Tapak Tilas Sejarah Awal Kerajaan di Nusantara : Medang hingga Kalingga [1]

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Ungkapan bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahrgai jasa-jasa para pahlawannya adalah benar adanya. Tidak mungkin suatu bangsa menjadi maju dan sejahtera jika ia tidak belajar dari sejarah masa lalu bangsanya sendiri.

Bahkan mungkin, karena ungkapan di atas itu pulalah yang kemudian menjadi ringkasan ujaran Soekarno ‘Jangan lupakan sejarah’ yang melegenda itu. Ya, karena sejarah adalah merupakan titik tolak dari sebuah masa depan. Karena sejatinya hidup dan kehidupan adalah sebuah mata rantai dari rangkaian panjang sejarah. Mempelajari masa lalu bukan berarti terjebak pada romantisme belaka.

Dari sejarah kita bisa banyak belajar akan makna hidup serta kehidupan, merencanakan sebuah masa depan dan akhirnya sejarah bisa merupakan sebuah identitas multi dimensi yang sangat berpengaruh terhadap karakter pribadi atau pun sebuah bangsa. Sejarah memiliki dimensi luas. Ia tidak hanya berhenti di masa lalu. Sejarah adalah segala kejadian di masa lampu yang berdampak luas pada sendi kehidupan masyarakat.

Dengan belajar sejarah kita dapat mengambil hikmah positif dari kejadian masa lalu untuk digunakan saat ini demi kehidupan masa depan yang lebih baik. Mempelajari sejarah dimulai dengan menginventarisir apa yang ditinggalkannya. Inilah yang kemudian disebut dengan jejak atau tapak tilas sejarah. Tulisan yang sedang sampeyan baca ini adalah tulisan seri pertama yang insya Allah akan berlanjut dalam beberapa postingan terpisah. Pertimbangannya agar sampeyan tidak mblenger bacanya sekaligus untuk mengelompokkan masa sejarahnya.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Umumnya, ketika kita mendengar kata sejarah alam pikir kita langsung mengarah pada kisah raja-raja dan kerajaan. Seperti halnya, perjalanan negara kita ini, Indonesia hingga sekarang ini, tentu bukanlah ujug-ujug (tiba-tiba) terus ada seperti saat ini. Sudah barang tentu dalam prosesnya diwarnai berbagai macam kejadian dan fase yang panjang.

Mulai dari masa pra-sejarah (sebelum ada peradaban) sampai jaman sejarah, jaman kerajaan (dimana masarakatnya mulai mengenal politik, agama dan tulisan) sampai jaman penjajahan dan rentang kejadian lainnya yang tak kalah panjangnya, sampai saat yang kita rasakan sekarang ini.

Masa-masa awal bangsa Indonesia mengenal sistem pemerintahan, huruf serta agama ini adalah jaman pemula. Jaman pemula ini ditandai dengan munculnya berbagai macam kerajaan di Jawa, yang meliputi tatar Sunda (Jawa Barat) Jawa (dalam hal ini mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Karimunjawa sampai Bali).

Pada abad permulaan masehi, menurut catatan Ptolemeus, dikawasan Argype atau Banten tercatat pernah ada sebuah kerajaan yang bernama Salakanegara atau negeri perak. Berdasarkan catatan sejarah ini, jika kemudian kita mengacu pada kisah tentang Aji Saka yang kerajaannya bernama Medang Kamulan ada satu telaah yang menarik untuk kita simak. Kata Medang artinya adalah kerajaan, sementara Kamulan artinya adalah yang pertama. Maka, arti dari Medang Kamulan adalah kerajaan yang pertama.

Sementara kata atau lebih tepatnya nama Aji Saka ini berasal dari bahasa Sansekerta yang kalau kita Indonesia-kan, Aji adalah Raja dan Saka artinya Pertama. Nah, jika bertelekan dari nama Kerajaan Medang Kamulan dan tokoh Aji Saka ini, maka akan timbul satu perandaian (secara pribadi) jangan-jangan tokoh Aji Saka ini adalah Dewawarman I yang berasal dari Hidustan itu.

Dalam teks sejarah yang ada, Salakanegara ini merupakan cikal bakal kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Setidaknya dalam hal ini jika kita mengacu pada naskah Wangsakerta bahwa keberadaan kerajaan Salakanagara dimulai pada tahun 150 mesehi yang raja pertamnya adalah Dewawarman I yang berkelanjutan hingga delapan keturunannya, lebih tepatnya hingga Dewawarman VIII.

Selanjutnya, peta kekuasaan berlanjut ke kerajaan Tarumanegara yang didirikan oleh Resiguru Jayasingawarman pada tahun 358 masehi, yang merupakan menantu Dewawarman VIII. Ia mendirikan kerajaan itu di hulu sungai Ci-tarum sehingga kerajaan tersebut dinamakan Tarumanegara.

Jayasingawarman adalah seorang Resi yang diutus dari negeri Palawa, Hindustan untuk menyebarkan agama Hindu ke penjuru dunia. Hal tersebut dapat ditinjau dari namanya "Resi Rajaguru" yang tak lain adalah merupakan seorang sepiritual agama Hindu. Konon resi satu ini diberangkatkan pada gelombang kedua, setelah sebelumnya yakni gelombang pertama adalah Dewawarman I arau tokoh yang identik dengan Aji Saka yang merupakan pendiri kerajaan Salakanegara.

Untuk digaribawahi, bahwa budaya monarki atau pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Raja adalah budaya yang disebarkan oleh kaum Hindunis hal itu tersirat dari beberapa kitab-kitab tuntunan mereka seperti Bagawangita ataupun Mahabharata yang semuanya penuh dengan epik Kerajaan. Perihal  penyebaran Agama Hindu ini juga dapat ditandai dengan munculnya kerajaan Hindu lainnya yang serupa, yakni Kutai di Kalimantan yang didirikan oleh Raja Kundugga serta Kalingga di Jawa Tengah.

Namun untuk Kalingga tidak ada bukti catatan yang akurat. Hanya di masa Ratu Sima saja, yakni seorang penguasa perempuan yang tercatat dalam sejarah sebagai penguasa Kalingga, namun bisa ditebak bahwa Maharani Sima bukan raja pertamanya tentunya ada raja lainnya sebelum Maharani Sima ini berkuasa.

Ketiga kerajaan di atas bisa dikatakan berdiri dengan rentang waktu yang beriringan. Maka kemudian banyak sejarawan yang beranggapan bahwa pada masa itu ada sebuah pergerakan khusus, yakni misi penyebaran agama Hindu secara besar-besaran ke penjuru dunia yang salah satu cara penyebarannya melalui kebudayaan Kerajaan. Hal inilah yang konon menginspirasi para tokoh dewan Islam, atau kita sering menyebutnya walisongo melakukan hal serupa, yakni  ekspedisi menyebarkan Islam. Agar tidak membias, sementara ini kita khususkan saja membahas tentang kerajaan yang ada di Pulau Jawa, termasuk di dalamnya tatar Sunda tentunya.

Seperti pada sub judul di atas, pertama yang akan kita bahas terlebih dahulu adalah kerajaan Tarumanegara. Setelah era Singawarman berakhir tampuk kerajaan diberikan pada putranya yakni Darmayawarman. Pada masa peralihan inilah kerajaan Tarumanegara mengalami masa kejayaan. Lebih tepatnya saat di bawah kekuasaan Purnawarman, raja ke III Tarumanegara.

Selanjutnya, Purnawarman ini mengawinkan putrinya yang pertama yang disunting oleh pangeran dari Kutai, Kalimantan yaitu Wisnuwarman. Seperti yang tercatat dalam prasasti tugu. Istana kerajaan pada waktu itu dipindahkan ketempat yang lebih dekat pantai yakni istana Sundapura. (namun kerajaannya masih tetap Tarumanegara). Dari sinilah awal mula adanya istilah Sunda.

  1. ·         Raja IV, Wisnuwarman 434 – 455 M.
  2. ·         Raja V, Indrawarman 455 – 515 M.
  3. ·         Raja VI, Candrawarman 515 – 535 M.
  4. ·         Raja VII, Suryawarman 535 – 561 M.
  5. ·         Raja VIII, Kerthawarman 561 – 628 M.
  6. ·         Raja IX, Sudhawarman 628 – 639 M.
  7. ·         Raja X, Hariwangsawarman 639 – 640 M.
  8. ·         Raja XI, Nagajayawarman 640 – 666 M.
  9. ·         Raja XII, Linggawarman 666 – 669 M.


Linggawarman ini adalah raja terakhir, karena pada tahun 669 M, oleh Tarusbawa yang sesungguhnya adalah menantu Linggawarman atau Raja XII ini kemudian menetapkan secara permanen Sundapura menjadi kerajaan yang berdaulat penuh. Serta memindahkan sepenuhnya istana dari kota lama ke Sundapura.

Sedangkan kota lama berganti menjadi Kerajaan Galuh. Adapun yang menjadi rajanya adalah Wretikandayun cicit dari Manikmaya menantu Suryawarman (raja Tarumanegara VII) dari perningkahannya dengan putri Tirta Kencana. Manikmaya adalah pendiri kerajaan Kendan yang terletak di Nangreng; antara Bandung, Limbangan dan Garut. Sedang Linggawarman selain punya menantu Tarusbawa, dia juga mempunyai menantu lain dari putri keduanya Sobakencana yaitu, Dapuntahyang Sri Jayanasa yang merupakan pendiri Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Kendan dan Galuh

Dalam Naskah Wangsakerta dikisahkan bahwa Resiguru Manikmaya adalah seorang resi pengembara yang tiba di Tarumanegara pada masa pemerintahan raja Suryawarman. Lebih lanjut dijelaskan, Manikmaya ini juga sangat berjasa besar berkat saran-sarannya, termasuk didalamnya saran tentang kebijakan mengembalikan kedaulatan pada rakyat dan penguasa-penguasa daerah. Berkat jasa-jasanya itulah kemudian raja Suryawarman mengambilnya sebagai menantu yang dijodohkan dengan seorang putrinya yang bernama Tirta Kencana.

Setelah menjadi menantu raja Suryawarman, kemudian Manikmaya diberi hadiah berupa tanah perdikan, yakni ‘Tanah Kendan’ yang kala itu masih berupa perbukitan untuk dijadikan sebuah kerajaan. Termasuk didalamnya perlengkapan raja dan mahkota serta rakyat untuk memulai atau membangun satu pemukiman baru.

Setelah kepemimpinan Suryawarman berakhir, para pemimpin Tarumanegara berikutnya terbilang pendek-pendek masa kepemimpinannya. Sebut saja di antaranya, Sudhawarman 11 tahun, Hariwangsawarman cuma 1 tahun, Nagajayawarman 26 tahun, Linggawarman (raja terakhir) 3 tahun, hanya Kertawarman  yang memerintah sangat lama, yakni selama 67 tahun.

Pada masa Linggawarman atau raja ke 12 kerajaan Tarumanegara (kerajaan Kendan baru bergulir 4 raja tapi Tarumanegara sudah berganti raja 6 kali) waktu itu sebenarnya kerajaan Tarumanegara telah jatuh ditangan penjajah Dinasti Tang,  akan tetapi pasukan dinasti Tang dapat dikalahkan dan Tarumanegara dapat direbut kembali semua tak lain adalah Wretikandayun yang merupakan raja Kendan ke 4 yang masih punya darah Tarumanegara. Wretikandayun (cicit Manikmaya).

Maka setelah Linggawarman menyerahkan Tarumanegara sebagai kompensasi kepada Wretikandayun. Maka menantu dari Linggawarman yakni Tarusbawa (yang waktu itu masih terbilang muda sekali) kemudian memindah istana Tarumanegara ke Sundapura sepenuhnya. Sedangkan ibu kota lama oleh Wretikandayun diber inama Galuh. Dua Kerajaan tersebut berbatasan oleh arus sungai Citarum. Selengkapnya baca di Sejarah Lengkap Kerajaan Galuh

Wretikandayun seperti yang tertulis dalam lembaran sejarah mempunyai tiga putra dari istrinya yang bernama Manawati, putri dari resi Makandria. Manawati setelah menjadi permaesuri namanya diubah menjadi Candrasemi. Wrwkitandayun dan Candrasemi ini dikaruniai tiga orang putera, yakni ;
  •         Rahiyang Sempakwaja
  •     Rahiyang Kidul
  •     Rahiyang Mandiminyak


Putra yang pertama Wretikandayun, yani Sampakwaja kemudian menikah dengan Pohaci Rababu yang kemudian dikaruniai 3 orang putra, yakni; Damunawan, Purbasora, dan Brakasenawa. Nama yang terakhir, yakni Brakasenawa banyak yang menduga dia adalah hasil perselingkuhan Pohaci Rababu dengan Mandiminyak, adik iparnya sendiri.
Kisah tentang perselingkuhan ini bisa sampeyan baca di Pohaci Rababu : Cinta Yang Menikam dalam Lingkar Kuasa Tatar Sunda

Setelah kejadian tersebut kemudian Sempakwaja lebih memilih meninggalkan istana untuk menjadi seorang pertapa dengan mengasingkan diri di gunung Galunggung. Sementara tahta Galuh Pakuan sendiri kemudian diserahkan pada Mandiminyak, adik bungsu yang sekaligus menyelingkuh istrinya. Keputusan ini sejatinya adalah pahit bagi Sempakwaja, tapi mutlak harus dilakukan karena Rahiyang Kidul cacat secara fisik.

Sementara Mandiminyak sendiri beristrikan Endang Parwati putri dari Maharani Sima, Ratu Kalingga di Jepara. Mandiminyak mempunyai seorang putri bernama Sanaha yang kemudian di jodohkan dengan Brakasenawa anak Sampakwaja yang diduga hasil selingkuhannya. Alhasil kedua saudara Brakasenawa (Damunawan dan Purbasora) merasa iri yang kemudian melakukan kudeta yang dibantu sepenuhnya oleh Indraprasta. Menurut mereka (Damunawan dan Purbasora) kalau sesungguhnya merekalah lebih berhak dari pada Brakasenawa baik menurut garis keturunan ataupun moral.

Setelah dikudeta, Brakasenawa dan Sanaha kemudian mengungsi ke Sundapura. Tapi perpecahan dan api dendam belum selesai sampai di sini. Adalah Rakyan Jambri atau yang lebih dikenal dengan nama Sanjaya yang merupakan anak Brakasenawa dikemudian hari melakukan misi balas dendam. Merebut kembali tahta Galuh, setelah sebelumnya Sanjaya ini mengawini cucu Tarusbawa yang bernama Tejakencana. Sedangkan ayah dari Tejakencana yang didaulat bakal menggantikan ayahnya menduduki tahta Sundapura, meninggal terlebih dahulu. Maka tahta jatuh ke Tejakencana atau Sanjaya. Seterusnya, dengan membawa pasukan Sundapura, Sanjaya pun berhasil menyingkirkan Porbasora dan antek-anteknya.


Sanjaya yang merupakan pewaris sah Galuh kembali menjadi raja. Akan tetapi hanya beberapa tahun saja -- akhirnya Sanjaya pun memberikan tahta Galuh Pakuan kepada Permana Dikusuma yang merupakan cucu Purbasora. Dan Sundapura diserahkan pada putranya Rakai Tamperan. Sementara Sanjaya sendiri mangambil warisan yang terdapat di Kalingga yang dibagi menjadi dua. Sebelah selatan diberikan pada Syailendra dan sebelah utara diberikan pada Sanjaya.

Perubahan Kalingga menjadi Mataram (Hindu)

Dalam prasasti Mantyasih dan Canggal disebutkan bahwa pendiri Mataram adalah Sanjaya (732). Meski sebenarnya waktu itu Mataram ada dua dinasti yakni Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya yang kesemuanya menamakan kerajaannya dengan sebutan Bumi Mataram. Akan tetapi menurut dugaan saya pribadi Bumi Mataram adalah nama lain dari tanah Jawa pada waktu itu. Karena dalam beberapa prasasti tertulis justru "kerajaan: Medang i bumi Mataram" dan "bukan kerajaan mataram" konon kedua wangsa tersebut tak pernah akur, selalu berselisih.

Wangsa Sanjaya menempati Bumi Mataram sebelah Utara dan Saylendra sebelah Selatan. Dengan dua agama yang berbeda; Wangsa Sanjaya Hindu dan Saylendra Budha hal itu ditandai dengan pembangunan Candi Borobudur  (candi bercorak Budha) pada masa raja Indra (raja ke 3 Wangsa Syailendra) dan baru selesai pada Raja Samaratungga, raja ke 4 Wangsa Syailendra.

Adapun raja-raja Wangsa Syailendra adalah:
  1. Bhanu 752-775
  2. Wisnu 775-782
  3. Indra 782-812
  4. Samaratungga 812-833
  5. Pramodawardhani 833-856
  6. Bala Putra Dewa 833-850


Sedangkan Raja-raja dari Wangsa Sanjaya adalah:

  1. Sanjaya 732-760
  2. Rakai Panangkaran 760-780
  3. Rakai Pananggalan 780-800
  4. Rakai Warak 800-820
  5. Rakai Gunung 820-840
  6. Rakai Pikatan 840-856


Sementara kita cukupkan sampai di sini dulu, pada tulisan kelanjutnya kita akan membahas tapak tilas Kerajaan Medang, Bumi Mataram, dan Kahuripan. Nuwun…


Bersambung…

0 on: "Tapak Tilas Sejarah Awal Kerajaan di Nusantara : Medang hingga Kalingga [1]"