Syekh Siti Jenar : Guru Mistik Sejati Penggoyang Kemapanan Demak [1]

syekh siti jenar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Sejarah adalah milik penguasa. Dia yang menentukan benar atau salah seseorang, dia juga yang menentukan benar tidaknya suatu cerita. Namun galibnya sebuah kehidupan yaang dipergilirkan, penguasa tidak bisa hidup selama-lamanya mereka dikalahkan oleh waktu dan waktulah yang akan membuktikan apa itu kebenaran dan cerita sesungguhnya yang terjadi.

Di dalam masyarakat Jawa, dikenal adanya tokoh penyiar agama Islam yang hidup pada jaman Kerajaan Demak jaman Raden Patah yang menjadi Sultannya, yang kemudian dihukum mati oleh Raja dan Dewan Wali karena dianggap telah menyebarkan ajaran yang sesat. Tokoh tersebut adalah Syeh Siti Jenar yang juga sering disebut Syeh Lemah Abang.

Menurut kisah yang beredar dalam masyarakat, Syeh Siti Jenar ini dahulunya berasal dari  seekor cacing di dalam tanah lempung yang dipergunakan untuk menambal perahu saat Sunan Bonang (salah seorang Walisongo) sedang mengajarkan pengetahuan tingkat tinggi dalam agama Islam kepada Sunan Kalijogo (yang waktu itu masih menjadi muridnya). Baca selengkapnya dalam tulisan Makna Filosofis Cacing dari Sejarah Asal-Usul Siti Jenar.

Dengan kelebihannya, cacing yang turut serta mendengarkan ajaran tersebut kemudian “disabda” oleh Sunan Bonang menjadi manusia. Dalam perkembangannya, manusia yang berasala dari cacing ini kemudian diberi nama Siti Jenar   (siti = lemah = tanah, jenar atau abrit = kuning atau merah = lempung =  tanah liat) yang nantinya juga turut serta menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa.

Dalam menyebarkan ajaran Islam, Syeh Siti Jenar melakukannya di daerah pedalaman Jawa dan mendapatkan banyak pengikut, baik dari kalangan orang kebanyakan maupun kalangan bangsawan yang merupakan sisa-sisa pejabat di daerah bekas kerajaan Majapahit. Salah satu pengikutnya adalah Ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenongo), yang merupakan keturunan dari Raja Kertabumi, raja terakhir Majapahit.

Namun dalam perkembangannya, apa yang diajarkan oleh Syeh Siti Jenar yang dikenal mengajarkan “piwulang manunggaling kawulo-gusti”  ini dipandang sudah melenceng dari ajaran Islam, dan dianggap sebagai ajaran yang sesat dan harus dilenyapkan oleh Raden Patah (Raja Demak) dan Dewan Wali. Syeh Siti Jenar kemudian ditangkap dan dihukum mati di Demak.

Syeh Siti Jenar dihukum pancung, kemudian dimasukkan ke dalam peti sebelum dikuburkan. Saat jenasah masih di dalam peti pada saat dibuka dan akan dikuburkan, ternyata yang ada di dalamnya bukan jenazah Syeh Siti Jenar, namun bangkai anjing hitam kudisan. Syeh Siti Jenar yang semula berasal dari cacing telah meninggal berubah menjadi anjing hitam kudisan.

Kisah yang disampaikan di atas merupakan sebuah versi yang diceritakan dari mulut ke mulut dan sudah lama beredar dalam masyarakat Jawa. Adakah  versi  yang lain dari kisah tersebut?  Buanyaaak. Sayang untuk menuliskan versi yang berbeda mungkin pada kesempatan lainnya.

Terlepas dari kesimpangsiuran tentang asal-usul Siti Jenar, seperti pada judul tulisan ini, setuju atau tidak, kehadiran mistik Syekh Siti Jenar telah mewarnai kehidupan mistik Kejawen. Mistik ini memang unik dan banyak menimbulkan kontroversi. Terlebih lagi, ketika Syekh Siti Jenar berbicara tentang Tuhan dan kematian, bisa jadi bagi sebagian orang hal ini dapat mengundang kebencian. Namun, sebagai sebuah wacana kultur mistik Kejawen hal ini pun patut diketahui. Ada yang berpendapat bahwa ajarannya termasuk golongan keras, bukan lembut dan sejuk. Dia lebih banyak menyampaikan mistik tajam, bukan lembut.

Berbicara tentang Syekh Siti Jenar dalam konteks mistik memang sering diperdebatkan. Setidaknya, banyak pihak selalu meneror bahwa dia penganut ajaran sesat. Dia menyimpang dari petuah atau paugerab yang sudah disepakati para wali. Sementara itu, ada juga yang masih angkat topi terhadap paham mistik Syekh Siti Jenar ini. Paling tidak, yang setuju ini akan berkilah bahwa Syekh Siti Jenar bukan penganut mistik yang sesat. Jika ada yang mengatakan demikian, berarti pemahaman mistiknya masih sepotong-potong.

Memang, belakangan sempat muncul dua versi kematian Syekh Siti Jenar – yang mengimplikasikan dia berada di pihak yang salah atau benar. Pertama, di kalangan pesantren selalu ditekankan bahwa kematian Syekh Siti Jenar dihukum pancung. Alasan hukuman adalah ajaran dia yang dianggap menyesatkan masyarakat. Kedua, seperti yang pernah dikisahkan Abdul Munir Mulkan dalam bukunya Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar (2002) dan Achmad Chodjim dalam bukunya Syekh Siti Jenar, Makna Kematian (2002) -  dia mati karena memilih kematiannya sendiri. Proses semacam itu, hampir sama dengan cerita kematian pujangga besar Jawa R. Ng. Ranggawarsita – di satu pihak ada yang mengisahkan dia mati terbunuh dan di lain pihak di mati karena mimilih jalan kematiannya.

Bagi pemerhati mistik kejawen, yang penting bukan pada masalah ajaran Syekh Siti Jenar sesat atau tidak, melainkan perlu dipahami – mengapa Siti Jenar memandang dunia se-bagai “alam kematian”. Sedangkan para Walisanga tidak demikian halnya. Inilah tesis mistis Siti Jener yang luar biasa di zamannya. Karena, dia justru telah jenius memikirkan hidup sebagai hakikat. Dia super cerdas dan lebih berpikir tasawuf atau mistis ketimbang berpikir yang lugas.

Mari kita renungkan ajarannya tentang hidup dan kehidupan secara mistis. Dia berpendapat bahwa hidup yang selalu sedih, sengsara, kebingungan, dan sejenisnya adalah penjara. Ini bukan hidup di alam kehidupan, melainkan hidup di alam “kematian”. Manusia yang demikian sedang terpuruk dalam kematian hidup. Manusia yang terdegradasi nilai, yang curang, yang keras, yang korup, dan sebagainya adalah manusia yang telah mati menurut Siti Jenar. Jika demikian, berarti dunia ini telah dipenuhi berjuta-juta mayat yang kotor, bangkai yang amis, dan struktur kehidupan yang mati tak karuan pula. Tak sedikit mayat yang kejar-kejaran mengais rejeki yang haram. Tak sedikit pula mayat yang berebut kedudukan. Apakah asumsi mistis semacam ini sesat?

Syekh Siti Jenar berpendapat bahwa di era kematian ini, manusia terikat oleh pancaindera. Kondisi ini bukan eksistensi yang sesungguhnya. Hidup nyata baru akan ditemukan setelah mati. Di sana keadaan terang benderang, dan semua hal yang mengandung kebaruan. Manusia tak lagi harus didampingi siapa-siapa. Manusia akan hidup mandiri. Siti Jenar berpandangan bahwa hidup setelah mati lebih indah dan lebih segalanya. Karena itu, dia rindu kematian. Dia sangat rindu terhadap alam real ketika dia belum jatuh ke kematian. Dia ingin kembali dalam keadaan suci atau semula, ketika belum kotor.

Untuk itu, Siti Jenar mengajarkan bahwa hidup manusia akan mengalami proses mistis. Ajaran dia, tersimpul ke dalam lima pokok wejangan, yaitu :
  1. Ajaran asal-usul kehidupan atau Sangkan Paraning Dumadi,
  2. Ajaran tentang pintu kehidupan,
  3. Ajaran tentang tempat manusia esok hari yang kekal dan abadi,
  4. Ajaran alam kematian yang sedang dijalani manusia sekarang,
  5. Ajarang tentang Yang Maha Luhur yang menjadikan bumi dan angkasa. 

Kalau demikan, apakah ajaran dia memang gelap? Sepertinya tidak. Dari lima jalan kehidupan yang dia ajarkan, jelas positif. Yang menjadi masalah, mengapa dia selalu mendapat “cap merah” ketika itu? Mengapa konteks ajaran demikian membuat walisanga marah? Pasalnya, ajaran Syekh Siti Jenar yang demikian dianggap tak sejalan dengan ajaran wali.

Kiranya, semua itu yang keliru adalah penerapan mistik Siti Jenar yang disalah artikan. Tak sedikit memang orang yang menerima wejangan dia, lalu berbuat onar, bernuat jelek, bunuh diri, dan seterusnya. Pendek kata, tak sedikit di antara mereka yang segera ingin mati, karena hidup di kelak kemudian hari justru lebih sempurna. Kalau begitu, yang keliru adalah cara menjalani ajaran Siti Jenar, bukan ajaran itu sendiri. Cinta mati kan sebenarnya bagus, tetapi jika mereka segera ingin mati dengan jalan tak wajar, ini yang salah. Padahal, sejauh pemahaman saya, Siti Jenar tak mengajarkan orang harus bunuh diri, ini masalahnya.

Guru Mistik Sejati

Syekh Siti Jenar sesungguhnya tergolong guru mistik yang brilian. Dia guru mistik sejati yang tahu berbagai hal. Dia juga dikenal sebagai guru sekaligus wali yang menyebarkan Islam Jawa di tanah Jawa secara kontekstual. Dasar penyampaian ajarannya adalah realita, karenanya dalam berbagai hal ada yang disesuaikan dengan kondisi Jawa. Karena itu, ketika Ki Ageng Pengging tidak mau sowan ke Demak Bintara sebagai pembangkangan atas ajaran Siti Jenar, peristiwa ini masih perlu ditinjau lagi. Bukankah di dalam karya berjudul Syekh Siti Jenar itu, Ki Ageng Tingkir juga telah mengingatkan secara politis terhadap tindakan Ki Ageng Pengging??

Dalam kaitan itu, Ki Ageng Pengging memang menjadi manusia bebas. Ia hidup di bumi Tuhan, bukan bumi Demak. Paham semacan ini, kalau dipahami secara politis tentu akan keliru. Paham ini perlu diterjemahkan dari aspek mistis bahwa hakikat hidup memang kebebasan itu. Manusia bebas hidup di mana saja. Manusia bebas menentukan apa saja, sejauh dalam kerangka Tuhan. Kalau begitu apakah pandangan Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga itu salah?

Tokoh yang semula tergores mistis dalam syair Semut Ireng lalu ada baris berbunyi : kebo bongkang nyabrang kali Bengawan (kerbau besar yaitu Kebokenangan yang menyeberang ke sebelah barat Majapahit), sebenarnya mulia. Dia pernah lari dari Majapahit, karena tak mau mengikuti ajaran yang disampaikan Sabdopalon dan Nayagenggong.

Itulah sebabnya, dengan mengikuti paham Siti Jenar, Ki Kebo Kenanga tidak takut menghadapi resiko hidup. Hidup bagi dia adalah pilihan. Kematian bagi dia bukan hal yang sengsara, andaikata harus menerima hukuman mati. Bahkan menurut dia, takdir baginya sulit ditunda. Bagi dia, yang selalu dikendalikan Yang Maha Kuasa. Biarpun utusan Demak datang, dia tidak takut menhadapi bahaya. Karena, di situlah dia berjuang untuk hidup. Dalam perjuangan itu, jika selesai tugas kejiwaannya akan segera kembali ke alam aning anung yaitu alam bahagia, tentram, abadi.

Yang menarik lagi dari pandangan dia adalah persoalan belajar (berbudaya). Jika hewan berdasarkan insting, manusia Jawa mengikuti guru. Dalam pandangan Islam Jawa, setidaknya ada empat macam guru:
  1. Guru Ujud, yaitu seorang guru biasa, seperti guru di sekolah, guru mengaji, dsb.
  2. Guru Pituduh, yaitu guru yang bertugas memberi petunjuk kepada murid-muridnya.
  3. Guru Sejati, yaitu guru yang memahami hakikat hidup. Guru ini akan mengajarkan bagaimana menempuh jalan kematian, kesempurnaan, kelepasan.
  4. Guru Purwa, yaitu guru yang tertinggi. Ia ibarat manifestasi Tuhan. Dia mengetahui kodrat dan iradatnya.

Tampaknya, Syekh Siti Jenar meletakkan dirinya pada guru sejati dan guru purwa. Hal ini tampak pada pembahasan tentang kematian dia. Masalah proses dan makna kematian, digambarkan dari aspek psikologi Islam Jawa. Proses kematian dan maknanya ditinjau dari aspek kehidupan kejiwaan (psikologi Jawa), manusia harus melepaskan nafs (napas), napas adalah batin (rasa) yang keluar masuk dalam raga. Nafs terdiri dari tujuh tataran kejiwaan, yaitu : jiwa al amarah, jiwa lawwa-mah, jiwa mulhamah, jiwa mutmainah, jiwa spiritual, jiwa lubbi-yyah (kosmik), dan jiwa rahsa (nirwana).

Jiwa al-amarah yang berfungsi mengoperasikan organ tubuh, tak sekedar membuat orang marah. Jiwa lawwamah, yaitu jiwa yang letaknya lebih dalam lagi, lebih halus, yang ketika orang tidur akan menciptakan mimpi yang menembus ruang dan waktu. Jiwa mulhamah yaitu batin manusia yang menyebabkan mereka dapat menerima petunjuk Tuhan.

Jiwa mutmainah, yaitu batin manusia yang tenang. Jika ini diaktifkan manusia Jawa akan mampu melihat apa yang disebut clairvoyance, yaitu obyek atau peristiwa di luar fisik (metafisik). Namun, jiwa ini masih bersifat semu, misalkan kenikmatan seksual, misalkan suami impoten atau isteri figrid nyatanya tak diperoleh kenikmatan. Berarti masih lahiriah atau batin semu.

Jiwa spiritual, yaitu batin manusia yang mampu melakukan kontak dengan alam gaib. Dalam masyarakat Jawa, tradisi semacam ini dinamakan alam supena, alam mimpi yang mempengaruhi jiwa manusia mampu menerawang terhadap kejadian mendatang. Batin ini ke arah futuristik atau jangka (ramalan), orang Jawa menyebut ngerti sadurunge winarah. Artinya mengetahui yang bakal terjadi. Misalkan lagi, gerak pikiran (batin) merasa nikmat secara otomatis.

Ketika kita harus menganggukkan kepala, menyembah, melambaikan tangan pada saat berhubungan dengan orang lain, adalah wacana batin spiritual. Jiwa lubbiyyah (kosmik), telah meninggalkan alam pikiran, masuk ke alam intuisi. Kehidupan tak dapat selalu melalui kesadaran panca indera. Misalkan saja ketika orang berdzikir atau pun meditasi, mereka merasa hilang, yang ada hanyalah halusinasi dan ilusi. Dari sini orang akan menerima wisik. Jiwa rahsa (nirwana), yaitu keadaan nafs yang melukiskan bahwa alam ini adalah alam langit, alam murni, penuh ketiadaan (sunyaruri).

Begitulah esensi apa yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar, yang kadang-kadang merasakan ketiadaan Tuhan, dan yang ada adalah ingsun (aku). Tapi pada baik lain, dia juga mengakui adanya Tuhan, misalkan kutipan berikut : Syekh Lemahbang darmastuteng karsa / sumarah ing Hyang dhawuhe. Kata Hyang yang merupakan bukti sinkretisme dengan ajaran Hindu, sebenarnya juga menunjukkan bahwa dia percaya kepada Tuhan. Ia pasrah total kepada Tuhan.

Pada suatu saat, dia memang meremehkan sarengat dan pada bait lain juga menganggap sarengat itu penting dan seterusnya. Tegasnya, ajaran Syekh Siti Jenar masih merupakan teka-teki. Kemungkinan adanya rekayasa kultural dan politisasi ajaran juga sangat mungkin. Maka, pemahaman menyeluruh ajaran dia memang perlu, guna menyelami hakikat Islam Jawa.


Tampaknya, bagi dia ajaran memang diramu dengan mistik kejawen. Jika ajaran ini dipahami sepenggal, maka orang awam akan menyatakan dia musyrik. Padahal, bagi dia hidup adalah proses untuk menemukan “ananeng, ananing, uninung, uninang”. Artinya, hidup untuk mencari kejernihan batin. Hidup untuk mencari dunung (tujuan). Tujuan hidup akan tercapai melalui sangkan paraning dumadi. Ini paham Islam Jawa yang selalu menjadi misterius. Bersambung ......

0 on: "Syekh Siti Jenar : Guru Mistik Sejati Penggoyang Kemapanan Demak [1]"