Featured Posts

Lebaran dalam Renungan

- Tidak ada komentar
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbarLaa ilaha illallah, wallahu akbarAllahu akbar walillahi hamdu
Akarasa - Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum - Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faidzin. Selamat hari raya Idul Fitri – 1 Syawal 1438 H. Mohon maaf lahir dan bathin untuk semua kerabat akarasa di manapun berada. Semoga kita terlahir kembali fitri dan segala ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin.
Dulu, sampai sekarang, saya dan bahkan sampeyan semua sudah merasakan gema takbir dua kali setahun. Mengagungkan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dibalik kalimat takbir tersebut, tersimpan puji dan syukur karena mempertemukan saya dan sampeyan semua dengan hari dimana semua umat bergembira menyambut hari yang baru.

Ya, itulah hari raya!

Hari ini, sudah sebulan penuh Ramadhan telah dilewati. Perpisahannya, terasa campur-aduk. Belum puas akan ibadah saya dan masih ada kekurangan di sana-sini. Walaupun demikian, pada malam itu, segala dosa umat telah diampuni Allah. Ups, bukan berarti sudah selesai sampai disini. Karena hubungan kita dengan Sang Pencipta, tidaklah lengkap kalau tidak menjalin hubungan antar sesama manusia. Istilah agamanya, habluminallah dan hambluminanaas.

Hari Raya Idul Fitri yang tinggal menghitung jam ini, memang terkesan bersukacita. Berjabat tangan, itu sudah hal yang biasa. Namun, bagi yang mempunyai kenangan buruk dengan orang lain, itu saat yang tepat untuk memaafkan segala kesalahan. Kita harap, pada hari Raya Idul Fitri nanti, kita akan membuka lembaran baru dan melupakan segala kesalahan yang terjadi pada masa lalu. Sehingga, ketika telah menerima maaf secara ikhlas, kita tidak akan mengungkit aib di masa mendatang.

Semua manusia pasti melakukan kesalahan, dan kesalahan tersebut berawal dari kelemahan seorang manusia itu sendiri. Tentunya, kesalahan yang diperbuat oleh kita sudah terjadi sejak zaman moyang kita Nabi Adam alaihissalaam, karena tertipu dengan ajakan Iblis untuk memakan buah khuldi bersama dengan istrinya, dan akibat kesalahan tersebut, mereka berdua (dan juga Iblis) diturunkan ke muka bumi.

Sesampainya di bumi, mereka pada akhirnya menyatakan tobat, dan mengakui kesalahan di hadapan Allah, sambil menangis memohon ampunan. Dan pada akhirnya, Allah mengampuni dosa dan memaafkan kesalahan mereka berdua.

Dan, sejak saat itu, jangan heran kalau keturunan Adam termasuk kita sering melakukan kesalahan. Itu wajar. Dan hal tersebut sudah mendarah daging pada diri kita. Dibalik kesalahan yang kita perbuat, tersimpan hikmah yang tersembunyi. Janganlah sombong dengan apa yang kita punya dan kita capai selama ini, apapun itu. Dan jangan merasa diri kita paling benar, karena sebenar-benarnya seorang anak keturunan Adam, pasti ada kesalahan dan kelemahan, ‘kan?

Karena itulah, jangan malu untuk mengakui kelemahan kita, walaupun hanya sedikit dan tidak sampai dibicarakan secara detail. Ketika kita telah mengakui kelemahan dihadapan orang lain dan orang lain memaafkannya, maka tidak hanya perasaan dendam dan benci yang akan terhapus dari diri kita, sifat keangkuhan dalam hati kita akan gugur bersama ucapan yang keluar dari diri kita ketika memaafkan. Sehingga, akan tercipta rasa damai diantara sesama manusia.

Tapi, perlu diingat, bahwa kita tidak boleh mengumbar kesalahan secara berlebihan dan secara detail, apalagi kesalahan tersebut dijadikan curhat di dunia maya. Karena, dikhawatirkan akan dijadikan bahan gunjingan pada orang lain, apalagi teman dunia maya yang merupakan teman kita yang telah dikenal, yang membicarakannya. Sungguh, diri kita yang dibicarakan jadi tidak enak, bukan? Alangkah baiknya kita instrospeksi pada diri sendiri, kesalahan apakah yang telah terjadi pada diri kita. Sehingga, diharapkan, kita segera memperbaiki diri dan menapaki perjalanan hidup yang lebih baik.

Saya yang terlahir pada era 80-an, yang pada saat itu (menurut saya) lebih baik dari zaman sekarang, apalagi era dibawahnya. Pada era tersebut, permainan yang ada, masih sangat sederhana. Jangankan gadget, telepon genggam saja masih langka dan berharga mahal pada saat itu.

Karena permainan yang sangat sederhana itulah, secara tidak langsung, kita diajarkan untuk hidup sederhana dan penuh syukur. Bermainlah dengan mainan yang apa adanya. Terlebih jika dimainkan bersama teman-teman, keakraban dan persahabatan diantara teman-teman akan terjalin, dan yang pasti, akan berpengaruh pada kehidupan ke depannya.

Nah, jika bandingkan dengan masa sekarang, generasi muda kita saat ini telah kehilangan kearifan hidup. Jika kita melihat berita dan melihat anak sekolah tawuran dan membawa senjata tajam, itu rata-rata pemicunya hanya masalah sepele. Sitik-sitik, kekerasan. Seandainya saja mereka memiliki sikap bijaksana dalam menyelesaikan masalah, pasti tawuran tidak akan terjadi, iya gak?

Apalagi jika akan menghadapi episode kehidupan selanjutnya. Bagi yang mengalami kegagalan dan tidak punya keteguhan dalam hidup, jalan pelarian terakhir yang akan diambil adalah bunuh diri! Pada era modern seperti sekarang ini, sudah banyak berita yang mengulas tentang kasus tersebut.

Hidup hanya sekali. Dan bulan Ramadhan yang berakhir pada tahun ini, kita telah diajarkan kearifan dalam hidup; bersikap bijak dalam memanfaatkan segala sesuatu, termasuk karunia, kelebihan, dan lebih penting lagi, waktu. Mengambil pelajaran yang telah dilalui dan bersyukur atas indahnya kehidupan. Maka, bagi yang muda (dan yang sudah tua), inilah saatnya untuk memiliki kearifan dalam kehidupan, terlebih pada zaman sekarang ini, dimana kehidupan akan semakin keras dan lebih ketat lagi. Apalagi, jika sejak anak-anak sudah diajarkan pelajaran kearifan hidup seperti itu. Pasti ke depannya, hidup ini akan lebih bahagia, bukan?

Baiklah, sebagai penutup tulisan ini, saya ucapkan: Taqaballah wa minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Dan mohon maaf pada teman-teman sekalian, yang sebesar-besarnya, jika ada kesalahan, kecerobohan, dan kurang berkenan, baik di artikel saya, maupun di pesan dan komentar.


Selamat Hari Raya Idul Fitri! Semoga kita semua kembali ke fitrahnya, kembali pada jiwa yang suci. Demikianlah, semoga bermanfaat. Nuwun.

Makna Simbolik Kayu Gung Susuhing Angin dalam Perpektif Energi Kehidupan

- Tidak ada komentar
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Jika sampeyan kebetutulan gemar sekali nonton wayang. Saya yakin tidak asing dengan istilah dalam judul tulisan ini. Kayu Gung Susuhing Angin. Suatu ketika Bima diperintah Begawan Durna untuk mencari "kayu gung susuhing angin". Sebenarnya, Ia tidak bisa membayangkan seperti apa wujud kayu besar tempat angin bersarang. Namun, kepatuhan dan rasa hormat pada Sang Guru, membulatkan tekat Bima untuk melaksanakan perintah itu.

Yudhistira, kakaknya dan seluruh kerabat Pandawa berusaha mencegah kepergiannya. Mereka curiga, perintah itu hanya tipu daya yang dibisikkan oleh Sengkuni pada Begawan Durna untuk mencelakakan putra kedua Pandawa. Sebab, jika Bima celaka, maka kekuatan Pandawa akan rapuh. Namun Bima tetap pada pendiriannya. Ibarat lagu dangdut, gunung kan kudaki, lautan kuseberangi.

Padahal dibalik perintah untuk mencari makna kata tersebut adalah agar Bima dibunuh oleh raksasa yang tinggal di suatu hutan gung liwang liwung. Adalah keberuntungan Bima, ternyata raksasa bisa dikalahkan. Dan juga raksasa terkalahkan adalah penjelmaan dewa yang dikutuk. Bukannya mendapatkan musibah, sebaliknya mendapatkah berkah. Selain mendapatkan penjelasan tentang makna kata 'Kayu Gung Susuhing Angin', Bima juga mendapatkan pusaka yang kelak bermanfaat untuk masuk ke samudra.

Dalam penjelasannya, sang dewa mengatakan bahwa makna kata 'Kayu' berarti 'karep' atau keinginan. 'Gung' berarti besar. Sedangkan 'Susuhing Angin' adalah nafas manusia. Singkat kata bermakna: Keinginan yang kuat atau besar hanya bisa terkabul jika mampu menguasai nafas. Penulis cerita wayang memahami makna kekuatan dari nafas. Mereka telah memahami bahwa kehidupan terdiri dari:
  • Kehidupan: Pengalaman + Pengalaman;
  • Pengalaman terdiri dari perbuatan + perbuatan;
  • Perbuatan akibat dari ucapan + ucapan;
  • Ucapan: pikiran + pikiran.
Saat pikiran tidak terkendali yang terjadi hidupnya kacau. Dapat dipastikan semua kehidupan kacau. Jika hal ini terjadi, mungkinkah keinginan mulia digapai? Perhatikan saat kita dalam emosi yang negatif, marah, cemas, irihati, sakit hati dan sebagainya, nafas kita pendek dan ritmenya kacau.

Pikiran tidak dapat dilawan. Saat kita memperhatikan pikiran dan berupaya menenangkan, yang didapatkan bukan semakin tenang tetapi semakin gelisah. Jika pikiran tidak bisa tenang dapat dipastikan bahwa keinginan atau karep yang kuat tidak akan tercapai. Bagaimana mungkin pikiran yang tidak jernih atau kacau bisa memutuskan sesuatu dengan tepat? Bagaikan permukaan danau yang berombak, dasar sugai tidak dapat terlihat. Hanya saat permukaan danau tenang, maka segala kotoran mengendap. Dan dengan sendirinya, dasar danau terlihat dengan jelas.

Dalam teks aslinya di Mahabarata, istilah ini, 'Kayu Gung Susuhing angin' tidak ada. Berdasarkan hal ini, sesungguhnya penulis naskah atau istilah ini sangat memahami korelasi antara pikiran dan nafas. Sebagaimana pada narasi di atas, saat pikiran tidak tenang, keinginan yang besar tidak bakal terlaksana atau tercapai. Keinginan yang mulia dapat tercapai bila dan bila menguasai 'Susuhing Angin', menguasai nafas.

Ya, saat nafas terkuasai, maka dengan sendirinya pikiran menjadi tenang. Kita tidak mampu menenangkan pikiran, tetapi kita bisa mengatur nafas agar semakin perlahan. Nafas bisa dikuasai, tidak seperti pikiran. Ibarat suatu tongkat yang dinamakan ketenangan. Pada bagian pangkal adalah pikiran, sedangkan ujung lainnya adalah nafas. Tongkat ketenangan tidak diperoleh saat memegang bagian pangkal, pikiran. Namun tongkat ketenangan didapatkan jika kita memegang bagian ujung lainnya, nafas. Keinginan mulia atau agung hanya bisa dicapai oleh mereka yang nafasnya terkendali. Nafas berkaitan dengan Prana atau aliran energi kehidupan. Urd2210


Tatar Galuh, Pamarican, Ciamis, 24/06/2017

Menyoal Ucapan Terimakasih yang Benar dalam Bahasa Jawa

- Tidak ada komentar
salaman dan terimakasih atau matur nuwun
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Dalam pergaulan sehari-hari ucapan terimakasih menjadi kebiasaan mulia yang ditanamkan sejak kita kecil. Barang tentu dengan berbagai cara dan bahasa. Nah, pada kesempatan sehari menjelang lebaran ini saya akan ajak sampeyan untuk menelaah penggunaan ucapan sebagai pernyataan terimakasih versi bahasa Jawa ini.

Kata yang sering kita dengar dan ucapkan adalah matur nuwun, tapi tak jarang pula ada yang mengucapnya matur suwun. Pertanyaannya, samakah makna dua kata tersebut?

Dari apa yang saya pahami, kata terimakasih dalam bahasa Jawa yang dibenarkan adalah matur nuwun. Artinya, dalam konteks menyampaikan ungkapan terimakasih kepada orang/pihak lain dengan bahasa Jawa mestinya diucapkan dengan matur nuwun. Lazimnya, ungkapan ini diucapkan ketika kita menerima pemberian, kebaikan/jasa, atau sebatas perhatian atas apa yang akan atau telah kita sampaikan, jadi bener-bener bermakna terimakasih baik dari sisi bahasa maupun konteks kalimat dan rasa.

Lalu bagaimana dengan matur suwun ada yang mengucapkan matur kesuwun? Menurut beberapa sumber, tutur kata matur suwun atau matur kesuwun sebenarnya bukan sebagai bentuk ucapan terimakasih, dan juga bukan bermakna terima kasih. Secara etimologi bahasa, matur suwun bisa diartikan : ucap/lafal minta -- melafalkan sebuah ucapan permintaan atas sesuatu (seringkali abstrak) yang sebenarnya sudah diterima (sering kali konteksnya saling).

Kata ini diucapkan dalam konteks saling pengikhlasan akan suatu perkara, sehingga berujung pada kelegaan antar pihak-pihak yang berhubungan. Contoh dalam transaksi jual beli, seringkali ada ukuran, takaran, pembayaran, kembalian dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, baik disengaja maupun tidak oleh kedua belah pihak. Nah, pada akhir transaski sebagai bentuk penghalalan/pengikhlasan perkara ini kedua belah pihak layak mengucapkan matur suwun, baru dilanjutkan dengan matur nuwun.

Tapi yang banyak kita temui memang kedua ucapan ini dianggap sama, hanya perbedaan kebiasaan pemakainya. Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam kesejatian pemakaian keduanya :

  • Apapun kata yang kita pakai sebagai ucapan terimakasih itu hendaknya selalu didasari keikhlasan, karena terimakasih yang tidak ikhlas akan mengarah pada pengingkaran akan nikmat Tuhan.
  • Membiasakan menyebut istilah, nama, kalimat dengan lafal yang benar bisa jadi bukan suatu keharusan, tapi adakalanya dan mestinya selalu itu dianggap penting.
  • Apapun pilihan kebiasaan katanya, dalam bahasa apapun, sesering apapun penyampaian ucapan terimakasih itu, mendekatkan kita pada rejeki, karena mampu menuntun kita menjadi insan yang suka bersyukur. Sekian dulu dan semoga ada manfaatnya. Nuwun.

Hakikat Jati Diri dalam Terminologi Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwat Diyu

- Tidak ada komentar
hakekat jati diri
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Siapa toh Mas, sejatinya diri kita sebagai manusia? Kalimat tanya pembuka tulisan ini adalah satu penggalan obrolan via mesenjer fb dengan teman saya malam tadi. Sepintas, pertanyaan ini sangat sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun lebih rumit dan rinci. Debat kusir pun terjadi atau lebih tepatnya adalah diskusi panjang hingga dua jam yang kemudian menjadi inspirasi tulisan yang sedang sampeyan baca ini.

Mejawab pertanyaan sederhana di atas, tentu saja jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar-salah. Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan. Hal ini sangat dipermaklumkan karena berkenaan dengan eksistensi Tuhan sendiri yang begitu penuh dengan misteri besar. Upaya manusia mengenali Sang Pencipta, ibarat jarum yang menyusup ke dalam samudra dunia. Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya. Itupun belum tentu benar dan tepat dalam mendefinisikan.

Tuhan memang lebih dari Maha Besar. Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam. Begitulah jika diperbandingkan antara Tuhan dengan makhluk-Nya. Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahami-Nya sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti, ketimbang tidak sama sekali. Tulisan yang sekaligus jawaban ini tentu saja jauh dari kata sempurna, maka saya membuka pintu lebar-lebar ruang komentar dibawah tulisan ini untuk koreksinya dari sampeyan semua.

Baik, kita mulai bahasan dari unsur pembentuk manusia itu sendiri.Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian.

Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag). Nah, sekarang kita beranjak untuk menjelajahi satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut.

Unsur Bumi

Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Unsur air dan tanah dalam tubuh terurai secara alami melalui proses ilmiah (rumus ilmu pengetahuan manusia) dan rumus alamiah (yang sudah berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan). Unsur tanah dan air yang sudah berproses akan berubah bentuk dan wujudnya sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari empat unsur yakni ; daging, tulang, sungsum dan darah.

Sedangkan unsur udara akan berproses menjadi kegiatan bernafas, lalu berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh. Unsur api akan menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad, tenaga, energi magnetis, dan semua energi yang terlibat dalam memproses atau mengolah unsur tanah dan air menjadi bahan baku jasad.

Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus, merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. Unsur wadah tidak bersifat langgeng (baqa’), sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.

Unsur Tuhan

Sebaliknya, unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan. Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh (spirit atau spiritus). Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia. Dan spirit diartikan sebagai roh, ruh atau sukma. Roh bersifat suci (roh kudus/ruhul kuddus), tidak tercemar oleh “polusi” dan kelemahan-kelemahan duniawi.

Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat kesucian Tuhan. Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa (soul), hawa atau nafas (nafs), animus atau anemos (Yunani), dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa. Sekalipun berbeda istilah, tetapi memiliki makna yang nyaris sama. Sekarang kita beranjak untuk mengurai pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan.

Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai media persentuhan atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus). Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).

Dalam khasanah hermeneutika dan bahasa yang ada di nusantara tampak simpang siur dan tumpang tindih dalam memaknai jiwa, sukma, roh, dan nyawa. Ini sekaligus membuktikan bahwa memahami unsur Tuhan dalam diri manusia memang tidak sederhana dan semudah yang disebutkan. Karena obyeknya bersifat gaib, bukan obyek material. Cara pandang dan penafsiran dari sisi yang berbeda-beda, menimbulkan konsekuensi beragamnya makna yang kadang justru saling kontradiktif.

Dengan alasan tersebut akan saya paparkan lebih jelas pemetaan tentang jiwa atau hawa dari sudut pandang budi-daya yang diperoleh melalui berbagai pengalaman obyek metafisika, dan intuisi, agar lebih netral dan mudah dipahami oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama. Dengan asumsi tersebut diperlukan perspektif yang sederhana namun mudah dipahami. Dalam hal ini saya akan paparkan melalui perspektif kejawen, dengan cara penulisan yang sederhana dan membumi.

Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh “polusi” keduniawian. Hawa/nyawa/nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berpusat di jasad (corpus) dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada roh (spirit).

Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa). Roh suci sebagai “utusan” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan/pedoman hidup. Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya (spektrum) kebenaran dari Tuhan. Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati. Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs.

Hawa (nafs) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci (guru sejati) akan menghasilkan hawa (nafs) yang disebut nafsu positif –meminjam istilah Arab— sebagai an-nafs al-muthmainah. Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negatif. Nafsu negatif terdiri tiga macam; nafsu lauwamah (kepuasan biologis; makan, minum, tidur dst), nafsu amarah (amarah/angkara murka), dan nafsu sufiyah (mengejar kenikmatan psikis; contohnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji).

Hawa memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita berkehendak melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.

Pada setiap bayi lahir, Tuhan telah menciptakan hawa dalam keadaan putih/suci. Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci (ruhul kuddus), atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad/raga (unsur duniawi). Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi (dosa/karma/hukuman) yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal (akhirat), bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia.

Maka peranan semua agama yang ada di muka bumi adalah pendidikan yang ditujukan kepada hawa/nafs/jiwa manusia agar selalu berkiblat kepada rumus Tuhan atau qodratullah. Sumber dari ilmu dan “rumus Tuhan” (qodratullah) bisa kita temukan dalam “perpustakaan” atau gudang ilmu yang terdekat dengan diri kita, yakni roh suci (Ruhul-Kuddus/Guru-Sejati/Sukma-Sejati/Rahsa-Sejati).

Kadang kala Tuhan Maha Pemurah menganugerahkan seseorang untuk mendapat “bocoran soal” akan rahasia “ilmu Tuhan” melalui pintu hati (qalb) yang di sinari oleh cahyo sejati (nurullah). Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati) nurani. Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat, wahyu, risalah, sasmita gaib, ilham, wisik dan sebagainya. Dalam posting ini kami tidak membahas model dan macam petunjuk Tuhan tersebut.

“Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi. Dengan kata lain yakni penundukan unsur “Tuhan” terhadap unsur bumi. Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa / rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif).

Segenap upaya yang mendukung proses “penundukan” unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Dengan laku prihatin, seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawen, laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati.

Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa; Wredhotomo) karya KGPAA Mangkunegoro IV; bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Laku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah, yakni jalan terjal mendaki dan sulit, karena seseorang yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif. Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian.

Maka apa yang disebut sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding di medan perang dalam kalbu antara tentara Muslim nafsu positif melawan tentara Amerika nafsu negatif. Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil “meledakkan bom” di pusat kekuasaan setan (hawa nafsu negatif) dalam hati kita. “Bahan peledaknya” bernama laku prihatin dan olah batin (wara’ dan amr ma’ruf nahi munkar).

Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, mempunyai target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah. Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor rumus Tuhan (qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya disebut sebagai swadharma. Roh yang berada pada tataran pencapaian ini, dalam bahasa Ibrani, ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut (amr) kebaikan (ma’ruf).

Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh “milisi” kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego. Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitNya (qodrat/rumus Tuhan), yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati, yaiku nggayuh kasampurnaning gesang, (untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.

Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil, setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci. Sinyal suci yang diletakkan di dalam rahsa sejati (sirullah) dan roh sejati (ruhullah). Sudah merupakan rumus (Tuhan), apabila seseorang dapat meraih dharma-nya atau kodrat-dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka kehidupannya akan selalu menemui kemudahan. Sebaliknya hawa nafsu negatif (setan) senantiasa menggoda hawa/nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha/Brontoyudho” (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif (100 pasukan Kurawa). Perang berlangsung di medan perang yang bernama “Padang Kurusetra” (Kalbu). Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran.

Kemenangan Pendawa Lima diraih tidak mudah. Dan sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, artinya hawa nafsu negatif (setan) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah. Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut. 

Nah, di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.

Neng; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi. Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi gelombang Tuhan.

Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga” kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.

Nung; artinya kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.

Nang; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya. sehingga amal perbuatan baik yang tak terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Kemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).

Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya. Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (sastrajendra hayuning Rat pangruwating diyu). Sekian dulu semoga ada manfaatnya. Nuwun.


Tatar Galuh, Pamarican, Ciamis, 23/06/2017

Meluruskan Anggapan Sifat Lambannya Orang Jawa

- Tidak ada komentar
abdi dalem
Akarasa – Selamat datang kerabat akarasa. Sebagian masyarakat kita berpendapat, dalam mengambil keputusan, orang Jawa itu lamban. Tidak cepat bertindak. Penakut. Maka setiap masalah yang dihadapi menjadi berlarut-larut. Yang lebih celaka, masalah lama belum terselesaikan, muncul masalah baru! Maka situasi dan kondisi permasalahan semakin ruwet-runyam.

Benarkah sifat orang Jawa itu lamban? Kebudayaan Jawa adalah heterogen, maka watak dan tabiat mayarakatnya pun beragam. Ada yang kalem, ada yang cekatan, ada yang klelar-kleler, ada yang rajin, ada yang polos, ada yang halus, ada yang berangasan, ada yang jahat ada yang baik, ada yang berbelit-belit, ada yang sombong, ada yang rendah hati, ada yang terbelakang, ada yang modern, ada yang peduli, ada yang cuek, ada yang mengelompok, ada yang menyendiri, dan sebagainya. Ragam watak atau tabiat wong Jawa itu komplit. Oleh sebab itu watak orang Jawa tidak bisa disamaratakan (digebyah-uyah).

Orang Jawa itu berbudaya satu. Mereka berpikir dan berasa seperti nenek moyangnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur; dengan Surakarta dan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaannya. Seiring dengan zamannya, maka bahasa, budaya, dan gaya hidup wong Jawa juga mengalami proses asimilasi dan akulturasi.  Asimilasi dan akulturasi adalah fenomena budaya, kapan pun dan di mana pun. Dalam era globalisasi unsure-unsur bahasa, budaya, dan gaya hidup, saling mempengaruhi; saling memberi dan menerima. Pihak yang kuat, biasanya menjadi pihak yang memberi.

Akibat globalisasi, orang Jawa semakin tersebar ke penjuru dunia. Maka bahasa, budaya, serta gaya hidup, semakin ikut mendunia. Dan ini tentu saja, sedikit atau banyak, ikut memberi warna baru kepada perilaku, adab, dan tabiat orang Jawa dan keturunannya. Sejarah nasional mencatat, sejak dulu, jumlah suku bangsa Jawa terbesar di Indonesia. Bahkan, bahasa Jawa menduduki urutan ke-11 terbesar pada deretan bahasa dunia. Pengguna bahasa Jawa tercatat 75,5 juta orang, dari penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta jiwa.

Sejarah purbakala pun mencatat, budaya Jawa sudah cukup tua dan tinggi. Sampai sekarang pun dokumentasi tertulis sastra-budaya Jawa kuno, masih tersimpan baik di museum-museum. Dari semua dokumen tertulis tersebut dapat dibuktikan bahwa manusia Jawa beberapa abad yang lalu telah memiliki kehidupan yang relatif mapan. Sejumlah candi dan patung kuno yang tersebar di pulau Jawa sebagai bukti secara faktual dan visual.

Namun demikian, semua warisan budaya tersebut, termasuk ilmu mencapai kehidupan manusia yang jaya dan mulia, jika tidak dilaksanakan, pastilah tak akan ada hasilnya. Ilmu-ilmu tinggi tetap menjadi dokumentasi mati di rak-rak buku yang berdebu, sunyi-sepi sendiri. Ngelmu iku kelakone kanthi laku, kata pujangga.

Perasaan orang Jawa (tradisional-asli) dapat dibedakan: aji, pakewuh, ajrih, lingsem, isin. Aji adalah rasa hormat kepada orang yang lebih tinggi derajatnya, pangkatnya, martabatnya. Tidak cuma hormat, bahkan ada yang bercampur rasa kagum. Pakewuh (basa krama-nya: pakewet) adalah perasaan malu ketika dia harus berhubungan, bergaul, bercampur, bertemu, apalagi minta tolong, kepada orang yang derajat dan pangkatnya lebih tinggi.

Ajrih adalah perasaan malu (bercampur takut) disebabkan karena dirinya merasa telah bersalah, atau telah melakukan sesuatu yang kurang baik, kepada seseorang.

Rasa senang (krama: remen) adalah perasanaan senang, enak, nyaman, khususnya dalam berkomunikasi dengan orang lain yang sederajat.

Tresna adalah rasa senang, cinta, simpati, saat bertemu, bergaul, dengan orang lain, yang biasanya telah akrab.

Gething adalah rasa benci. Biasanya benci disebabkan oleh sifat-sifat buruk seseorang, sehingga dia menjauhi orang tersebut. Jadi jelas, budaya Jawa (bukan orang Jawa) memiliki budaya malu.

Jika bertemu dengan orang yang belum dikenal, maka ada dua kemungkinan. Pertama: orang Jawa akan menghindar, negative thinking. Kedua: bersahabat, aktif, positive thinking. Pada umumnya orang Jawa suka membantu orang lain, sesuai ungkapan dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.

Kesimpulannya,  tidak semua orang Jawa lamban, tergantung orangnya. Banyak orang Jawa yang berani bertindak tegas dan cepat (trampil-trengginas-tanggap-tanggon). Apalagi jika demi tujuan luhur dan membela rakyat banyak, miskin, dan tertindas. Orang Jawa berani tampil menjadi pahlawan. 

Contohnya? Banyak! Para perintis kemerdekaan rela dipenjara, dibuang. Bahkan banyak rakyat kecil yang berani cepat bertindak dan berani mati demi rakyat banyak (Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya). Di mana letak rahasianya? Sifat jujur! Oran-orang jujur berani mati, sebaliknya, orang yang tak jujur, tak berani mati. Apalagi koruptor gede kaya raya, amat takut mati. Mungkin dia kira, malaikat pencabut nyawa, bisa disogok! Urd2210


Tatar Galuh, Pamarican, Ciamis, 22/06/2017