Catatan Jelajah Semeru : Ranu Kumbolo Eksotisme dalam Kabut Misteri [2]


Akarasa – Malamnya, kami menginap di Pondok Pendaki, yang dijaga oleh Pak Hambali, asli Surabaya dan sudah sejak lama bekerja merawat pondok pendaki di Ranu Pani. Suasana begitu hangat dan gayeng. Kami banyak ngobrol malam itu, mulai dari hal-hal yang berbau misteri dan sejarah. Terutama di Ranu Kumbolo.

Jujur, saya kagum sama bapak setengah baya ini yang mengabdikan diri pada Semeru dan pendaki secara tidak langsung. Dari Pak Hambali ini pula kami mendapat banyak informasi berrharga mengenai jalur pendakian Semeru. Tulisan sebelumnya bisa kisanak baca di Catatan Jelajah Semeru : Penuntasan Perjalanan yang tertunda

Saya masih ingat sekalai Pak hambali menasehati kami mengenai apa yang harus dilakukan,  apa yang pantang dilakukan, karena kami berempat belum mengetahui jalur menuju puncak Mahameru. Namun ada satu satu nasehat yang sampai saat ini begitu membekas dalam benak saya, “berangkat bareng, pulang bareng, hilang juga harus bareng. Jangan tinggalkan teman di belakang”. Tak terasa, waktu semakin larut dan kami semua pun berlalu dalam lelap. Semoga energi esok pagi kembali dan membangkitkan tenaga kami.

Pagi pukul 06.00 jarum panjangnya belum begitu jauh beranjak dari arah angka 12 kami berpamitan pada Pak Hambali dan menitipkan motor di Pondok Pendaki ini. Kami segera turun menuju pos lapor untuk memperoleh perizinan pendakian.

Kebetulan saya paling tua dalam tim kecil ini ketiban sampur untuk menyerahkan persyaratan yang dibutuhkan. Adapun persyaratan khusus untuk mendaki gunung Semeru adalah sebagai berikut: Fotokopi KTP/KTM/SIM atau identitas diri lainnya (diutamakan KTP) sebanyak 2 lembar. Fotokopi Surat Keterangan Sehat (dibawa juga yang asli) sebanyak 2 lembar. Membayar biaya administrasi pendakian, meliputi karcis masuk taman nasional, asuransi, materai 6.000 (bawa sendiri dari rumah), surat izin dengan tarif bervariasi, tergantung dari golongan umum, pelajar, maupun mancanegara.

Trek awal adalah beraspal, dan mulai berganti dengan jalur tanah, bercampur pasir dan debu saat berbelok kanan melewati gerbang pendakian. Ikuti saja jalur yang ditetapkan, ketika menemui percabangan antara jalur yang menanjak dengan jalur yang menurun, pilih yang menanjak (ke arah kiri melipir bukit), karena bila ke kanan akan menuju lahan pertanian warga.

Dari dimulainya jalur setapak, relatif menanjak landai, cukup menguji mental dan menguras tenaga, namun syukurlah kami masih sanggup berjalan tanpa henti dan sampai di Pos I sekitar pukul 09.15 WIB, setelah melewati kawasan Landengan Dowo. Cukup beristirahat 5 menit, kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Watu Rejeng, yang kami tempuh selama hampir 1 jam perjalanan.

Kami kembali beristirahat selama hampir 10 menit di sini, lalu melanjutkan kembali perjalanan menuju Pos III, yang sebelumnya melewati jembatan kayu dan trek yang cukup menanjak selepas jembatan tersebut. Jangka waktu istirahat yang serupa kami lakukan sesampainya di Pos III yang telah ambruk atapnya, karena setelahnya akan dijumpai jalur trek yang curam dan lumayan menyiksa. Kami membutuhkan waktu 15 menit untuk melewatinya. Selanjutnya jalur relatif landai naik turun, khas Gunung Semeru.

Tengah hari kami sampai di Pos IV, yang mana kami sudah bisa melihat dengan jelas Ranu Kumbolo dari sini. Begitu indah dan jernih, kawasan camp terlihat sepi. Kemungkinan kami adalah pendaki pertama yang mendirikan tenda pada siang hari ini. Akhirnya, 30 menit kemudian kami sampai di Ranu Kumbolo. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.45 WIB, artinya sudah 4,5 jam kami berjalan dan kami bersyukur karena sesuai target yang direncanakan.

Segera kami membuka tenda, dan memilih mendirikannya di teras pondok pendaki, karena tidak adanya cover flysheet di tenda kami. Kami khawatir tenda kami akan ngguling (roboh) ketika dihempas angin di malam hari. Selain itu juga, toh saat itu masih sepi sekali, sehingga kami leluasa mendirikan tenda. Menu makan siang itu adalah nasi mie goreng, sangat cukup mengisi perut kami berempat yang sudah keroncongan meminta makan.

Tak lama setelah kami membuka kompor, beberapa pendaki nampak mulai berdatangan di Ranu Kumbolo, seperti biasa, salam hangat dan salam sapa mengiringi kami semua. Begitu hangat meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu. Inilah yang khas dalam pendakian gunung, begitu berartinya persahabatan, dan saling menghargai perbedaan.

Kebetulan yang muslim hanya saya dan sepupu saya selepas mendirikan tenda saya dan adik sepupu saya segera menunaikan sholat Duhur dan Ashar (dijama' qashar), dan berusaha beraklimatisasi (menyesuaikan diri dengan cuaca sekitar). Kami memilih menunggu waktu masuk magrib sekalian sholat, sehingga bisa beristirahat setelahnya.

Mumpung masih di Ranu Kumbolo saya akan cerita sedikit tentang mitos yang ada di danau berketinggian 2.400 mdpl ini. Ranu Kumbolo adalah tepian surga, begitulah kata ungkapan yang disematkan banyak orang untuk danau ini. Keindahan alam Ranu Kumbolo, menghipnotis setiap mata pendaki Gunung Semeru. Sudah pasti, spot telaga yang satu ini, akan selalu dijadikan basecamp mereka sebelum kembali melanjutkan pendakian. Ranu kumbolo merupakan surga bagi para pendaki. Setidaknya, bisa terlihat dari kontur telaga yang punya luas 14 Ha di lereng Semeru ini. Airnya yang jika dilihat dari atas bukit, berwarna biru bercampur kehijauan.

Saat matahari terbit, pendaran sinarnya menembus celah dua buah bukit yang kemudian berjatuhan di segala sudut telaga nan eksotis ini. Pantulan sinar matahari hangat, berbaur udara dingin khas pegunungan, adalah sensasi tersendiri saat pagi hari. Sisa-sisa embun masih membasahi setiap hijauan yang tumbuh subur di sepanjang tatapan mata. Begitu juga dengan kabut yang masih berada di titik sejajar dengan para pendaki yang sedang bermukim di tepiannya. Sebuah pemandangan pagi hari yang spektakuler.

Bicara tentang Gunung Semeru, tak lengkap bila tak berbicara mitologi gunung itu sendiri. Sebelumnya sudah saya tulis di akarasa ini Gunung Semeru : Dibalik Legenda Gonjang-Ganjingnya Pulau Jawa, namun demikian sedikit akan saya cuplik di sini.

Dahulu kala, Semeru adalah bagian dari Gunung Meru, di Jambudwipa atau India. Saat itu, para dewa bergotong royong memindahkan sebagian puncak Gunung Meru ke Pulau Jawadwipa. Mereka beranggapan bahwa posisi Pulau Jawadwipa tidaklah stabil; terombang-ambing oleh lautan. Saat memindahkan puncak Gunung Meru itulah, beberapa bagiannya tercecer hingga membentuk gugusan gunung di Jawa Barat, Tengah, hingga Timur. Bagian yang paling besar, jatuh dan membentuk Gunung Semeru. Lalu, puncak Mahameru dihempaskan oleh para dewa dan terbentuklah Gunung Pawitra atau Penanggungan.

Menarik disimak, dari sekian gunung, ada satu gunung yang dianggap sebagai replika Gunung Semeru. Nama gunung itu, yaitu Gunung Penanggungan (1659 mdpl). Antara keduanya, terdapat kemiripan, yaitu pada bentuk kerucut puncaknya. Kedua gunung itu juga dianggap suci oleh umat Hindu-Budha. Sejumlah situs kuno seperti candi, yang terletak di sekitar Gunung Penanggungan, ada yang dibangun dengan arah hadap khusus ke Gunung Penanggungan.

Seperti Candi Jawi, yang dibangun oleh Raja Singasari terakhir, yaitu Prabu Kertanegara. Selain itu, di lereng Penanggungan, banyak bertebaran candi yang dibangun sebagai tempat penyembahan dan pemujaan. Ada pula artefak, batu prasasti, altar pemujaan, punden berundak, dan ribuan pecahan gerabah dari berbagai bentuk. Ranu kumbolo, di satu sisi, adalah sebuah tantangan. Sebab untuk mencapainya, butuh kesiapan fisik dan mental prima. Sisi lain, Ranu Kumbolo, juga bukan tanpa ada kisah bersejarah. Kisah bersejarah tersebut mulai terbentuk ratusan tahun lampau dan bertautan dengan pendakian kala itu.

Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja dari Kerajaan Kadiri, bernama Prabu Kameswara. Dia memerintah sekitar tahun 1180-1190-an, dengan bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa.

Suatu hari, dia melakukan perjalanan suci atau yang disebut dengan Tirthrayata menuju Gunung Semeru. Jalur yang ditempuh, melalui Pasrujambe (nama sebuah kecamatan di Lumajang); sebuah jalur pendakian kuno dan berbeda dengan sekarang yang dimulai dari Ranu Pane. Bukan tanpa tujuan Prabu Kameswara melakukan pendakian ke Semeru.

Gunung yang berada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini, memang termasuk gunung yang disucikan. Begitu pula air yang terdapat di Ranu Kumbolo, mewujud sebagai air suci. Puncaknya yang bernama Mahameru, adalah tempat para dewa bersemayam.

Prabu Kameswara mendaki Semeru untuk bersemedi; mendekatkan diri pada Sang Hyang Pencipta alam semesta. Untuk menandai kedatangannya ke Semeru, Prabu Kameswara mengabadikannya ke dalam sebuah prasasti. Namanya Prasasti Ranu Kumbolo. Prasasti ini berada di tepian danaunya. Ada sebuah tulisan di batu prasasti tersebut, yaitu Ling Deva Mpu Kameswara Tirthayatra.

Menurut sejarawan M.M. Sukarto Atmojo, tulisan yang berbahasa Jawa kuno tersebut, dapat diartikan bahwa ketika itu, Prabu Kameswara pernah melakukan kunjungan suci dengan mendaki Gunung Semeru. Angka tahun prasasti, masih menurut sang sejarawan, berkisar pada 1182 M.

Melalui Prasasti Ranu Kumbolo, kita bisa mengerti, sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang kita juga pendaki gunung. Apa yang mereka lakukan, merupakan bagian dari perjalanan spiritual menuju kesempurnaan diri. Suatu sikap agung yang lalu diperkuat dengan torehan prasasti atau yang sejenisnya, untuk mengenang misi perjalanan mereka. Dan, prasasti yang mereka tinggalkan, telah menjadi benda peninggalan yang sangat berarti bagi generasi kekinian. Terutama untuk menyingkap keadaan di masa itu.

Sambil menunggu waktu mahgrib, sehingga bisa beristirahat setelahnya. Karena perut masih kenyang dengan asupan siang tadi, kami memilih tidur terlebih dahulu dan mungkin bangun di tengah malam untuk masak makan malam. Benar juga, cuaca yang dingin membuat perut terasa cepat lapar dan kami pun terbangun pukul 21.30 malam, dan salah satu dari rekan kami sudah bangun duluan, sedang memasak nasi. Porsi nasi yang kami masak lebih banyak dari kemarin, sehingga kami makan begitu lahapnya sampai nyaris tak tersisa.

Kopi hangat menjadi penutup hidangan kami malam ini, sebelum kemudian lanjut tidur kembali di dalam tenda berselimutkan hangatnya sleeping bag. Tak sabar rasanya menunggu pagi esok, karena kami akan melanjutkan perjalanan menuju Kalimati, bagian krusial dari perjalanan kami kali ini.

Dinginnya luar biasa malam itu, hingga saya memutuskan membalsam kaki saya yang menggigil kedinginan. Saya sarankan, jangan sampeyan lakukan hal ini. Keputusan membalsam kaki untuk menghangatkan ternyata salah besar! Balsamnya jadi sangat dingin, bukannya hangat malah tambah kedinginan. Bahkan saya memasang dua pasang kaos kaki tebal sekaligus, tetap saja tidak ngefek. Kaki tetap kedinginan.

Sempat tertidur, tatapi  jam 00.00 an saya terbangun karena kedinginan. Gendeng, prediksi saya waktu itu mungkin sekitar 4 derajat celcius. Minum air mineral, serasa minum air es langsung dari kulkas. Dan dingin pun merasuk tidak hanya sampai tulang. Tapi sumsum langsung.

Sekedar untuk menghangat tangan yang sudah kebas kebas kedinginan, mati rasa. Saya menyalakan parafin. Menyentuhkan tangan pada api tak banyak membantu, karena saking dinginnya. Tak sampai satu jam stok lilin abis kebakar. Badan tak kunjung menghangat, padahal saat itu suasana sudah sepi. Semua makhluk sudah tertidur pulas di kandangnya masing-masing.

Masih dengan kedinginan, saya mencari-cari, siapa tahu masih ada yang punya api. Ternyata, di salah satu runtuhan bangunan, ada sekelompok pendaki yang mengobrol di depan api unggun. Pada situasi seperti ini, pikiran sungkan memang harus dibuang jauh-jauh. Langsung saya saya  bergabung dengan mereka. Hangat, tapi punggung masih kedinginan.

Kurang menggigit kiranya malam-malam tidak berbincang tentang hal mistis. Selain sejarah yang sudah saya narasikan di atas. Ada banyak cerita mistis di Ranu Kumbolo ini. Dulu, pernah satu rombongan ketika  bermalam di Ranu Kumbolo, di teror oleh makhluk tak kasat mata berwujud kuntilanak.

Tahun 1998, waktunya sama hampir bersamaan dengan kerusuhan Mei, di Ranu Kumbolo terjadi kejadian kebakaran hutan hebat. Tapi anehnya, hanya kawasan Ranu Kumbolo yang tidak terkena. Danau ini akhirnya dipakai untuk tempat penyelamatan. Semua pendaki yang mendaki di gunung Semeru turun menuju ke air, sementara sekitarnya penuh asap dan api. Kalau dilihat dari atas katanya, bentuk kebakaran itu mirip cincin. Hanya kawasan danau saja yang tidak kebakaran. Tidak diketahui apa penyebab kebakaran itu, yang jelas Ranu Kumbolo yang menyelamatkan orang-orang dari efek kebakaran hutan tersebut.

Yang tak kalah menariknya lagi cerita mistis di Ranu Kumbolo ini adalah kisah sepasang pengantin yang bernazar kalau sudah menikah maka mereka akan mandi di Ranu Kumbolo. Nazar itu akhirnya dilakukan, berdua saja. Pada saat mandi, pengantin wanita itu tenggelam. Pengantin pria itu kalap, dan diceritakan katanya seakan ada yang menarik dari dalam.

Setelah kejadian itu, tim SAR dan Pasukan Katak menelusuri seluruh danau tetapi tidak menemukan jasadnya. Mereka menyerah. Seminggu kemudian, wanita itu ditemukan dalam keadaan terapung mengenaskan. Sampai sekarang tidak ada yang tahu berapa kedalaman Ranu Kumbolo yang sebenarnya. Maka, mandi disini pun dilarang kecuali nekat.

Apapaun itu, pastinya Ranu Kumbolo memang bukan danau biasa, di masa lalu pernah menjadi jejak Raja Kameswara dari Kerajaan Kediri dalam melakukan perjalanan mencari air suci. Para pendaki kini bisa menyaksikan jejak purbakala berangka tahun 1182 masehi itu. Di pinggir danau terdapat sebuah batu prasasti yang hingga kini dikeramatkan orang.

Pada tulisan selanjutnya kita akan teruskan dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati..
Bersambung....

0 on: "Catatan Jelajah Semeru : Ranu Kumbolo Eksotisme dalam Kabut Misteri [2]"