Tentang Akarasa

Owalah, ada yang berkunjung ke sini juga toh..

Yawes, karena sampeyan kadung membuka laman ini, kita salaman dulu. Tapi maaf, tangan saya agak kasar, maklum kesehariannya adalah tukang cat yang ngerangkep tukang gambar juga, khususnya untuk rancang bangun Kubah Masjid.

Oya, nama sampeyan siapa tadi? Saya Ulul Rosyad. Kenapa? Pendek banget namanya dan ndeso yo. Faktanya memang saya wong ndeso eee..
Nama yang disematkan sebagai tetenger saya ini, konon cukup kekinian lho ya pada masanya, hahaa…

Cuma sayangnya, nama yang bagus ini jarang dipakai oleh kerabat dan temen masa kecil saya. Mereka lebih sering memanggil saya dengan Busro. Saya juga kurang tau, bagaimana muasalnya hingga dipanggil nama Busro. Tapi yoweslah…

Tentang perihal lahir saya, kata almarhum emak, saya lahir pas tengah malam dan berbarengan dengan banjir besar sekian puluh tahun yang lampau di salah satu kampung di kota Tuban, tahu kan Tuban itu mana? Bukan Tuban Bali lho ya. Tuban, Jawa Timur, atau yang sekarang mempunyai sebutan baru selain Bumi Ronggolawe, yakni Bumi Wali.

Masa kecil saya biasa saja, seperti pada umumnya anak kampung. Biasa disuruh membantu pekerjaan di sawah meski seringkali mangkir dengan beragam alasan. Seperti tradisi dalam keluarga saya, seperti halnya Mbak Yu, Pak Lek dan Bulek saya yang mondok di pesantren, hal yang sama berlaku mutlak pada saya setamat dari Madrasah Ibtidaiyah (SD).

Menapak tilasi generasi di atas saya yang mondok di ponpes Maskumambang, Bungah, Gresik, saya pun dibenamkan di kawah candradimuka ponpes tersebut. Meski saya sebenernya minta di Purworejo, Jawa Tengah, karena banyak teman sebaya ketika itu yang mondok di sana. Apatah daya seorang saya ketika itu, meski nggondok yo tetep manut.

Beberapa kali di pondok ini saya kena hukuman membersihkan pondok, karena ketahuan keluar pondok gegara nonton film kartun TVRI He-Man. Dari film ini sampeyan bisa nebak usia saya hehehehe..

Hingga puncaknya, bersama seorang temen pondok yang berasal dari Jambi mengajak saya keluar pondok untuk main video game. Permainan yang pake uang koin seratusan itu lho. Tahu kan. Maklum saja, temen saya dari Jambi ini kalo dapat wesel suka banyak.

Tak ayal, sepulang dari dolanan atau tepatnya mangkir dari ngaji itu pulangnya hukuman pun menanti. Biasanya minimal digunduli. Entah apa yang saya pikirkan ketika itu, saya memilih tidak balik ke pondok malah saya memilih pulang kampung. Selanjutnya, bla.bala.. marah barang tentu.

Karena di antar orang tua balik ke pondok, maka selamatlah saya dari penggundulan tersebut. Aman. Sebenarnya bukan saya saja yang suka malas bangun saat ada adzan subuh, bahkan temen sekamar yang berjumlah 8 anak tersebut sepertinya kompak untuk urusan bangun. Susah bangun kalau subuh. Maka kewajiban seorang lurah pondok yang membangunkan, biasa langsung pakai segayung air. Entah setan merkayangan dari mana pagi itu, guyuran air dari gayung itu memenuhi telinga saya yang kemudian terjadi adu pukul dengan sang lurah. Lagi-lagi hukuman menanti.

Karena alasan klasik lagi, tidak mau gundul. Saya memilih mengemasi pakaian dan pulang pagi itu. Lebih tepatnya menggelandang. Pulang ke rumah pun tidak berani. Akhirnya hari itu saya sekolah sambil membawa ransel gede, bukan buku tapi rasukan (pakaian). Oh ya, sekolah saya di luar pondok, karena pondok saya ketika itu masih pondok salaf.

Akhirnya beberapa hari saya numpang di rumah tukang kebon di komplek sekolah. Sambil nunggu weselan dari rumah untuk sewa kost-an. Singkat cerita, sedari kelas 2 SMP hingga kelas 2 STM saya nyambi jualan koran setiap paginya. Lumayan, malah jika dihitung-hitung kiriman dari emak jika di total tak ada sepertiganya dari hasilnya…

Kini, terbilang hingga 2016 saya sudah 9 tahun menjadi wong Jogja. Pun saya sudah dipanggil bapak oleh anak-anak saya yang terlahir dari kanjeng mami tercinta yang berasal dari Sunda, tepatnya Ciamis, Jawa Barat.

Beberapa tahun yang lalu, saya masih suka mendaki gunung, menjelajah pedalaman di sela waktu luang kesibukan golek upo (mencari nafkah). Namun sekarang karena faktor U dan kuota ijin aktifitas mendaki dan menjelajah sudah ditutup, sekarang hanya sesekali riding atau bermotor dan hingga saat ini saya masih tergabung dalam komunitas YROI R25 Chapter Yogyakarta.

Seperti yang sudah sedikit saya kenalkan di atas, aktifitas utama saya adalah tukang gambar, terlalu intelek kalau menyebutnya arsitek, khusus untuk kubah masjid. Sekaligus tukang cat grafis kubah dan tentu saja tukang las juga. Membaca adalah serupa ritual bagi saya, lho iya. Bener ini. Membaca dalam hal ini bukan untuk pinter, sama sekali bukan. Masalahnya saya ini insomnia, dan dengan membaca buku itulah harapan saya biar cepet ngantuk. Mau tahu sejak kapan saya insomnia? Jika tidak salah hitung, barangkali hampir 17 tahunan. Kaget! Hahahaha..

Menulis adalah bagian dari relaksasi bagi saya. Atau bahkan bisa saya katakan sebentuk pelarian ketika jenuh membaca sekaligus untuk mengabadikan beberapa pengalaman saya. baik itu pengalaman yang ora biso dinalar maupun catatan perjalanan saya di berbagai tempat di bumi Allah ini. Selain di akarasa ini, jejak tulisan dapat ditemukan di kompasiana.


Akhir kata saya harap sampeyan tidak sungkan memberi kritik serta saran yang membangun demi terciptanya Akarasa.Com yang lebih baik di kemudian hari dan lebih bermanfaat bagi orang banyak. Terima kasih. Wassalam. Oh iya,  bawah ini adalah kontak saya.