Tapak Tilas Sejarah Awal Kerajaan Nusantara : Kuasa Dua Wangsa dan Awal Kerajaan Kahuripan [2]

wangsa sanjaya dan syailendra
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan Tapak Tilas Sejarah Awal Kerajaan di Nusantara : Medang Hingga Kalingga, agar tidak parsial, saya sarankan sampeyan membacanya terlebih dahulu.

Perubahan nama Kalingga menjadi Mataram atau Bumi Mataram memang sejatinya tidak tertulis secara lugas. Seperti halnya Tarumanegara menjadi Sundapura. Maka tak mengherankan pada hal ini banyak menimbulkan spekulasi. Namun, jika kita mengacu pada prasasti Mantyasih sedikit ada titik terang yang cukup untuk menjelaskan. Dalam prasasti Mantyasih menyebutkan bahwa pendiri Medang i Bumi Mataram adalah Sanjaya. Hal ini cukup menjelaskan bahwa Wangsa Syailendra adalah penguasa lanjutan dari kerajaan Kalingga. Medang i Mataram yang didirikan Sanjaya tak lain karena warisan dari buyutnya sendiri, yakni Ratu Sima, Maharani Kalingga.

Tidak hanya sampai di atas semata. Sepertinya suatu hal yang lumrah jika sejarah memang berkait erat dengan perbedaan pendapat dan pandangan. Tentang raja-raja yang pernah berkuasa di Mataram pun tak luput dari perbedaan pendapat ini. Dalam tulisan ini saya kutip yang paling umum saja, yakni pendapat Bosch dan Slamet Muljana.

Dalam pendapatnya Bosch mengatakan bahwa, raja-raja yang termuat dalam prasasti Mantyasih adalah daftar raja-raja dari Wangsa Sanjaya. Pendapat Bosch ini disangkal oleh Slamet Muljana, dalam sangkalannya ia mengatakan bahwa daftar raja-raja tersebut adalah daftar raja yang pernah berkuasa di Mataram. Dalam bahasa lain, Slamet Muljana mengatakan daftar raja-raja tersebut bisa jadi dari Wangsa Sanjaya juga dari Wangsa Syailendra. Pendapatnya ini dikuatkan adanya catatan yang terdapat dalam prasasti Kalasan. Tanpa mengurangi rasa hormat pada pendapat yang lainnya, dalam hal ini saya sependapat dengan Bosch van Naerssen, jika kedua wangsa tersebut berdampingan.

Sedangkan masa kejayaan kedua wangsa ini adalah saling bergantian. Namun bukan berarti saling serang yang kemudian berakibat saling jatuh dan mengalahkan. Kedua wangsa ini tetap pada tempatnya dan eksis berkuasa pada pemerintahannya masing-masing. Seperti yang sudah saya singgung dalam tulisan sebelumnya jika kata ‘Bumi-Mataram’ adalah bukan nama kerajaan akan tetapi merupakan sebutan untuk ‘Tanah Jawa’ pada waktu itu, yang artinya sama dengan sebutan ‘Bumi-Jawa’.

Tapi memang, kata Jawa itu sendiri sampai sekarang belu diketahui secara pasti kapan pertama kali muncul istilah ini. Berbeda dengan kata Sunda yang jelas kapan kata ini muncul. Ketidak jelasan kata atau istilah Jawa ini muncul kali pertama inilah yang kemudian memunculkan pendapat bahwa Wangsa Sanjaya berkuasa dengan kerajaan Medang i Bumi Mataramnya seperti tercatat dalam berbagai prasasti. Sementara Wangsa Syailendra berkuasa dengan kerajaan atas terusan dari Kalingga. Nah, jika kemudian kedua wangsa ini sama-sama menyebut Mataram, itu artinya bahwa Mataram adalah Bumi-nya, bukan kerajaannya.

Bertelekan pada narasi panjang di atas, tentu akan timbul satu pertanyan yang paling mendasar, mengapa bisa demikian?

Baik, mari kita cari tahu jawaban asumsi di atas yang paling mendekati rasional. Jawa Tengah, bisa dikatakan adalah perpustaan terbuka. Banyak prasasti diketemukan di Jawa Tengah ini, mulai dari Jepara, Yogyakarta hingga sampai Pekalongan. Adanya sebaran prasasti ini cukup menjelaskan bahwa dua wangsa ini memimpin secara berkesinambungan dengan tempat yang berbeda-beda (meskipun wangsanya sama). Penyebutan nama Mataram atau Medang pun –dengan sebutan berbeda-beda pada tiap masa kepemimpinan seorang raja antara satu dan lainnya.

Contohnya dalam hal ini, pada jaman Rakai Pikatan menyebutnya ‘Medang mamrati i Bumi Mataram’ artinya Medang waktu itu bertempat di daerah Mamrati, sementara pada jaman Dyah Balitung menyebutnya ‘Madang i Poh Pitu’ yang pusat kotanya berada di Poh Pitu dan sebagainya.

Sedangkan raja-raja selanjutnya adalah Mataram dalam periode baru. Sampeyan bisa baca di pada tulisan pertama pada tautan di awal pembuka tulisan ini. asumsi nama periode baru ini berdasar dari Rakai Pikatan (raja dari Wangsa Sanjaya) yang menikahi Pramoda Wardani putri Samaratungga yang juga pewaris tahta dinasti Syailendra. Dengan kata lain kedua wangsa yang bermusuhan tersebut dapat disatukan dalam satu kerajaan.

Adapun pembangkangan terjadi, karena Samaratungga punya dua putra pewaris tahta. yakni Bala Putra Dewa anak dari perkawinannya dengan seorang putri dari Sriwijaya --yang tak menerima atas perkawinan dan penyatuan dua tahta tersebut. Akhirnya ia pun memberontak dan mengambil alih tahta wangsa Syailendra dari tangan Pramoda Wardhani. Namun, hanya sekejap sampai akhirnya Bala Putra Dewa dapat ditaklukkan Rakai Pikatan, suami dari Pramoda Wardhani. Akhirnya, Bala Putra Dewa pun melarikan diri ke negeri kakeknya, Sriwijaya.

Selanjutnya Mataram era baru tersebut adalah:

7.   Rakai Kayu wangi 856-882
8.   Rakai Watuhumalang 882-899
9.   Rakai Watukura Dyah Balitung 899-915
10. Mpu Daksa 915-919
11. Rakai Layang Dyah Tulodong 919-921
12. Rakai Sumba Dyah Wawa 921-928

Pada masa pemerintahan Rakai Sumba Dyah Wawa, dalam catatan sejarahnya, Mataram sering mendapat serangan dari Sriwijaya. Selain  itu jga disebutkan bahwa pusat pemerintahannya atau ibukotanya kurang strategis, karena seringnya terjadi bencana alam.

Bahkan ada satu catatan yang menyebutkan bahwa meninggalnya Dyah Wawa akibat dari bencana alam, tepatnya bencana gunung meletus. Sepeninggal Dyah Wawa ini kemudian Mahapatih Hino Mpu Sindok Mataram atau Medang I Bumi Mataram pun di pindah ke timur, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur. Di tempat baru inilah lahir wangsa baru, yakni Wangsa Isyana, karena Mpu Sindok bukan dari Wangsa Sanjaya maupun Syailendra.

Sebagai catatan, Mahapatih Hino adalah jabatan setara raja bawahan yang masih ada hubungan kekerabatan dengan raja. Kewenangan Mahapitih Hino ini salah satu di antaranya adalah diberikan kuasa penuh untuk mengambil alih pemerintahan jika kerajaan dalam keadaan genting.

Hanya memang istrinya Mpu Sindok ini masih keturunan Wangsa Sanjaya. Sedangkan Wangsa Isyana sendiri merujuk pada gelar Abisheka Mpu Sindok yang bergelar Sri Isyana Wikramadharmattungga, sedangkan Dyah Wawa sendiri tak tertulis dalam prasasti apapun. Kita tidak pernah tahu, apakah ia meninggal atau entah bagaimana berkaitan sengan suksesi kepemimpinan Mpu Sindok tersebut.

Sekilas Wangsa Isyana
Ditilik dari silsilahnya, Mpu Sindok sejatinya adalah rakyat jelata. Ia menjadi bangsawan karena menikahi Permaswari Dyah Kebi anak Rakai Bawang sekaligus cucu dari Mpu Partha yang mempunyai darah ningrat. Mpu Parta adalah saudara Mpu Daksa, raja Medang ke 10. Mpu Sindok mendapatkan jabatan Mapatih Hino dari kakeknya Dyah Kebi yang dijabatnya sewaktu pemerintahan Mpu Daksa tersebut.

Pada masa itu, jabatan apapun diturunkan kepada anak keturunannya, biasanya kalau anaknya perempuan otomatis jatuh ke menantunya. Dalam kasus ini lain, Mpu Sindok adalah berdauat. Kerajaan Medang yang ia bangun di Tamwalang (Tembelang) adalah kelanjutan dari Medang I Bumi Mataram. Akan tetapi, ditempat baru ini kata ‘Mataram’ itu sendiri makin lama makin tenggelam, justru yang dikenal hingga kini adalah kerajaan Medang.

Kerajaan Medang ini dalam sejarahnya terjadi empat kali suksesi kepemimpinan, yakni ;

13.   Empu Sindok 929-947 Masehi.

14.  Sri Lokapala yang seorang adalah menantu. Lokapala ini adalah pangeran dari Bali yang menikah dengan putri Mpu Sindok, Sri Isyanatungga Dewi. Diterangkan dalam berbagai prasasti : Isyanatungga Dewi lebih berkuasa daripada suaminya yang hanya menemaninya. Sementara masa berakhir kepemimpinannya pun tidak tercatat dalam sejarah. Tapi diperkirakan masa jabatannya bermula pada tahun 947 Masehi.

15.   Makutawangsawardhana.

16.   Darmawangsa Teguh naik Tahta pada tahun 990 Masehi.


Dalam prasasti Pucangan (dibuat semasa Airlangga berkuasa) disebutkan bahwa Makutawangsawardana mempunyai anak yang bernama Mahendradatta yang kemudian diperistri raja dari Bali, yakni Sri Udayana. Pasangan inilah yang kemudian melahirkan Airlangga. Sedangkan susunan raja Medang setelah Makutawangsawardhana naik tahta pada tahun 990 Masehi adalah Darmawangsa Teguh. Dari sini ada benang merah jika sebenarnya Darmawangsa Teguh adalah adik dari Mahendradatta, ia mewarisi tahta dari Makutawangsawardhana.
 Kerajaan Kahuripan

Darmawangsa Teguh adalah raja terakhir Medang periode Jawa Timur.  Pada masa pemerintahan Darmawangsa Teguh ibukota pemerintahannya yang awalnya berada di Tamwalang dipindahkannya ke daerah Watan.  Pada tahun 1006 Masehi, raja Darmawangsa Teguh tewas ketika pasukan Wora-Wari dari Lawarm yang merupakan bawahan Sriwijaya menyerang kerajaannya. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan ‘Mahapralaya’ karena Medang diserang pada malam hari ketika sedang ada hajatan pesta perkawinan putra dari raja Darmawangsa Teguh.

Airlangga, ketika terjadinya peristiwa tersebut sejatinya udah dalam perjalanan menuju Medang untuk menghadiri pesta pernikahan sepupunya tersebut. Sesampainya di Medang ia hanya mendapati puing-puing kerajaan Medang yang sudah hancur dan bangkai-bangkai berserakan termasuk mayat Darmawangsa Teguh sendiri yang ikut terbunuh dalam peristiwa itu. Karena tidak ada pewaris tahta yang tersisa, oleh para punggawa dan rakyat Medang yang masih tersisa, Airlangga diminta melanjutkan tahta Medang.

Tercatat dalam prasasti Pucangan, Airlangga mendirikan Kerajaan Medang kembali pada tahun 1009 Masehi sebagai penerus kerajaan Wangsa Isyana. Dengan mengganti kota Watan menjadi Watan Mas di sekitar gunung Pananggungan sebagai ibukota baru. Namun karena sering mendapat tekanan dari Sriwijaya maka kerajaan pun sering berpindah-pinah. Dari gunung Pananggungan ke Sidoarjo sampai pada tahun 1023. Ketika Sriwijaya ditaklukkan oleh raja  Colamandala dari India, Airlangga pun memindahkan kerajaan yang semula berada di Watan Mas (menurut prasasti Pamwatan) justru pindahnya ke daerah Daha atau Panjalu, kini Kediri.

Kata ‘Kahuripan’ itu sendiri artinya adalah penghidupan. Dalam hal ini bisa saja dimaknai sebagai menghidupkan kembali wangsa-nya, yakni Isyana. Kerajaan Kahuripan di Daha tercatat sebagai kerajaan yang mampu berkuasa penuh seluruh Jawa dan Bali.


Bersambung…..

0 on: "Tapak Tilas Sejarah Awal Kerajaan Nusantara : Kuasa Dua Wangsa dan Awal Kerajaan Kahuripan [2]"