Kisah Sri Kresna Dalam Pusaran Arus Wangsa Kuru

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Perang besar Baratayuda sudah di depan mata, perang saudara wangsa Kuru tidak dapat dihindarkan lagi setelah berbagai perundingan damai gagal menemukan kata sepakat. Baik Duryudana maupun Yudistira sama-sama sibuk menyiapkan segalanya, termasuk mencari sekutu yang mau membantu mereka dalam peperangan nanti. Semakin banyak negara yang mau masuk dalam barisan koalisi yang mereka usung maka kemungkinan untuk memenangi pertempuran akan semakin besar. Hampir semua kerajaan di India waktu itu terpecah dalam dua koalisi antara yang memihak Kurawa dan yang memihak Pandawa.

Duryudana, terlahir dan besar dalam lingkungan istana yang serbamewah menjadikannya seorang pangeran dengan ambisi besar akan kekuasaan. Keinginananya untuk mengusai Hastinapura semakin menggebu-gebu saat melihat pengangkatan Yudistira sebagai putra mahkota. Dari sinilah dia mulai berpikir jauh-jauh hari bagaimana cara merebut kekuasaan dari tangan Yudistira. Dengan dibantu ahli politik kelas wahid dari kerajaan Gandara, Sengkuni yang merupakan pamannya sendiri, dimulailah penyusunan sebuah grand design besar untuk sebuah kemenangan.

Negara-negara besar yang dulunya merupakan lawan Hastinapura mulai didekati satu persatu, di antaranya adalah negara Madras, yaitu dengan menjadikan putri raja Madras sebagai istrinya. Kemudian negara Sindhu dengan rajanya Jayadrata lewat diplomasi perkawinan juga dengan menyodorkan Dewi Dursila sebagai istri Jayadrata. Selain itu, Duryudana juga memberikan pasukan kepada Karna untuk menguasai negara Awangga. Dan berbagai cara lainnya dengan satu tujuan untuk membentuk sebuah koalisi besar dalam perang Baratayuda nanti. Kepiawaian Duryudana dalam berpolitik berhasil menarik sebelas negara besar dan puluhan negara-negara kecil lainnya dalam koalisinya.

Yudistira, terlahir dan melewati masa kecilnya dalam kesederhanaan di hutan sebagai rakyat jelata bersama ibu dan keempat saudaranya. Kembalinya mereka ke istana Hastinapura setelah dibujuk pamannya Widura sebab mereka adalah anak dari Pandu, salah seorang raja Hastinapura. Raja Pandu adalah adik dari Raja Drestarata, raja Hastinapura saat itu sekaligus ayah dari Duryudana dan saudara-saudaranya yang berjumlah seratus orang. Ketekunan Yudistira dan keempat saudaranya membuat Resi Drona lebih sayang kepada mereka daripada Kurawa meski sama-sama sebagai muridnya.

Karena dedikasi yang tinggi saat mengalahkan Raja Drupada dari Pancala, Resi Drona merekomendasikan Yudistira sebagai satu-satunya pangeran yang pantas untuk menjadi putra mahkota. Namun setelah itu Yudistira harus menerima berbagai teror dan intimidasi dari Duryudana, bahkan sekali waktu karena tidak ingin membuat orang lain menjadi korban perselisihan mereka, dia berencana menyerahkan kedudukannya sebagai putra mahkota kepada Duryudana namun diingatkan oleh Bisma dan Widura bahwa dia mempunyai hak yang sama dengan Duryudana sebagai penguasa Hastinapura. Namun sayang, sampai saat dimulainya peperangan, Yudistira tidak berhasil meyakinkan banyak negara untuk mendukungnya, dia hanya mampu menghimpun tujuh negara kecil dalam koalisinya.

Adalah wangsa Yadawa, salah satu wangsa besar di India selain wangsa Kuru, dengan negara-negara mereka, Wresni, Bhoja, Kekaya, dan Chedi menyatakan dukungannya kepada Yudistira dan menjadi bagian dari tujuh negara yang nantinya membentuk koalisi yang dibangun Pandawa. Negara Widarba dengan rajanya Rukmi memilih netral, sedangkan Mathura hanya pasukannya saja yang bergabung dengan Pandawa karena Raja Balarama tidak bersedia terlibat langsung dalam pertempuran. Sedangkan negara Dwaraka sendiri dengan Sri Kresna sebagai rajanya, masih belum menentukan sikap kemana arah dukungannya.

Di antara raja-raja wangsa Yadawa tersebut, Sri Kresna adalah yang paling pandai dalam hal strategi perang, bahkan kecerdikannya dalam membuat taktik dan strategi perang adalah yang terhebat di seluruh India. Di bawah komando Kresna, pasukan perang Dwaraka menjadi pasukan terelit di masanya meskipun jumlahnya tidak besar. Tidak ada satu pun peperangan yang tidak mereka menangi, hal ini membuat kota Dwaravati menjadi kota paling indah di seluruh daratan India dan masyarakatnya paling sejahtera dibanding negara-negara lainnya karena kondisi negara yang aman karena tidak ada satu pun negara yang berani mengganggunya.

Sebagai pihak yang masih abu-abu, Sri Kresna pernah mencoba untuk memfasilitasi sebuah perjanjian damai di wangsa Kuru. Kehebatan Sri Kresna dan pasukannya sampai juga ke telinga Duryudana dan Yudistira. Bagi mereka Dwaraka adalah kartu truf untuk meraih kemenangan. Hubungan saudara antara Dewi Kunti, ibu Pandawa dengan Raja Basudewa, ayah Kresna, membuat Yudistira dan adik-adiknya menjalin pertemanan yang akrab dengan Sri Kresna.

Adapun Duryudana sangat tertarik pada Dwaraka berkat nasehat Sengkuni bahwa Dwaraka adalah kekuatan besar yang keberadaannya sangat penting bila ingin meraih kemenangan. Lebih dari itu, sebenarnya Duryudana sendiri sudah mulai kehilangan kepercayaan diri pada pada kekuatan koalisi besar yang telah dia bangun. Meski di belakangnya berdiri orang-orang sakti seperti Bisma, Karna, Rsi Drona dan Raja Salya namun dia tahu kalau selama ini kalau dalam hati orang-orang tersebut lebih menginginkan Yudistira sebagai pemenangnya. Duryudana sadar bahwa harapannya untuk mengajak Raja Balarama dan kekuatan pasukan besar dari Widarba sudah tertutup setelah berkali-kali utusannya selalu ditolak oleh Raja Rukmi.

Dalam keadaan mengambang serta kehebatan pasukan tempurnya, Dwaraka menjadi nilai tawar yang sangat tinggi apalagi Sri Kresna pernah berucap pada istrinya, Dewi Rukmini, jikalau pertikaian antara Duryudana dan Yudistira akan terus membuat jutaan rakyat menderita maka Kresna akan memihak pada salah satu pihak agar bisa segera mengakhiri penderitaan rakyat dan mengembalikan mereka pada keadaan yang lebih baik.

Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Duryudana maupun Yudistira. Pihak Kurawa diwakili oleh Duryudana sendiri sedangkan Pandawa diwakili oleh Arjuna, keduanya menghadap Sri Kresna di Dwaraka untuk saling melobi agar bersedia masuk dalam koalisinya.

"Sama seperti kakakku Balarama, aku tidak terjun langsung dalam peperangan nanti namun karena kalian berdua datang kepadaku dengan harapan yang sama maka aku harus bisa adil pada kalian...", ujar Sri Kresna kepada kedua tamunya.

"Aku akan beri dua pilihan untuk kalian ambil. Pertama, seluruh angkatan perang Dwaraka, lengkap dengan semua persenjataannya. Kedua, aku seorang diri tanpa senjata. Berpikirlah dalam-dalam dan tentukan pilihanmu....".
"Saya memilih tuanku Kresna seorang diri tanpa senjata...", jawab Arjuna dan secara bersamaan Duryudana menjawab, "Saya memilih angkatan perang Dwaraka lengkap dengan persenjataannya...".

"Baiklah, aku sangat senang dan akan mengabulkan permintaan kalian semua...", kata Sri Kresna mengakhiri pertemuan.

Plihan sudah dijatuhkan sesuai keinginan masing-masing tanpa ada rasa penyesalan. Dan, dunia mengetahui kalau kehebatan angkatan perang Dwaraka setara dengan kekuatan dari pasukan seribu negara yang digabungkan menjadi satu namun langit dan bumi pun telah mengakui bahwa Sri Kresna adalah ahli strategi perang yang tiada tandingannya. Sekian.

0 on: "Kisah Sri Kresna Dalam Pusaran Arus Wangsa Kuru"