Syekh Siti Jenar : Aku Bukan Tuhan (Sebuah Pengakuan) [3]

Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Masih tentang sosok kontroversial, Syekh Siti Jenar dan sekaligus menyambung dua tulisan sebelumnya, Siti Jenar : Guru Mistik Sejati Penggoyang Kemapanan Demak dan Siti Jenar : Guru Mistik Sejati dan Saripati Ajarannya. Pada tulisan ketiga ini akan saya sarikan tentang pengakuan Siti Jenar bahwasanya dia bukanlah Tuhan seperti yang sering kita dengar dan baca dari berbagai tulisan selama ini.

Sebelum saya ajak kisanak membincang pengakuan sosok fenomenal karena kekontroversialnya ini, terlebih dahulu saya akan mengajukan pertanyaan sederhana untuk sampeyan semua. Pertanyaan ini sederhana, apa yang terlintas dalam benak sampeyan ketika mendengar nama Syekh Siti Jenar?

Saya tidak mengatakan seluruhnya, tapi pada umumnya ketika mendengar atau menjawab pertanyaan di atas, biasanya pikiran kita langsung tertuju pada sosok seorang wali yang mempunyai kepribadian aneh, dan tentu saja lengkap dengan kontroversialnya. Benar demikian?

Ya, harus kita akui, selama ini cerita tentang sosok satu ini penuh kesimpangsiuran yang bahkan sekedar namanya saja adalah sebuah nama yang penuh misteri dan serba gelap. Oleh karena itu pandangan orang-orang Jawa mengenai tokoh Syekh Siti Jenar bercampur antara mitos dan kisah nyata. Keanehan dan kekontroversialannya ini tidak lepas dari ajaran keagamaan yang disampaikan ke masyarakat yang tergolong menyimpang dari pakem yang ada pada waktu itu.

Manunggaling kawula-gusti, adalah ajaran yang selalu disematkan pada seorang Siti Jenar. Sampai sekarang ini ajaran ini selalu dipandang sebagai ajaran bahwa makhluk bisa bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain tiada dua antara Tuhan dan manusia. Tidak ayal jika dahulu ada sebuah film tentang Syekh  Siti Jenar yang menceritakan bagaimana lika-liku perjalanan Sang Syekh hingga menemui ajalnya. Bermula saat Sang Syekh tidak mau menghadap Raja Demak dan menghadiri sidang wali.

Atas putusan raja dan dewan wali diutuslah beberapa orang yang meminta Sang Syekh datang, saat para utusan uluk salam dan menanyakan keberadaan Sang Syekh, dijawab oleh Sang Syekh bahwa ia tidak ada yang ada adalah Allah, kemudian para utusan kembali berkata bahwa mereka ingin bertemu Allah, maka jawab Sang Syekh bahwa Allah tidak ada, yang ada adalah Sang Syekh. Akibatnya Sang Syekh harus menerima hukuman pancung oleh dewan wali dan raja Demak, dan yang menyedihkan jenasah Sang Syekh yang berubah jadi anjing.

Inilah cerita keeksistensian Siti Jenar yang selama ini kita terima dan setujui begitu saja. Bahkan tidak hanya kalangan masyarakat awam saja yang menerima cerita itu, melainkan dari kalangan akedemis pun seolah manut, bahkan membumbui lebih ngeri lagi.

Pertanyaan kita, apakah benar Siti Jenar menyebut dirinya sebagai Allah? Apa maksud dari ajaran manunggaling kawula-gusti? Benarkah dia mati dipancung oleh dewan wali dan mayatnya berubah jadi anjing? Siapakah sebenarnya Sang Syaikh itu, benarkah dia wujud dari cacing merah yang terkena sabda sang wali sehingga berubah menjadi manusia? Apakah ilmu yang diperolehnya hanya dari nguping tatkala wali ngudar kaweruh pada muridnya?

Ajaran manunggaling kawula-gusti yang dituturkan Siti Jenar, hakikatnya bukanlah seperti yang dipahami masyarakat pada waktu itu dan sekarang ini. Siti Jenar mengakui memang pernah mengatakan “Ingsun Sejating Gusti Allah”. Kata-katanya inilah yang kemudian disalahpahami oleh masyarakat. Khalayak ramai menuduh Syekh Siti Jenar telah mengaku Tuhan.

Syekh Siti Jenar menginsafi bahwa anggapan masyarakat terhadapnya sepenuhnya salah. Meskipun demikian, ia mengaki bahwa masyarakat tidak sepenuhnya benar dalam memahami konsep manunggaling kawula gusti-nya. Menurutnya, sejatinya konsep manunggaling kawula gusti—sedikit banyak—serupa dengan konsep insan kamil (manusia purna) yang digagas Ibnu Arabi. Kemiripannya terletak pada kemenyatuan manusia dengan Tuhan.

Meski memiliki kemiripan dengan konsep insan kamil tetapi sebetulnya ada perbedaan konsep dengan ajaran manunggaling kawula-gusti. Menurut Siti Jenar, pada dasarnya Tuhan telah memberikan anugerah yang sama kepada setiap manusia. Setiap manusia adalah “bagian” dari Tuhan. Ibarat air di samudera luas, manusia adalah molekul air yang ada di dalamnya. Molekul-molekul air ini merupakan bagian dari air samudera tersebut. artinya, manusia telah teranugerahi sebagai cermin Tuhan.

Dalam berdakwah, Siti Jenar memang enggan memunculkan istilah-istilah baru ataupun istilah bahasa asing. Ia lebih suka menggunakan bahasa rakyat agar mudah dipahami. Lagi pula, menurutnya, tidak ada kata yang cocok untuk menjelaskan proses tajalli (manefestasi Tuhan) seperti gagasan Ibnu Arabi tadi. Oleh karena itu, ia pun menggunakan istilah yang popular saat itu, yaitu manunggaling kawula-gusti. Menurutnya, manunggaling kawula-gusti bukan angan kosong yang tidak bisa dicapai. Ia menegaskan bahwa siapa pun bisa mencapainya, asalkan memiliki kesungguhan tekad dan konsistensi.

Kata kunci untuk menggapai manunggaling kawula-gusti adalah kesadaran. Kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari Tuhan, yang harus senantiasa memancarkan sifat-sifat Tuhan. Yang paling mendasar adalah kesadaran hati. Sebab, hati merupakan merupakan jembatan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadist, ‘barangsiapa yang kenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya’.

Syekh Siti Jenar menjelaskan dasar ucapannya “ingsun sejating Gusti Allah” intinya adalah manusia merupakan bagian dari Tuhan. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa kata ingsun dalam kalimat itu tidak harus diartikan sebagai “aku (manusia)”, tetapi bisa juga diartikan sebagai ing sun (artinya: “di dalam hati”).

Pengakuan-pengakuan yang lain, sebagai bentuk klarifikasi terhadap cerita yang berkembang saat ini, semisal, ia mengakui bahwa bukan berasal dari cacing tanah yang kemudian mengalami tranformasi ke wujud manusia akibat sabda seorang wali. Ia benar-benar manusia seperti kebanyakan yang lain, punya ayah-ibu, memiliki istri dan anak. Pengakuan yang lain adalah ia meninggal dunia bukan karena dihukum pancung oleh dewan wali dan pihak kerajaan. Meninggalnya akibat penusukan yang dilakukan oleh aliran keras pimpinan Syaikh Ja’far dari Yaman.

Aliran ini sejak dahulu ada di wilayah Demak dan sekitarnya, agenda dakwahnya adalah pemurnian Islam (puritanisme). Mereka akan menyerang siapa pun yang mereka anggap telah menodai kemurnian ajaran Islam (tentu menurut klaim dan penilain mereka sendiri), termasuk para Walisanga dan Syekh Siti Jenar. Tatkala Syekh Siti Jenar mengajari ilmu di Langgar-nya para gerombolan aliran keras ini menyerang dan menusuk dari belakang. Jadi kematiannya bukan akibat adanya friksi dengan pihak dewan wali melainkan serangan dari aliran keras.

Jadi, sebenarnya tidak ada friksi antara para wali dengan Syekh Siti Jenar sebagaimana anggapan yang masyhur selama ini. Kalaupun terdapat perbedaan di antara kedua belah pihak itu hanya pada tataran konsep penyampaian ajaran saja. Para wali menghendaki penyampaian ajaran dilakukan secara bertahap sedangkan Syekh Siti Jenar menganggap bahwa semua mempunyai hak yang sama. Harus diakui, para wali sedikit kuatir akan adanya kekeliruan pemahaman para santri dalam memaknai ajarannya. Oleh karena itu, para wali sering hadir dalam pengajian yang dilakukan Syekh Siti Jenar. Nuwun.

Diolah dari berbagai sumber


Bumi Para Nata, Kaliurang, Ngayogyokarto Hadiningrat, 08062017

0 on: "Syekh Siti Jenar : Aku Bukan Tuhan (Sebuah Pengakuan) [3]"