Featured Posts

Makna Falsafah Sopo Sing Temen Bakal Tinemu dalam Perspektif Spiritual Jawa

- 2 komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Bagi sampeyan yang kebetulan orang Jawa saya yakin akrab dengan falsafah seperti pada judul di atas. Sopo sing temen bakal tinemu. Secara harfiah, falsafah lawas ini artinya ‘siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya’.

Sepintas, makna harfiah dalam falsafah Jawa yang kita bincang ini sangat sederhana. Tapi ini akan berlaku kebalikannya bagi para pendaki spiritual, makna yang terkandung dalam falsafah ini bagi pendaki spiritual sangatlah besar. Setidaknya, paling sederhana makna dalam falsafah ini, kita pasti bisa bertemu dengan Gusti Allah di alam kematian saat kita hidup di dunia ini.

Kaget! Kalem saja kisanak. Pasti sampeyan bertanya bagaimana bisa hidup di dunia ini kok disebut alam kematian?
Jadi begini kisanak. Bagi pejalan dan pendaki spiritual, hidup di dunia itu hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu hakekatnya hidup.

Mumet. Sekali lagi kalem kisanak. selesaikan dulu bacanya hingga akhir baru menyimpulkan. Jadi bagaimana ini, diteruskan?
Maksudnya begini kisanak. Orang hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak, dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit. Bener tidak!

Nah, ketika kita makan itu sebenarnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak, dan lainnya. Maka kita ini disebut mati dan hanya Ruh kitalah yang hidup. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Ruh akan tetap hidup.

Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh. Itulah sebabnya kita di tuntut untuk "belajarlah mati sebelum kematian itu datang". Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati. Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan sang Pemberi hidup.

Belajar mati sejatinya menjadi sangat penting. Sederhananya agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah. Mungkin sebagian dari kita berpikiran bahwa orang mati ibarat tidur menunggu pengadilan dari Allah Yang Maha Agung?

Bagi pendaki spiritual, orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju Yang Maha Kuasa. Seperti yang sudah saya tulisa di akarasa ini, orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya, Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum).

Seandainya ada ruang yang cukup untuk mengkajianya, kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

Gusti Allah itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang Gusti Allah. Tetapi sebaliknya, Gusti Allah itu akan terasa jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain Gusti Allah.

Lantas, bagaimana untuk bisa bertemu dengan Gusti Allah? Jadi begini kisanak. Sebagaimana sampeyan ingin bertemu dengan pacar atau dalam bahasa Jawa gandulaning ati, sebelum ketem sampaeyan pasti sudah membayangkan kemolekan tubuhnya, senyumnya dan berjuta khayalan yang njubel di benak toh. Bahasa anak muda sekarang ‘jauh di mata, dekat di hati’.

Begitu halnya ketika kita ingin berjumpa dengan-Nya. Pasti di setiap waktu segala kerinduan itu akan menjadi bagian hidup kita dan setiap waktu itu pula kita akan selalu meng ingat-Nya, mematuhi segala perintah-Nya. Ibadah hanya untuk-Nya, bukan untuk mertua, istri, apalagi atasan. Meskipun Gusti Allah itu bersifat Gaib.

Apakah bisa kita yang nyata ini bertemu dengan yang Gaib, demikian toh pertanyaannya? Secara rasional orang akan berfikir demikian. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para perindu Tuhan. Seseorang bisa bertemu dengan Sang Gaib dengan menggunakan satu piranti khusus yaitu Rasa dan mata batin. Sebab Gusti Allah itu tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.

Maka dapat kita simpulkan bahwa untuk bertemu dengan Gusti Allah mesti harus menggunakan piranti yang halus yaitu dengan Rasa dan Mata Batin kita. Jika Rasa itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam seperti mata pedang. Dan rasa itu akan akan senantiasa menjadikan kita deket dengan-Nya. Sehingga di setiap langkah, gerak, tindakan dan aliran darah, kita serasa dalam pangkuan-Nya. Disinilah berlakunya Falsafah ‘Sopo sing Temen Bakal Tinemu" (Siapa yang bersungguh sungguh dalam ibadah mangka dia akan menemukan-Nya). Nuwun. Urd2210


Bumi Para Nata, Kaliurang, Yogyakarta, 13/07/2017

Ajaran Tauhid ala Semar

- Tidak ada komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Pernah nonton wayang? Apa yang bisa kita nikmati sekaligus diambil dari sesosok wayang yang notobenenya hanya sebuah modifikasi dari kulit hewan tersebut? Jawabannya ternyata banyak sekali kisanak. Tergantung dari mana kita mengambil titik koordinat untuk menikmati sekaligus mengapresiasi dan menginterprestasikan sosok wayang yang tersaji dalam pegelaran wayang tersebut. Diakui atau tidak dalang memegang kendali dari nilai seni dan keilmuan yang terkandung dari tutur tinular tersebut. Lakon wayang akan menjadi hidup jika sang dalang mampu membawa lakon wayang dengan baik dan menarik.

Pada adegan peperangan misalnya, dalang harus mampu memiliki ketrampilan “sabetan” yang cukup baik. Selain itu, dalang harus mampu memainkan adegan-adegan yang sesuai dengan pakemnya, misalnya adegan wayang yang tengah gembira, maka sang dalang juga harus mampu menghadirkan ekspresi gembira. Begitu pula ketika dituntut untuk menghadirkan adegan-adegan sedih, seorang dalang juga harus mampu bersikap mancolo putro mancolo putri agar penonton terbawa dan menghayati setiap lakon yang dimainkan.

Keahlian sekaligus kelihaian dalang tidak berhenti atau cukup di situ saja. Kepintaran bersikap mancolo putro mancolo putri dan harus didukung ilmu kebudayaan dan ketuhanan. Mengapa demikian? Karena dalam sejarah wewayangan, kisah wayang tidak tidak terhenti pada nilai estetika tetapi wayang merupakan media bagi masyarakat. Wayang bagi orang Jawa merupakan compelling riligius mythology, yakni yang menyatukan masyarakat Jawa secara menyeluruh, baik secara horizontal maupun secara vertical. Sedangkan Ward Keeler mengaitkan aspek-aspek tersebut direfleksikan ke dalam kehidupan sosial dan kedudukan relatif sosial.

Kedua ilmuwan tersebut menemukan titik kesaman terhadap wayang yakni pentas wayang menyiratkan tata nilai yang menunjukkan upaya-upaya untuk mencapai keserasian hidup. Keadaan ideal yang wajib dipertahankan itu berupa keseimbangan tata tertib sosial yang digambarkan sebagai suatu masyarakat yang adil, tentram, makmur dan aman.

Nilai ketuhanan, tauhid, yang tertanam di ruh masyarakat Jawa memang kebanyakan berasal dari nilai kebudayaan, salah satunya adalah dari wayang. Peran wayang sebagai media penanaman ruh ketuhanan tidak lepas dari kecerdikan walisongo, khususnya Sunan Kalijaga yang metode dakwahnya lebih mengutamakan dengan nilai-nilai kultural masyarakat. Masyarakat Jawa yang masih mengagungkan nilai-nilai kultural akan lebih menerima nilai keagaman jika penyampaiannya itu lebih bersifat halus, sesuai dengan psikologi masyarakat Jawa yang lebih mengedepankan kehalusan budi dibandingkan jika pengajaran itu disampaikan dengan cara-cara indoktrinisasi ekstrem.

Pemahaman mengenai ketauhidan bagi masyarakat Jawa mungkin akan berbeda dengan pemahaman ketauhidan dengan bangsa Timur Tengah. Hal ini dikarenakan adalanya akulturasi budaya Jawa yang dahulunya lebih bersifat dinamisme dan animisme dengan nilai ketuhanannya yang berasal dari Timur Tengah yang juga sudah diolah secara rasa maupun karsa oleh pendakwah yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Sedangkan tauhid sendiri mempunyai arti yang sangat luas dan untuk memudahkan pemahaman kita mengenal ilmu ketauhidan ini, tauhid diartikan sebagai sikap peng-esa-an terhadap keeksistensian Tuhan. Sifat keesaan ini menjadi penting bagi umat Islam dan menjadi identitas sekaligus pembeda dengan agama-agama lain. Bertauhid dalam agama Islam tidak sekedar mempercayai akan adanya satu Tuhan tetapi lebih dari itu. Pengesaan ini juga harus ada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Manusia beragama setidaknya harus dapat menangkap dan meniru perilaku Tuhan, seperti sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Masalah ketauhidan dalam masyarakat Jawa lebih condong kearah masalah kemakrifatan, yakni memahami siapa dirinya serta siapa yang menciptakannya. Sangkan paraning dumadi menjadi wilayah sentral yang sering menjadi kajian sekaligus menjadi tujuan manusia Jawa dalah meng-illah-kan Tuhan. Hubungan personal manusia Jawa dengan Tuhannya sepertinya lebih menarik untuk didalami dibanding mengkaji masalah syari’atnya,. Sehingga tak ayal muncullah konsep manunggaling kawula-Gusti, sebuah konsep penyatuan hamba dengan Tuhannya.

Hal ini kemudian menginspirasi para walisongo bagaimana caranya agar konsep tersebut bisa diterima masyarakat dan tidak mengalami shock dalam beragama. Wayang adalah jawabannya. Dalam cerita wayang dengan lakon Bima Suci diceritakan bahwa setelah Bima bersatu dengan Dewa Ruci dan mendapat wejangan spiritual darinya, ia (Bima) segera mendirikan pertapaan Argakelasa dengan gelar Bima Suci atau Bima Paksa yang mengajarkan ilmu kesempurnaan hidup.

Menurut Damarjati Supadjar, serat Bima Suci menggambarkan pertemuan eksistensi dengan esensi, yang juga dikenal sebagai ngluruh sarira atau racut, mencair, dan melarut. Tranformasi Bima menjadi Bima Suci atau pertemuan Bima dengan jati dirinya atau Dewa Ruci serupa dengan pertemuan antara Musa dan Khidir. Hasilnya adalah kesadaran kosmis, kesatuan lahir dan batin, awal akhir.

Orang Jawa mengenal tokoh-tokoh wayang cukup familiar dan di antaranya yang paling favorit bahkan mempunyai nilai sakral adalah semar. Semar menjadi tokoh utama dalam segala hal, baik sebagai tokoh yang berperan sebagai abdi, penasehat kenegaraan maupun spiritual. Dalam pewayangan diceritakan bahwa semar tinggal di Karang dempel, maksudnya Semar selalu tinggal dan menyirami hati setiap hati manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa semar selalu hadir dan menyantuni orang miskin/kekurangan kebutuhan rohani.

Selain itu, semar juga diperintahkan untuk menjaga hati manusia-manusia suci agar tidak terkontaminasi oleh sifat dan nafsu syaithaniyah. Karena itu dalam pewayangan dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk menguasai alam sunyaruri atau alam kosong dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia. Maksudnya dari alam kosong adalah alam yang kosong dari cahaya Ilahi yang kemudian Semar diperintahkan untuk mengisi alam kosong tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan rohani yang berguna bagi manusia.

Sosok semar hadir untuk menegaskan mengenai arti pentingnya peran agama dalam kehidupan. Agama berperan menyadarkan manusia dan membawa mereka menuju cahaya. Sosok Semar juga merupakan symbol al-Qur’an sebagai kalam Ilahi yang sangat penting, yang di dalamnya memiliki beberapa tujuan mendasar, yaitu:
  • Membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik,
  • Menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab,
  • Menciptakan persatuan dan kesatuan alam, baik alam fisik dengan metafisik dan masih banyak lagi tujuan yang dibawa oleh sosok Semar dalam pentas pewayangan.

Dari sosok Punakawan, baik fisik maupun kehidupan kesehariannya, terkandung pancaran nilai-nilai ketasawufan. Dalam Islam, aspek tasawuf dipercaya dapat membawa manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan dalam pencapaiannya, manusia harus menempuh maqomat kesufian yang tercermin dari Semar

Semar setidaknya memiliki sifat: wijaya (bijaksana dalam berbakti kepada Negara), mantriwira (dengan senang hati berbakti kepada Negara), wicaksana maya (bijaksana dalam berbicara dan bertindak), matangwan (dikasihi dan dicintai rakyat), satya bakti prabu (setia kepada Negara dan raja), wakniwak (tidak berpura-pura), seharwan pasaman (sabar dan sareh, tidak gugup dalam hati), dirut saha (jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia), tan lelana (baik budi dan mengendalikan panca indera), diwiyacita (menghilangkan kepentingan pribadi), masisi samastha buwana (memperjuangkan kesempurnaan diri dan kesejahteraan dunia). Dan masih banyak sifat panakawan yang mengarah kepada konsep hidup ala sufi. Sekian.


Bumi Para Nata, Ngayogyokarto Hadiningrat, 30/06/2017

Lebaran dalam Renungan

- Tidak ada komentar
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbarLaa ilaha illallah, wallahu akbarAllahu akbar walillahi hamdu
Akarasa - Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum - Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faidzin. Selamat hari raya Idul Fitri – 1 Syawal 1438 H. Mohon maaf lahir dan bathin untuk semua kerabat akarasa di manapun berada. Semoga kita terlahir kembali fitri dan segala ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin.
Dulu, sampai sekarang, saya dan bahkan sampeyan semua sudah merasakan gema takbir dua kali setahun. Mengagungkan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dibalik kalimat takbir tersebut, tersimpan puji dan syukur karena mempertemukan saya dan sampeyan semua dengan hari dimana semua umat bergembira menyambut hari yang baru.

Ya, itulah hari raya!

Hari ini, sudah sebulan penuh Ramadhan telah dilewati. Perpisahannya, terasa campur-aduk. Belum puas akan ibadah saya dan masih ada kekurangan di sana-sini. Walaupun demikian, pada malam itu, segala dosa umat telah diampuni Allah. Ups, bukan berarti sudah selesai sampai disini. Karena hubungan kita dengan Sang Pencipta, tidaklah lengkap kalau tidak menjalin hubungan antar sesama manusia. Istilah agamanya, habluminallah dan hambluminanaas.

Hari Raya Idul Fitri yang tinggal menghitung jam ini, memang terkesan bersukacita. Berjabat tangan, itu sudah hal yang biasa. Namun, bagi yang mempunyai kenangan buruk dengan orang lain, itu saat yang tepat untuk memaafkan segala kesalahan. Kita harap, pada hari Raya Idul Fitri nanti, kita akan membuka lembaran baru dan melupakan segala kesalahan yang terjadi pada masa lalu. Sehingga, ketika telah menerima maaf secara ikhlas, kita tidak akan mengungkit aib di masa mendatang.

Semua manusia pasti melakukan kesalahan, dan kesalahan tersebut berawal dari kelemahan seorang manusia itu sendiri. Tentunya, kesalahan yang diperbuat oleh kita sudah terjadi sejak zaman moyang kita Nabi Adam alaihissalaam, karena tertipu dengan ajakan Iblis untuk memakan buah khuldi bersama dengan istrinya, dan akibat kesalahan tersebut, mereka berdua (dan juga Iblis) diturunkan ke muka bumi.

Sesampainya di bumi, mereka pada akhirnya menyatakan tobat, dan mengakui kesalahan di hadapan Allah, sambil menangis memohon ampunan. Dan pada akhirnya, Allah mengampuni dosa dan memaafkan kesalahan mereka berdua.

Dan, sejak saat itu, jangan heran kalau keturunan Adam termasuk kita sering melakukan kesalahan. Itu wajar. Dan hal tersebut sudah mendarah daging pada diri kita. Dibalik kesalahan yang kita perbuat, tersimpan hikmah yang tersembunyi. Janganlah sombong dengan apa yang kita punya dan kita capai selama ini, apapun itu. Dan jangan merasa diri kita paling benar, karena sebenar-benarnya seorang anak keturunan Adam, pasti ada kesalahan dan kelemahan, ‘kan?

Karena itulah, jangan malu untuk mengakui kelemahan kita, walaupun hanya sedikit dan tidak sampai dibicarakan secara detail. Ketika kita telah mengakui kelemahan dihadapan orang lain dan orang lain memaafkannya, maka tidak hanya perasaan dendam dan benci yang akan terhapus dari diri kita, sifat keangkuhan dalam hati kita akan gugur bersama ucapan yang keluar dari diri kita ketika memaafkan. Sehingga, akan tercipta rasa damai diantara sesama manusia.

Tapi, perlu diingat, bahwa kita tidak boleh mengumbar kesalahan secara berlebihan dan secara detail, apalagi kesalahan tersebut dijadikan curhat di dunia maya. Karena, dikhawatirkan akan dijadikan bahan gunjingan pada orang lain, apalagi teman dunia maya yang merupakan teman kita yang telah dikenal, yang membicarakannya. Sungguh, diri kita yang dibicarakan jadi tidak enak, bukan? Alangkah baiknya kita instrospeksi pada diri sendiri, kesalahan apakah yang telah terjadi pada diri kita. Sehingga, diharapkan, kita segera memperbaiki diri dan menapaki perjalanan hidup yang lebih baik.

Saya yang terlahir pada era 80-an, yang pada saat itu (menurut saya) lebih baik dari zaman sekarang, apalagi era dibawahnya. Pada era tersebut, permainan yang ada, masih sangat sederhana. Jangankan gadget, telepon genggam saja masih langka dan berharga mahal pada saat itu.

Karena permainan yang sangat sederhana itulah, secara tidak langsung, kita diajarkan untuk hidup sederhana dan penuh syukur. Bermainlah dengan mainan yang apa adanya. Terlebih jika dimainkan bersama teman-teman, keakraban dan persahabatan diantara teman-teman akan terjalin, dan yang pasti, akan berpengaruh pada kehidupan ke depannya.

Nah, jika bandingkan dengan masa sekarang, generasi muda kita saat ini telah kehilangan kearifan hidup. Jika kita melihat berita dan melihat anak sekolah tawuran dan membawa senjata tajam, itu rata-rata pemicunya hanya masalah sepele. Sitik-sitik, kekerasan. Seandainya saja mereka memiliki sikap bijaksana dalam menyelesaikan masalah, pasti tawuran tidak akan terjadi, iya gak?

Apalagi jika akan menghadapi episode kehidupan selanjutnya. Bagi yang mengalami kegagalan dan tidak punya keteguhan dalam hidup, jalan pelarian terakhir yang akan diambil adalah bunuh diri! Pada era modern seperti sekarang ini, sudah banyak berita yang mengulas tentang kasus tersebut.

Hidup hanya sekali. Dan bulan Ramadhan yang berakhir pada tahun ini, kita telah diajarkan kearifan dalam hidup; bersikap bijak dalam memanfaatkan segala sesuatu, termasuk karunia, kelebihan, dan lebih penting lagi, waktu. Mengambil pelajaran yang telah dilalui dan bersyukur atas indahnya kehidupan. Maka, bagi yang muda (dan yang sudah tua), inilah saatnya untuk memiliki kearifan dalam kehidupan, terlebih pada zaman sekarang ini, dimana kehidupan akan semakin keras dan lebih ketat lagi. Apalagi, jika sejak anak-anak sudah diajarkan pelajaran kearifan hidup seperti itu. Pasti ke depannya, hidup ini akan lebih bahagia, bukan?

Baiklah, sebagai penutup tulisan ini, saya ucapkan: Taqaballah wa minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Dan mohon maaf pada teman-teman sekalian, yang sebesar-besarnya, jika ada kesalahan, kecerobohan, dan kurang berkenan, baik di artikel saya, maupun di pesan dan komentar.


Selamat Hari Raya Idul Fitri! Semoga kita semua kembali ke fitrahnya, kembali pada jiwa yang suci. Demikianlah, semoga bermanfaat. Nuwun.

Makna Simbolik Kayu Gung Susuhing Angin dalam Perpektif Energi Kehidupan

- Tidak ada komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Jika sampeyan kebetutulan gemar sekali nonton wayang. Saya yakin tidak asing dengan istilah dalam judul tulisan ini. Kayu Gung Susuhing Angin. Suatu ketika Bima diperintah Begawan Durna untuk mencari "kayu gung susuhing angin". Sebenarnya, Ia tidak bisa membayangkan seperti apa wujud kayu besar tempat angin bersarang. Namun, kepatuhan dan rasa hormat pada Sang Guru, membulatkan tekat Bima untuk melaksanakan perintah itu.

Yudhistira, kakaknya dan seluruh kerabat Pandawa berusaha mencegah kepergiannya. Mereka curiga, perintah itu hanya tipu daya yang dibisikkan oleh Sengkuni pada Begawan Durna untuk mencelakakan putra kedua Pandawa. Sebab, jika Bima celaka, maka kekuatan Pandawa akan rapuh. Namun Bima tetap pada pendiriannya. Ibarat lagu dangdut, gunung kan kudaki, lautan kuseberangi.

Padahal dibalik perintah untuk mencari makna kata tersebut adalah agar Bima dibunuh oleh raksasa yang tinggal di suatu hutan gung liwang liwung. Adalah keberuntungan Bima, ternyata raksasa bisa dikalahkan. Dan juga raksasa terkalahkan adalah penjelmaan dewa yang dikutuk. Bukannya mendapatkan musibah, sebaliknya mendapatkah berkah. Selain mendapatkan penjelasan tentang makna kata 'Kayu Gung Susuhing Angin', Bima juga mendapatkan pusaka yang kelak bermanfaat untuk masuk ke samudra.

Dalam penjelasannya, sang dewa mengatakan bahwa makna kata 'Kayu' berarti 'karep' atau keinginan. 'Gung' berarti besar. Sedangkan 'Susuhing Angin' adalah nafas manusia. Singkat kata bermakna: Keinginan yang kuat atau besar hanya bisa terkabul jika mampu menguasai nafas. Penulis cerita wayang memahami makna kekuatan dari nafas. Mereka telah memahami bahwa kehidupan terdiri dari:
  • Kehidupan: Pengalaman + Pengalaman;
  • Pengalaman terdiri dari perbuatan + perbuatan;
  • Perbuatan akibat dari ucapan + ucapan;
  • Ucapan: pikiran + pikiran.
Saat pikiran tidak terkendali yang terjadi hidupnya kacau. Dapat dipastikan semua kehidupan kacau. Jika hal ini terjadi, mungkinkah keinginan mulia digapai? Perhatikan saat kita dalam emosi yang negatif, marah, cemas, irihati, sakit hati dan sebagainya, nafas kita pendek dan ritmenya kacau.

Pikiran tidak dapat dilawan. Saat kita memperhatikan pikiran dan berupaya menenangkan, yang didapatkan bukan semakin tenang tetapi semakin gelisah. Jika pikiran tidak bisa tenang dapat dipastikan bahwa keinginan atau karep yang kuat tidak akan tercapai. Bagaimana mungkin pikiran yang tidak jernih atau kacau bisa memutuskan sesuatu dengan tepat? Bagaikan permukaan danau yang berombak, dasar sugai tidak dapat terlihat. Hanya saat permukaan danau tenang, maka segala kotoran mengendap. Dan dengan sendirinya, dasar danau terlihat dengan jelas.

Dalam teks aslinya di Mahabarata, istilah ini, 'Kayu Gung Susuhing angin' tidak ada. Berdasarkan hal ini, sesungguhnya penulis naskah atau istilah ini sangat memahami korelasi antara pikiran dan nafas. Sebagaimana pada narasi di atas, saat pikiran tidak tenang, keinginan yang besar tidak bakal terlaksana atau tercapai. Keinginan yang mulia dapat tercapai bila dan bila menguasai 'Susuhing Angin', menguasai nafas.

Ya, saat nafas terkuasai, maka dengan sendirinya pikiran menjadi tenang. Kita tidak mampu menenangkan pikiran, tetapi kita bisa mengatur nafas agar semakin perlahan. Nafas bisa dikuasai, tidak seperti pikiran. Ibarat suatu tongkat yang dinamakan ketenangan. Pada bagian pangkal adalah pikiran, sedangkan ujung lainnya adalah nafas. Tongkat ketenangan tidak diperoleh saat memegang bagian pangkal, pikiran. Namun tongkat ketenangan didapatkan jika kita memegang bagian ujung lainnya, nafas. Keinginan mulia atau agung hanya bisa dicapai oleh mereka yang nafasnya terkendali. Nafas berkaitan dengan Prana atau aliran energi kehidupan. Urd2210


Tatar Galuh, Pamarican, Ciamis, 24/06/2017

Menyoal Ucapan Terimakasih yang Benar dalam Bahasa Jawa

- Tidak ada komentar
salaman dan terimakasih atau matur nuwun
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Dalam pergaulan sehari-hari ucapan terimakasih menjadi kebiasaan mulia yang ditanamkan sejak kita kecil. Barang tentu dengan berbagai cara dan bahasa. Nah, pada kesempatan sehari menjelang lebaran ini saya akan ajak sampeyan untuk menelaah penggunaan ucapan sebagai pernyataan terimakasih versi bahasa Jawa ini.

Kata yang sering kita dengar dan ucapkan adalah matur nuwun, tapi tak jarang pula ada yang mengucapnya matur suwun. Pertanyaannya, samakah makna dua kata tersebut?

Dari apa yang saya pahami, kata terimakasih dalam bahasa Jawa yang dibenarkan adalah matur nuwun. Artinya, dalam konteks menyampaikan ungkapan terimakasih kepada orang/pihak lain dengan bahasa Jawa mestinya diucapkan dengan matur nuwun. Lazimnya, ungkapan ini diucapkan ketika kita menerima pemberian, kebaikan/jasa, atau sebatas perhatian atas apa yang akan atau telah kita sampaikan, jadi bener-bener bermakna terimakasih baik dari sisi bahasa maupun konteks kalimat dan rasa.

Lalu bagaimana dengan matur suwun ada yang mengucapkan matur kesuwun? Menurut beberapa sumber, tutur kata matur suwun atau matur kesuwun sebenarnya bukan sebagai bentuk ucapan terimakasih, dan juga bukan bermakna terima kasih. Secara etimologi bahasa, matur suwun bisa diartikan : ucap/lafal minta -- melafalkan sebuah ucapan permintaan atas sesuatu (seringkali abstrak) yang sebenarnya sudah diterima (sering kali konteksnya saling).

Kata ini diucapkan dalam konteks saling pengikhlasan akan suatu perkara, sehingga berujung pada kelegaan antar pihak-pihak yang berhubungan. Contoh dalam transaksi jual beli, seringkali ada ukuran, takaran, pembayaran, kembalian dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, baik disengaja maupun tidak oleh kedua belah pihak. Nah, pada akhir transaski sebagai bentuk penghalalan/pengikhlasan perkara ini kedua belah pihak layak mengucapkan matur suwun, baru dilanjutkan dengan matur nuwun.

Tapi yang banyak kita temui memang kedua ucapan ini dianggap sama, hanya perbedaan kebiasaan pemakainya. Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam kesejatian pemakaian keduanya :

  • Apapun kata yang kita pakai sebagai ucapan terimakasih itu hendaknya selalu didasari keikhlasan, karena terimakasih yang tidak ikhlas akan mengarah pada pengingkaran akan nikmat Tuhan.
  • Membiasakan menyebut istilah, nama, kalimat dengan lafal yang benar bisa jadi bukan suatu keharusan, tapi adakalanya dan mestinya selalu itu dianggap penting.
  • Apapun pilihan kebiasaan katanya, dalam bahasa apapun, sesering apapun penyampaian ucapan terimakasih itu, mendekatkan kita pada rejeki, karena mampu menuntun kita menjadi insan yang suka bersyukur. Sekian dulu dan semoga ada manfaatnya. Nuwun.