alam adalah bagian dari diri kita sendiri, sayangi ia dan jangan mengambil kecuali gambar.

Perjalanan atau lebih tepatnya pendakian ini sebenarnya adalah penuntasan perjalanan yang pertama, yang mana ketika itu Oktober 2010 kami hanya sampai di Ranu Kumbolo. kecewa sudah barang tentu, namun tentang mendaki bukanlah tentang suatu pemaksaan diri. Ada hal yang harus menjadi pertimbangan untuk melanjutkan perjalanan ketika ada salah satu dari teman seperjalanan tidak mampu meneruskan perjalanan.

Seusai pendakian yang pertama itu, saya dan beberapa teman yang lain memutuskan untuk mendaki kembali pada bulan Januari 2011, memupus rasa penasaran dengan tujuan utama merengkuh puncaknya. Dari 4 (empat) anggota tim pada pendakian pertama, yang longgar waktunya hanya dua orang termasuk saya yang ikut serta dalam pendakian yang kedua kalinya ini, ditambah dua orang baru, satu diantaranya adalah adik sepupu saya sendiri.

Pertengahan Desember 2010, atau tiga minggu sebelum pendakian sepupu saya sudah ke Jogja, selain membantu pekerjaan saya sekaligus juga kami mempersiapkan yang lebih matang. Meski puncak bukanlah segalanya, namun pengalaman kegagalan pada pendakian pertama ada banyak yang harus di evaluasi (hayah koyo urusan birokrasi saja). Mulai latihan fisik sampai merancang rencana perjalanan meliputi tanggal berangkat dan pulang, perlengkapan, dan logistik.

Kebetulan tiga yang lain termasuk saya semuanya tinggal di Jogja, maka menjadi lengkap setelah sepupu saya juga di sini (Jogja). Hal ini memudahkan kami untuk mendiskusikan perjalanan untuk kami sepakati bersama. Sedianya, kami hendak melewatkan awal tahun di Semeru, namun karena ada beberapa keluarga dari Tuban yang leburan ke Jogja maka niat itupun kami tunda seminggu setelahnya.

Sedianya, kami hendak menumpang kendaraan teman saya asal Mojokerto yang kebetulan sedang ada garapan pekerjaan di Magelang. Dengan berbagai pertimbangan, hanya saya yang menumpang mobil tersebut beserta carrier kami. Sedangkan sepupu dan 2 temen yang lain bermotor lebih dulu dan janjian ketemu di Nganjuk.

Singkat cerita, dari Nganjuk kami sampai di kantor SPTNBTS (Seksi Pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semer) II Tumpang pukul dua siang. Sedianya kami berniat mengurus perizinan di sini, namun urung karena di jendela kantornya terdapat tulisan yang memberitahukan bahwa pendakian ditutup karena alasan evaluasi SAR.

Kami cukup terkejut dengan berita itu. Tidak ingin membuang waktu, sesuai arahan petugas di sana, kami langsung saja menuju Ranu Pani untuk mengurus perizinan langsung di sana, dengan harapan kami bisa tiba sebelum jam 16.00 sore dan melanjutkan pendakian langsung menuju Ranu Kumbolo. Namun apa daya, keterbatasan tenaga sepeda motor kami yang terengah-engah menapaki jalan rusak, menanjak dan menikung menuju Ranu Pani, membuat kami baru sampai di Ranu Pani sekitar pukul 16.20 wib.

Artinya, kami terlambat 20  menit dari batas pendakian maksimal yang diizinkan. Kami berusaha melobi petugas, namun kami tetap dinyatakan terlambat dan diminta menginap semalam di Ranu Pani terlebih dahulu. …

Bersambung…..

0 on: "Catatan Jelajah Semeru : Penuntasan Perjalanan yang Tertunda [1]"