Serat Wedhatama, Ajaran Luhur yang Terabaikan

KARYA KGPAA MANGKUNEGORO IV

Uripe sepisan rusak, nora mulur nalare pating saluwir, kadi ta guwa kang sirung, sinerang ing maruta, gumrenggeng anggereng anggung gumrunggung, Pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki.

SYAIR atau cakepan bait keenamTembang Pangkur dalam Serat Wedhatama karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariyo (KGPAA) Mangkunegoro IV itu sempat populer lewat album Pangkur Jenggleng> bersama Ki Basiyo dan Nyi Prenjak. Kedua seniman lawak Yogyakarta itu sudah meninggal, namun album Pangkur Jenggleng dan syair tembang Pangkur tersebut masih cukup dikenal masyarakat Jawa. Hal itu menunjukkan bahwa isi ajaran dalam tembang karya KGPAA Mangkunegoro IV tersebut memang universal.

Serat Wedhatama merupakan salah satu karya KGPAA Mangkunegoro IV yang cukup terkenal dan banyak menyajikan nasihat dan sindiran sosial. Wedha artinya pengetahuan, ajaran, ilmu atau kawruh, sedangkan tama berarti agung, luhur atau utama. Jadi,Serat Wedhatama berisi ajaran, yang menuntun kejiwaan seseorang menuju perilaku yang agung, luhur serta terpuji.
Kalau kita cermati, hidup atau kehidupan seseorang yang hancur sebenarnya merupakan akibat dari perilaku sebelumnya, baik ketika masih kanak-kanak, remaja maupun menjelang dewasa. Dan, ajaran lengkap tentang sikap, tindakan dan perilaku luhur yang harus dilakukan seseorang, juga sudah ada dalam syair tembang Pangkur dalam Serat Wedhatama. Bait atau <I>pada<P> pertama tembang tersebut, selengkapnya seperti berikut: Mingkar-mingkuring angkara, akarana karenan mardisiwi, sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta, mrih kretarta pakartining ngelmu luhung, kang tumrap neng tanah Jawa, agama ageming aji.

Isi tembang tersebut mengajarkan kepada kita agar mengedepankan kepentingan umum dan selalu nggilut ngelmu agama. Lirik atau cakepan bait pertama itu mengandung pasemon> agar kita selalu mingkar (menjauhi) dan mingkur (tidak mempedulikan) perilaku yang tidak terpuji, yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi. Juga mengajarkan kepada kita sebagai orang tua agar selalu nggulawenthah lan mulang-muruk marang siwi (mendidik kebaikan kepada anak guna meraih cita-cita yang membanggakan. Mrih kretarta, jumbuh kang ginayuh, sembada kang sinedya.

Itu semua dimaksudkan agar sosok orang tua benar-benar migunani dan menjadi teladan bagi keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Hal itu seperti terungkap dalam bait kedua: Jinejer neng Wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi, asepa lir sepah samun, samangsane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglelingsemi. Apabila orang tua tidak memperhatikan tuntunan tersebut, walau ia telah berusia lanjut akan terkesan hampa dan memalukan bagi dirinya sendiri maupun bagi keluarga di tengah masyarakat.

KGPAA Mangkunegoro IV memang sangat terkenal jasa dan perjuangannya (khususnya) di Praja Mangkunegaran, baik di bidang pemerintahan, kemiliteran, sosial, ekonomi, budaya dan kesusasteraan. Di samping menciptakan berbagai wayang, cicit Pangeran Sambernyawa itu juga ahli membuat gamelan, kolektor topeng dan ahli di bidang falsafah. Tokoh yang bernama kecil Raden Mas Sudiro inipun telah menulis puluhan karya. Antara lain Serat Wedhatama, Babad Giripura, Piwulang Salokatama, dan Piwulang Wirawiyata.

Bait kesembilan Tembang Pangkur karya KGPAA Mangkunegoro IV juga mengajarkan hakikat menang adalah, bila bisa mengalahkan diri sendiri. Hal itu seperi terungkap dalam cakepan berikut ini. Kekerane ngelmu karang, Kekarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup, yen kepengok pancabaya, ubayane mbalenjani.
Disebutkan, bahwa orang yang mengandalkan ilmu gaib yang hanya hasil reakaan, ibaratnya hanya memakai bedak. Sama sekali tidak meresap, karena hanya menempel di kulit luar semata. Hakikatnya, di muka bumi ini memang ada orang yang benar-benar berilmu. Tetapi kita kadang terjebak oleh seseorang, karena hanya melihat sisi luarnya saja.

Yang terurai di atas, baru ajaran dalam Tembang Pangkur. Agar hidup kita berguna dan tidak mudah tertipu, alangkah baiknya kalau kita sesekali mencermati pesan, anjuran lan pasemon  yang tersirat dalam Serat Wedhatama.