Featured Posts

Covid-19 Dalam Perspektif Kearifan Lokal Orang Jawa

- 5 komentar

Akarasa -  Sugeng rawuh kisanak, hampir tiga tahun saya baru update lagi tulisan baru di akarasa ini. Jadi, harap dimaklumi kalau tulisannya menjadi belepotan. Mutar-muter ra jelas.
Sebagaimana judul diatas, tulisan ini tidak hendak menyoal persebaran, daya serang Penyakit coronavirus (Covid-19), karena banyak artikel dari pakar yang kompeten. Hanya akan sedikit menelisik fenomena pageblug dalam perpektif manusia Jawa jaman dahulu kala.

Sebagaimana pemberitaan sekarang ini. Di masa pandemi seperti saat ini banyak bermunculan spekulasi-spekulasi terkait bagaimana pandemi ini berawal, apa yang menjadi penyebab, dan bagaimana ini akan berakhir. Di tengah masa pandemi Covid 19 seperti saat ini banyak pihak yang menyatakan pendapat dan sudut pandangnya masing-masing sesuai dengan preferensi mereka.

Ada yang memandang dari sudut padang medis, ada yang memandang dari sudut padang Agama, hingga ada yang memandang dari  sudut pandang konspirasi dll. Ada diantaranya yang berdasar dan disertai dengan penjelasan Ilmiah dan Logis namun tak kurang juga yang tidak cukup berdasar dan pada akhirnya menimbulkan disinformasi.

Kembali lagi pada fokus topik diawal. Tulisan ini saya buat berdasarkan preferensi saya sebagai wong Jawa yang berada di dalam masyarakat yang beberapa diantaranya masih berpegang teguh pada ajaran atau  ilmu peninggalan leluhur.
Orang jawa banyak dikenal memiliki berbagai peninggalan leluhur dalam berbagai bidang, seperti arsitek, tatanan sosial, budaya, kosmik, dan astronomi.

Orang jawa memiliki kebiasaan "niteni" atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah mengingat-ingat sesuatu, bisa juga dimaknai menandai sesuatu peristiwa. Dalam tulisan ini saya ingin mengangkat bagaimana orang Jawa mengembangkan Ilmu tentang astronomi dalam "niteni" akan terjadinya suatu Pageblug.

Pageblug dalam kepercayaan orang Jawa dianggap sebagai suatu masa datangnya kekacauan, kelaparan, penyakit/wabah, dan huru-hara. Namun semakin perkembangan jaman, pageblug lebih diasosiasikan sebagai datangnya wabah atau penyakit, seperti halnya saat ini dimana pandemi virus Covid 19 yang berdampak pada berbagai bidang, sebagian mastarakat Jawa percaya dan menyebut ini sebagai suatu pageblug.

Saking menakutkannya dampak pagebluk, orang Jawa  mulai mencari pertanda atau "niteni"sebelum datangnya suatu wabah. Pada zaman Mataram Islam, pagebluk mulai dikaitkan dengan fenomena langit yaitu munculnya bintang berekor atau komet. Orang Jawa menyebutnya dengan lintang kemukus.

Menurut kepercayaan orang jawa, kemunculan komet pada arah tertentu memiliki arti tersendiri, di antaranya sebagai pertanda kemunculan pagebluk. Komet oleh sebagian masyarakat Jawa sering disebut sebagai lintang kemukus, hal tersebut karena di salah satu ujung "bintang"-nya tampak seperti mengeluarkan asap atau kukus. 
              
Dalam bahasa Indonesia, komet dikenal sebagai bintang berekor karena asap yang muncul bisa sangat panjang seperti memiliki ekor.

Sementara itu, penyebutan lintang yang berarti bintang terjadi karena masyarakat dulu belum mengenal dan mampu membembedaan obyek langit seperti dalam astronomi modern saat ini. Saat itu, benda langit apa pun yang terlihat terang di langit kecuali Bulan, seperti planet, rasi, komet atau meteor, semuanya disebut sebagai lintang.

Kebiasaan sebagian masyarakat Jawa mengaitkan kemunculan fenomena langit berupa komet dengan peristiwa yang akan terjadi sudah berlangsung sejak lama. Misal, dalam legenda lintang kemukus setidaknya pernah tercatat dalam Serat Babad Segaluh Dumugi Mataram

Pada saat itu, keris Kyai Condong Campur keluar dari tempat penyimpanannya sehingga menimbulkan wabah penyakit di kerajaan Majapahit yang menyerang banyak orang, termasuk permaisuri Prabu Brawijaya, Dwarawati.

Kemudian, terjadi pertempuran antara keris Kyai Condong Campur dan keris Kyai Sengkelat. Kyai Condong Campur pun kalah dan kembali ke tempatnya sehingga wabah berakhir.

Setelah itu Prabu Brawijaya pun memerintahkan untuk menghancurkan keris Kyai Condong Campur. Saat keris dihancuirkan dengan cara dibakar hingga warnanya menjadi merah membara, tiba-tiba KerisKyai Condong Campur melesat ke angkasa dan menjelma menjadi lintang kemukus yang disaksikan banyak orang.

Dari situlah, lintang kemukus dianggap sebagian masyarakat Jawa sebagai pertanda akan datangnya suatu bencana, kerusuhan, kekacauan, perang, kelaparan, kematian, atau wabah penyakit.
Keyakinan itu tetap bertahan hingga kini dan diteruskan secara turun temurun sehingga diyakini kebenaranya oleh sebagian orang jawa.

Menurut sebagian orang jawa secara umum penampakan komet membawa hal yang kurang baik, kecuali apabila komet tersebut muncul di arah barat.

Daripada sampeyan penasaran, berikut ini saya kutipkan dari buku "Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu" karya R.M. Ng. Tiknopranoto dan R. Mardisuwignya, makna kemunculan komet dapat diartikan sebagai berikut:

Timur
Arah dan Makna:

Yen ana lintang kemukus metu ing : Wetan, ngalamat ana ratu sungkawa. Para nayakaning praja padha ewuh pikirane. Wong desa akeh kang karusakan lan susah atine. Udan deres. Beras pari murah, emas larang.

Terjemahan:

Jika ada bintang berekor muncul di sebelah timur merupakan pertanda ada raja sedang berbela sungkawa. Para pengikutnya sedang bingung pikirannya. Orang desa banyak mengalami kerusakan dan bersusah hatinya. Beras dan padi murah harganya, tetapi emas akan mahal harganya.

Tenggara
Arah dan Makna:

Kidul-wetan: ngalamat ana ratu surud (seda). Wong desa akeh kang ngalih, udan arang. Woh2an akeh kang rusak. Ana pagebluk, akeh wong lara lan wong mati. Beras pari larang. Kebo sapi akeh kang didoli.

Terjemahan:

Tenggara. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa banyak yang pindah. Hujan menjadi jarang. Buah-buahan banyak yang rusak. Ada wabah penyakit. banyak orang sakit dan meninggal. Beras dan padi mahal. Kerbau dan sapi banyak yang dijual oleh pemiliknya.

Selatan
Arah dan Makna:

Kidul: ngalamate ana ratu surud (seda). Para panggedhe pada susah atine. Akeh udan. Karang kitri wohe ndadi.Beras pari, kebo sapi murah regane. Wong desa pada nalangsa atine, ngluhurake panguwasane Pangeran kang Maha Suci.

Terjemahan:

Selatan. Pertanda ada raja meninggal. Para pembesar sedang bersusah hatinya. Banyak hujan. Hasil kebun melimpah hasilnya. Beras, padi, kerbau, dan sapi murah harganya. Orang desa merana hatinya, mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci.

Barat Daya
Arah dan Makna:

Kidul Kulon, ngalamat ana ratu surud. Wong desa padha nindakake kabecikan. Beras pari murah. Karang kitri wohe ndadi. Kebo sapi akeh kang mati.

Terjemahan:

Barat daya. Pertanda ada raja meninggal. Orang desa melakukan kebajikan. Beras dan padi murah harganya. Hasil kebun berlimpah ruah. Kerbau dan sapi banyak yang mati.

Barat
Arah dan Makna:

Kulon bener, ngalamat ana jumenengan Ratu. Panggede lan wong desa padha bungah atine. beras pari murah. Apa kang tinandur padha subur, kalis ing ama. Udan deres tur suwe. Barang dagangan wujud apa bae padha murah regane, jalaran saka oleh nugrahaning Pangeran.

Terjemahan:

Barat. Pertanda ada penobatan Raja. Pembesar dan orang desa merasa senang hatinya. Beras dan padi murah harganya. Apa yang ditanam akan berbuah subur dan cepat membuahkan hasil. Hujan deras dan lama. Barang yang diperjual-belikan dalam bentuk apa saja akan murah harganya, karena memperoleh berkah Tuhan.

Barat Laut
Arah dan Makna:

Lor kulon, ngalamat ana Ratu pasulayan, rebutan raja darbeke lan pangwasane. Para Adipati padha tukaran rebut bener. Wong desa padha sedhih atine. Kebo sapi akeh kang mati. udan lan gludhug salah mangsa. Grahana marambah-rambah tur suwe. Beras pari larang emas murah.


Terjemahan:

Barat laut. Pertanda ada raja berselisih memperebutkan kekuasaan. Para adipat berselisih memperebutkan kekuasaan. Warga desa bersedih hatinya. Kerbau dan sapi banyak yang mati. Hujan dan petir akan terjadi di musim yang salah. Kekurangan (gerhana) akan semakin meluas dan berjangka waktu lama. Beras dan padi akan mahal harganya, namun emas murah harganya.

Utara
Arah dan Makna:

Lor bener: ngalamat ana Ratu ruwet panggalihe jalaran saka kisruh paprentahane, kang temahan nganakake pasulayan, banjur dadi perang. beras pari larang, emas murah

Terjemahan:

Utara: pertanda ada raja yang kalut pikirannya karena kekeruhan dalam pemerintahan. Akan timbul perselisihan yang berkembang menjadi peperangan. Beras dan padi mahal harganya, namun emas murah.



Dalam perjalanan bangsa Indonesia dan persitiwa langit yang pernah terjadi, setidaknya ada dua peristiwa besar di Indonesia pasca-kemerdekaan yang dikaitkan dengan kehadiran komet atau lintang kemukus ini.

Pertama adalah adalah tragedi G30S yang dikaitkan dengan komet Ikeya-Seki (C/1965 S1) yang terlihat sejak pertengahan September 1965 dan Kedua adalah meninggalnya proklamator Indonesia Soekarno yang dihubungkan dengan munculnya komet Bennett (C/1969 Y1), mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 26 Maret 1970, tiga bulan sebelum meninggalnya Soekarno yang juga sebagai penanda transisi dari Orde Lama ke Orde Baru.

Selain itu, mengutip tulisan Ma'rufin Sudibyo, sepanjang sejarah peradaban manusia, komet telah dianggap sebagai suatu pertanda akan datangnya hal buruk.
Salah satu yang mengungkapkan hal tersebut adalah Aristoteles. Filsuf berpengaruh yang hidup era Yunani Kuno itu berpandangan bahwa komet atau bintang berekor adalah salah satu isyarat pembawa kabar akan datangnya suatu bencana.

Kehadiran komet Halley beberapa tahun silam juga dikaitkan dengan peristiwa meninggalnya Julius Caesar di era Romawi, juga hancurnya penduduk asli Inggris dalam pertempuran Hasting tahun 1066 serta meletusnya Perang Dunia 1 di abad ke--20.

Di Indonesia, penampakan komet Halley yang terjadi pada tahun 1910 juga dihubungkan dengan mewabahnya pes yang merenggut puluhan ribu jiwa penduduk di Jawa.

Terkait dengan dinamika yang ada dalam kepercayaan masyarakat jawa tersebut ada anggapan bahwa pandemi covid 19 yang terjadi saat ini juga memiliki keterkaitan dengan munculnya Komet Atlas (C/2019 Y4) yang pertama kali menampakkan wujudnya pada 28 Desember 2019.

Kehadiran komet ini pertama kali teramati melalui sistem penyigian langit robotik ATLAS (Asteroid Terestrial--impact Last Alert System) dengan senjata teleskop pemantul 50 cm di Observatorium Gunung Mauna Loa, Hawaii (Amerika Serikat).

Namun kembali lagi, hal tersebut merupakan ilmu atau ajaran peninggalan leluhur yang telah ada dan secara turun temurun berkembang di masyarakat. Keberadaanya kita anggap sebagai penambah khasanah dan wawasan keilmuan kita, bukan sebagai sesuatu yang harus diterima secara mutlak dan hakiki.

Tetapi sebagai manusia kita dituntut untuk menggunakan perasaan dan akal secara seimbang, oleh karenaya banyak juga ajaran di luar peninggalan leluhur oarang jawa yang jika diamati secara seksama hampir memiliki kesamaan satu dengan lainya.

Ajaran tersebut menilai bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis atau alam semesta. Oleh karenanya hingga saat ini banyak tradisi atau ajaran bersifat teologi yang mengajarkan kita sebagai manusia untuk menjaga keselarasan dan keserasian dengan alam.

Ada satu pendapat menarik terkait dengan korelasi antara datangnya pageblug/wabah dengan datangnya komet dalam lingkup menjaga keserasian dengan alam "semesta", wabah penyakit yang menimpa manusia adalah pertanda tentang adanya ketidakseimbangan mikrokosmos.

Adapun kemunculan lintang kemukus sebagai fenomena keluarnya komet dari orbit merupakan pertanda adanya ketidakseimbangan pada makrokosmosnya. Lalu benarkah demikian? #akarasa

Mengais Makna Dari Seonggok Kotoran

- Tidak ada komentar

Akarasa – Dua tahun lebih saya tidak memposting apapun di website ini. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kunjungannya. Kemarin saat saya sedang bersih-bersih halaman belakang untuk tempat kerja dadakan, saat sedang menyiram rumput yang sudah mulai mengering akibat kemarau. Saya melihat ada bagian yang masih hijau. Di atasnya ada kotoran yang mulai kering.

Saya panggil rekan kerja yang menyapu tak jauh posisinya. Saya memintanya melihat bagian rumput yang masih hijau itu. "Lihat. Apa yang ada di atasnya?"

Bingung. Mungkin tidak begitu memerhatikan. Tanpa sungkan lagi saya menunjukkan kotoran yang ada. Bahwa kotoran itulah yang  membuat rumput itu masih terlihat subur.

"Makanya, jangan meremehkan kotoran. Karena ia bisa membuat tanaman subur dan berbunga indah. Sayur yang segar yang kita makan juga karena ada bantuan dari kotoran itu."
Bengong. Saya masih lanjut. "Begitu juga, jangan meremehkan orang dan diri sendiri. Bagaimanapun kondisinya. Kotoran saja masih berguna."

Maaf. Kebetulan lagi benar pikirannya. Kalau dipikir-pikir memang ada benernya, toh?
Yang namanya kotoran apapun, pasti identik dengan bau dan menjijikkan. Bikin mual. Namun apa yang terlihat jorok itu memiliki sesuatu yang bisa membuat tanaman menjadi subur. Pupuk-pupuk untuk tanaman hias biasanya ada campuran kotoran  kambing. Kalau untuk sayuran dari kotoran ayam.

Dari pengalaman sendiri menanam sayuran bayam sekira sepuluhan tahun lalu, tanah yang sudah dicampur dengan kotoran ayam dengan takaran yang pas jadi sangat subur. Ketika dimasak, sungguh mengundang selera.

Beginilah dalam kehidupan kita sehari-hari, sejatinya diri ini tidak alergi atau jijik dengan dengan kotoran-kotoran yang lalu-lalang. Menghadapi perilaku kotor orang-orang di sekitar. Mendapat perlakuan kotor dan menjijikkan, semestinya tidak membuat diri ini marah dan lari dari kenyataan hidup ini.  Tetapi menjadikan semua kotoran yang ada itu untuk menyuburkan taman hati, sehingga di kemudian hari menjadi taman yang indah penuh bunga-bunga kebaikan dan kebijaksanaan. #urd2210

Makna Falsafah Sopo Sing Temen Bakal Tinemu dalam Perspektif Spiritual Jawa

- 3 komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Bagi sampeyan yang kebetulan orang Jawa saya yakin akrab dengan falsafah seperti pada judul di atas. Sopo sing temen bakal tinemu. Secara harfiah, falsafah lawas ini artinya ‘siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya’.

Sepintas, makna harfiah dalam falsafah Jawa yang kita bincang ini sangat sederhana. Tapi ini akan berlaku kebalikannya bagi para pendaki spiritual, makna yang terkandung dalam falsafah ini bagi pendaki spiritual sangatlah besar. Setidaknya, paling sederhana makna dalam falsafah ini, kita pasti bisa bertemu dengan Gusti Allah di alam kematian saat kita hidup di dunia ini.

Kaget! Kalem saja kisanak. Pasti sampeyan bertanya bagaimana bisa hidup di dunia ini kok disebut alam kematian?
Jadi begini kisanak. Bagi pejalan dan pendaki spiritual, hidup di dunia itu hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu hakekatnya hidup.

Mumet. Sekali lagi kalem kisanak. selesaikan dulu bacanya hingga akhir baru menyimpulkan. Jadi bagaimana ini, diteruskan?
Maksudnya begini kisanak. Orang hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak, dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit. Bener tidak!

Nah, ketika kita makan itu sebenarnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak, dan lainnya. Maka kita ini disebut mati dan hanya Ruh kitalah yang hidup. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Ruh akan tetap hidup.

Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh. Itulah sebabnya kita di tuntut untuk "belajarlah mati sebelum kematian itu datang". Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati. Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan sang Pemberi hidup.

Belajar mati sejatinya menjadi sangat penting. Sederhananya agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah. Mungkin sebagian dari kita berpikiran bahwa orang mati ibarat tidur menunggu pengadilan dari Allah Yang Maha Agung?

Bagi pendaki spiritual, orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju Yang Maha Kuasa. Seperti yang sudah saya tulisa di akarasa ini, orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya, Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum).

Seandainya ada ruang yang cukup untuk mengkajianya, kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

Gusti Allah itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang Gusti Allah. Tetapi sebaliknya, Gusti Allah itu akan terasa jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain Gusti Allah.

Lantas, bagaimana untuk bisa bertemu dengan Gusti Allah? Jadi begini kisanak. Sebagaimana sampeyan ingin bertemu dengan pacar atau dalam bahasa Jawa gandulaning ati, sebelum ketem sampaeyan pasti sudah membayangkan kemolekan tubuhnya, senyumnya dan berjuta khayalan yang njubel di benak toh. Bahasa anak muda sekarang ‘jauh di mata, dekat di hati’.

Begitu halnya ketika kita ingin berjumpa dengan-Nya. Pasti di setiap waktu segala kerinduan itu akan menjadi bagian hidup kita dan setiap waktu itu pula kita akan selalu meng ingat-Nya, mematuhi segala perintah-Nya. Ibadah hanya untuk-Nya, bukan untuk mertua, istri, apalagi atasan. Meskipun Gusti Allah itu bersifat Gaib.

Apakah bisa kita yang nyata ini bertemu dengan yang Gaib, demikian toh pertanyaannya? Secara rasional orang akan berfikir demikian. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para perindu Tuhan. Seseorang bisa bertemu dengan Sang Gaib dengan menggunakan satu piranti khusus yaitu Rasa dan mata batin. Sebab Gusti Allah itu tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.

Maka dapat kita simpulkan bahwa untuk bertemu dengan Gusti Allah mesti harus menggunakan piranti yang halus yaitu dengan Rasa dan Mata Batin kita. Jika Rasa itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam seperti mata pedang. Dan rasa itu akan akan senantiasa menjadikan kita deket dengan-Nya. Sehingga di setiap langkah, gerak, tindakan dan aliran darah, kita serasa dalam pangkuan-Nya. Disinilah berlakunya Falsafah ‘Sopo sing Temen Bakal Tinemu" (Siapa yang bersungguh sungguh dalam ibadah mangka dia akan menemukan-Nya). Nuwun. Urd2210


Bumi Para Nata, Kaliurang, Yogyakarta, 13/07/2017

Ajaran Tauhid ala Semar

- 3 komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Pernah nonton wayang? Apa yang bisa kita nikmati sekaligus diambil dari sesosok wayang yang notobenenya hanya sebuah modifikasi dari kulit hewan tersebut? Jawabannya ternyata banyak sekali kisanak. Tergantung dari mana kita mengambil titik koordinat untuk menikmati sekaligus mengapresiasi dan menginterprestasikan sosok wayang yang tersaji dalam pegelaran wayang tersebut. Diakui atau tidak dalang memegang kendali dari nilai seni dan keilmuan yang terkandung dari tutur tinular tersebut. Lakon wayang akan menjadi hidup jika sang dalang mampu membawa lakon wayang dengan baik dan menarik.

Pada adegan peperangan misalnya, dalang harus mampu memiliki ketrampilan “sabetan” yang cukup baik. Selain itu, dalang harus mampu memainkan adegan-adegan yang sesuai dengan pakemnya, misalnya adegan wayang yang tengah gembira, maka sang dalang juga harus mampu menghadirkan ekspresi gembira. Begitu pula ketika dituntut untuk menghadirkan adegan-adegan sedih, seorang dalang juga harus mampu bersikap mancolo putro mancolo putri agar penonton terbawa dan menghayati setiap lakon yang dimainkan.

Keahlian sekaligus kelihaian dalang tidak berhenti atau cukup di situ saja. Kepintaran bersikap mancolo putro mancolo putri dan harus didukung ilmu kebudayaan dan ketuhanan. Mengapa demikian? Karena dalam sejarah wewayangan, kisah wayang tidak tidak terhenti pada nilai estetika tetapi wayang merupakan media bagi masyarakat. Wayang bagi orang Jawa merupakan compelling riligius mythology, yakni yang menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh, baik secara horizontal maupun secara vertical. Sedangkan Ward Keeler mengaitkan aspek-aspek tersebut direfleksikan ke dalam kehidupan sosial dan kedudukan relatif sosial.

Kedua ilmuwan tersebut menemukan titik kesaman terhadap wayang yakni pentas wayang menyiratkan tata nilai yang menunjukkan upaya-upaya untuk mencapai keserasian hidup. Keadaan ideal yang wajib dipertahankan itu berupa keseimbangan tata tertib sosial yang digambarkan sebagai suatu masyarakat yang adil, tentram, makmur dan aman.

Nilai ketuhanan, tauhid, yang tertanam di ruh masyarakat Jawa memang kebanyakan berasal dari nilai kebudayaan, salah satunya adalah dari wayang. Peran wayang sebagai media penanaman ruh ketuhanan tidak lepas dari kecerdikan walisongo, khususnya Sunan Kalijaga yang metode dakwahnya lebih mengutamakan dengan nilai-nilai kultural masyarakat. Masyarakat Jawa yang masih mengagungkan nilai-nilai kultural akan lebih menerima nilai keagaman jika penyampaiannya itu lebih bersifat halus, sesuai dengan psikologi masyarakat Jawa yang lebih mengedepankan kehalusan budi dibandingkan jika pengajaran itu disampaikan dengan cara-cara indoktrinisasi ekstrem.

Pemahaman mengenai ketauhidan bagi masyarakat Jawa mungkin akan berbeda dengan pemahaman ketauhidan dengan bangsa Timur Tengah. Hal ini dikarenakan adalanya akulturasi budaya Jawa yang dahulunya lebih bersifat dinamisme dan animisme dengan nilai ketuhanannya yang berasal dari Timur Tengah yang juga sudah diolah secara rasa maupun karsa oleh pendakwah yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Sedangkan tauhid sendiri mempunyai arti yang sangat luas dan untuk memudahkan pemahaman kita mengenal ilmu ketauhidan ini, tauhid diartikan sebagai sikap peng-esa-an terhadap keeksistensian Tuhan. Sifat keesaan ini menjadi penting bagi umat Islam dan menjadi identitas sekaligus pembeda dengan agama-agama lain. Bertauhid dalam agama Islam tidak sekedar mempercayai akan adanya satu Tuhan tetapi lebih dari itu. Pengesaan ini juga harus ada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Manusia beragama setidaknya harus dapat menangkap dan meniru perilaku Tuhan, seperti sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Masalah ketauhidan dalam masyarakat Jawa lebih condong kearah masalah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya. Sangkan paraning dumadi menjadi wilayah sentral yang sering menjadi kajian sekaligus menjadi tujuan manusia Jawa dalah meng-illah-kan Tuhan. Hubungan personal manusia Jawa dengan Tuhannya sepertinya lebih menarik untuk didalami dibanding mengkaji masalah syari’atnya,. Sehingga tak ayal muncullah konsep manunggaling kawula-Gusti, sebuah konsep penyatuan hamba dengan Tuhannya.

Hal ini kemudian menginspirasi para walisongo bagaimana caranya agar konsep tersebut bisa diterima masyarakat dan tidak mengalami shock dalam beragama. Wayang adalah jawabannya. Dalam cerita wayang dengan lakon Bima Suci diceritakan bahwa setelah Bima bersatu dengan Dewa Ruci dan mendapat wejangan spiritual darinya, ia (Bima) segera mendirikan pertapaan Argakelasa dengan gelar Bima Suci atau Bima Paksa yang mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup.

Menurut Damarjati Supadjar, serat Bima Suci menggambarkan pertemuan eksistensi dengan esensi, yang juga dikenal sebagai ngluruh sarira atau racut, mencair, dan melarut. Tranformasi Bima menjadi Bima Suci atau pertemuan Bima dengan jati dirinya atau Dewa Ruci serupa dengan pertemuan antara Musa dan Khidir. Hasilnya adalah kesadaran kosmis, kesatuan lahir dan batin, awal akhir.

Orang Jawa mengenal tokoh-tokoh wayang cukup familiar dan di antaranya yang paling favorit bahkan mempunyai nilai sakral adalah semar. Semar menjadi tokoh utama dalam segala hal, baik sebagai tokoh yang berperan sebagai abdi, penasehat kenegaraan maupun spiritual. Dalam pewayangan diceritakan bahwa semar tinggal di Karang dempel, maksudnya Semar selalu tinggal dan menyirami hati setiap hati manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa semar selalu hadir dan menyantuni orang miskin/kekurangan kebutuhan rohani.

Selain itu, semar juga diperintahkan untuk menjaga hati manusia-manusia suci agar tidak terkontaminasi oleh sifat dan nafsu syaithaniyah. Karena itu dalam pewayangan dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk menguasai alam sunyaruri atau alam kosong dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia. Maksudnya dari alam kosong adalah alam yang kosong dari cahaya Ilahi yang kemudian Semar diperintahkan untuk mengisi alam kosong tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan rohani yang berguna bagi manusia.

Sosok semar hadir untuk menegaskan mengenai arti pentingnya peran agama dalam kehidupan. Agama berperan menyadarkan manusia dan membawa mereka menuju cahaya. Sosok Semar juga merupakan symbol al-Qur’an sebagai kalam Ilahi yang sangat penting, yang di dalamnya memiliki beberapa tujuan mendasar, yaitu:
  • Membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik,
  • Menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab,
  • Menciptakan persatuan dan kesatuan alam, baik alam fisik dengan metafisik dan masih banyak lagi tujuan yang dibawa oleh sosok Semar dalam pentas pewayangan.

Dari sosok Punakawan, baik fisik maupun kehidupan kesehariannya, terkandung pancaran nilai-nilai ketasawufan. Dalam Islam, aspek tasawuf dipercaya dapat membawa manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan dalam pencapaiannya, manusia harus menempuh maqomat kesufian yang tercermin dari Semar

Semar setidaknya memiliki sifat: wijaya (bijaksana dalam berbakti kepada Negara), mantriwira (dengan senang hati berbakti kepada Negara), wicaksana maya (bijaksana dalam berbicara dan bertindak), matangwan (dikasihi dan dicintai rakyat), satya bakti prabu (setia kepada Negara dan raja), wakniwak (tidak berpura-pura), seharwan pasaman (sabar dan sareh, tidak gugup dalam hati), dirut saha (jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia), tan lelana (baik budi dan mengendalikan panca indera), diwiyacita (menghilangkan kepentingan pribadi), masisi samastha buwana (memperjuangkan kesempurnaan diri dan kesejahteraan dunia). Dan masih banyak sifat panakawan yang mengarah kepada konsep hidup ala sufi. Sekian.


Bumi Para Nata, Ngayogyokarto Hadiningrat, 30/06/2017

Makna Simbolik Kayu Gung Susuhing Angin dalam Perpektif Energi Kehidupan

- 1 komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Jika sampeyan kebetutulan gemar sekali nonton wayang. Saya yakin tidak asing dengan istilah dalam judul tulisan ini. Kayu Gung Susuhing Angin. Suatu ketika Bima diperintah Begawan Durna untuk mencari "kayu gung susuhing angin". Sebenarnya, Ia tidak bisa membayangkan seperti apa wujud kayu besar tempat angin bersarang. Namun, kepatuhan dan rasa hormat pada Sang Guru, membulatkan tekat Bima untuk melaksanakan perintah itu.

Yudhistira, kakaknya dan seluruh kerabat Pandawa berusaha mencegah kepergiannya. Mereka curiga, perintah itu hanya tipu daya yang dibisikkan oleh Sengkuni pada Begawan Durna untuk mencelakakan putra kedua Pandawa. Sebab, jika Bima celaka, maka kekuatan Pandawa akan rapuh. Namun Bima tetap pada pendiriannya. Ibarat lagu dangdut, gunung kan kudaki, lautan kuseberangi.

Padahal dibalik perintah untuk mencari makna kata tersebut adalah agar Bima dibunuh oleh raksasa yang tinggal di suatu hutan gung liwang liwung. Adalah keberuntungan Bima, ternyata raksasa bisa dikalahkan. Dan juga raksasa terkalahkan adalah penjelmaan dewa yang dikutuk. Bukannya mendapatkan musibah, sebaliknya mendapatkah berkah. Selain mendapatkan penjelasan tentang makna kata 'Kayu Gung Susuhing Angin', Bima juga mendapatkan pusaka yang kelak bermanfaat untuk masuk ke samudra.

Dalam penjelasannya, sang dewa mengatakan bahwa makna kata 'Kayu' berarti 'karep' atau keinginan. 'Gung' berarti besar. Sedangkan 'Susuhing Angin' adalah nafas manusia. Singkat kata bermakna: Keinginan yang kuat atau besar hanya bisa terkabul jika mampu menguasai nafas. Penulis cerita wayang memahami makna kekuatan dari nafas. Mereka telah memahami bahwa kehidupan terdiri dari:
  • Kehidupan: Pengalaman + Pengalaman;
  • Pengalaman terdiri dari perbuatan + perbuatan;
  • Perbuatan akibat dari ucapan + ucapan;
  • Ucapan: pikiran + pikiran.
Saat pikiran tidak terkendali yang terjadi hidupnya kacau. Dapat dipastikan semua kehidupan kacau. Jika hal ini terjadi, mungkinkah keinginan mulia digapai? Perhatikan saat kita dalam emosi yang negatif, marah, cemas, irihati, sakit hati dan sebagainya, nafas kita pendek dan ritmenya kacau.

Pikiran tidak dapat dilawan. Saat kita memperhatikan pikiran dan berupaya menenangkan, yang didapatkan bukan semakin tenang tetapi semakin gelisah. Jika pikiran tidak bisa tenang dapat dipastikan bahwa keinginan atau karep yang kuat tidak akan tercapai. Bagaimana mungkin pikiran yang tidak jernih atau kacau bisa memutuskan sesuatu dengan tepat? Bagaikan permukaan danau yang berombak, dasar sugai tidak dapat terlihat. Hanya saat permukaan danau tenang, maka segala kotoran mengendap. Dan dengan sendirinya, dasar danau terlihat dengan jelas.

Dalam teks aslinya di Mahabarata, istilah ini, 'Kayu Gung Susuhing angin' tidak ada. Berdasarkan hal ini, sesungguhnya penulis naskah atau istilah ini sangat memahami korelasi antara pikiran dan nafas. Sebagaimana pada narasi di atas, saat pikiran tidak tenang, keinginan yang besar tidak bakal terlaksana atau tercapai. Keinginan yang mulia dapat tercapai bila dan bila menguasai 'Susuhing Angin', menguasai nafas.

Ya, saat nafas terkuasai, maka dengan sendirinya pikiran menjadi tenang. Kita tidak mampu menenangkan pikiran, tetapi kita bisa mengatur nafas agar semakin perlahan. Nafas bisa dikuasai, tidak seperti pikiran. Ibarat suatu tongkat yang dinamakan ketenangan. Pada bagian pangkal adalah pikiran, sedangkan ujung lainnya adalah nafas. Tongkat ketenangan tidak diperoleh saat memegang bagian pangkal, pikiran. Namun tongkat ketenangan didapatkan jika kita memegang bagian ujung lainnya, nafas. Keinginan mulia atau agung hanya bisa dicapai oleh mereka yang nafasnya terkendali. Nafas berkaitan dengan Prana atau aliran energi kehidupan. Urd2210


Tatar Galuh, Pamarican, Ciamis, 24/06/2017