Intisari Andharan Piwulang Kautaman Hidup Orang Jawa

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Sepanjang sejarah hidup manusia, pertanyaan tentang makna hidup akan terus bergulir. Siapa saya? Apa yang saya cari? Untuk apa saya ada?

Ternyata, para pewaskita Jawa di masa lampau telah merumuskan berbagai kawruh atau ajaran mengenai pencarian makna hidup, baik itu berupa ucapan maupun perbuatan. Ya, bagi orang Jawa, segala sesuatu memiliki maknanya tersendiri. Semuanya mengandung makna filosofi yang spesifik. Orang Jawa memiliki nilai, keyakinan, kesadaran, pengetahuan yang terejawantahkan dalam falsafah ajaran hidup orang Jawa.

Falsafah ajaran hidup itu sendiri bisa dalam bentuk tersurat, ada pula yang tersirat. Ada yang berupa pesan-pesan langsung, ada pula yang diwujudkan dalam berbagai simbol tertentu. Dan memang, orang Jawa sangat suka akan simbol-simbol (perlambang) untuk menyampaikan pesan-pesan. Dan harus kita akui, sekarang ini banyak ilmu Jawa yang sudah tidak diketahui oleh orang Jawa sendiri, bahkan sebagian besar telah ditinggalkan.

Pandangan filosofis Jawa yang paling sering kita dengar adalah tentang “sangkan paraning dumadi”, yang dituangkan dalam bentuk tembang macapat  “Dhandhanggula”. Secara tersirat, kehidupan manusia didalam tembang tersebut diibaratkan dengan ungkapan “manungso urip ono ing donya iku prasasat mung mampir ngombe” yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah bahwa manusia hidup di dunia ini ibarat hanya singgah untuk minum.

Dalam pandangan orang Jawa, keberadaan manusia di dunia ini dipandang sangat singkat karena hanya singgah sebentar saja dan nantinya akan melanjutkan perjalannya menuju ke alam selanjutnya, yaitu alam kelanggengan. Oleh karenanya dunia tempat manusia ini disebut dengan “alam madya” atau dunia fana. Dari “alam madya” ini manusia kemudian melanjutkan perjalannya menuju ke alam akhir, alam kelanggengan yang disebut dengan “alam wasana”.

Alam kelanggengan atau “alam wasana” ini merupakan tempat berakhirnya tujuan hidup manusia. Namun demikian, alam kelanggengan ini juga merupakan alam dimana manusia berawal mula atau “alam purwa”. Dengan demikian alam kelanggengan ini adalah asal sekaligus tujuan akhir kehidupan manusia. Itulah hakekat dari perkataan kembali ke asal mula.

Karena manusia hidup di “alam madya” ini hanya sebentar, waktunya hanya singkat, dibandingkan dengan di alam kelanggengan yang abadi, sudah sepantasnya kesempatan ini dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Di periode  inilah  manusia ditentukan nasibnya kelak, ditentukan sesuai dengan apa yang telah diperbuat semas hidupnya di alam sementara ini. 

Di periode kehidupan yang singkat  ini berlaku hukum “ngundhuh wohing panggawe”, dimana manusia akan bertanggung jawab sendiri-sendiri atas apa yang telah diperbuatnya di “alam madya” ini. Jika manusia melakukan banyak kebajikan di dalam hidupnya, tentu kelak akan memperoleh tempat yang baik pula  di alam kelanggengan. 

Sebaliknya, bila berbuat buruk, maka di alam kelanggengan pun manusia akan mendapatkan tempat yang buruk. Dengan memahami ajaran tentang  asal mula dan tujuan akhir hidupnya, manusia diharapkan akan selalu menumbuh suburkan perilaku-perilaku yang terpuji dan yang mulia. Dengan melakukan tindakan-tindakan yang terpuji dan mulia, manusia diharapkan akan sampai pada tingkatan hidup yang secara spiritual disebut sebagai “jalma pinilih” atau manusia terpilih.

Sebagai “jalma pinilih”, manusia diharapkan sudah mampu mengatur dirinya sendiri, mampu mengendalikan diri dan mampu menjaga tindakan serta sikapnya tanpa lepas dari kesadaran bahwa dirinya adalah mahkluk ciptaan Tuhan. Tidak hanya itu saja, manusia juga mampu untuk senantiasa menjaga dan memelihara ketentraman serta membawa perdamaian di dunia atau “memayu hayuning bawono”, sebagaimana yang telah Tuhan perintahkan. Tuhan Sang Pencipta, dimana asal mula dan tujuan akhir manusia kelak akan kembali.

Dalam falsafah ajaran hidup orang Jawa memiliki tiga aras dasar utama, yakni aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam wujud budi pekerti luhur. Maka di dalam falsafah ajaran hidup orang Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) kautaman. Meski secara alamiah manusia sudah terbekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar dan salah serta perbuatan baik dan buruk.

Maka peranan Piwulang Kautaman adalah upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut serta mengajarkan kepada manusia untuk selalu memilih perbuatan yang benar dan baik menjauhi yang salah dan buruk. Namun demikian, pemilihan yang benar dan baik saja tidaklah cukup untuk memandu setiap individu dalam berintegrasi dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat.

Oleh karena itu, dalam Piwulang Kautaman juga diajarkan pengenalan budi luhur dan budi asor dimana pilihan manusia hendaknya kepada budi luhur. Dengan demikian setiap individu atau person menjadi terpandu untuk selalu menjalani hidup bermasyarakat secara benar, baik dan pener (tepat, pas). Cukup banyak piwulang kautaman dalam ajaran hidup cara Jawa.

Ada yang berupa tembang-tembang sebagaimana Wulangreh, Wedhatama, Tripama, dll. Ada pula yang berupa sesanti atau unen-unen yang mengandung pengertian luas dan mendalam tentang makna budi luhur. Sebut saja misalnya, tepa selira dan mulat sarira, mikul dhuwur mendhem jero, dan alon-alon waton kelakon. Filosofi yang ada dibalik kalimat sesanti atau unen-unen tersebut tidak cukup sekedar dipahami dengan menterjemahkan makna kata-kata dalam kalimat tersebut. Oleh karena itu sering terjadi ”salah mengerti” dari para pihak yang bukan Jawa. Juga oleh kebanyakan orang Jawa sendiri.

Akibatnya ada anggapan bahwa sesanti dan unen-unen Jawa sebagai anti-logis atau dianggap bertentangan dengan logika umum. Akibat selanjutnya berupa kemalasan orang Jawa sendiri untuk mendalami makna sesanti dan unen-unen yang ada pada khasanah budaya dan peradabannya. Namun kemudian, sesanti dan unen-unen tersebut dijadikan olok-olok dalam kehidupan masyarakat.

Mulat sarira dan tepa selira diartikan bahwa Jawa sangat toleran dengan perbuatan KKN yang dilakukan kerabat dan golongannya. Mikul dhuwur mendhem jero dimaknai untuk tidak mengadili orangtua dan pemimpin yang bersalah. Alon-alon waton kelakon dianggap mengajarkan kemalasan. Padahal ajaran sesungguhnya dari sesanti dan unen-unen tersebut adalah pembekalan watak bagi setiap individu untuk hidup bersama atau bermasyarakat. Tujuan utamanya adalah terbangunnya kehidupan bersama yang rukun, dami dan sejahtera. Bukan sebagai dalil pembenar perbuatan salah, buruk, dan tergolong budi asor.

Makna dari mulat sarira dan tepa selira adalah untuk selalu mengoperasionalkan rasa pangrasa dalam bergaul dengan orang lain. Mulat sarira, mengajarkan untuk selalu instropeksi akan diri sendiri.

Kesadaran untuk selalu instropeksi pada diri sendiri akan melahirkan watak tepa selira, berempati secara terus menerus kepada sesama umat manusia. Kebebasan individu akan berakhir ketika individu yang lain juga berkehendak atau merasa bebas. Maka pemahaman mulat sarira dan tepa selira merupakan bekal kepada setiap individu yang mencitakan kebebasan dalam hidup bersama-sama, bukan?

Mikul dhuwur mendhem jero, meskipun dimaksudkan untuk selalu menghormat kepada orangtua dan pemimpin, namun tidak membutakan diri untuk menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Karena yang tua dan pemimpin juga memiliki kewajiban yang sama untuk selalu melakukan perbuatan yang benar, baik dan pener. Justru yang tua dan pemimpin dituntut ”lebih” dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur. Orangtua yang tidak memiliki budi luhur disebut tuwa tuwas lir sepah samun. Orangtua yang tidak ada guna dan makna sehingga tidak pantas ditauladani.

Pemimpin yang tidak memiliki budi luhur juga bukan pemimpin. Alon-alon waton kelakon, bukan ajaran untuk bermalas-malasan. Namun merupakan ajaran untuk selalu mengedepankan watak sabar, setia kepada cita-cita sambil menyadari akan kapasitas diri. Contoh yang mudah dipahami ada dalam dunia pendidikan tinggi.

Normatif setiap mahasiswa untuk bisa menyelesaikan kuliah Strata I dibutuhkan waktu 8 semester. Namun kapasitas setiap mahasiswa tidaklah sama. Hanya sedikit yang memiliki kemampuan untuk selesai kuliah 8 semester tersebut. Sedikit pula yang prestasinya cum-laude dan memuaskan. Rata-rata biasa dan selesai kuliah lebih dari 8 semester. Dengan mengedepankan ajaran alon-alon waton kelakon, maka mahasiswa yang kapasitas kemampuannya biasa-biasa akan selesai kuliah juga meskipun melebihi target waktu 8 semester.

Makna positifnya mengajarkan kesabaran dan tidak putus asa ketika dirinya tidak bisa seperti yang lain. Landasan falsafahnya, hidup bukanlah kompetisi tetapi lebih mengutamakan kebersamaan. Banyak pula kita ketemukan Piwulang Kautaman yang berupa nasehat atau pitutur yang jelas paparannya.

Sebagai contoh saja misalnya ; Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”. Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing durung kelakon. Saupama nyumurupana, prayoga aja diblakakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi.

Arti secara bebasnya adalah ;
“Dalam setiap perbuatan hendaknya jangan sok berani memastikan, sebab banyak sambekala (halangan) yang tidak bisa diramal datangnya pada “perjalanan hidup” (lelakon) manusia.
Sebagaimana disebut dalam kalimat peringatan “bahwa manusia itu memang wajib berihtiar, namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”.

Maka sesungguhnya manusia itu tidak semestinya mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Seandainya mengetahui (kejadian yang akan datang), kurang baik kalau diberitahukan kepada orang lain, karena akan mendatangkan bencana (bilahi). ”Piwulang Kautaman memiliki aras kuat pada kesadaran ber-Tuhan. Maka sebagaimana pitutur diatas, ditabukan mencampuri “hak prerogatif Tuhan” dalam menentukan dan memastikan kejadian yang belum terjadi. Nuwun.

2 on: "Intisari Andharan Piwulang Kautaman Hidup Orang Jawa"
  1. Piwulang itu apa mas ul ul ??
    Saya pun dikasi tahu piwulang tp isinya banyak tp isinya beda

    BalasHapus
  2. Piwulang itu apa mas ul ul ??
    Saya pun dikasi tahu piwulang tp isinya banyak tp isinya beda

    BalasHapus