Roman Picisan Raden Palasara-Dewi Durgandini

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Parasara dikhianati kekasihnya. Dewi Sukasih meninggalkannya begitu saja dan menikah dengan laki-laki lain. Padahal Sukasih pernah berjanji di hadapan Parasara.

“Aku akan mencintaimu sampai kapan pun meski ayah ibuku tak merestui rencana pernikahan kita,” begitu kata Dewi Sukasih.

Parasara sakit hati. Harapan untuk mempersunting Dewi Sukasih musnah begitu saja seperti tumpukan kertas dilalap api. Dadanya terbakar amarah. Sumpah serapah tak bisa dicegah. Ia baru menyadari bahwa dirinya hanya terjerat rayuan gombal Sukasih yang suka mengumbar janji-janji manis.

“Maling hanya mencuri harta-benda. Tapi seorang penipu telah mencuri akal, hati dan perasaanku. Ini sebuah kejahatan yang sulit dimaafkan!” tulis Parasara dalam buku hariannya. Lembaran-lembaran itu penuh coretan. Parasara tak ingin orang lain tahu penderitaannya. Segala beban perasaannya ia tumpahkan dalam buku harian. Ia tak ingin disebut lelaki cengeng dan pantang mengeluh pada siapapun meskipun hatinya serasa diiris-iris pisau karatan. Pedih.

“Sudahlah Parasara. Lupakan mantan pacarmu itu. Biarkan Sukasih mencari kebahagiaannya sendiri bersama laki-laki pilihannya. Anggap saja ia seperti angin. Datang dan pergi dan tak perlu disesali.” Begitulah nasehat sang ibu, Dewi Nilawati. Dialah wanita yang paling bisa memahami perasaan putranya.

“Kau juga berhak mencari dan menemukan kebahagiaan. Jangan pernah berpikir ke belakang. Biarlah Sukasih menjadi masa lalu yang kelabu. Buang namanya dari ingatanmu. Lupakan wajah dan tingkah lakunya. Delkon kontak BBM-nya. Ibu tahu, kau punya kenangan indah yang tak bisa kau lupakan. Ibu masih ingat, dulu kau pernah memuji Sukasih setinggi langit sebagai wanita yang setia dan berhati bersih. Tapi apalah artinya semua itu kalau sekarang…” Dewi Nilawati memotong ucapannya karena tak ingin putranya hanyut dalam kesedihan.

Sebagai sosok ibu yang penuh pengertian, wanita paruh baya ini hanya menyarankan agar Parasara melakukan olah batin agar jiwanya kembali tenang. Agar hatinya kembali bersih dan bebas dari rasa tertekan. Parasara tak bisa berkata apa-apa. Seandainya ia seorang wanita, mungkin pipinya sudah berlinang air mata. Tapi ia bertekad untuk tidak menangis, betapapun berat penyesalannya. Yang ia sesali bukanlah kepergian Sukasih, tapi waktu yang tersia-sia. Delapan tahun menunggu Sukasih, hasilnya hanyalah sebuah penolakan mentah dari keluarganya. Ayah dan Ibu Sukasih menolak Parasara jadi menantunya.

“Resi Manumayasa pernah berpesan agar anak cucunya membiasakan diri melakukan samadi di tempat sunyi untuk menyucikan hati. Pergilah anakku ke suatu tempat yang menurutmu bisa menghadirkan kedamaian.” Tanpa disadari, Dewi Nilawati menitikkan air matanya.

“Bertanyalah pada diri sendiri apa saja penyebab kegagalanmu selama ini. Mintalah petunjuk pada Tuhan agar diberi keselamatan dan kemudahan dalam menjalani hidup ini. Percayalah, Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan siapapun yang mau berdoa dan menyesali kekeliruannya. Tuhan akan memberi ganti segala sesuatu yang hilang dari sisimu. Ibu hanya bisa berdoa semoga kau mendapat jodoh yang lebih baik.” Lagi-lagi, Parasara hanya bisa diam, tak kuasa merangkai kata-kata. Namun hatinya berjanji akan melupakan Sukasih yang telah memberinya kenangan perih.

--- 000 ---

Berbulan-bulan Parasara melakukan tapa brata. Menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Ia bersamadi di sebuah goa di sebuah bukit sunyi berhawa dingin. Dalam pertapaannya Parasara merenung dan mawas diri.

Banyak pengalaman dan ilham yang didapat dari sini. Parasara terhibur hatinya oleh tingkah sepasang burung beo yang bersarang di dinding gua, tak jauh dari tempat duduknya. Burung itu bertelur dan menetas. Parasara jatuh iba karena si induk meninggalkan begitu saja telur-telur yang telah menetas. Timbullah niat dalam dirinya untuk mengejar si induk agar mau kembali ke sarang dan menjenguk anak-anaknya.

“Aku harus mencarinya sampai ketemu,” bisik Parasara.

Hari itu juga Parasara meninggalkan goa dan berlari cepat. Aneh, setelah bertapa beberapa bulan tubuhnya terasa ringan bagai kapas diterbangkan angin. Parasara bisa lari kencang tanpa merasa lelah. Ia memperoleh kekuatan linuwih yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Pikiran Parasara juga kian tajam dan mampu menangkap tanda-tanda jaman. Tak begitu lama Parasaya berhasil menemukan induk beo yang sedang bertengger di sebuah dahan pohon besar. Ia menyeru agar burung beo itu mau kembali ke sarangnya.

“Hai burung beo, tengok anak-anakmu. Mereka bisa mati jika tak kauberi makan,” seru Parasara. Tapi burung itu hanya bergeming, pura-pura tak mendengar seruan Parasara. Malah beo itu kembali terbang menjauhi Parasara.

“Jangan lari,” teriak Parasara.
“Kami mau kembali ke sarang setelah kau mau mengejarku sampai mendapatkan sesuatu,” kata beo.
“Kejar aku sampai kau menemukan apa yang kauinginkan. Bukankah kau sengaja bertapa karena ingin mendapatkan sesuatu?” tantang si beo.
Tak lama kemudian terdengar pesan tanpa rupa. Suaranya menggema penuhi angkasa.

“Benar, Parasara. Pertapaanmu tidak sia-sia. Kau telah berhasil mengendalikan diri, maka kau berhak mendapat ganjaran yang setimpal. Ikutilah burung itu sampai kau menemukan sesuatu.” Parasara memandang ke langit disertai perasaan heran.

“Siapa kau? Tampakkan dirimu.” Tiba-tiba muncul sosok lelaki tua berjubah putih. Janggutnya panjang. Sorot matanya tajam penuh wibawa.
“Akulah Resi Manumayasa. Bersyukurlah pada Tuhan. Sebentar lagi jodohmu akan datang. Kau akan dipertemukan dengan seorang wanita yang cerdik, cantik dan baik hati. Ikutilah kemana arah burung itu terbang…” Sang Resi tiba-tiba menghilang.
“Resi!”
--- 000 ---

Parsara mengikuti ke mana arah burung itu terbang, dan sampailah di sebuah tempat hunian penduduk. Di perbatasan kampung Parasara bertemu dengan seorang gadis semampai berkulit bersih. Dengan senyum manis wanita itu menyambut kedatangan Parasara. Keduanya berkenalan dan saling tatap.
“Namaku Durgandini. Terserah Kakang mau panggil siapa.”
“Durgandini?”
“Ya, kenapa Kakang terkejut?”
“Durgandini putri Prabu Basukiswara?”
“Benar, Kakang.”
“Kalau begitu, dulu kau adalah teman bermain saat kita masih kanak-kanak.” Parasara tak menyangka bakal bertemu dengan kawan lama.

Masih segar dalam ingatan Parasara, waktu itu ia dan Durgandini kecil bermain di taman kerajaan Wirata. Keduanya bersenda gurau penuh ceria. Suatu ketika ayah Durgandini, Prabu Basukiswara memergoki keduanya sedang bermain petak umpet. Keduanya amat bahagia. Namun begitu melihat kedatangan Sang Prabu, keduanya diam kemudian memberi penghormatan. Sambil menyunggingkan senyum penuh kasih, Sang Prabu memanggil Parasara dan Durgandini. Keduanya ditepuk-tepuk bahunya, kemudian dielus-elus kepalanya. Hap!

“Kenapa Kakang melamun?” kata Durgandini sambil mencubit lengan Parasara.
“Ah, tidak ada apa-apa.” Parasara gelagapan.
“Jangan bohong. Kakang pasti sedang membayangkan sesuatu. Ayo, ngaku saja.”
“Ah, Dinda tahu aja.” Keduanya tertawa bahagia.

Si beo yang sejak awal mengamati tingkah keduanya tiba-tiba bersenandung keras melantunkan syair lama milik Katon Bagaskara: Dinda di manakah kau berada, rindu aku ingin jumpa…

Parasara dan Durgandiri celingak-celinguk mencari sumber suara.

“Aku sudah menuruti kemauanmu. Sekarang giliranmu harus menuruti keinginanku. Pergilah dan tengok anak-anakmu. Mereka sangat merindukan kedatanganmu,” teriak Parasara.

“Oke-oke. Aku akan segera pergi. Aku takkan menggangu keasyikan kalian,” ejek si beo. Burung itu terbang meninggalkan Parasara dan Durgandini. Sekian. Nuwun.

0 on: "Roman Picisan Raden Palasara-Dewi Durgandini"