Tradisi Nyadran Komunitas Adat Bonokeling

Akarasa – “Pak. Kalau mau ikut ke makam eyang Bonokeling, sampeyan harus pakai blangkon”. Kalimat inilah yang saya dapatkan ketika hendak melihat dari dekat tradisi syawalan komunitas adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas, selepas nyekar ke makam mertua di Banjar, lebaran lalu.

Sengaja wakunya saya pas-kan, karena setahun yang lalu ketika hendak melihat langsung tradisi syawalan harus kecewa, karena telah lewat dua hari sebelumnya. Tidak mau kecewa kedua kali, saya sudah siapkan sebelumnya blangkon meski bukan khas Banyumasan, tapi khas Jogja, tapi alhamdulillah untungnya tetap diperbolehkan. Meskipun ketika saya sampai ke tempat ini kisuk-en (kepagian), tapi tak apalah ketimbang terlewat.

Berbeda dengan komunitas adat Baduy di Lebak, Banten, ataupun komunitas Samin di Blora, Jawa Tengah, hingga saat menulis ini saya belum mendapatkan asal-usul yang jelas siapa tokoh Bonokeling ini. Mereka begitu tertutup mengenai tokoh yang sangat disakralkan ini. Kalaupun toh ada kesamaan di antara komunitas adat ini adalah kepatuhannya yang bisa dikatakan tingkat tinggi. Tulisan ini adalah permulaan, siapa tahu nanti kalau ada literasi mengenai sosok ini tentu akan saya update lagi.

Bagi penganut ajaran Bonokeling, yang makamnya di Jatilawang, banyumas ini, mengharapkan berkah memang perlu perjuangan keras. Mereka rela berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer dengan berjalan kaki memikul beban sesaji yang bisa jadi berat dalam ukuran kita yang tidak terbiasa memikul beban di pundak, tapi tampaknya bagi mereka tidak sama sekali, semua dilakukan dengan suka cita demi berkah kebaikan dari leluhur.

Saya sempat berdecak kagum, ketika pertama kali melihat satu rombongan kecil yang mengular datang ke ke komplek makam eyang Bonokeling ini. Saya sempat menanyakan dari seorang wartawan kompas yang kebetulan dari pagi banyak ngobrol dengan saya sambil menunggu prosesi acara tahunan yang disebut nyadran ini. Rombongan kecil tersebut datang dari Kroya, Cilacap.

Kalau di ukur jaraknya dari komplek makan ini, antara Kroya dan Pakuncen, Jatilawang tak kurang dari 40 km. Tidak terlalu jauh, itu kalau mereka pakai kendaraan. Lha ini, mereka jalan kaki dan harus nyeker atau tanpa alas kaki dengan membawa sesaji yang dipikul bagi lelaki dan di gendong bagi perempuan. Tak kurang dari lima jam mereka baru sampai ditempat dini. Sampeyan bisa banyangkan, hal ini masih terjadi di jaman sedigital ini. Takjub. Itulah kalimat yang pas.

Rombongan kecil dari Kroya ini tentu saja bagian kecil dari ribuan orang yang masih menghormati tradisi leluhur Bonokeling yang disebut Nyadran ini. Dan memang salah satu syaratnya ialah harus berjalan kaki tanpa alas menuju ke makam. Selain rombongan dari Kroya ini, para peserta ritual juga banyak datang dari Cilacap, Srandil, Purwokerto, bahkan ada yang datang dari Wonosobo. Dapat kita bayangkan betapa jauh perjalanan yang mereka tempuh. Semua dilakukan demi mencari berkah, dan satu hal lagi mereka takut kualat kalau tidak mengikuti tradisi ini.


Nyadran memang bermakna membersihkan diri sebelum memasuki bulan yang suci. Para pengikut aliran Bonokeling ini memang menganut agama Islam kepercayaan. Meski mereka menghormati datangnya bulan suci, namun ternyata mereka tidak melaksanakan puasa seperti lazimnya umat Islam lainnya. Bahkan juga tidak melaksanakan salat sebagaimana muslim lainnya.

Puasa mereka ini disebut Lengser Peri, yaitu puasa pukul satu siang dan berbuka saat bedug mahgrib berkumandang, seperti buka muslim lainnya. Aliran Islam versi mereka adalah memuja leluhur, bukan melaksanakan salat, puasa, berzakat dan berhaji. Sembahnyang atau salat mereka adalah tradisi nyadran seeprti ini.

Yang menarik dalam tradisi nyadran komunitas adat Bonokeling ini, selain wajib menggunakan blangkon bagi yang laki-laki. Mereka juga seragam menggunakan busana hitam dengan kain batik menutup kaki. Sementara yang perempuan mengenakan kain jarik dan kebaya. Busana inilah yang terus mereka pakai selama acara nyadran berlangsung.

Sungguh perjuangan yang melelahkan dan memberatkan, jika harus berjalan kaki berpuluj-puluh kilometer dengan berpakaian seperti itu. tapi, toh tak sedikitpun terlihat di wajah mereka terbersit penyesalan. Semuanya terlihat ceria saat langkah mereka mulai memasuki Desa Pekuncen. Sepertinya ada rasa kepuasan tersendiri saat mereka dengan selamat berhasil sampai di temat tujuan.

Sampai di Desa Pekuncen mereka disambut dengan upacara adat oleh tokoh sepuh desa setempat. Acara penyambutan ini mereka menyebutnya methuk (jemput) sebagai ungkapan rasa hormat kepada tamu. Tradisi methuk juga merupakan salah satu rangkaian dari upacara tradisi unggahan. Bagi warga Pekuncen, kehadiran tamu sangat dihormati. Bukan hanya mereka yang hendak ikut ritual, para wartawan dan bahkan pengunjung pun diperlakukan sama, semua mendapatkan penyambutan berlebih layaknya tamu agung. Warga Pekuncen pula yang bertanggung jawab terhadap barang bawaan meraka ini.

Pada acara seserahan ini, kita akan dibuat kagum melihatnya. Betapa tidak, semua begitu teratur. Dibawa beriringan, tanpa saling mendahului, meski mereka saya rasa sangat lelah menempuh perjalan panjang. Ya, begitulah aturannya yang harus mereka patuhi.

Setelah mereka semua telah hadir, warga Pekuncen terlihat mulai sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk ritual nyadran. Mereka mempersiapkan bahan pangan yang dibawa oleh para pendatang untuk dimasak. Aneka kue pun disajikan.
Yang menarik, cara pengolahan maupun tempat yang digunakan untuk memasak pun terlihat sangat sederhana. Salah satunya tungku untuk memasak mereka buat dari potongan pohon pisang hingga menyerupai tungku.

Alat-alat masak pun semuanya terbuat dari kayu dan batok kelapa. Sebuah pemadangan kolektifitas masyarakat yang benar-benar madani. Semua kebutuhan ritual mereka bawa dan sediakan sendiri untuk kemudian diolah dan dimakan bersama-sama.  Tak seperak pun biaya ritual tersebut dari sumbangan pihak lain, termasuk didalamnya pihak desa maupun pemkab Banyumas itu sendiri. Semua dilakukan mandiri oleh komunitas adat ini, demi ungkapan rasa bersyukur.

Selain proses memasak, bentuk penyajiannya dengan cara tradisional yang menggunakan bahan-bahan yang sudah disediakan alam seperti daun-daunan dan bambu. Bisa dibayangkan keunikannya, kenduri yang dikemas dengan adat dan tradisi lampau dalam jumlah ribuan ini mampu bertahan di era yang sudah modern saat ini. Sunguh warisan leluhur yang tidak ternilai harganya dan wajib dipertahankan keberadaannya.

Ketulusan dalam pengabdian sebagai pegangan hidup mencerminkan kedekatannya dengan leluhur. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari tidak menunjukan satu perbedaanpun, tetap berjalan normal bahkan berbalut dengan teknologi dan modernisasi. Inilah magna atining sejati dan sejatining urip, bagaimana menjalankan tradisi dan kepercayaan yang diwariskan oleh leluhur dan bagaimana pula menjalankan kehidupan sehari-hari yang tetap normal dan tidak menunjukan suatu perbedaan.

Rumah Kyai Kunci atau ketua adat memiliki peran besar di setiap disetiap acara adat di Pekuncen, rumah ini sangat dipadati tamu. Demikian pula rumah Kyai Pedogol, sang pembantu kyai kunci yang letaknya satu komplek.
Di depan rumah Kyai Kunci ada sebuah bangunan yang sering disebut juga bale pasemuan. Di sinilah salah satu tempat yang biasa dipakai bila acara adat digelar. Kyai Kunci dan Kyai Lurah duduk bersila. Mereka menunggu tamu yang akan caos dahar atau sungkem untuk meminta keselamatan dari Sang Pencipta melalui kyai dan sebagai bentuk izin untuk mengikuti acara nyadran.

Kaum perempuan mendapat giliran terlebih caos terlebih dahulu kepada Kyai Kunci maupun ke makam Bonokeling. Sebuah pelajaran berharga yang dapat diambil dimana perempuan didahulukan bukan karena mereka lemah, melainkan waujud penghormatan. Satu persatu caos perempuan menghadap Sang Kyai. Para kyai melengkapi dengan doa yang terucap. Setelah caos peremp[uan selesai kemudian dilanjutkan dengan caos laki-laki. Begitupun saat menghadap le makam Bonokeling, caos perempuan mendapatkan giliran pertama, meski harus dilakukan satu persatu.

Kyai Kunci merupakan tokoh adat. Ia yang menjadi sumber ajaran karena ajaran Bonokeling disampaikan secara lisan. Sehingga apa yang diucapkan Sang Kyai harus dipatuhi. Kepemimpinan juru kunci diwariskan secara turun temurun dan haruslah keturunan langsung dari Bonokeling. Ajaran Islam kepercayaan yang mengikuti Bonokeling di Pekuncen ini memang berbeda dengan ajaran Islam. Mereka tidak menjalankan salat 5 waktu. Mereka hanya melakukan salat yakni berbuat baik, memberi keteladanan kepada sesama manusia, menghormati yang tua dan memuja nenek moyang. Mereka tetap mempercayai adanya Tuhan.

Selain sungkem meminta berkah, mereka juga menanti kehadiaran jimat penganut ajaran Bonokeling yang selama ini tersimpan rapi di rumah Kyai Kunci. Selain hanya dijalankan 8 tahun sekali, jimat ini juga diyakini dapat memberikan berkah bagi yang meyaksikannya. Saat jimat benda pusaka diturunkan dari tempatnya. Mantra terus dibacakan dipimpi oleh kyai juru kunci. Benda pusaka ini berupa genta dan lonceng sapi.
Warga Pekuncen dan penganut Islam Kepercayaan ini begitu hikmad mengikuti ritus ini. keyakinan mendapatkan berkah dengan menyaksikan ritus turun jimat ini membuat mereka rela berdesakan untuk tidak melewatkannya.

Setelah semua peserta ritual selesai caos ke Kyai Kunci dan menyaksikan jimat, kemudian mereka berjalan raoi satu persatu menuju ke makam Bonokeling. Tak terlihat saling srobot. Semua mengikuti antrian. Para penganut Islam Kepercayaan ajaran Kyai Bonokeling ini mengikuti ritus nyadran tanpa menggunakan alas kaki. Itu adalah aturan yang harus ditaati untuk mengikuti ritual di makam Kyai Bonokeling ini. filosofinya adalag agar seluruh tubuh dapat menyatu dengan alam.

Memasuki komplek makam, semua penganut ajaran ini berkumpul untuk mengambil air atau berwudhu. Cara mereka berwudhu berbeda dengan cara wudhu yang biasa dilakukan umat muslim saat akan menunaikan salat. Mereka hanya berkumur, membasuk muka dan mencuci kaki. Sebeum naik ke atas makam, mereka terlihat melakukan penghormatan.
Lagi-lagi, kau perempuan mendapat perlakuan khusus. Mereka mendapatkan kesempatan terlebih dahulu untuk berdoa. Begitu banyaknya ajaran Bonokeling ini membuat giliran para kaun perempuan melaksanakan ritualnya. Inilah hidup mereka. Nilai spiritual bukan untuk dibicarakan. Tapi dilaksanakan. Sementara sekian dulu. Nuwun.

0 on: "Tradisi Nyadran Komunitas Adat Bonokeling"