Featured Posts

Makna Simbolik Alas Ketonggo dalam Mistik Kejawen

- Tidak ada komentar
Ilustrasi
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Budaya Jawa sering kali banyak menampilkan aspek mitologi, sedemikian kuatnya aspek mitologi ini sehingga tak jarang meminggirkan fakta-fakta sejarah yang sudah jelas sekalipun. Alas Ketonggo salah satu contohnya.

Alas Ketonggo dalam ranah Mistik Kejawen atau kita lebih sering mengenalnya dengan kebatinan Jawa memang tidaklah asing. Di alas (hutan) kecil ini banyak menyimpan mitos dan legenda yang melintas jaman. Artinya, meski dunia sudah sedigital ini, mitos dan legenda tersebut masih sangat mengakar kuat bagi yang mempercayainya, baik secara histori sejarah maupun secara spiritual.

Memang kalau kita cermati lebih mendalam, Mistik Kejawen lebih merupakan sikap hidup keagamaan orang Jawa, karena kenyataannya Mistik Kejawen dalam praktek kehidupan sehari-hari menjadi semacam agama orang Jawa yang bersifat mistik. Pola hidup mistik seakan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa, sehingga menjadi bentuk kepercayaan masyarakat. Sederhananya, secara historis Mistik Kejawen (kebatinan) dapat diartikan sebagai kebudayaan spiritual, “Agama ageming Aji, Kawruh kawruhing Ratu”.

Sedikit saya kutipkan tentang hakekat Mistik Kejawen (kebatinan) yang merupakan sikap keagamaan masyarakat Jawa menurut pandangan De Jong. Dalam bukunya, De Jong mengatakan bahwa Mistik Kejawen itu tidak berdasar pada doktrin tertentu, namun demikian dalam aliran yang beraneka ragam terdapat penekanan-penekanan yang sama. Pandangan tentang konsep manusia, kesatuan dan perkembangannya terdapat kesamaan. Para penganut mistik dituntut untuk menjadi manusia yang “Sepi ing Pamrih, rame ing gawe” dan ikut “memayu hayuning Bawana” (Banyak bekerja bhakti dengan tanpa mementingkan keuntungan pribadi dan ikut membentuk dunia yang indah dan makmur), inilah yang menjadi pedoman dan falsafah aliran-aliran kebatinan.

Baik, kita kembali lagi pada topik awal, yakni Alas Ketonggo. Bicara tentang lokasi Alas Ketonggo ini, ada banyak tempat yang merujuk nama yang sama. Sebut saja di antaranya, Alas Ketonggo di Ngawi atau sering disebut juga Alas Srigati. Kemudian, di Kalasan, Yogyakarta atau sering disebut Bathok Bolu Isi Madu. Di daerah Blora, dekat dengan komunitas Samin juga disebut Alas Ketonggo, dan masih ada beberapa tempat lagi dengan penyebutan yang sama, Alas Ketonggo. Tapi secara lokasi atau obyek yang sesungguhnya, Alas Ketonggo berada di Alas Purwo. Meski demikian, semua tempat yang saya sebutkan di atas diyakini masyrakat setempat sebagai pusat kraton gaib yang terus dibangun dan tak kunjung selesai.

Sebagaimana kita ketahui bersama, budaya Jawa banyak pesan yang diwujudkan dalam bentuk sanepan dengan makna yang tersirat, bukan tersurat untuk generasi-nya, agar tidak lengkang oleh perkembangan zaman. Nah, berikut ini saya nukilkan makna Alas Ketonggo dalam makrifat Jawa.

Ditilik dari namanya, Alas Ketonggo, "alas" berarti hutan, dasar pokok atau keramaian. Ketonggo berasal dari kata "katon" (terlihat) dan "onggo" (makhluk halus) atau makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan.

Bertelekan pada sanepan di atas, secara ekplisit menjelaskan bahwa siapapun yang meyakini keberadaan Tuhan harus meyakini adanya alam rohani, tempat kehidupan makhluk-makhluk rohani atau gaib. Seperti halnya tentang keyakinan adanya kehidupan setelah terjadi kematian, yaitu alam kehidupan gaib atau alam rohani bagi para arwah yang telah meninggalkan dunia atau alam kehidupan jasmani.

Siapapun yang hendak menuju kehadirat Tuhan-nya esok sebagai tujuan atau perjalanan akhir harus memahami alam kehidupan rohani. Jelasnya, siapapun untuk tertuju kehadirat-Nya harus melewati tujuh lapisan alam kehidupan rohani atau harus melewati perjalanan langit ke tujuh. Selagi dirinya masih terbelenggu oleh pengetahuan akal alam jasmani dengan mengandalkan perangkat tubuh jasmani dan inderanya, maka mereka ini tidak akan pernah mampu mengerti dan memahami dimensi kehidupan alam gaib tersebut.

Memang, dalam hidup di dunia ini kita tidak bisa melepaskan begitu saja alam kehidupan jasmani yang memang sebagai pijakan dasar yang tidak bisa ditinggalkan selama menjadi manusia. Namun yang tak kalah penting juga, dalam Mistik Kejawen setidaknya ada tujuh alam kehidupan rohani yang akan kita alami.

Sementara untuk mengetahui kehidupan alam rohani, maka kita terlebih dahulu harus memahami sinandi (bahasa yang tersirat) Alas Ketonggo, yang sejatinya adalah kehidupan jagad alit kita sendiri.

Bahasa sanepan di atas, bisa kita umpakan ketika kita ada di hutan lebat, yang mana pada situasi tersebut kita akan mengalami kekosongan, sepi, dan jauh dari aktivitas hiruk pikuk manusia. Tentu di dalam kesepian, kekosongan dan keheningan kita akan menjumpai keramaian yang melebihi aktivitas alam jasmani yang senyatanya. Itulah pengertian dasar Alas Ketonggo.

Hal ini senanda dengan ungkapan, kosong adalah isi, isi adalah kosong. Maya itu katon dan katon itu maya. Itulah pokok-pokok pengertian rohani Alas Ketonggo yang sesungguhnya menyimpan rahasia atau tabir pengetahuan dan pengertian dalam menyikapi kehidupan bersama.

Memahami sifat dan peran fenomena energi udara dan nafsu di dalam kehidupan ini akan mengungkap segala pencarian aktivitas keramaian akan mendapatkan kesepian dan mencari keheningan dan kesepian akan mendapatkan keramaian. Hanya orang yang beralaskan kesadaran saja yang mampu mengungkap rahasia tersebut. Alas Ketonggo adalah ekspresi kehidupan jiwa itu sendiri yang terdapat fenomena energi udara dan nafsu yang harus kita kendalikan dan kita atur demi kebaikan hidup diri kita sendiri maupun untuk sesama.

Fenomena energi udara dan nafsu di dalam jiwa manusua hakekatnya ada pada pikiran, perasaan dan budinya yang syarat dengan adanya kegiatan maya dan samar seperti angan-angan, harapan, khayalan, imajinasi dan impian. Bukankah fenomena energi itu seperti aktivitas makhluk halus di alam maya atau alam rohani yang sulit ditentukan oleh siapapun yang tidak mengetahui dan memahaminya. Nah, berpedoaman pada pengertian ini, maka siapapun yang mampu menyatakan segala perwujudan yang maya dan samar maka disebut mengalami Alas Ketonggo.

Melihat dan mengalami hingga terampil bertahan hidup di Alas Ketonggo (jiwa) adalah yang seharusnya dialami dalam kehidupan setiap manusia, agar mereka membuahkan cipta, rasa dan karsa karya nyata untuk membangun hidup dunia untuk sesamanya. Siapapun yang telah lulus dari Alas Ketonggo akan menjadi pemimpin bagi umat manusia dan segenap makhluk hidup beserta alam semesta ciptaan-Nya.

Kemudian tentang onggo. Penegrtian ini bisa kita simpulkan bahwa dalam hidup jangan sampai hidup dikuasai oleh jagat onggo-onggo atau jagatnya para dedemit atau makhluk halus yang serba menebar kebingungan, kekhawatiran, ketakutan, mudah heran (gumunan) tetapi kita yang harus menguasainya. Oleh sebab itu, kuasailah Alas Ketonggo (jiwa). Dalam konteks ini, bisa juga kita maknai bahwasanya, siapapun yang bisa menguasai Alas Ketonggo (jiwa) akan memahami pengertian Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwataning Diyu, agar kita tidak dikuasai oleh mereka yang menguasai segala hal yang samar atau yang tidak jelas, seperti kekhawatiran, kebingungan, ketakutan, dll.

Seperti juga yang kita tahu, pengertian takut secara harfiah adalah pada dasarnya ketakutan, kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan hanyalah untuk siapapun yang belum genap pengertian dan pengetahuannya. Selama manusia mengalami ketakutan, kekhawatiran dan kebingungan, berarti mereka masih dikuasai dan dibelenggu oleh setan atau iblis beserta walinya, yang berkarya menguasai dan membelenggu hidup itu sendiri.

Alas Ketonggo adalah sinandi (bahasa yang tersirat) bagi setiap manusia yang harus diketahui rahasianya, agar  kita genap disebut manusia yang hidup karena titah Tuhan, bukan hidup karena asal atau Waton hidup. Siapapun yang belum memahami apa yang tersirat dalam Alas Ketonggo akan tersesat, karena sebuah dasar pengetahuan pokok dalam melakukan perjalanan hidup yang sekaligus sebagai perjalanan rohani.

Dalam konteks lebih luas, sejarah dan jati diri dan identitas bangsa ini sejatinya tersimpan memorinya di dalam Alas Ketonggo. Siapapun yang mengebalinya akan mengungkapnya dengan melihat aktivitas leluhurnya di alam rohani Alas Ketonggo. Memasuki Alas Ketonggo akan membuat kita cerdas, berpengetahuan dan berpengertian luas untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Bahkan segala pengetahuan yang telah punah dan sirna oleh zaman masih tersimpan rapi di Alas Ketonggo, tentu mendapatkannya dengan berinteraksi di dalam pengetahuannya.

Bagi siapapun yang berhasil mengupas Alas Ketonggo akan menjadi sosok pemimpin, sebab dengan pengetahuan dan pengertiannya akan membuahkan terang bagi yang mengalami kegelapan pengetahuannya dan menjadi pembebas penderitaan. Bangsa yang besar tetap terus berjuang menemukan dan mempertahankan jati diri dan identitasnya, dengan berjuang mencapai pencerahan atau kemerdekaan menuju kedamaian, ketentraman dan kemakmuran baginya. Bukankah kesengsaraan dan derita adalah simbol dari neraka dan simbol kebahagiaan, kemerdekaan, kebebasan, pencerahan, kemakmuran, kedamaian dan ketentraman adalah simbol surga.

Alas Ketonggo, yang juga kita pahami bersama selalu dikait eratkan dengan akan munculnya sosok Satria Piningit. Pemaknaan tentang Satria piningit akan muncul dari Alas Ketonggo, dengan tanda munculnya Bathok Bolu Isi Madu sejatinya adalah sinandi untuk perjalanan rohani. Bathok Bolu Isi Madu adalah makna tersirat dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwataning Diyu yang diawali dengan pembukaan delapan lubang atau pintu gerbang energi kehidupan agar terbuka pintu yang kesembilan.

Hanya Satria piningitlah dalam pengertian tersirat yang mampu membuka kedelapan pintu gerbang atau yang disebut bathok Bolu Isi Madu. Olehnya, ke delapan pintu gerbang terbuka di dalam bathok bolu isi madu oleh satria piningit, kemudian satria piningit mampu membuka pintu gerbang kedelapan, maka satria piningit menjadi Ratu Adil. Munculnya Bathok Bolu Isi Madu sebagai tanda keberhasilan satria piningit, jika berhasil membuka pintu gerbang kebebasan dan pencerahan hidup. Pintu gerbang kesembilan jika terbuka maka satria piningit akan melepaskan ikatan duniawi lapis tujuh, hingga disebut sebagai Ratu Adil atau Ingkang Sinuwun atau Ingsun.

Sejatinya, Satria piningit itu adalah diri kita sendiri atau pribadi sejati atau roh sejati yang menguasai hidup, yang disebut Ingsun. Pertanyaannya, mengapa alas ketonggo menjadi sinandi pencerahan rohani dan jasmani beserta keberhasilan umat manusia, di dalam pengetahuan luhur budaya Jawa? Baik, mari kita kaji bersama pertanyaan ini.

Alas walaupun disebut hutan yang oleh beragam makhluk hidup seperti pepohonan, hehewanan serta makhluk halus yang berasal dari arwah-arwah para leluhur masa silam, sebagai ekspresi fenomena udara dan nafsu kita semua, yang liar dan terkendali. Sanepan ini adalah sinandi. Dalam hal ini Alas Ketonggo sebagai sinandi kehidupan jagat cilik (udara dan nafsu-kita) dan jagat gedhe (alam semesta).

Alas ketonggo dalam pengertian jagat cilik adalah fenomena kehidupan kita, yang pada dasarnya sulit dikendalikan tetapi harus mampu kita kendalikan. Sedangkan alas ketonggo dalam arti makro atau dalam pengertian nyata, seperti Kraton beserta Raja-nya sebagai sentral budaya, tempat-tempat yang dimitoskan atau disakralkan dalam kegiatan peziarahan. Arti pesan yang mendalam bahwa kita tidak bisa meninggalkan budaya dan sejarah masa lalu.

Alas Ketonggo tempat arwah-arwah para leluhur yang telah meninggalkan dunia puluhan hingga ratusan tahun, namun belum berpulang dihadirat Tuhan, dan masih menyimpan rapi di dalam tubuh halus maniknya. Banyak pengetahuan masa silam yang sebagai simbol jati diri dan identitas bangsa yang tersandikan di Alas Ketonggo. Karena itu, kehidupan para arwah leluhur masih aristokrat, sesuai peradaban budayanya pada masa lalu.

Peradaban budaya beserta nilai-nilai luhur masa silam tersebut menyimpan potensi kekuatan identitas dan jati diri bangsa. Ketika suatu bangsa ingin jaya dan menjadi terang dunia harus berpijak pada budaya atau jati diri dan identitas itu sendiri. Hal ini senada dengan ungkapan Soekarno, Jasmerah, jangan melupakan sejarah atau budaya leluhur bangsa ini, jika melupakan sejarah dan budaya, maka hal ini adalah awal mula kelemahan dan akan berangsur suatu identitas bangsa.

Dengan memahami bahasa sandi Alas Ketonggo, maka rahasia dan kenangan masa lalu yang membantu siapapun yang tergerak akan dapat menemukan jati diri dan identitas. Karena di Alas Ketonggo ini banyak menyimpan sejarah.

Meskipun sandi Alas Ketonggo disebut dan dikatakan mitos bagi pemahaman modern, tetap mereka jaya sebagai pusat pemikiran dikarenakan berangkat dari mitos atau yang disebut angan-angan, harapan, cita-cita, impian, dll. Bangsa manapun tidak akan maju dan jaya jika meninggalkan angan-angan, harapan, cita-cita, keinginan, keinginan, harapan, impian yang kesemuanya adalah simbol mitos.

Alas Ketonggo adalah sandi untuk menggali jati diri dan identitasnya sebagai awal mengumpulkan kekuatan untuk terbebaskan dari kesengsaraan, derita, ketidaktentraman dan ketidakdamaian, ketidakmakmuran, kemiskinan dan belenggu bangsa. Bangsa yang telah jaya menggali budaya asalnya sendiri melalui prosesi sinandi Alas Ketonggo dengan menghormati perjuangan leluhurnya.

Bagaimana bisa jika suatu bangsa bangsa atau bahkan diri kita sendiri akan mendapatkan pencerahan dan kemerdekaan hidup bagi bangsa kita sendiri, jika kita saling berjuang demi kepentingan dan kekuasaan kelompok. Salah satu nasehat sinandi Alas Ketonggo, "Janganlah energi jiwa udara dan nafsu saling bertubrukan menyalakan api kesengsaraan yang menambah dirimu atau bangsamu saling terbelenggu dan membelenggu".

Jika energi jiwa udara dan nafsu saling bertubrukan atau bertabrakan maka mereka akan saling memiliki kebingungan, saling memiliki kekhawatiran, saling memiliki ketakutan, sekalipun hal itu terungkap atau tidak terungkap. Dengan memasuki Alas Ketonggo, kita akan mendapati banyak pengetahuan yang mengisi kekurangan dan kelemahan diri kita, agar kita tidak mudah bingung, takut, khawatir, menderita dan sengsara.


Memasuki alas ketonggo dibutuhkan seni ketrampilan melepaskan belenggu tubuh jasmani, jika tidak memiliki hanya akan dapat kesunyian dan aktivitas kesendirian tanpa arti dan makna seperti melamun atau menghayal. Memang tidk mudah, namun bukan berarti tidak bisa, alangkah lebih lengkapnya jika setiap kita yang memiliki kecerdasan akal jasmani, kemudian memiliki kecerdasan rohani di dalam pikiran, perasaan dan budi, maka pengetahuan dan ketrampilan kita akan disebut seimbang. Karena sejatinya keseimbangan diperlukan jika memasuki alas ketonggo, agar akal jasmani dipersiapkan agar tidak mengalami gejolak keterbatasan dengan kehidupan rohani. Nuwun.

Musnahnya Jamus Kalimasada

- Tidak ada komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Alih-alih padam, justru dendam kesumat Mustakaweni kepada Pandawa semakin menjadi-jadi karena seringnya dikipas-kipasi kakaknya, Prabu Bumiloka (Bumintaka/Nilarudraka) raja kerajaan Tegalparung. Mustakaweni, putri Prabu Niwatakawaca ini menjadi tumpuan harapan dinasti kerajaan Manimantaka untuk melunasi dendam mereka kepada Pandawa, khususnya kepada Arjuna, sang pembunuh Prabu Niwatakawaca beserta keluarga besarnya.

Pasti sampeyan bertanya-tanya, mengapa Arjuna membunuh Prabu Niwatakawaca?
Begini kisanak, sebenarnya dalam perkara ini Arjuna hanyalah pelaksana tugas dari Batara Guru (Batara Manikmaya), yang mendaulatnya untuk membunuh Niwatakawaca lantaran raja Kerajaan Manimantaka itu kerap kali mengancam dan menyebarkan ketakutan di Marcapada atau dunia manusia dan di Madyapada atau dunia para dewa. Di dunia para dewa, Prabu Niwatakawaca membuat kekacauan karena keinginannya mempersunting Dewi Supraba ditolak oleh Batara Guru. Sementara di dunia manusia, dia ingin diakui sebagai penguasa yang paling pantas untuk ditakuti.

Prabu Niwatakawaca yang ketika mudanya bernama Arya Nirbita itu mempunyai ciri mata kanannya buta karena ditusuk oleh Dewi Supraba dengan kacip (pemotong buah gambir; ternyata bidadari juga ‘nyirih’). Dewi Supraba melakukan itu ketika Arya Nirbita mengintip tingkah polah para bidadari di kahyangan Kaideran. Sejak peristiwa itulah Arya Nirbita yang sudah beristri Dewi Sanjiwati, ibu Mustakaweni, berjanji akan mblales Dewi Supraba dengan mempersuntingnya.

Menurut Batara Guru, Niwatakawaca hanya dapat dihancurkan oleh manusia sakti yang mampu menahan segala nafsu duniawinya, dan pilihan jatuh ke Arjuna karena dia berhasil laku tapa brata yang ketika itu Arjuna menyamar sebagai resi dengan nama Begawan Mintaraga di puncak Gunung Indrakila.

Saat itu niat Arjuna melakukan tapa brata hanya  untuk mendapatkan kekuatan dari dewa guna menghadapi musuh-musuhnya kelak dalam perang besar keturunan Bharata (Bharatayuda). Tapa brata itu dilakukannya saat Pandawa dan Drupadi menjalani hukuman pengasingan selama dua belas tahun di hutan Wanamarta (Wisamarta) yang kemudian hutan itu menjadi Negara Indraprasta (dalam lakon Babat Alas Wisamarta).

Keteguhan tapa brata Arjuna tak tergoyahkan karena dia mampu menahan godaan tujuh bidadari, yang salah satunya adalah Dewi Supraba. Akhirnya Batara Guru memberi Arjuna sepucuk panah mahasakti bernama Pasupati. Namun sebuah tugas berat mesti dipikulnya. Arjuna harus menghancurkan kekuatan Prabu Niwatakawaca.

Mengapa Arjuna kawin dengan Dewi Supraba?
Dewi Supraba menjadi duta para dewa untuk mendampingi Arjuna dalam menumpas Prabu Niwatakawaca. Mereka berdua berbagi tugas; Dewi Supraba bertugas untuk mencari rahasia kematian Prabu Niwatakawaca dengan berpura-pura bersedia menjadi istrinya. Usaha Dewi Supraba ini berhasil karena ia berhasil menemukan rahasia kematian Prabu Niwatakawaca yang berada di rongga mulutnya.

Suatu ketika, Prabu Niwatakawaca menolak hidangan ikan laut yang disiapkan Dewi Supraba. Dewi Supraba heran, dan karena desakan Dewi, akhirnya Prabu Niwatakawaca bercerita bahwa dia pernah sakit dan hampir mati karena rongga mulutnya tertusuk duri ikan, sekalipun duri itu kecil. Dari cerita itu Dewi Supraba berkesimpulan bahwa kelemahan Prabu Niwatakawaca berada di rongga mulutnya. Segeralah peristiwa itu disampaikan kepada Arjuna.

Arjuna, yang terus mengintai sang asura (raksasa) dengan sang bidadari, dengan menggunakan Aji Panglimunan (membuat dirinya tak terlihat), kemudian bertindak mengalihkan perhatian Prabu Niwatakawaca dengan menghancurkan gerbang istana sehingga menimbulkan kegaduhan.
Begitu mendengar kegaduhan, Prabu Niwatakawaca lantas meninggalkan Dewi Supraba dalam kamar seorang diri untuk memeriksa sumber kegaduhan itu. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh sang bidadari. Dewi Supraba bergegas terbang meninggalkan istana menyusul Arjuna.

Setelah mengetahui rahasia kematian sang asura, Arjuna memimpin pasukan kahyangan untuk menghancurkan kekuatan Manimantaka dan Prabu Niwatakawaca. Sementara pasukan kahyangan bertempur mati-matian menyerang pasukan Manimantaka, Arjuna dari kejauhan membidikkan panah Pasupatinya ke arah mulut Prabu Niwatakawaca. Dan sekali bidik, “jreeb!!” Pasupati itu melesat bagai kilat menancap pas di rongga mulut Niwatakawaca hingga tembus ke tengkuknya. Prabu Niwatakawaca tewas seketika!

Sebagai hadiah kemenangannya, oleh Batara Guru, Arjuna dinobatkan sebagai raja kahyangan dengan gelar Prabu Kiritin (yang berarti "tiara permata") sekaligus dinikahkan dengan Dewi Supraba sebagai permaisurinya. Arjuna tinggal di kahyangan selama tujuh tahun masa pembuangannya. Buah cinta Arjuna dengan Dewi Supraba, lahirlah seorang putra, yaitu Prabukusuma atau Bambang Priyambada yang kelak sebagai Kusumayuda (pahlawan) dalam perang Bharatayuda. Di kemudian hari, oleh Dewi Supraba, Bambang Priyambada dititipkan kepada Dewi Maheswara dan Resi Sidik Waspada (ayah Dewi Maheswara) di Pertapan Glagaharum untuk mencari ayahnya, Arjuna di Marcapada.

Dalam cerita Mahabharata, Dewi Supraba adalah tokoh bidadari dari kahyangan Jonggringsaloka dan dianggap sebagai ratu bagi para bidadari lainnya karena keberaniannya dalam membela hak-hak para bidadari. Meskipun sering disebut-sebut sebagai putri bungsu Batara Indra (dua puteri lainnya adalah Dewi Tara dan Dewi Tari), ia sesungguhnya berasal dari cahaya yang kemudian pecah menjadi tujuh rupa, yaitu dirinya dan para rekan bidadari (Tilottama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lenglengmulat).

Dikisahkan sebagai tokoh wanita selain cantik dan berani (tegas) dalam dunia pewayangan, Dewi Supraba sering menjadi objek cinta dari para asura atau raksasa yang kemudian berniat menyerbu dan merusak kahyangan jika lamaran mereka ditolak. Para raksasa yang berniat mempersuntingnya antara lain Prabu Naga Percona (dalam kisah Kelahiran Jabang Tetuka/ Gatotkaca), Prabu Nilarudraka (dalam kisah Asmaradahana), dan Prabu Niwatakawaca (dalam kisah “Arjunawiwaha”).

Bagaimana siasat Mustakaweni menaklukkan Pandawa?
Walaupun anak raksasa, Mustakaweni adalah perempuan cantik, pemberani, dan seorang pendekar pilih tanding yang menjadi andalan kerajaannya, Manimantaka. Setelah berdiskusi dengan kakaknya, Prabu Bumiloka, diputuskan bahwa, bagaimanapun caranya, Mustakaweni harus bisa mengambil Jamus Kalimasada, karena itulah pusaka andalan Pandawa, sekaligus kunci untuk menaklukkan Pandawa.

Awalnya, karena dibakar oleh dendamnya yang sangat kesumat, Mustakaweni berencana untuk mengobrak-abrik Pandawa. Sebuah keputusan yang sembrono. Untung saja, di perjalanan, tepatnya di Gua Dumung, ia bertemu dengan seorang pertapa bernama Resi Kalapujangga atau Resi Pujangkara yang setelah tahu maksud kepergiannya untuk membalaskan dendam ayahnya yang tewas dibunuh oleh seorang kesatria, lalu menasehatinya.

“Ngger, janganlah terburu nafsu. Bertindaklah yang cerdas. Angger tidak akan bisa mengalahkan musuh dengan cara seperti itu”, kata Resi.

Mustakaweni tersadarkan bahwa tak mungkin dia mengambil Jamus Kalimasada dari Pandawa dengan cara terang-terangan. Apalagi dia hanya seorang diri.

“Ampun Resi, lalu bagaimana saran Resi? Bisakah Resi memberikan suatu cara agar saya bisa mengalahkan pembunuh ayahku itu?”

Resi Kalapujangga pun memberikan kesaktian berupa Aji Kamayan kepada Mustakaweni. Aji Kamayan adalah aji untuk merubah wujud sesuai yang dikehendaki.
“Saya menghaturkan beribu terima kasih, Resi.”

Penyusupan Mustakaweni
Mustakaweni berhasil menyusup ke Kerajaan Indraprasta. Saat itu, di Indraprasta disibukkan oleh kegiatan pemugaran Candi Saptarengga. Dari berbagai informasi yang didapatkan, bahwa dalam pemugaran candi itu ditemui adanya masalah. Berkali-kali candi yang telah dipugar itu selalu roboh kembali. Dipugar pagi hingga sore hari, pagi hari berikutnya berantakan, demikian seterusnya. Padahal sore hingga pagi hari dijaga ketat oleh para prajurit.
Oleh karena itu para Pandawa meminta bantuan Prabu Kresna untuk datang ke Saptarengga. Barangkali ada saran yang tepat. Setelah Prabu Kresna datang ke Saptarengga, dan sudah melihat masalahnya secara langsung, kemudian Kresna mengajak para Pandawa pergi ke Pertapan Saptaarga, sebuah Pertapan keramat yang jauh dari pemerintahan Amarta (Indraprasta). Di Pertapan yang melahirkan pemimpin-pemimpin besar trah Bharata inilah diharapkan masalah pemugaran Candi Saptarengga dapat diatasi. Sementara itu, Sadewa dan Gatotkaca diminta untuk menjaga dan mengawasi Candi Saptarengga.

Setelah cermat mempelajari situasi, Mustakaweni mulai berhitung, siapa yang akan disarunya. Semula dia ingin menyaru sebagai Yudistira, tetapi tidak logis. Yudistira pergi ke Saptaarga. Kemudian dia berniat menyaru sebagai Sadewa. Tetapi dia khawatir bertemu Nakula. Dan dia belum benar-benar yakin, apakah memang Sadewa yang bersama Gatotkaca itu, atau jangan-jangan dia adalah Nakula. Bingung! Memang, fisik boleh sama, suara boleh sama, tetapi karakter, tingkah laku, tidak ada yang sama betul di dunia ini; dan kalau penyamarannya sampai “kepergok” oleh salah satunya (Nakula atau Sadewa), bisa gagal semua rencana, pikirnya. Akhirnya Mustakaweni memutuskan untuk menyaru sebagai Gatotkaca.

Gatotkaca palsu ini kemudian menemui Dewi Drupadi dan pura-pura diutus Prabu Yudistira untuk meminta pusaka Jamus Kalimasada untuk dibawa ke Pertapan Saptaarga sebagai syarat dalam penyelesaian masalah pemugaran Candi Saptarengga. Karena mendadak Yudistira harus berangkat ke Saptaarga dengan Kresna, jadi Yudistira mengutus dirinya (Gatotkaca palsu) untuk mengambilnya. Tanpa curiga, Dewi Drupadi menyerahkan pusaka Jamus Kalimasada kepada orang yang dikira keponakannya itu.

Penyamaran Mustakaweni ini rupanya kurang sempurna, nyatanya Srikandi – adik Drupadi, yang tidak sengaja berpapasan dengannya di istana Amarta mencurigai gelagatnya yang tidak baik itu meskipun sudah berwujud sebagai Gatotkaca. Digertaknya Gatotkaca palsu itu dan karena Mustakaweni kurang percaya diri, kaget. Dengan membawa Jamus Kalimasada dia melarikan diri. Dikejarlah Gatotkaca palsu itu oleh Srikandi. Terjadi perang-tanding antara keduanya. Gatotkaca palsu kewalahan, akhirnya, panah sakti Ardadedali Srikandi mengenai Gatutkaca palsu. Seketika itu Gatotkaca palsu berubah menjadi seorang wanita yang tidak dikenalnya.

Merasa terjepit, Mustakaweni akhirnya membuka kedoknya bahwa ia datang dari Kerajaan Manimantaka untuk bela-pati ayahnya, Prabu Niwatakawaca yang tewas karena dibunuh Arjuna. Dia ingin menghancurkan Pandawa, khususnya Arjuna dengan mengambil pusaka ampuh Pandawa, Jamus Kalimasada. Mendengar alasan itu lalu Srikandi meminta agar Mustakaweni mengembalikan pusaka itu dan tidak akan mempermasalahkan penyamarannya. Mustakaweni menolak, dan tetap akan membawa Jamus Kalimasada ke negaranya. Terjadilah perang-tanding kembali di antara kedua perempuan tangguh itu. Kembali Srikandi memanah, namun kali ini panahnya meleset dan Mustakaweni berhasil melarikan diri, melesat ke angkasa.

Srikandi sangat kebingungan karena musuhnya ternyata tak mudah ditaklukkan. Di saat kebingungannya itu, datanglah Bambang Priyambada (Bambang Prabakusuma) bersama para punakawan ke taman Madukara. Semar, sebagai pengasuh “dunia terang”, memperkenalkan majikannya, Bambang Priyambada, putra Arjuna. Bambang Priyambada tinggal di Pertapan Glagaharum, bersama ibu asuh dan kakek asuhnya, Resi Sidik Waspada. Disampaikan oleh Semar bahwa maksud kedatangan Bambang Priyambada ke Madukara ingin berjumpa dengan ayahandanya, Arjuna. Srikandi pun menceritakan apa yang baru dialaminya, yakni diambilnya pusaka Jamus Kalimasada oleh Mustakaweni.

Bagi Bambang Priyambada kejadian ini dianggap peluang untuk menunjukkan baktinya kepada keluarga Pandawa, khusunya kepada Arjuna dengan harapan bila Jamus Kalimasada berhasil dibawanya kembali, Arjuna dengan lapang dada mau mengakuinya sebagai anak. Bambang Priyambada menyatakan kesanggupannya untuk mengambil kembali Jamus Kalimasada dari Mustakaweni. Kemudian Bambang Priyambada dan para Punakawan berpamitan kepada Srikandi, yang juga bibinya itu.

Priyambada dengan Mustakaweni Pengejaran Bambang Priyambada terhadap Mustakaweni tidak sia-sia. Bambang Priyambada meminta Mustakaweni untuk mengembalikan pusaka Jamus Kalimasada kepada Pandawa. Namun, Mustakaweni bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Terjadi perang-tanding sengit. Pertarungan Bambang Priyambada dengan Mustakaweni lama-lama tidak sekedar menggunakan tangan kosong. Masing-masing mengeluarkan senjata pamungkasnya. Langit menggelegar akibat dua kesaktian yang saling beradu.

Akhirnya, merasa sudah tidak mampu melawan Bambang Priyambada, Mustakaweni melarikan diri dari Bambang Priyambada. Tidak kurang akal, Bambang Priyambada kemudian ganti bersiasat. Tanpa sepengetahuan Mustakaweni, kini dia menyaru menjadi Prabu Bumiloka. Prabu Bumiloka palsu itu segera mencegat Mustakaweni. Betapa gembiranya Mustakaweni menjumpai kakaknya yang datang tiba-tiba ikut membantunya itu. Tanpa berpikir panjang, Mustakaweni menyerahkan pusaka Jamus Kalimasada kepada Prabu Bumiloka palsu.

Betapa terkejutnya Mustakaweni ketika Prabu Bumiloka palsu itu tatkala berubah menjadi wujud aslinya. Tak disangka, ternyata Bambang Priyambada juga punya Aji Kamayan! Kini Pusaka Jamus Kalimasada telah berada di tangan Bambang Priyambada. Mustakaweni marah dan minta kembali Jamus Kalimasada. Mustakaweni merangseg maju melawan. Perang-tanding terjadi lagi. Melihat lawannya yang tak mungkin ditaklukkan itu akhirnya Mustakaweni lari, pergi meninggalkan Bambang Priyambada.

Atas saran Semar, Bambang Priyambada diminta menyerahkan Jamus Kalimasada kepada Yudistira yang saat ini berada di Pertapan Saptaarga. Ketika menuju Pertapan Saptaarga, Bambang Priyambada bertemu Prabu Kresna. Diceritakan peristiwa yang baru dialaminya dan disampaikan maksudnya untuk menyerahkan Jamus Kalimasada kepada Prabu Yudistira. Kemudian Kresna menawarkan diri untuk menyampaikan Jamus kalimasada itu kepada Yudistira. Begitu Jamus Kalimasada sudah di tangan Kresna, dengan lari meninggalkan Bambang Priyambada, Kresna tadi berubah wujud menjadi Mustakaweni. Kini giliran, Bambang Priyambada yang terkejut bukan kepalang. Mustakaweni berhasil menipunya!

Mengetahui hal itu, Bambang Priyambada tidak tinggal diam, dilepaskannya panah ke sasaran yang melarikan diri itu dan …., “jresss!”, panah merobek jarit Mustakaweni dan telanjanglah dia. Melihat buruannya yang sudah tak berkutik itu, Bambang Priyambada langsung menyambar jarit yang sudah hampir jatuh ke bumi itu dan ditutupkan kembali ke tubuh Mustakaweni.

Di saat Mustakaweni dalam pelukan Bambang Priyambada, seketika itu juga Mustakaweni memandang Bambang Priyambada adalah seorang satria yang selain berwajah rupawan, sakti, tetapi juga santun. Demikian pula Bambang Priyambada melihat Mustakaweni adalah seorang wanita yang selain cantik, pemberani, dan pandai dalam olah keprajuritan, juga gigih dalam meraih keinginan; hatinyapun kesengsem, akhirnya keduanya saling jatuh cinta.

Rupaya, proses asmara itu merupakan kesengajaan Batara Guru yang ternyata mengikuti peristiwa demi peristiwa perebutan pusaka Jamus Kalimasada. Batara Guru sengaja meminta Batara Asmara (anaknya yang ketiga) untuk menanamkan benih asmara kepada keduanya.

Di saat Bambang Priyambada dan Mustakaweni “mabuk asmara”, tanpa disadari Jamus Kalimasada dalam genggaman Mustakaweni jatuh, kemudian ditemukan Petruk. Karuan saja Petruk yang mendadak mendapatkan pusaka mahasakti itu bingung. Dan Jamus Kalimasada pun berpindah ke tangan Petruk. Seperti diketahui bahwa siapa pun yang memegang Jamus Kalimasada, ia akan sakti mandraguna. Tidak terkecuali seorang abdi seperti Petruk. Kini ia menjadi sangat sakti tak terkalahkan oleh siapapun.

Begitu Petruk menjadi sakti mandraguna, ia menjadi berubah pikiran. Petruk ingin menguasai pusaka itu. Kemudian tanpa ba-bi-bu, pergilah ia ke negeri Ngrancangkencana (Sunyawibawa), dan karena kesaktiannya itu, ia dapat mengalahkan Raja Ngrancangkencana, dan Petruk jadi raja di negeri itu. Inilah awal mula kisah Petruk menjadi raja dengan gelar Prabu Thong Thong Sot Belgeduwelbeh. Sementara itu Bambang Priyambada dan Mustakaweni sedang “mabuk kepayang”, lupa akan misinya masing-masing.

Akhirnya, dengan bimbingan Semar, mereka tersadarkan kembali, mereka berdua dibawa ke Amarta. Kemudian Mustakaweni dinikahkan dengan Bambang Priyambada dan Bambang Priyambada sendiri telah diakui sebagai putra Arjuna meskipun tanpa membawa Jamus Kalimasada. Sementara itu Prabu Bumiloka dalam pengawasan Kerajaan Indraprasta.  Bagaimana nasib pusaka Jamus Kalimasada selanjutnya? Tunggu tulisan selanjutnya…

Kisah Legenda Dibalik Murkanya Gunung Kelud

- Tidak ada komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Gunung Kelud (Klut, Cloot, Kloet, atau Cloete dalam Bahasa Belanda) adalah salah satu gunung yang masih aktif hingga kini. Tidak sebegitu tinggi memang, hanya 1.731 mdpl. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang. Letaknya kira-kira 30 km sebelah timur pusat kota Kediri.

Sejak tahun 1300an, gunung ini tercacat rajin meletus dengan rentang waktu yang lumayan pendek, antara 9 – 25 tahun sekali gunung ini batuk dan muntah untuk menyapa pemukim di sekitarnya. Karena seringnya menyapa ini, menjadikannya sebagai satu diantara beberapa gunung api yang ada di Indonesia masuk kategori berbahaya bagi manusia. Sejak abad ke 15, Gunung Kelud telah meminta koraban jiwa lebih dari 15.000 jiwa. Pada tahun 1586 letusannya merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.

Sebagaimana umumnya gunung-gunung yang lain, Gunung Kelud ini juga tidak lepas dari legenda dan berbagai mitosnya. Cerita legenda mengenai Gunung Kelud ini cukup menarik, karena bertemakan tentang romansa atau asmara lebih tepatnya. Dikisahkan, pengusa Kelud kala itu, Lembu Sura sedang kesengsem (jatuh hati) pada putri raja Brawijaya, Dyah Ayu Pusparini (versi lain mengatakan putri tersebut adalah Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana).

Diceritakan, paras Dyah Ayu Pusparini ini sangat jelita. Saking jelitanya sudah tak terhitung lagi para pangeran dari manca nagari datang untuk meminangnya. Tapi sayangnya, mereka harus bersabar dulu, Prabu Brawijaya belum menerima satu pun lamaran yang diajukan kepada putrinya. Di sisi lain, sang raja tidak menginginkan kerajaannya hancur karena serangan para bangsawan yang tidak sabar menanti jawaban darinya.

Setelah berpikir keras dan menimbang berbagai kemungkinan, Prabu Brawijaya memutuskan untuk mengadakan sayembara. Sayembara untuk memperebutkan sang putri. Raja menginginkan menantu yang kuat dan tangguh. Ia mendengar bahwa busur Kiai Garudayeksa merupakan busur panah yang sangat kokoh sehingga sangat sulit untuk direntangkan. Ia menggunakan busur tersebut sebagai alat yang akan diujikan saat sayembara. Selain itu, raja juga hendak memastikan bahwa menantunya kelak merupakan orang yang pantas bersanding di sisi Dyah Ayu. Raja menambah tantangan untuk sayembara menggunakan gong Kiai Sekadelima. Gong yang terkenal memiliki kekuatan sakti, yang membuatnya menjadi sangat payah diangkat hanya dengan kekuatan satu orang dewasa.   

Berita mengenai sayembara telah tersebar luas di seantero Majapahit dan kerajaan sekitarnya. Pada hari yang sudah ditentukan, para bangsawan dan kesatria berkumpul di alun-alun kerajaan. Prabu Brawijaya serta Putri Dyah Ayu bersiap menanti menantu serta suami yang kelak akan mendiami keraton bersama mereka.

Busur Kiai Garudayeksa dan Gong Kiai Sekadelima juga telah tertata rapi di tengah alun-alun. Dipukulnya sebuah gong kecil oleh sang prabu, tanda sayembara dimulai. Dengan tawa yang lantang dan dada terbusung, satu per satu bangsawan maupun kesatria mulai berbaris untuk unjuk aksi.   

Semua peserta beraksi, mulai dari mereka yang hanya sekedar berotot hingga yang berbadan besar dan mengerikan. Dari sekian banyak yang mencoba, tak satupun berhasil menyelesaikan tantangannya. Bahkan, beberapa dari mereka justru merasa kesakitan setelah gagal merentangkan busur dan mengangkat gong sakti.   

Sang prabu pasrah, hendak menutup sayembara tanpa hasil. Gong kecil tanda ditutupnya sayembara hendak dipukulnya. Seketika pula, datang seorang pemuda menghadapnya. Pemuda itu bertubuh selayaknya manusia biasa. Ia datang menunduk dan memberi hormat.   

“Paduka Prabu Brawajiya, izinkan hamba menghadap.”   
“Dengan senang hati, berdirilah! Siapakah dikau, tak pernah terlihat sedikitpun olehku dirimu di kerajaan ini.”   
“Lembu Sura menghadap Prabu.”   
“Apa yang terjadi denganmu?”   
“Saya terlahir seperti ini, untuk itulah Saya dinamakan Lembu Sura”   
“Baiklah, jadi, apa yang dikau inginkan dari Raja Majapahit ini.”   
“Hamba hanya menginginkan Prabu menginzinkan hamba mengikuti sayembara ini.”    “
Silakan jika memang kau sanggup mengikutinya.”   
Dari sebelah Prabu Brawijaya terdengar suara berbisik. “Ayahanda, apa kau yakin mengizinkan makhluk itu mengikuti sayembara?”   
“Biarlah Ananda, makhluk itu hanya akan membuang tenaganya, dan lagi, penduduk akan sedikit terhibur dengan sayembara ini.”   

Penonton tertawa melihat Lembu Sura datang ke tengah lapangan. Ia hanya mendengar tawa mereka sebelah telinga dan membiarkannya pergi. Dia mengangkat Busur Kiai Garudareksa dan merentangkan busur itu dengan mudahnya. Semua gelak tawa terhenti. Tatapan mengejek mereka digantikan oleh tatapan kosong terkejut. Putri Dyah Ayu terlihat cemas. Lembu Sura beranjak menuju Gong Kiai Sekadelima. Sang putri tampak makin tegang. Ia berharap Lembu Sura gagal kali ini.

Tak beda jauh dengan semula. Penonton makin terkejut tak percaya. Lembu Sura menyelesaikan sayembara hanya dengan satu kali mencoba. Sang putri sedih dan kecewa. Ia berlari ke dalam keraton seraya menangis.   

“Aku tidak ingin bersuamikan seorang manusia berkepala lembu!”   

Prabu Brawijaya terkulai lemas tanpa kuasa untuk melakukan apa-apa. Ia tidak ingin mengecewakan putri kesayangannya. Ia juga tak ingin martabatnya sebagai seorang raja turun hanya karena mengingkari sebuah janji. Tidak ada pilihan lain baginya. Dengan begitulah, sang putri dipaksa menerima Lembu Sura sebagai pendamping hidupnya. Dengan berat hati Prabu Brawijaya mengumumkan di hadapan masyarakat bahwa penerusnya kelak adalah Lembu Sura. Orang-orang masih tidak percaya sekaligus takjub akan kekuatan Lembu Sura.   

Berita mengenai Lembu Sura yang berhasil mengikuti sayembara ramai tersebar dan menjadi topik yang paling hangat untuk diperbincangkan di seluruh Kerajaan Majapahit. Sementara di dalam keraton, Putri Dyah Ayu hanya bisa menangis meratapi apa yang baru saja ia dapatkan. Berhari-hari ia mengurung diri di dalam kamar. Ia selalu menolak makanan dan minuman yang diberikan kepadanya. Melihat keadaan tuannya yang makin memburuk, seorang inang pengasuh keluarga kerajaan mencoba memberi saran kepada sang putri.   

“Ampun, Kanjeng! Jika Kenjeng Ayu tidak ingin menikah dengan Lembu Sura, sebaiknya Kanjeng Ayu segera mencari jalan keluar sebelum hari pernikahan Kanjeng tiba.”   
Sejenak Putri Dyah Ayu terdiam.   
“Lalu, apa kau punya usul mengenai jalan keluar itu?”   
Beberapa menit suasana menjadi hening. Dua orang itu sibuk berpikir.    “Ada Kanjeng! Kanjeng Ayu bisa memberikan persyaratan yang berat kepada Lembu Sura sebelum pernikahan dilangsungkan.”  
 “Bagaimana?”   
“Coba, minta kepada Lembu Sura agar dia membuat sebuah kolam di puncak Gunung Kelud untuk pemandian Kanjeng serta Lembu Sura setelah menikah. Tapi, kolam tersebut harus selesai dalam satu malam.”   

Usulan itu diterima oleh Putri Dyah Ayu. Ia segera menyampaikan usulan itu kepada Lembu Sura. Tanpa berpikir panjang, Lembu Sura menyanggupi permintaan sang putri. Prabu Brawijaya yang tidak mengetahui maksud putrinya, hanya mengikuti apa yang sang putri inginkan. Ketika hari menjelang gelap, Ia segera beranjak menuju puncak Gunung Kelud diikuti oleh putri Dyah Ayu dan keluarga kerajaan.   

Setibanya di puncak Gunung Kelud, Lembu Sura mulai menggali tanah menggunakan sepasang tanduknya. Dalam sekejap, ia telah menggali tanah dengan cukup dalam. Malam kian larut. Lembu Sura sudah tidak tampak lagi dari permukaan tanah. Putri Dyah Ayu makin panik. Ia takut Lembu Sura dapat menyelesaikan permintaannya. Ia pun mendesak ayahnya untuk menggagalkan usaha Lembu Sura.   

“Ayahanda, apakah engkau tega melihat Ananda menderita seumur hidup hanya karena menikah dengan manusia berkepala Lembu ini?”   
“Sebegitu tidak inginkah kau menikahinya Ananda?”   
“Bahkan jika Ananda mati, itu akan jauh lebih baik. Tapi, apakah Ayahanda ingin Adinda mati?”    Prabu Brawijaya mematung tak bersuara   
“Ayahanda, lakukan sesuatu! Kau adalah Raja Majapahit. Kau bisa melakukan apapun yang Kau mau. Kau punya segalanya.”   

Tidak banyak membuang waktu. Sang raja memerintahkan pengawalnya untuk menimbun galian Lembu Sura beserta Lembu Sura di dalamnya.  Tanpa berucap sepatah pun kata, mereka melaksanakan perintah rajanya. Gundukan tanah bekas galian Lembu Sura dimasukkan kembali oleh mereka. Lembu Sura yang terkejut, tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa meneriaki para pengawal Prabu Brawijaya untuk segera berhenti menimbun Lembu Sura. Posisinya yang telah jauh didalam, serta banyaknya pengawal yang melemparkan tanah beserta tumpukan batu ke arahnya, membuatnya dengan cepat terkubur di dalam tanah. Sekejap, tak sedikitpun bagian dari tubuhnya tampak dari permukaan tanah. Namun, suara Lembu Sura masih terdengar. Ia lalu mengucapkan sumpah serapah dari dalam tanah.   

“Yoh, mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung dadi kedung.”    (“Hai, kelak akan kutimpakan pembalasanku yang berkali lipat kepada kalian. Akan Aku buat Kediri menjadi sungai, Blitar menjadi dataran, dan Tulungagung menjadi perairan dalam.”)     

Semenjak saat itulah Gunung Kelud memuntahkan lahar serta abunya yang berdampak ke daerah sekitar seperti Kediri, Blitar, dan Tulungagung.     

Nilai-nilai budi pekerti yang disampaikan cerita di atas mengajarkan kita untuk tidak menjadi manusia yang suka meremehkan orang lain, terlebih karena penampilan fisik orang tersebut. Kurangnya sesorang secara fisik, bukan berarti kekurangan untuk segalanya. Tuhan menciptakan manusia dalam porsi yang telah ditetapkannya. Akan selalu ada kelebihan yang menutup kekurangan. Lembu Sura yang berkepala lembu, justru menjadi satu-satunya orang yang mampu menyelesaikan sayembara.   

Selain itu, berpikirlah dengan matang ketika hendak mengambil sebuah keputusan. Tentukan terlebih dahulu, akankah lebih baik jika dipilih atau ditinggalkan. Prabu Brawijaya memutuskan untuk membunuh Lembu Sura agar ia tidak menikahi anaknya. Prabu Brawijaya memilih keputusan yang salah. Keputusan yang diambil tanpa berpikir sebelumnya. Keputusan yang kelak akan membawa diri, masyarakat, serta kerajaannya ke dalam kehancuran.   


Lalu, jauhilah perbuatan ingkar janji. Janji merupakan sebuah ikrar yang menyatakan persetujuan oleh dua pihak yang menyatakan kesanggupan untuk berbuat maupun tidak berbuat sesuatu. Mengikari sebuah janji mendatangkan sebuah musibah terhadap pengingkarnya. Ia dapat menurunkan kepercayaan orang terhadap segala tindakan yang dilakukan pengingkar janji. Prabu Brawijaya dan Putri Dyah Ayu telah melanggar janji mereka kepada Lembu Sura. Hal itu telah mendatangkan bencana bagi mereka dan masyarakat sekitar. Letusan Gunung Kelud memakan banyak korban jiwa, belum lagi kerugian moneter seperti sawah, ladang, peternakan, dan sebagainya. Nuwun.

Pesan Penting Dari Begawan Ciptoning

- Tidak ada komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Bagi penggemar wayang khususnya, gunung Indrakila tentu tidaklah asing lagi. Gunung Indrakila ini sering disebut dalam babar wayang dengan lakok Partadewa, Mintaraga, ataupun Begawan Ciptoning. Selain itu, di gunung Indrakila inilah penengah Pandawa, Arjuna melakukan mesu budi (bertapa) untuk memohon anugerah dari para dewa.

Penamaan Indrakila sendiri sebenarnya merujuk pada Kailasa, yakni tempat persemayaman Dewa Siwa di Himalaya. Hal ini sesuai perintah Khrisna kepada para Pandawa seusai kalah dalam permainan dadu, bahwa masing-masing dari kelima Pandawa tersebut harus melakukan perjalanan solo terlebih dahulu guna mencari bekal seandainya peperangan dengan para Kurawa tidak bisa dielakkan. Nah, khusus untuk Arjuna, Kresna menunjukkan tempat Indrakila ini untuk bertapa memohon sebuah pusaka dari Dewa Siwa.

Kitab Arjuna Wiwaha sendiri merupakan turunan dari cerita Wanaparwa, bab ketiga dari Mahabarata, yang ditulis oleh Mpu Kanwa pada jaman pemerintahan Raja Airlangga di Kerajaan Medang, Jawa Timur, pada tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin ini diperkirakan digubah sekitar tahun 1928 – 1935 M. Arjuna Wiwaha menceritakan Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila (dalam cerita wayang kulit dikatakan lebih spesifik, yakni goa Pamintaraga, di lereng gunung Indrakila) mendapat berbagai ujian dari para dewa hingga akhirnya menerima pusaka berupa panah Pasopati kemudian berhasil membunuh raja raksasa Niwatakawaca yang menyerang kahyangan dengan cara menyusupkan salah seorang istrinya sebagai mata-mata. Sebagai hadiahnya, Arjuna diangkat menjadi raja di kahyangan Jonggring Saloka selama tujuh hari tujuh malam dan dinikahkan dengan tujuh bidadari.

Beberapa peneliti ada yang menyebut kalau cerita Arjuna Wiwaha adalah kisah pribadi perjalanan Airlangga setelah menjadi menantu raja Dharmawangsa sampai menjadi raja di Medang. Mulai dari acara wiwoho (pernikahan) Airlangga, peristiwa pralaya ( terbunuhnya raja Dharmawangsa saat penyerangan kerajaan Wora Wari ke Medang), pelarian Airlangga bersama istrinya dan Narotama, sampai saat Airlangga berhasil menjadi raja di Medang dan mengalahkan kerajaan Wengker juga dengan cara memyusupkan mata-mata.  

Begawan Ciptoning Sesuai dengan intruksi Krisna, Arjuna menuju gunung Indrakila. Karena sudah masuk dalam masa hukuman pembuangan selama tiga belas tahun maka Arjuna menyamar menjadi seorang resi atau pandhita dengan menggunakan nama samaran Begawan Ciptoning agar tidak dikenali oleh para Kurawa. Di dalam sebuah goa, setelah menanggalkan semua senjatanya, Arjuna melakukan laku tapa brata. Ciptoning, dari bahasa Jawa yang berasal dari dua suku kata, Cipto (pikiran) dan Hening (jernih).  

Untuk menguji keteguhan hati Arjuna, maka para dewa melakukan berbagai ujian guna menggagalkan pertapaan Arjuna. Turunlah tujuh bidadari dari kahyangan di hadapan Arjuna. Kecantikan wajah, kemolekan tubuh, kemerduan suara, semua ditawarkan cuma-cuma kepada Arjuna. Sebagai seorang laki-laki, ini adalah ujian yang sangat berat untuk Arjuna, dimana dia harus bisa mengendalikan hawa nafsunya. Dan, Arjuna pun berhasil menolak godaan birahi tersebut.  

Ujian selanjutnya, dalam suasana hujan lebat datanglah seorang tua renta. Arjuna pun menawarinya untuk masuk goa agar bisa berteduh. Setelah bertanya jawab lalu orang tua tersebut bercerita bahwa kampungnya sudah dirusak oleh seekor babi hutan yang mengamuk. Mendengar cerita demikian, Arjuna segera mengambil senjatanya untuk memburu babi yang mengamuk tersebut dan berhasil membunuhnya. Dari sinilah, akhirnya Arjuna mendapat anugerah dari Dewa Siwa berupa panah Pasopati.  

Nglakoni  
Nglakoni dalam bahasa Jawa berarti menjalankan, dari kata laku yang berarti jalan (kata kerja). Ritual nglakoni dalam tradisi masyarakat Jawa adalah bentuk sebuah laku tapa brata peningkatan spiritual guna meraih cita-cita yang diinginkannya. Berbagai macam laku tapa brata dalam kepercayaan masyarakat Jawa tadi biasanya dibarengi dengan puasa dan pengendalian diri. Namun secara harfiah, masyarakat Jawa mengartikan laku dengan proses. Mereka menyakini bahwa untuk mewujudkan sebuah keinginan harus didasari dengan proses, karena keberhasilan bukan sesuatu yang jatuh dari langit begitu saja.  

Pentingnya nilai proses tergambar jelas pada salah satu bait tembang Pocung di Serat Wulangreh (ajaran untuk mencapai sesuatu) karya Pakubuwono IV, raja Surakarta. Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara, (ilmu itu bisa dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras, kokohnya budi akan menjauhkan diri dari watak angkara). Bila seseorang mengabaikan nilai proses maka akan sulit mengendalikan diri, tergambar di salah satu bait lanjutannya. Durung becus kesusu selak besus, amaknani rapal kaya sayid weton mesir, pendhak pendhak angendhak gunaning jalma (belum menguasai sudah berlagak pintar, menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir, setiap saat meremehkan orang lain).

Dari jagad pewayangan pun, masyarakat dibebaskan untuk ngonceki (mengupas) pesan yang tersirat dari dialog maupun dari adegan di setiap segmennya tentang ajaran pengendalian diri. Seorang tua pernah mengatakan kepada saya, kenapa setiap ksatria ketika sedang melakukan laku selalu berada di hutan dan bertarung dengan Buta Cakil? Menurut beliau, hutan adalah tempat yang sepi atau juga gambaran keruwetan masalah, desire, serta banyaknya keinginan manusia. Ketika seseorang sedang mengalami hal-hal tadi maka sebaiknya dia sejenak menyingkir dari keramaian untuk laku kendali diri yang diibaratkan dengan mengalahkan buta cakil sebagai perwujudan nafsu diri sendiri. Masih menurut beliau, menyingkirkan diri, bukan meminta orang lain yang menyingkir, karena proses pengendalian diri itu internal sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.     

Lakon Begawan Ciptoning adalah contoh jelas tentang laku pengendalian diri. Ketika mempunyai keinginan, tempat untuk memohon Arjuna adalah pada yang Maha Kuasa (Kailasa) dengan cara mendekatkan diri kepada-Nya. Laku tapa brata yang dia jalani adalah bentuk sebuah proses kerja keras. Dia tidak menyembunyikan diri dari kedatangan tujuh bidadari yang menawarinya kenikmatan duniawi, dengan kejernihan pikir akan tujuan utamanya, dia berhasil mengendalikan dirinya sehingga tidak jatuh dalam godaan yang diberikan para wanita-wanita cantik tersebut.    

Tanya jawab seorang tua renta dengan Arjuna. Mengapa seorang yang bertapa brata mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa membawa senjata? Arjuna menjawab, senjata tersebut adalah dharma seorang ksatria. Selama proses spiritual, Arjuna tidak pernah melupakan tugas-tugasnya di dunia sebagai seorang ksatria yang digambarkan dengan melindungi penduduk desa lewat cara membunuh babi hutan. Bahwa selama proses laku tapa brata (pengendalian diri), kewajiban dunia dan spiritual harus tetap berjalan seimbang. Mengejar nilai spiritual tanpa melupakan kewajiban dunia, begitu juga sebaliknya, mengejar nilai dunia tanpa melupakan kewajiban spiritualnya.    

Setelah mendapatkan pusaka dari Dewa Siwa, Arjuna lalu berperang melawan raja raksasa Niwatakawaca. Arjuna menggambarkan bahwa dalam proses pengendalian diri, dia tetap bisa menebar kebaikan pada masyarakat banyak. Setiap orang bisa memberi manfaat kepada orang lain. Yang kuat melindungi yang lemah, yang pintar mengajari yang bodoh, yang kaya membantu yang miskin, dan yang besar menuntun yang kecil.    


Secara umum, Begawan Ciptoning memberi pesan bahwa keseluruhan hidup adalah bentuk sebuah laku tapa brata atau proses dalam mencapai tujuan duniawi dan spiritual. Jadi, keseluruhan hidup adalah bentuk pengendalian diri. Nuwun.

Mengurai Tapak Tilas Kesuksesan Etnis Tionghoa dalam Berniaga

- Tidak ada komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Tanpa ada maksud mengkotak-kotakkan suku bangsa yang ada di negeri ini, jujur harus kita akui, orang Tionghoa sejak masa lampau sudah menguasai perekonomian Indonesia. Hal ini sangat dimaklumi, karena sebagian besar orang Tionghoa hidup dalam dunia perniagaan.

Pernahkan sampeyan melihat orang Tionghoa yang tidak berdagang? Mungkin ada, namun sepertinya tidak banyak. Kebanyakan mereka ini, terutama yang tinggal di Indonesia, bahkan mungkin seluruh dunia, hidup dari berdagang. Tengok saja jejeran toko-toko di pinggir jalan protokol di setiap daerah, punya siapa? Punya orang Tionghoa, kalaupun ada terselip bukan milik orang Tionghoa itupun sangat sedikit.

Mendapati fenomena tak biasa ini tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa orang Tionghoa yang ada di Indonesia ini banyak menjadi pedagang yang sukses. Sementara kita yang penduduk asli (saya kurang suka menyebutnya pribumi) justru sebaliknya. Nah, pada kesempatan tulisan jejak pecinan ini saya ajak kisanak untuk menelusurinya.

Banyak hal yang kadang kita membuang sungkan untuk belajar. Salah satunya berguru dari keuletan berdagangnya orang Tionghoa. Biasanya, orang-orang Tionghoa ini mengawali usahanya dengan modal kecil dan lama kelamaan berkembang menjadi besar, sebut saja satu di antaranya Liem Soe Liong, dan masih banyak lagi pengusaha-pengusaha dari etnis Tionghoa yang sukses di negeri ini.

Hal tersebut merupakan fenomena yang cukup unik untuk dikaji dan diteliti terutama dari sudut pandang historis. Pandangan historis terhadap etnis Tionghoa akan banyak membantu dalam meneropong fenomena ini. Banyak orang menganggap bahwa orang-orang Tionghoa yang sukses sebagai pengusaha besar dikarenakan dari kerja keras mereka, apakah itu betul?

Kalau begitu benar adanya maka petani-petani yang bekerja di ladang dan sawah seharusnya dapat lebih sukses dari orang-orang Tionghoa karena mereka bekerja lebih keras dibawah terik matahari yang menyengat disertai kemampuan untuk beradaptasi dengan alam. Namun kenyataannya para petani tidak sesukses orang-orang Tionghoa yang merantau ke Indonesia. Ada apa gerangan dengan hal ini?

Etnis Tiongjoa merupakan warga asing telah menjalin kontak dengan nusantara sejak lama, jauh sebelum kolonialisme Portugis merambah Nusantara. Pada masa Sriwijaya telah ada hubungan dagang antara Nusantara dengan Tiongkok dan bahkan menurut Kobkua, sejarawan, menilai bahwa Sriwijaya adalah agen dagang dari Tiongkok dan pada waktu itu Sriwijaya tunduk kepada Tiongkok untuk melindungi dan menyelamatkan kepentingan ekonominya. Sejak pembangunan kota Batavia oleh VOC (Vereniging Oost Indische Compagnie) tahun 1619, orang-orang Tionghoa banyak yang berdatangan ke Batavia dikarenakan Batavia telah menjadi kota dagang yang besar dan akan membawa peruntungan yang lebih baik.

Mereka berdatangan ke Batavia baik secara legal maupun ilegal. Jika mereka datang secara ilegal, biasanya mereka diturunkan di sekitar Kepulauan Seribu, bukan di pelabuhan Batavia. Etnis Tionghoa dengan cepat membaur kedalam kehidupan ekonomi masyarakat pribumi dan juga dengan orang Eropa. Di wilayah Cirebon, dalam sebuah laporan resmi pihak Belanda dari tahun 1711, menyinggung tentang bagaimana akrabnya integrasi yang telah terjadi antara orang-orang Tionghoa dan elite bangsawan Jawa dikalangan istana.

Etnis Tionghoa pun baerhasil menjadi pengusaha-pengusaha dengan membuat pabrik di wilayah Batavia. Mereka pun terkadang diandalkan oleh VOC sebagai teknisi-teknisi. Orang-orang VOC lebih banyak mempercayai orang Tionghoa ketimbang penduduk lokal itu sendiri dikarenakan VOC takut kalau-kalau mereka memiliki kekuatan maka akan memberontak terhadap VOC, maka dari itu sebisa mungkin VOC mengekang warga lokal dan lebih mengutamakan orang-orang Tiongkok untuk mengisi jabatan penting seperti syahbandar, pejabat yang mengatur segala urusan di pelabuhan dari mulai penarikan cukai hingga perselisihan antar pedagang.

Berbagai jabatan penting pun kerap kali diberikan pejabat-pejabat VOC kepada orang Tiongkok, disamping karena ketakutan VOC pada warga lokal jika mereka diserahi jabatan, juga karena keuletan dan kerja keras dari orang-orang Tionghoa tersebut. Pada abad 18, orang-orang Tionghoa menjadi pedagang perantara yang penting antara pedalaman dan pelabuhan yang dihubungkan oleh sungai.

Orang-orang Tionghoa pun mengelola bidang perpajakan (tol). Gerbang tol ini berada pada jalur-jalur perdagangan sehingga setiap pedagang yang melewati jalur ini harus membayar pajak. Awalnya Pajak tol ini, di pulau Jawa dikelola oleh raja Mataram, dan seiring dengan semakin sibuk serta keinginan besar yang diperolah maka raja-raja ini memberikan hak pengelolaan pajak tol kepada orang-orang Jawa yang kaya dan kepada orang Tionghoa. Dikarenakan mereka memiliki banyak modal dan juga dipercaya maka orang-orang Tionghoa ini mampu menguasai bandar-bandar tol ini. Setelah kerajaan jatuh ke tangan VOC, maka pengeleolaan pajak tol ini tetap dipegang oleh orang-orang Tionghoa karena sebagai pengelola pajak, orang Tionghoa, lebih baik daripada orang Jawa.


Masih banyak lagi kaitan antara orang-orang Tionghoa dengan perekonomian yang mampu dilihat dari sudut pandang historis , namun dari sedikit urain diatas dapat dilihat bahwa banyak sekali faktor-faktor historis yang mampu menjadikan orang-orang Tionghoa ini menjadi kaya dan meraup banyak keuntungan lebih dibandingkan dengan penduduk asli. Nuwun.