Pernikahan Antara Manusia dan Jin, Mungkinkah?

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Supranatural. Apa yang terlintas dalam benak sampeyan ketika mendengar kata Supranatural seperti istilah dalam pembuka tulisan ini? Misterius, begitulah pendapat banyak orang. Tak banyak orang yang mampu menyingkap tabir misteri supranatural, baik itu tentang perbedaan supranatural dan mistis, terlebih untuk membuktikan kebenarannya.

Saking banyak definisi dan kemisteriusan supranatural ini maka tak mengherankan jika ada wacana unik dan menarik di dalamnya, bahkan terkesan nyeleneh. Suka tidak suka membuat dahi kita mengkerut, saking kontroversialnya. Tapi tak bisa kita pungkiri, di lain sisi wacana nyeleneh tersebut dipercayai banyak orang. Seperti pada judul tulisan ini, pernikahan antara jin dan manusia. Mungkinkah itu terjadi?

Namun, berpulang pada Hak Asasi Manusia, setiap orang berhak mempercayai dan setiap orang pun berhak untuk tak mempercayainya. Saya tidak hendak berpolemik disini. Saya menulis ini hanya sekedar mendekatkan fenomena nyeleneh tersebut dalam kerangka logika berpikir saja. Tentu dalam hal ini berdasar atas pemikiran saya semata, tentang pembenaran dan sebangsanya itu tidaklah penting. Anggap saja sebagai sebuah wacana. Setuju!

Baik, salah satu wacana yang menarik dan hingga saat ini menjadi kontroversi dalam ranah supranatural adalah menikah dengan jin. Istilah umum yang populer adalah menikah dengan makhluk halus alias jin atau siluman ataupun nama sebangsanya dengan itu. Pertanyaannya kemudian, apa memang ada dan bisa seorang manusia menikah dengan jin?

Monggo kisanak menarik kesimpulan jawaban sendiri melalui pembabaran sederhana setelah tulisan ini selesai sampeyan baca, mengingat masing-masing orang pasti berbeda persepsi dan pandangan. Konon, menurut cerita mistis, orang-orang melakukan pernikahan dengan jin biasanya punya ekspektasi agar dirinya sakti atau untuk tujuan kemakmuran alias kekayaan. Paling umum dalam kehidupan dalam masyarakat ketika seseorang menikah dengan jin dihubung-hubungkan dengan pesugihan. Konon, bila seseorang ingin terbantu kekayaannya bisa melalui menikah dengan jin tertentu.

Sering kita mendengar ada seseorang yang menikah dengan jin, bahkan mempunyai anak hasil pernikahannya dengan jin. Sebagian orang meyakini kebenarannya, dan tentunya sebagian lagi menyanggah kebenarannya. Yang menjadi pertanyaan, dan patut ditelisik kembali, bagaimana bisa dua makhluk yang berlainan dimensi, berlainan unsur materialnya dapat bersatu (bersenggama) dan melahirkan anak?

Dalam sebuah keterangan, - khususnya dalam khazanah Muslim, disebutkan bahwa manusia berasal dari tanah dan jin merupakan makhluk dengan unsur api (ether api). Apa mungkin tanah dan api dapat menyatu?

Seandainya mengacu pada ilmu kimia, jika unsur tanah dan unsur api menyatu, bagaimana unsur senyawa atau unsur turunannya?

Mari kita menelisik lebih dalam. Logikanya, kelahiran anak manusia diawali proses seksual antara dua manusia berlawanan jenis kelamin. Sperma manusia laki-laki bertemu dengan sel telur manusia perempuan pada proses pembuahan di dalam rahim manusia perempuan, itu yang menjadi cikal bakal manusia baru (embrio).

Lalu dalam persenggamaan silang, yang berbeda unsur, apakah mungkin dua benih dari unsur berlainan dapat menyatu menjadi cikal bakal anak? Apa bisa sperma manusia membuahi sel telur jin, atau sebaliknya?

Bagaimana bisa, misalnya dalam proses seksual, tubuh fisik manusia yang kasar bersentuhan dengan tubuh astral jin yang halus. Atau jangan kelewat jauh, sebelum menelisik kembali pernikahan dengan jin, mengenai pernikahan beda makhluk atau beda jenis, kita bayangkan bagaimana bila seorang manusia menikah dengan binatang?

Jikapun mungkin ada beberapa manusia yang menikahi binatang, apa kita pernah menemukan seperti apa dan bagaimana anak hasil dari pernikahan itu?

Proses persetubuhan manusia dan hewan secara fisik sangat bisa terjadi, tapi hasilnya kita belum menemukan anak hasil persetubuhan itu. Dari kacamata kemanusiaan, pernikahan seperti itu dalam konteks norma manapun pasti dianggap sebagai penyimpangan.

Pernikahan diinterpretasikan sebagai komitmen ikatan fisik dan nonfisik (emosional) sepasang manusia berlainan jenis. Pernikahan itu dinyatakan sah jika melalui tata cara tertentu dan dilegalkan oleh lembaga dan institusi yang berwenang.

Dalam sebuah versi, Bunian adalah sejenis makhluk halus yang bentuknya menyerupai manusia dan tinggal di tempat-tempat sepi yang sangat jarang dijamah manusia. Kisah mistis bunian ini terkenal di beberapa daerah di nusantara. Pendapat lain mengatakan bahwa bunian adalah sebutan sebuah kampung misterius yang dihuni oleh makhluk-makhluk halus. Versi lain pun berpendapat, bunian dianggap sebagai makhluk blasteran manusia dan makhluk halus alias jin. Bentuk fisik bunian ini hampir mirip manusia, perbedaannya dari ukuran fisik bertubuh kecil, berbulu lebat dan berkaki terbalik.

Beberapa orang yang melakukan penelitian menyimpulkan bahwa bunian ini adalah komunitas manusia hutan, karena dari informasi yang dihimpun banyak menggambarkan ciri-ciri fisik bunian ini seperti manusia; bertubuh kecil dan berbulu abu-abu hinga coklat. Bunian diklasifikasikan sebagai makhluk bagian yang hilang dari rantai evolusi manusia kera, mereka menyebutnya "kera misterius". Hingga kini, berbagai penelitian untuk membuktikan eksistensi keberadaan bunian belum membuahkan hasil yang dapat dijadikan bukti otentik dan referensi mengenai bunian.

Ini mistis, bagaimana dengan para ilmuwan supranatural? Tentu meneliti dengan teknologi dan tentunya mencari dimensi bunian menggunakan kemampuan Astral Traveller seraya berdoa. Inilah bentuk supranatural yang sebenarnya, supranatural adalah Ancient Science yang merupakan bagian dari hukum 3 usaha.

Selain fenomena bunian, banyak yang menganggap pernikahanan dengan jin itu ada dan menghasilkan anak blasteran. Pernikahan manusia dengan jin kemungkinan menghasilkan anak blesteran dengan kombinasi fisik dan sifat berbeda-beda. Konon, bila ayahnya manusia dan ibunya jin, hasil pernikahan itu membuahkan anak jin yang memiliki bentuk dan sifat layaknya manusia namun ia tidak terlihat manusia lain, yang dapat melihatnya hanya orang tua dan sebagian orang-orang tertentu saja. Dan konon lagi, jika ibunya manusia dan ayahnya jin, anak hasil perkawinan itu berwujud manusia yang bisa dilihat namun memiliki perbedaan mencolok dibanding anak manusia murni lain.

Perbedaan itu bisa dari segi fisik, seperti distorsi bentuk tubuh yang berbeda dengan manusia murni normal, dari sifat dan mental pun sedikit berbeda, cenderung seperti memiliki keterbelakangan mental, bahkan condong disamakan dengan abnormal. Selama kajiannya menggunakan kata "konon" maka itu belum terbukti kebenarannya.

Tuhan Yang Mahakuasa telah menentukan makhluk itu berpasang-pasangan sesuai dengan ras dan golongannya. Jika ada makhluk yang menjalin pernikahan dengan makhluk berbeda, itu adalah bentuk penyimpangan. Efek dari penyimpangan ini berhubungan dengan habitat, sifat dan kebiasan yang akan menimbulkan bentrokan bagi keseimbangan kosmos.

Hukum semestanya, jin menikah dengan jin lain dalam satu ras di dalam satu dimensinya. Manusia menikah dengan manusia lain di dimensi ketiga (Buana Panca Tengah / Midgard). Kalau ada yang mengaku ia menikah dengan jin, yang perlu dipertanyakan adalah bentuk pernikahan itu seperti apa, dimana dan siapa yang menikahkannya?

Lalu, dari aspek mana pernikahan itu dinilai sah? Kalau mengacu pada kemungkinan, seseorang menikah dengan jin tanpa ada saksi yang membenarkan pernikahan itu terjadi, itu mungkin bisa dikatakan hanya sensasi imajinatif.


Dan kalaupun seseorang mengaku telah menikah dan bisa bersetubuh dengan jin, bagaimana dan seperti apa persetubuhan itu. Apakah melibatkan sensasi yang terasa oleh fisik sebagaimana sensasi seksual dua manusia murni? Atau hanya melibatkan sensasi perasaan saja? Monggo menarik kesimpulan sendiri. Nuwun. 

0 on: "Pernikahan Antara Manusia dan Jin, Mungkinkah?"